Kisah Pasutri Pendeta GMIT, Pasien Covid 19 di Batam

Pdt. Phebye Obhetan-Lulan dan Pdt. November Obhetan serta anak-anak: Theos, Nonny dan Iglesias

Batam, www.sinodegmit.or.id, Tidak ada seorang pun menghendaki terpapar virus Corona. Termasuk saya dan suami. Sewaktu kami merasakan gejala dan divonis positif Covid-19, kami kaget dan sangat terpukul, sebab kami ketat menjalankan protokol kesehatan bahkan kerap dianggap berlebihan oleh warga jemaat.

Nama saya Pdt. Phebye Obhetan-Lulan. Suami saya Pdt. November Obhetan. Kami dikaruniai 3 orang anak, masing-masing berusia 7, 3 dan 1,5 tahun. Kami melayani di Jemaat GMIT Ekklesia Batam sejak tahun 2014.

Awal kisah kami terpapar Covid-19 bermula dari persidangan sengketa tanah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Pengadilan Negeri Batam. Seusai persidangan itu salah satu pengacara pulang ke Kupang. Setibanya, dia dikonfirmasi positif Covid-19. Kami diminta untuk melakukan tes swab untuk memastikan kondisi kesehatan karena memang kami juga mengalami beberapa gejala ringan seperti demam selama 2 sampai 3 hari disertai batuk dan pilek. Pikir kami biasa-biasa saja. Namun, lantaran kontak erat dengan pasien terkonfirmasi maka saya dan suami melakukan tes swab secara mandiri pada 24 September 2020.

Saya demam tiga hari. Sempat dipijat karena pikir kelelahan. Selanjutnya saya minum obat batuk-pilek selama satu minggu tetapi tidak kunjung sembuh. Gejala lainnya adalah tidak bisa mencium apa-apa, bau menyengat sekalipun tidak. Juga tidak bisa merasakan rasa makanan.

Lewat seminggu, muncul ruam-ruam merah di kulit bagian belakang dan perut. Awalnya tidak curiga ini tanda-tanda Covid. Pikirnya ini alergi, jadi saya mengonsumsi obat alergi tetapi tidak kunjung reda. Setelah itu, giliran suami saya mengalami demam. Suhu tubuhnya mencapai 38 derajat Celcius. Ia sempat kesulitan bernapas. Gejala lainnya sama seperti yang saya alami: kehilangan penciuman dan pengecap. Kami mulai khawatir karena gejala-gejala yang kami alami persis Covid-19.

Pada 27 September 2020 kami dihubungi petugas yang memeriksa kami dan ia mengatakan bahwa kami suami-istri positif covid-19. Ia menanyakan alamat lengkap untuk segera kami dijemput ke tempat isolasi di Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang di Pulau Galang. Rumah Sakit ini berjarak kurang lebih 60 kilometer dari kota Batam.

Kabar ini membuat kami terpukul. Saya menangis sejadi-jadinya. Saya dekap toga (pakaian jabatan pendeta) dan bertanya kepada Tuhan, mengapa kami berdua? Akankah saya masih dapat memakai toga ini lagi? Atau… ini akhir dari kisah hidup dan pelayanan kami? Tuhan, ini ujian terlalu berat.

Sempat saya ragu dan bertanya pada petugas. Saya menduga bisa jadi ada kesalahan dalam pemeriksaan. Petugas meyakinkan kami bahwa mereka telah mengecek dua kali dan hasilnya positif. Mereka meminta kami tetap tenang menjalani pengobatan di Rumah Sakit.

Ketika kami dalam perjalanan dengan mobil ambulance menuju Rumah Sakit, aneka pertanyaan menghantui benak saya. Apakah saya akan sembuh? Ataukah akan mati seperti pasien lain? Dapatkah kami pulang kembali ke rumah dan berkumpul dengan ketiga buah hati kami? Apakah anak-anak kami juga terinfeksi Corona? Siapa yang akan mengurus mereka selama kami berdua menjalani isolasi dan pengobatan? Bagaimana dengan pelayanan dan persidangan pengadilan lahan GMIT yang sudah sampai pada tahap akhir dan menegangkan?

Tiba di RSKI Galang saya terkejut melihat banyak sekali pasien. Mereka sementara berolahraga jalan santai di halaman rumah sakit. Mereka semua tampak sehat seperti saya. Tidak ada jarum infus dan O2. Kendati demikian, semua petugas, perawat, dokter mengenakan pakaian APD lengkap.

Ruang rawat kami terpisah menurut jenis kelamin. Satu kamar terdapat 5 pasien. Hampir semua pasien tampak sehat. Kebanyakan adalah Orang Tanpa Gejala (OTG) dan yang mengalami gejala ringan seperti kami sekitar 300-an orang dirawat di RSKI Galang.

Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang-Batam

Setiap hari kami olahraga, berjemur matahari pada pagi hari dan sore hari. Mengonsumsi vitamin dan obat serta istirahat. Saya merasakan lawatan Tuhan melalui saat teduh, meditasi dan membaca Firman Tuhan selama dirawat intensif 10 hari.

Para petugas medis melayani kami dengan baik sekali. Menghibur, memberi semangat, meyakinkan kami bahwa kami pasti sembuh. Kami rasa nyaman dan tenang dengan suasana di Rumah Sakit ini.

Melihat aktifitas para medis yang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) yang berlapis, saya prihatin. Saya duga APD yang dikenakan cukup menyiksa. Mereka tidak pulang ke rumah selama 8 bulan ini. Mereka tinggal di mess Rumah Sakit. Tentu mereka juga sangat merindukan keluarga di rumah seperti yang kami rasakan. Sulit rasanya membayangkan terpisah dari anggota keluarga yang mereka cintai dan yang mencintai mereka. Apalagi berbulan-bulan.

Kami mendapat dukungan besar dari keluarga. Sungguh menyedihkan karena kami berada sangat jauh dari keluarga besar. Tak putus-putus, dukungan juga mengalir dari teman-teman pendeta GMIT dan semua orang yang mengenal kami. Ibu Ketua Sinode, Pdt. Mery Kolimon dan Majelis Sinode lainnya turut memberi dukungan melalui telepon dan whatsapp. Bahkan ketika mendengar berita kami, Bapak Fary Francis mengirim obat herbal. Kami masih konsumsi obat dari beliau hingga sekarang. Demikian juga dukungan datang dari Klasis Kota Kupang dan Jemaat Anugerah Naikoten.

7 Oktober 2020 kami dapat kabar gembira dari Rumah Sakit. Kami dinyatakan sembuh. Kami lega, bersukacita dan berlimpah syukur kepada Tuhan. Keadaan kami dipulihkan Tuhan. Tiada lagi kesesakan, kegelisahan. Segala bimbang dan takut telah berlalu oleh karena campur tangan Tuhan Yesus. Perasaan bisa kembali ke rumah ibarat pahlawan yang bersukacita pulang dari medan perang. Semua jemaat dan majelis bergotong-royong membersihkan gereja. Rumah pastori disterilkan menyambut kami pulang.

Sampai sekarang kami belum boleh bertemu dengan anak-anak. Kami baru boleh bertemu mereka pada 25 Oktober 2020 yang akan datang. Akan tetapi kami rasa tenang dan bahagia karena sudah berada di rumah.

Kami merasa berhutang kebaikan dengan seluruh Jemaat dan Majelis Jemaat GMIT Eklesia Batam. Mereka mengadakan ibadah dan doa online untuk mendukung kami di Rumah Sakit. Mereka setia mengantarkan obat herbal untuk kami. Keluarga Bapak Penatua Mangara Sidebang yang setia tanpa takut dan ragu menjaga anak-anak kami dengan sangat baik. Terima kasih banyak. Tak lupa kami sampaikan terima kasih yang tulus kepada anggota-anggota persekutuan doa yang tak putus-putus mengingat kami dalam doa.

Melalui pengalaman iman ini kami berpesan, jagalah imun dan iman kita senantiasa. Covid-19 tidak menakutkan, hanya perlu dilawan dengan imun dan iman. Tetaplah ikut protokol kesehatan karena virus ini dapat menulari siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Dekatkan diri pada Tuhan Yang Empunya kehidupan. Dukunglah mereka yang terpapar dengan doa yang tulus bukan dengan stigma karena sungguh virus covi-19 tidak saja menyerang fisik tetapi juga psikis. Covid19 mengajarkan benar bahwa hidup lebih penting dari semuanya. Mengetahui kondisi kesehatan itu penting dan jika sejak dini diobati kita pasti sembuh. Salam Sehat dari kami: Pdt. Phebye Obhetan-Lulan dan Pdt. November Obhetan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *