Segala Sesuatu Sia-Sia? (Pengkhotbah 1:1-11) – Wanto Menda

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Ada tafsiran lama yang mengatakan bahwa Salomo menulis 3 kitab hikmat yakni; Kidung Agung, Amsal dan Pengkhotbah pada kurun waktu yang berbeda. Kidung Agung ditulis saat Salomo sedang mabuk asmara diusia muda, kitab Amsal ditulis saat dia memasuki usia paruh baya, dan terakhir kitab Pengkhotbah saat Salomo menjalani usia lanjut.

Kesimpulan itu didasarkan pada jenis sastra tiga kitab tersebut, yang mana kitab yang satu sarat dengan puisi-puisi cinta, yang lain penuh dengan nasihat-nasihat moral, dan yang terakhir berisi pesan-pesan praktis bernada frustrasi. Namun, memperhatikan banyak sekali kata-kata yang muncul berbahasa Aram, – bahasa Aram baru muncul sekitar 10 abad setelah Salomo – para ahli berkesimpulan bahwa kitab ini tidak ditulis oleh Salomo.

Pengkhotbah memulai pesan di pasal 1 ini dengan pandangan yang pesismistik terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Itu ditandai dengan tema kesia-siaan yang bisa ditemukan dihampir semua pasal kitab Pengkhotbah. Kata sia-sia atau kesia-siaan muncul 38 kali lebih banyak dari kata Tuhan yang disebut hanya 26 kali.

Pada ayat 2 terjemahan TB LAI misalnya, ia menyebut kata kesia-siaan 3 kali. Lalu di ayat-ayat selanjutnya dia menilai segala daya upaya manusia tak ada gunanya. Ibarat benda-benda alam seperti matahari, angin, sungai dan laut, yang sudah diprogram sedemikian rupa sehingga bekerja secara mekanistik. Dan karena itu ia memandang kekuatan-kekuatan alam itu sebagai yang membosankan atau menjemukan.

Pandangan ini tentu berbanding terbalik dengan cara pandang penulis Mazmur yang melihat alam semesta dengan mata yang penuh pesona dan pujian kepada Pencipta.

Kalau kita baca perikop ini dengan memakai kacamata generasi milenial yang hobi traveling, kita bisa katakan bahwa penulis kitab ini mungkin tidak punya cukup sense of artatau barangkali dia kurang piknik. Soalnya, amat sayang untuk mengabaikan indahnya keanekaragaman hayati yang memanjakan mata di alam semesta ini.

Siapa yang tidak terpesona melihat panorama alam disinari sunrise atau sunset, merasakan sejuknya angin di bawah pepohonan, menikmati deburan ombak dan lembutnya pasir di pantai, atau merasakan segarnya air sungai yang mengalir? Kalau anda berselancar di googgle, anda akan cape menghitung foto-foto dan video bertema matahari, laut, angin, gunung, sungai, dll. Kendati demikian, apa yang di pandangan mata kita indah dan menarik, menurut Pengkhotbah semua itu hanyalah kesia-siaan belaka.

Kita berhenti sejenak di situ dulu, dan saya ajak kita loncat ke abad 21. Bagaimana manusia abad 21 memandang dunia. Apakah hidup di bawah matahari abad 21 ini juga sia-sia seperti yang disebut Pengkhotbah?

Profesor Yuval Harari, sejarawan dari Universitas Ibrani Yerusalem, membagi manusia dalam dua kategori yakni Homo Sapiens dan Homo Deus. Harari mengatakan dalam proses evolusi, manusia bergerak dari level binatang menuju level deus/dewa/ilah.

Kata Harari, Pada banyak-banyak abad lalu homo sapiens berjuang untuk survive mencapai piramida teratas. Dan upaya itu berhasil. Homo sapiens sukses menaklukan spesies lain di alam semesta. Kendati demikian, disepanjang sejarah perjuangan homo sapiens itu, ada tiga masalah yang nyaris tidak terselesaikan yakni: kelaparan, wabah dan perang.

Tiga persoalan ini kendati masih digumuli hingga saat ini, namun kata Harari, bukan tidak mungkin bisa dikendalikan oleh manusia. Caranya adalah melalui pertumbuhan ekonomi, penemuan teknologi obat-obatan dan medis serta kesadaran manusia akan dunia yang damai. Dan, kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini dalam rangka mengatasi masalah-masalah global tersebut.  Vaksin Corona, misalnya, sudah ada di depan mata. Jadi melalui kecanggihan berpikir manusia, termasuk diciptakannya kecerdasan artifisial (artificial intelligence), kini, homo sapiens sedang bergerak menuju homo deus, (manusia dewa). Apa yang hendak dicapai homo deus? Yaitu: Imortalitas, kebahagiaan dan keilahian.

Homo deus kata Harari, sedang melakukan riset untuk mencapai umur maksimal. Proyek ambisius ini sudah dimulai tahun 2012 oleh anak perusahaan Googgle bernama Calico. Dan tidak main-main, mereka menargetkan umur 500 tahun akan dicapai manusia dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. (Homo Deus, Yuval Noah Harari, hal. 27).

Angka usia 500 tahun itu kata Harari terlalu bombastis. Ia mengandaikan usia yang realistis bisa dicapai homo deus adalah 150 tahun. Namun serentak dengan itu Harari berkelakar, kalau manusia bisa mencapai usia 150, katakanlah usia 40 tahun dia menikah, maka dia masih punya waktu 110 tahun untuk menjaga dan merawat pernikahannya. Harari lalu bertanya retoris, siapa yang mampu mempertahankan usia pernikahan selama 110 tahun hanya dengan satu suami atau satu istri? Kalau manusia mencapai usia 150 tahun, dunia akan direpotkan dengan pernikahan serial. Begitu kata Harari.

Ia lalu memberi contoh di bidang politik. Bayangkan kalau Hitler atau Stalin, mencapai usia 150 tahun. Dan dalam konteks Indonesia, kita bisa tambahkan mantan presiden Suharto. Bagaimana jadinya Indonesia kalau seandainya Suharto mencapai usia 150 tahun? Tentu kita masih menunggu hingga 2071. Sulit membayangkan nasib Indonesia seperti apa selama kurun waktu itu?

Melihat kenyataan-kenyataan itu, Harari berkesimpulan yang sama dengan Pengkhotbah, bahwa betapa pun kecanggihan teknologi membawa manusia pada pencapaian-pencapaian yang tidak terbayangkan sebelumnya, manusia akan berputar-putar pada persoalan yang sama.

Seumpama sungai-sungai yang mengalir ke laut yang tak akan pernah penuh, demikianlahlah ambisi dan napsu manusia yang tak akan pernah terpuaskan. Salah satu akibat dari keserakahan manusia itu adalah ketidakseimbangan ekologis pada planet bumi dengan cara yang dasyat. Dan, lagi-lagi kata Harari, kita terlambat menyadari bahaya ekologis ini.

Meskipun ada pembicaraan tentang polusi, pemanasan global, dan perubahan iklim, sebagian besar negara masih harus melakukan pengorbanan ekonomi atau politik untuk memperbaiki situasi. Ketika tiba saatnya untuk memilih antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas ekologis, para politisi, CEO, dan warga pendukung hampir selalu memilih pertumbuhan.

Dalam kaitan dengan Bulan Lingkungan Hidup GMIT, apa kena mengena teks ini pada kehidupan makhluk hidup di planet bumi? Bagi saya, sesuai kata Pengkhotbah, bahwa tidak ada yang baru di bawah matahari; bahwa semua yang telah terjadi dan akan terjadi hanyalah pengulangan-pengulangan maka hal itu memberi kita pelajaran untuk dewasa dalam menatakelola alam ciptaan Tuhan yang kita diami ini. Pertanyaan utamanya adalah, apa yang harus kita buat agar kehidupan di bawah matahari ini tidak sia-sia? Apa yang mesti kita buat supaya air hujan tidak terbuang sia-sia saat kita memasuki musim hujan 2020?

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sudah meramalkan tahun ini dan awal tahun depan NTT dilanda Lanina. Hal itu ditandai dengan curah hujan yang lebat tetapi berlangsung dalam durasi waktu yang singkat. Saya kira, bagi kita pembaca abad 21, ungkapan kesia-siaan yang mewarnai seluruh kitab Pengkhotbah bukan terutama dimaksudkan untuk kita nrimosaja keadaan itu, tetapi apa sikap kita dalam situasi yang sarat kesia-siaan ini? Saya yakin Pengkhotbah tidak bermaksud untuk mewariskan cerita kesia-siaan hidup kepada pembacanya untuk ditiru, melainkan ia menampilkan realitas yang demikian agar pembaca merenung dan membangun optimisme melalui karya-karya pembaharuan untuk dunia yang lebih baik. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *