Keluarga Sebagai Komunitas Cinta Kasih (Kolose 3:18-25) – Pdt. Gusti Menoh

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Setiap komunitas diikat oleh sesuatu yang menghubungkan dan melindungi orang-orang di dalamnya. Hal yang mengikat komunitas itu bisa berupa hoby atau kepentingan yang sama. Ikatan itu bersifat sementara, selama hoby dan kepentingan para anggotanya masih tersalurkan atau terpenuhi.

Club sepak bola terikat oleh hobby dan kepentingan para anggotanya berupa keinginan meraih juara bersama dan mendapatkan pamor dan uang. Perkumpulan para nelayan terikat oleh kepentingan distribusi hasil laut yang mereka peroleh. Komunitas ATI (Asosiasi Teolog Indonesia) terikat oleh kepentingan pengetahuan di antara para anggotanya. Komunitas masyarakat desa terikat oleh kepentingan keamanan dan kesejahteraan bersama para warganya. Perkumpulan suatu kelompok etnis di tanah rantau terikat oleh rasa memiliki berdasarkan asal usul daerah dan hubungan darah yang dekat. Pertemanan dalam suatu lembaga (kantor, perusahaan) terikat oleh kepentingan pekerjaan dan kebutuhan yang sama.

Dalam jenis-jenis komunitas ini, tak selalu ada cinta kasih. Tidak selalu terjadi saling mengasihi di antara orang-orang se-kantor, sesama nelayan, petani, club kesebelasan sepak bola, komunitas masyarakat desa.  Malah sebaliknya, karena kepentinganlah yang mendasari hubungan mereka, sehingga bisa muncul konflik dan anavar before and after persaingan tidak sehat di antara mereka. Sebab mereka memandang lembaga atau komunitas semata-mata sebagai sarana untuk memenuhi kepentingan diri, dan seringkali anggota yang lain menjadi penghambat bagi ambisi seseorang. Tak heran, ketika seorang anggota tidak diuntungkan (dirugikan) dalam suatu komunitas/lembaga/asosiasi, ia akan menarik diri meninggalkan komunitas itu. Komunitas-komunitas itu cenderung bersifat kalkulatif (penuh perhitungan), sementara, terbatas, lemah, karena hanya didasari kepentingan diri masing-masing.

Berbeda dengan jenis-jenis komunitas itu, keluarga adalah komunitas cinta kasih. Dan bukan asal cinta kasih, tetapi cinta kasih yang khas, yaitu kasih agape. Cinta kasih dalam keluarga Kristen melibatkan Allah, dan didasarkan pada kasih sejati: kasih agape. Pola relasi dalam keluarga: antara suami-isteri, orang tua dan anak, tergantung dan terikat oleh cinta kasih,  tepatnya cinta Allah. Itulah yang dikehendaki Tuhan dalam bacaan hari ini.

Penjelasan teks

Surat kepada jemaat Kolose terdiri atas dua bagian besar. Bagian pertama memuat ajaran tentang kedudukan dan peranan Kristus serta keadaan kaum beriman. Paulus menegaskan bahwa melalui Kristus, segala sesuatu dijadikan dan Dia melebihi segala sesuatu. Melalui Kristus, manusia diselamatkan dan didamaikan dengan Allah. Oleh karena itu, Kristuslah kepala jemaat. Ajaran ini disampaikan karena muncul ajaran sesat yang merongrong iman Kristen yang mengimani Kristus sebagai satu-satunya penyelamat dan andalan jemaat.

Bagian kedua bersifat praktis, berupa ajaran dan nasihat konkret bagi jemaat. Di dalamnya termasuk pasal 3:12-17, di mana Paulus menekankan cara hidup baru yang harus dimiliki oleh orang percaya sebagai manusia baru di dalam Kristus, yaitu sikap hidup yang menjauhkan diri dari berbagai kejahatan dan setia melakukan hal-hal baik dan benar. Paulus melanjutkan ajaran praktisnya itu bagi hidup keluarga kristen, yakni bagaimana para anggota rumah tangga saling memperlakukan. Hal ini ditekankan mengingat rumah tangga merupakan ruang ikatan sosial yang paling penting pada masa jemaat mula-mula, karena merupakan pusat lokasi kehidupan gereja pada waktu itu. Pada waktu itu keluarga merupakan tempat untuk beribadah, di mana seluruh anggota keluarga berpartisipasi, termasuk para budak.

Paulus memulai dari keluarga, karena keluarga merupakan sel utama dan sangat vital bagi pembentukan individu yang kemudian masuk ke dalam masyarakat untuk bersaksi. Tidak mungkinlah suatu masyarakat sehat tanpa keluarga yang sehat pula. Maka keluarga perlu diperkuat. Tetapi keluarga yang bagaimana? Sebab bukankah secara alamiah manusia sudah selalu membentuk keluarga. Dalam masyarakat mana pun, kawin-mawin dan hidup berkeluarga sudah lazim. Namun, keluarga-keluarga yang dibentuk oleh dunia terbatas makna dan tujuannya. Perkawinan dan keluarga dibangun demi kepentingan manusiawi semata, yaitu memenuhi kebutuhan biologis, punya keturunan, dan saling melengkapi secara ekonomis. Itulah pemahaman umum tentang dibangunnya rumah tangga.

Nasihat ini ditulis untuk jemaat di Kolose, maka konteksnya perlu dipahami. Walaupun saat ini kota Kolose hanya tersisa puing-puingnya di negeri Turki, tetapi Kolose bersama Efesus waktu itu dianggap sebagai kota-kota yang paling menyerap budaya Yunani. Khususnya Kolose, walaupun kecil, malah merupakan sebuah kota bergaya Yunani, lengkap dengan akropolis (pura), agora (alun-alun), teater dan kuil macam-macam dewa-dewi. Dalam konteks Kolose yang di bawah pengaruh helenisme (Budaya Yunani) seperti itu, pemikiran dua filsuf Yunani Kuno, Plato dan Aristoteles sangat kental, termasuk mengenai keluarga. Plato mengatakan bahwa setiap entitas sosial (keluarga, masyarakat, negara) dibentuk karena seorang individu tidak sanggup hidup sendiri dan memenuhi kebutuhannya. Individu membutuhkan banyak penolong yang lain. Maka dibentuklah keluarga, masyarakat, negara agar kebutuhan yang seorang dibantu oleh yang lain. Jadi kebutuhanlah dasar pembentukan komunitas.

Aristoteles pun menegaskan bahwa komunitas pertama adalah rumah tangga, yang terdiri dari suami, isteri, anak-anak, budak, dan ternak untuk membajak atau menjadi alat transportasi.  Budak dan ternak setara, karena hanya merupakan sarana pembantu tuan. Perempuan dipandang sebagai setengah manusia. Anak-anak pun statusnya sangat rendah. Dalam pemahaman helenistik ini, laki-laki menjadi kepala sedangkan isteri, anak, para budak, dan ternak ada di bawah kekuasaannya. Tentu saja pemikiran dua pemikir itu bukan sesuatu yang baru waktu itu, sebab sebagaimana dikatakan Erich Fromm, sudah ribuan tahun sebelum kedua pemikir itu ada, patriarki (budaya yang menempatkan laki-laki sebagai superior) sudah hidup, bahkan bertahan hingga kini dalam banyak masyarakat. Perkawinan dan keluarga lalu dibangun hanya untuk memenuhi hasrat, ambisi dan kebutuhan manusia yang disebut laki-laki. Dalam konteks itu, menurut Aristoteles, bukan cinta kasih yang menjadi dasar terbentuknya keluarga, tetapi hasrat kekuasaan (laki-laki) dan kebutuhan. Dan inilah yang mau dilampaui oleh keluarga Kristen.

Dalam konteks di Kolose seperti itulah, Paulus menyajikan model keluarga kristiani sesuai kehendak Allah. Paulus memberi pedoman hidup berkeluarga yang berbeda dari yang lazim di Kolose. Paulus memberikan nasihat praktis agar dari dalam keluarga, terbentuk cara hidup baru yang sesuai ajaran Kristus. Pertama-tama Paulus mengalihkan etika sosial Yunani yang mengagungkan pria sebagai kepala rumah tangga yang memiliki kuasa tertinggi, kepada Kristus yang merupakan kepala jemaat. Kristus adalah Allah yang kepada-Nya setiap orang berserah dan tunduk. Suami, isteri, anak-anak, budak, mesti sadar bahwa hanya Kristuslah kepala, yang lebih tinggi dari semuanya. Maka sebagai jemaat mereka mesti tunduk pada Kristus.

Belajar dari tunduk kepada Allah, pertama-tama Paulus menasihati isteri untuk tunduk pada suami. Tunduk berarti menghormati dan menghargai suami, dan percaya pada kepemimpinannya dalam mengarahkan rumah tangga. Ini tidak berarti suami lebih superior dan isteri lebih rendah, sebab dalam iman Kristen, hanya Kristuslah kepala, yang lebih tinggi dari segala sesuatu. Laki-laki dan perempuan, suami dan isteri setara. Tunduk di sini, dilandasi oleh keyakinan bahwa suami benar-benar mampu menjadi imam dalam keluarga, menjadi teladan dalam kasih dan kebenaran, sehingga patut dihormati dan diberi hak untuk membimbing keluarga. Itu berarti setiap suami mesti hidup di dalam takut akan Tuhan dan menunjukkan keteladannnya. Relasi suami isteri ini bersifat segitiga, secara horizontal di antara suami-isteri, dan terhubung secara vertikal dengan Allah, maka dikatakan “di dalam Tuhan”.

Nasihat kedua ditujukan kepada suami. Dalam relasi dengan isteri, suami diminta mengasihinya dan tidak berlaku kasar padanya. Tuntutan ini justeru jauh lebih berat, karena bukan kasih eros yang dituntut, melainkan kasih agape. Kasih Tuhan yang mesti dimiliki oleh sang suami, dan ini tidak mudah. Karena, itu berarti seorang suami diminta untuk mengasihi isteri secara total, sepenuhnya, tanpa syarat, dan rela berkorban serta memberikan segalanya sebagaimana yang Kristus lakukan bagi manusia. Tidak ada yang tertinggal untuk dirinya lagi karena segalanya sudah diberikan bagi isteri, sebagaimana Kristus merelakan semuanya, termasuk nyawa-Nya untuk manusia. Kasih seorang suami bagi isteri mesti total seperti itu, dan rela berkorban apa pun bagi isteri dan anak-anak. Suami tidak boleh menyakiti isteri dengan kekerasan, baik verbal mau pun non verbal (kata-kata maupun rotan).

Nasihat ketiga diberikan kepada anak-anak. Anak-anak mesti sadar bahwa orang tua adalah wakil Allah, dan karena itu mesti didengar dan ditaati. Sebab orang tua Kristen mengenal Allah dan mau mengajarkan kepada anak-anak tentang Allah. Nasihat keempat ditujukan kepada bapak-bapak agar tidak menyakiti anak-anak. Artinya seorang bapak mesti mendidik anak-anak dengan kasih dan bukan dengan rotan. Seorang bapak mesti menunjukan kasih melalui pola didik kepada anaknya. Nasihat kelima ditujukan kepada mereka yang masih berstatus hamba untuk senantiasa taat pada tuannya. Betapa pun beratnya hidup sebagai hamba namun mereka mesti menaati tuannya, dan setia melakukan setiap pekerjaan dengan baik. Bahkan budak diminta mengerjakan segala sesuatu seperti untuk Allah. Ini tidak berarti Tuhan membenarkan perbudakan, tetapi agar dengan menunjukan kesetiaan dan kasih kepada tuannya, ia belajar setia dan mengasihi Allah sekali gus memberi teladan bagi tuannya mengenai ciri hidup kristiani dalam terang kasih.

Penutup

Sebagai warga gereja, keluaga kita mesti menjadi komunitas cinta kasih. Dan itu hanya mungkin kalau Allah dan cinta-Nya menjadi bagian dari rumah tangga kita. Itu berarti, pertama, Allah mesti menjadi kepala dalam rumah tangga kita. Kristus dan kebenaran-Nya mesti menjadi dasar dan pedoman hidup rumah tangga kita. Relasi dalam rumah tangga kita segi tiga sifatnya: setara secara horizontal diantara suami-isteri, orang tua dan anak-anak (termasuk siapa pun yang ada dalam rumah tangga kita), dan semua anggota terhubung secara vertikal dengan Allah. Dengan pola relasi seperti ini, setiap anggota keluarga merelatifkan diri (tidak memutlakan diri), seraya mengantungkan diri pada Allah. Dengan hadirnya Allah sebagai kepala, tak ada yang bersifat mutlak yang kepadanya yang lain bergantung penuh. Suami pun menyadari keterbatasannya di hadapan Allah sebagai satu-satunya kepala dalam seluruh hidupnya. Sayangnya, banyak rumah tangga dibangun di dalam Tuhan melalui pemberkatan nikah, tetapi perjalanan selanjutnya tidak lagi melibatkan Tuhan. Tidak ada doa bersama suami-isteri dan anak, pembacaan firman bersama, atau beribadah bersama. Akibatnya terjadi kekeringan dalam hidup rumah tangga karena jiwa anggotanya kesepian. Ini harus diatasi. Keluarga kristen mesti kembali membangun hidup bersama di dalam Tuhan.

Kedua, semua anggota keluarga terpanggil mewujudkan imago dei. Sejak permulaan, Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dalam arti Allah memberi manusia kemampuan untuk ikut mencipta. Allah tidak lagi menciptakan manusia berulang-ulang secara langsung, tetapi melibatkan manusia laki-laki dan perempuan yang diciptakan-Nya. Dan karena itu, Allah menaruh dalam hati manusia cinta kasih, agar dengannya laki-laki dan perempuan menjadi ko-pencipta dengan Allah. Maka hubungan suami-isteri dalam rumah tangga bukan semata didasari hasrat seksual, tetapi cinta kasih. Rumah tangga Kristen mesti menghidupi cinta kasih, dan menyatakannya bagi dunia. Keluarga menjadi tempat persemaian cinta kasih, latihan saling mengasihi, lalu dibawa dalam perjumpaan dengan sesama di luar sana. Cinta dalam rumah, diperluas untuk mencintai sesama, siapa pun dia, apapun latar belakangnya.

Ketiga, tidak boleh ada alasan lain yang mendasari perkawinan dan rumah tangga Kristen, seperti kebutuhan biologis, ingin punya keturunan, perhitungan ekonomis, dan lainnya. Sebab kalau alasan perkawinan dan keluarga dibangun adalah kebutuhan biologis, maka ketika daya tarik seksual pasangan berkurang, cinta pun hilang, dan rumah tangga pun mulai rapuh. Kalau alasan punya keturunan menjadi dasar perkawinan dan keluarga dibentuk, maka ketika tidak ada anak, perceraian pun terjadi. Kalau kebutuhan ekonomis menjadi alasan, maka ketika yang satu tak bekerja kantoran untuk menghasilakn uang, ia mudah direndahkan. Cinta kasih harus menjadi utama, sedangkan kebutuhan biologis harus sekunder.  Punya keturunan dan berpenghasilan uang dan harta hanyalah anugerah tambahan yang tergantung pada Allah.

Keempat, tidak ada keluarga yang sempurna. Tetapi bila rumah tangga penuh dengan cinta yang tulus maka segala persoalan bisa terselesaikan dengan baik. Fredrick Nietzsche mengatakan: dalam kehidupan keluarga, cinta kasih adalah minyak yang memudahkan gesekan, semen yang mengikat lebih dekat bersama, dan musik yang membawa harmoni. Sejalan dengan Nietzsche,  Peter Buffett mengatakan, tidak masalah seberapa besar rumah kita, yang terpenting adalah ada cinta kasih di dalamnya. Selamat berbulan keluarga, semoga keluarga kita penuh cinta kasih, Tuhan memberkati. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *