Sungguh Besar Anugerah Allah Bagi Kita (Efesus 1:3-14) – Pdt. Gusti Menoh

Pdt. Gusti Menoh

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Perdebatan mengenai apakah manusia bebas menentukan rencana hidupnya atau segala sesuatu sudah ditentukan (ditakdirkan) baginya telah berlangsung lama. Secara sederhana: apakah kita bebas menentukan rencana/tujuan hidup kita, atau sesungguhnya kita hanya menjalani nasib/takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah sejak awal?

Para ilmuan dan teolog tidak pernah sependapat. Kebanyakan ilmuan menganut apa yang disebut free will (kehendak bebas), yang meyakini bahwa manusia itu otonom, mandiri, bebas, mampu menentukan sendiri hidup, masa depan dan segala rencananya. Mereka menolak apa yang disebut takdir, nasib, atau predestinasi. Mereka cenderung ateis, tidak percaya adanya Allah sebagai pencipta dan penentu hidup manusia. Sebaliknya, sebagian ilmuan dan agamawan menjadi penganut determinisme (yakni paham yang mengatakan bahwa segala sesuatu sudah ditentukan oleh hukum-hukum alam/Allah). Menurut mereka, kita hanya menjalani takdir yang sudah diatur oleh Allah. Dalam teologi, paham itu mirip ajaran tentang predestinasi, yaitu anggapan bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah sejak diciptakan. Mana yang benar?

Pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab. Tetapi kita dapat meyakini bahwa Allah memang sejak semula memberi kebebasan pada manusia (kebebasan yang beresiko melawan kembali Allah dan jatuh dalam dosa), tetapi karena kasih-Nya yang besar, Allah tidak pernah membiarkan manusia terus ada dalam kebebasan absolut (mutlak). Dalam sejarah, Allah mengintervensi kebebasan manusia, justeru karena ingin menyelamatkannya dari jalan hidup yang sesat dan gelap.

Tetapi ini tidak berarti Allah mengambil kembali kebebasan manusia secara penuh. Allah tetap memberi kebebasan kepada manusia sebagai gambar-Nya, namun Ia tetap berdaulat penuh atas manusia dan berkuasa menentukan keselamatannya. Adalah Imanuel Kant (1724-1804), seorang filsuf Jerman yang hidup sekitar dua ratus lebih tahun lalu membantu kita untuk memahami kedaulatan dan tindakan Allah itu. Tetapi barangkali Kant tidak bermaksud bicara kedaulatan Allah secara spesifik, melainkan hanya ingin mengkritik perilaku orang beragama. Namun dari kritiknya, kita dapat memahami kemahakuasaan Allah sebagaimana tercatat dalam Efesus tadi.

Kant adalah seorang protestan yang sangat saleh, penganut pietisme, yaitu paham yang menekankan kesalehan hidup. Kant benar-benar saleh, baik, jujur, disiplin, sederhana, percaya adanya Tuhan dan kekekalan jiwa. Namun Kant tidak tertarik dengan ibadah. Sebab menurut Kant, ibadah itu tidak masuk akal. Ia berpendapat bahwa puji-pujian, doa, nyanyian, tidak ada pengaruhnya pada Tuhan. Tuhan bukan manusia yang senang dipuji-puji.  Tuhan juga tidak butuh informasi dari kita melalui doa-doa kita, karena Dia maha tahu. Tuhan sudah punya rencana atas hidup manusia. Doa-doa kita tidak mengubah rencana Tuhan. Tuhan tidak mungkin ditarik ke sana ke mari. Doa kita tidak bisa membujuk Tuhan. Doa itu merendahkan Tuhan, karena seolah Tuhan seperti anak kecil yang bisa dibujuk. Tuhan berdaulat, dan punya rencana atas setiap ciptaan-Nya. Kant memahami Tuhan dalam batas-batas rasio.

Pendapat Kant tentu masih dapat diperdebatkan. Namun kita dapat memakainya untuk memahami bacaan hari ini, karena mengandung kebenaran juga. Kant benar bahwa rencana Allah atas manusia tidak bergantung pada manusia, melainkan kehendak-Nya sendiri. Allah menetapkan segala sesuatu menurut kedaulatan-Nya semata. Hal itu jelas terbaca dalam Efesus 1:3-14.

Penjelasan Teks

Bacaan hari ini menyerupai sebuah doxologi, puji-pujian atau ungkapan iman kepada Allah atas anugerah kebaikan-Nya. Paulus mengungkapkan puji-pujian kepada Allah atas berkat-berkat rohani dari sorga. Berkat-berkat/anugerah itu meliputi: Pertama, bahwa Allah di dalam Yesus Kristus telah memilih gereja (kita orang percaya) untuk menjadi miliknya sebagai orang-orang kudus dan tak bercacat (ay. 5). Pilihan Allah itu merupakan inisiatif dan rencana Allah sejak semula. Allah sendiri merencanakan itu tanpa pengaruh dari manusia (ay. 6).

Paulus menekankan predestinasi (penetapan) Allah itu, karena bagi sebagian kalangan Yahudi di dalam jemaat meyakini bahwa mereka mampu menggapai keselamatan asalkan mereka melakukan perintah hukum taurat (band. Matius 19:16-20). Dengan kata lain, orang Yahudi merasa sudah tahu bahwa mereka akan selamat ketika mereka mampu melakukan tuntutan agama. Bahkan orang-orang Yahudi percaya bahwa karena mereka adalah umat pilihan Allah, dengan sendirinya layak diselamatkan. Di sini Paulus ingin menegaskan bahwa keselamatan itu merupakan rencana dan pemberian Allah semata. Itu adalah anugerah Allah, bukan hasil jerih upaya manusia.

Kedua: Allah melalui Yesus Kristus dan darah-Nya telah menebus dan mengampuni manusia (ay 7-8). Itu adalah kasih karunia Allah semata. Paulus menyatakan hal ini, karena di Efesus, baik mereka yang berlatar belakang Yahudi mau pun agama kafir, punya keyakinan bahwa penebusan dosa terjadi apabila ada korban persembahan berupa hewan yang diberikan kepada Allah ataupun para dewa. Mereka meyakini bahwa melalui ritual korban hewan, kejahatan mereka dihapus. Di sini Paulus menyatakan bahwa penebusan dan pengampunan bagi orang percaya terjadi melalui darah Kristus yang mahal. Hal ini dinyatakan supaya jemaat menyadari betapa besarnya kasih Allah yang mengorbankan anak-Nya, Yesus Kristus (band. Yohanes 3:16). Ini adalah anugerah yang maha besar.

Ketiga, Allah di dalam Yesus Kristus berkenan menyingkapkan rahasia eskatologis bagi orang percaya. Di dalam Yesus, Allah mendamaikan dan menyatukan orang percaya dengan diri-Nya, baik Yahudi maupun non Yahudi, di bumi mau pun di sorga kelak. Di dalam Yesus, ada janji keselamatan yang bersifat eskatologis, di mana suatu saat orang percaya akan menikmati janji Allah dalam kekekalan (ay. 10-11). Hal ini menegasi kepercayaan umum orang-orang kafir di Efesus yang tidak mempercayai kehidupan sorgawi setelah kematian.

Keempat, Roh kudus adalah jaminan bagi setiap orang percaya bahwa mereka akan menjadi milik Allah sepenuhnya (ay. 13-14).  Paulus menyatakan bahwa ketika orang percaya dibaptis, mereka sudah dimateraikan dengan roh kudus. Orang percaya adalah milik Allah. Roh kudus akan menjaga mereka untuk tetap menjadi kepunyaan Allah. Allah tidak main-main dengan anugerah keselamatan yang dirancang-Nya. Ia memelihara gereja melalui Roh Kudus sepanjang zaman.

Berkat-berkat rohani ini memberi kita kejelasan bahwa keselamatan itu semata-mata anugerah Allah, bukan hasil bujukan dan usaha manusia. Mengapa disebut anugerah? Anugerah adalah suatu pemberian paling berharga yang dihadiahkan secara cuma-cuma kepada seseorang walaupun ia tidak layak menerimanya. Orang itu mestinya dihukum, namun karena kasih, ia diampuni, bahkan diterima kembali oleh pihak yang mestinya memberi hukuman. Dalam bacaan di atas terlihat jelas anugerah besar Allah bagi manusia. Anugerah, karena 1) keselamatan itu diberikan semata-mata bertolak dari inisiatif dan rencana Allah sendiri, karena Allah sungguh-sungguh mengasihi manusia. Anugerah, karena 2) Allah mau mengampuni dan menyelamatkan manusia tanpa memperhitungkan dosa dan kejahatannya. Anugerah, karena 3) Allah menebus dosa manusia dengan darah-Nya yang kudus, bahkan nyawa-Nya sendiri. Anugerah, karena 4) Allah mau berdamai dengan manusia, rela menerima kembali manusia bahkan mau hidup dengan manusia dalam kekekalan.

Anugerah pemberian itu bukan suatu hal murahan, melainkan sangat berharga, yang tidak mungkin dibeli, sehingga hanya dapat diberikan dengan sukarela. Kalau masih sulit dimengerti, kisah nyata ini mungkin bisa membantu kita untuk memahami arti anugerah. Max Ellerbusch, warga Amerika bersama isterinya Grace, memiliki 4 orang anak: Diane, Michael, Craig, dan Ruth Carol. Menjelang natal di tahun 1960, anak mereka, Craig, usia 5 tahun, ditabrak oleh seorang remaja berusia 15 tahun bernama George Williams, dan meninggal dunia. Max dan Grace sangat frustasi, marah dan benci kepada remaja itu. Mereka menuntut pengadilan agar George diberi hukuman berat. George akhirnya dipenjara.

Namun beberapa hari sebelum natal, Max berdoa, meminta petunjuk Tuhan atas apa yang terjadi. Tiba-tiba Max melepaskan satu tarikan nafas panjang, dan merasa legah. Hilanglah segala rasa sakit hati, dendam, kemarahannya, dan digantikan dengan perasaan cinta. Max merasakan kehadiran Kristus dalam hati sehingga perasaannya lega dan mampu mengampuni. Max menghampiri isterinya dan berkata, “Craig tidak membutuhkan kita lagi, tetapi ada orang lain yang butuh kita, yakni George. Ia tidak mendapatkan hadiah natal di rumah tahanan anak-anak kecuali kalau kita mengirimkannya”. Grace pun mengiyakan pernyataan Max. Keduanya bergegas ke rumah tahanan anak, dan meminta agar George dibebaskan. George telah dimaafkan, bahkan diminta oleh Max dan Grace untuk menjadikan rumah mereka sebagai rumah keduanya. George kembali bersekolah, dan sepulang sekolah ia singgah di rumah Max dan Grace, makan bersama dengan keluarga ini, dan menjadi kakak laki-laki bagi saudara/i Craig. Apa yang dialami George adalah anugerah. Dia harusnya tetap dihukum/dipenjara karena perbuatannya, namun diampuni oleh orang tua Craig, bahkan ia diterima menjadi bagian dari keluarga Craig dan tinggal bersama mereka.  Itulah anugerah bagi George, yakni sesuatu yang tidak layak ia dapatkan namun diberikan padanya oleh orang tua Craig, yaitu pengampunan, pembebasan, pendamaian, dan penerimaan yang tulus. George mensyukuri anugerah itu dengan menjadi anak yang baik dalam keluarga Max dan Grace.

Bacaan hari ini menyingkapkan isi iman kita sebagai gereja. Bahwa kita hidup, diselamatkan, hadir di dunia dan menikmati banyak berkat, semuanya semata-mata karena kasih Allah.  Kita mesti meyakini: sungguh besar anugerah Allah bagi kita. Hari ini pun, ketika merayakan hari Reformasi, kita diingatkan akan perjuangan Martin Luther 500-an tahun yang lalu. Segelintir pemimpin gereja Katolik waktu itu menjual indulgensia (surat pengampunan dosa), seolah keselamatan dapat diraih dengan usaha manusia melalui pembelian surat itu. Luther mengembalikan hakikat iman Kristen sebagaimana ditegaskan surat Efesus yang baru kita baca hari ini, bahwa kita diampuni, ditebus dan diselamatkan, semata-mata karena anugerah Allah.

Penutup

Ketika kita merayakan Reformasi gereja ke 503 di hari ini, maka pertama, mari kita belajar mensyukuri anugerah pengampunan dan keselamatan Tuhan bagi kita. Bagaimana wujudnya? Karena hidup kita adalah anugerah, maka mari kita sungguh-sungguh mempersembahkan hidup, karya dan pelayanan kita untuk Tuhan. Apa pun yang kita lakukan, mesti kita usahakan untuk berkenan kepada Allah, sesuai kehendak dan kebenaran-Nya. Hidup kita mesti jadi anugerah/berkat bagi sesama. Kehadiran kita mesti memberkati sesama, bukan menyusahkan mereka. Kita mesti mau mengampuni, berdamai dengan sesama dan mengasihi mereka tanpa tawar-menawar.

Kedua, bahwa kita diselamatkan hanya oleh anugerah, tidak berarti kita boleh terus hidup dalam dosa, tanpa berjuang untuk hidup baik dan benar. Roma 6:1 berkata: bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia? Paulus katakan: sekali-kali tidak. Maka, kalau kita masih mau hidup dalam dosa, sesungguhnya kita tidak menghormati pengorbanan Kristus, bahkan kita telah menyia-nyiakan anugerah Allah. Kalau itu terjadi, anugerah Allah akan diambil kembali dari kita. Kita tidak mungkin selamat tanpa perbuatan yang baik dan benar sebagai orang-orang yang telah ditebus. Allah tetap memberi kita kebebasan. Maka kebebasan itu mesti digunakan untuk hal-hal yang baik dan benar, bukan yang buruk.

Ketiga, kita tidak boleh menjadi penjual indulgensia dalam bentuk apa pun, misalnya memperjual-belikan anugerah keselamatan demi kepentingan diri. Gereja bukan tempat mencari kenikmatan pribadi, kekuasaan dan materi. Seringkali, menjelang pemilu/pilkada, para politisi tertentu mulai mendekatkan diri dengan gereja seolah-olah mereka sangat rohani, tetapi setelah terpilih mereka hilang dari gereja. Ini bukti bahwa gereja hanya dimanfaatkan untuk kepentingan diri. Ada pula cara beriman yang keliru dari segelintir warga gereja. Mereka mengikut Tuhan Yesus, bukan sebagai wujud syukurnya atas anugerah keselamatan yang diterima, tetapi dengan motivasi yang keliru: agar kepentingan-kepentingan pribadinya bisa dipenuhi oleh Tuhan. Di sini kritik Kant ada benarnya. Ibadah dan pelayanan bukan media untuk memenuhi kepentingan diri, melainkan sarana menyatakan syukur kita.

Tak jarang juga, muncul kasus di mana para gembala pun terjebak pada materialisme (cinta harta/uang), lalu menjadikan gereja sebagai tempat untuk meraup keuntungan pribadi. Ada kasus-kasus yang menunjukan bahwa pelayanan dimanipulasi, keuangan gereja diakali, atau jabatan dikejar hanya agar memperkaya diri, dan bukan terutama melayani Tuhan. Mereka berdoa, berkhotbah, melayani, membangun swadaya jemaat, mengerjakan berbagai hal dengan mengatasnamakan Tuhan, padahal hatinya penuh ambisi meraup materi semata bagi diri. Jadi bukan Tuhan yang sungguh-sungguh dilayani, tetapi kepentingan diri. Motivasi pelayanan tidak lagi murni untuk Tuhan, tetapi untuk diri. Bila itu terjadi, ini tak ada bedanya dengan para penjual indulgensiaabad pertengahan yang dikritik oleh Luther. Mereka mengira bahwa Allah menutup mata terhadap dosa mereka dan lupa bahwa ada waktunya Tuhan akan bertindak dengan cara-Nya sendiri. Mestinya dosa-dosa seperti ini tidak boleh terjadi lagi setelah Reformasi, karena sudah dikritik Luther.

Hari ini pun GMIT merayakan ulang tahunnya yang ke-73. Kita bersyukur karena dihadirkan di tengah-tengah bangsa ini. Kita terpanggil untuk menghadirkan anugerah kerajaan Allah: kasih, kebaikan, kebenaran, pengampunan, kemerdekaan, kedamaian, keadilan, dan keselamatan bagi sesama dan alam semesta. Konkritnya, kita terpanggil untuk melakukan segala upaya perbaikan dan pembangunan bagi jemaat dan masyarakat dalam berbagai bidang: sosial, ekonomi, pendidikan, politik, hukum, budaya.

Itu berarti gereja tidak boleh hanya mengurus ibadah, doa, khotbah, nyanyian, tetapi harus ada aksi. Gereja harus bergerak keluar, bergandengan tangan dengan pemerintah dan lembaga lainnya, untuk melakukan pemberdayaan dan pengembangan ekonomi jemaat, mengurus pendidikan, memperjuangkan keadilan dan kebaikan bagi masyarakat dan bangsa. NTT punya masalah besar terkait kemiskinan dan pendidikan. Dalam konteks inilah GMIT diutus. Maka kita tidak boleh acuh-tak acuh. Gereja mesti menjadi anugerah dalam kondisi terpuruk ini. Kita mesti malu kalau tidak melakukan apa-apa. Sebagai gereja, kita mesti bertanya: apa yang harus kita lakukan untuk mengubah kemiskinan dan ketertinggalan pendidikan yang ada. Kita harus melakukan segala upaya untuk memajukan kehidupan jemaat, membantu mengubah nasib mereka, dan membantu pendidikan anak-anak. Hanya dengan itu, kita menjadi anugerah bagi dunia. Itu kehendak Allah dari kita.

Dan itu mesti dimulai dari dalam diri. Sebagai gereja reformasi, semboyan kita adalah: ecclesia reformata semper reformanda (gereja reformasi hendaknya selalu memperbaharui diri). Artinya kita mesti terus-menerus memperbaharui diri, hati, pikiran, komitmen, bahkan motivasi kita agar seturut kehendak Tuhan. Kita mesti bertobat sesuai perintah injil dan tuntutan reformasi, agar kita mampu menjadi berkat bagi dunia. Selamat mereformasi diri dan membangun jemaat, masyarakat dan bangsa melalui karya-karya nyata bagi sesama dan alam semesta. Tuhan menolong kita. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *