Melaut: Perjumpaan dengan Laut dan Tuhan Allah – Elia Maggang

Manchester-Inggriswww.sinodegmit.or.id, Dalam bulan lingkungan hidup tahun ini, saya mengamati banyak kegiatan berkaitan dengan laut di GMIT. Beragam aktivitas yang saya sebut sebagai “melaut” ini dilakukan misalnya, di Amarasi Timur, oleh Kaum Bapak GMIT yang menanam bakau. Di Jemaat Elim Bolok, Kupang barat, warga Jemaat GMIT Lahairoi mendapatkan pelatihan untuk budidaya anggur laut. Di Sabu Barat, warga Jemaat GMIT Pniel Menia menanam terumbu karang dalam kolaborasi dengan BKKPN-Kupang. Beberapa hari yang lalu, di akun Facebook-nya, Pdt. Yoktan Sanam menceritakan keindahan dan kebahagiaan warga jemaatnya di Rote saat ‘meresmikan’ sebuah perahu baru (bodi) di laut. Tentu saja, kegiatan-kegiatan di atas sejalan dengan pandangan dan sikap eklesiologis GMIT terhadap lingkungan hidup, seperti yang tergambar di Pokok-Pokok Eklesiologi GMIT serta RIP/HKUP 2020-2023. Namun, saya memiliki refleksi teologis sederhana yang diharapkan dapat menginspirasi warga GMIT untuk memahami dan menjalani aktivitas melaut sebagai sebuah pengalaman iman, yaitu perjumpaan dengan laut dan Penciptanya. Refleksi ini bersauh pada teologi komunitas ciptaan.

Laut, Sumber Kehidupan

Kegiatan-kegiatan melaut di atas menunjukkan kedekatan atau hubungan yang penting warga GMIT dengan laut. Dengan segala sumber dayanya, laut merupakan bagian penting dari kehidupan khususnya bagi masyarakat pesisir. Ia adalah keseharian hidup, tak terpisahkan dari komunitas pesisir.

Itu mudah dimengerti karena laut memberikan dua jenis kebutuhan mendasar manusia yaitu makanan (aspek ekologis) dan kerabat (aspek sosial). Untuk aspek ekologis itu, Sylvia Earle memakai kata cornerstone(batu penjuru) untuk menggambarkan peran fundamental laut. Menurutnya, laut adalah penyanggah utama kehidupan planet biru ini karena perannya yang menghasilkan oksigen, menjaga keseimbangan iklim, memberikan air melalui hujan kepada makhluk hidup di tanah, dan menyediakan makanan serta mata pencaharian. Bagi Earle, kehidupan di bumi ini tidak akan ada tanpa keberadaan laut.[1]

Sedangkan mengenai aspek sosial, laut adalah penghubung yang membentuk karakter dan cara hidup tertentu atau budaya maritim dari komunitas-komunitas pesisir. Budaya maritim itu lahir dari perjumpaan orang-orang pesisir dengan keberadaan dan kontribusi laut bagi kehidupan mereka.[2] Itu terlihat dalam relasi sosial masyarakat pesisir, termasuk di dalamnya adalah cara mereka, sebagai komunitas, memanfaatkan sumber daya laut. Syair-syair dalam bahasa lokal maupun berbagai kearifan lokal yang meliputi pengetahuan terhadap jenis-jenis makanan laut serta keterampilan untuk mengolahnya adalah bentuk-bentuk kebudayaan maritim itu, demikian ditegaskan Tom Therik.[3] Demikian juga tradisi-tradisi masyarakat pesisir seperti lilifuk di Kuanheun, Kupang Barat, atau hadingmulung-hobatmulungdi Baranusa, Pantar.

Aspek ekologis dan sosial itu menunjukkan peran sentral laut terhadap kehidupan bersama segenap ciptaan. Kedua aspek ini saling terkait satu sama lain. Secara sederhana, supaya makanan di laut tetap tersedia di laut dan mudah diperoleh, masyarakat pesisir memiliki cara pandang dan perilaku tertentu yang ramah terhadap laut sebagai kebudayaan maritim yang dapat menjaga kelestarian ekosistem laut.[4] Jelaslah bahwa laut memiliki peran sentral dalam kehidupan bersama segenap ciptaan. Sehingga merawat laut dan mengelola sumber dayanya secara berkelanjutan adalah respon yang seharusnya, demi kehidupan bersama di planet ini.

Lalu, bagaimana secara teologis orang percaya berefleksi tentang peran sentral laut itu? Bagaimana supaya kegiatan-kegiatan “melaut” sebagai respon terhadap kontribusi laut itu dinikmati sebagai sebuah pengalaman iman atau perjumpaan dengan Allah? Menurut saya, teologi komunitas ciptaan dapat menolong kita dalam hal ini.

Laut dalam Teologi Komunitas Ciptaan

Pandangan teologi ini menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah berada di dalam relasi keterhubungan dan kebergantungan satu sama lain. Semua makhluk hidup dan materi ciptaan Allah berada di dalam relasi saling terkait dan saling bergantung satu sama lain dalam dekapan kasih Allah, sang Pencipta.[5] Komunitas ciptaan yang relasional ini sebenarnya merupakan konsekuensi dari Teologi Penciptaan yang dikonstruksi Jurgen Moltmann dalam bukunya, God in Creation: An Ecological Doctrine of Creation, yang bersauh pada teologi Trinitas. Namun, teologi komunitas ciptaan ini dikembangkan lebih luas oleh Elizabeth A. Johnson dan Richard Bauckham dalam karya mereka masing-masing.

Berdasarkan pembacaan mereka terhadap Mazmur 104, 148; Matius 6:25-33; Ayub 38-41, Johnson dan Bauckham mengatakan bahwa masing-masing ciptaan Allah – bukan hanya manusia – memiliki kedudukan dan peran tertentu yang mendukung kehidupan bersama. Semuanya berkedudukan sejajar sebagai partisipan dalam komunitas ciptaan Allah.[6] Maka, manusia (antroposentrik) bukanlah pusat dari ciptaan sebagaimana yang menjadi ekses teologi penatalayanan (stewardship). Ungkapan “sungguh amat baik” dalam Kejadian 1:31 tidak menobatkan manusia sebagai mahkota ciptaan Allah. Melainkan, menurut Bauckham, itu menegaskan keindahan komunitas ciptaan Allah yang saling terhubung dan bergantung satu sama lain – inilah yang “sungguh amat baik” dalam pengamatan Allah.

Pandangan ini menegaskan bahwa manusia adalah bagian dari komunitas ini dengan tugas dan tanggung jawabnya sendiri (Kejadian 1:28) yang sama sekali tidak menjadikannya superior dan eksploitatif terhadap ciptaan lainnya. Bahkan, manusia lebih bergantung kepada alam daripada alam kepadanya. Manusia dan ciptaan lainnya adalah sesama partisipan.[7] Sehingga, relasi manusia dengan alam adalah sebuah relasi di mana mereka berada dalam kebergantungan, kooperasi, dan persekutuan.[8]

Dalam perspektif ini, laut beserta segala isinya adalah partisipan di dalam komunitas ciptaan Allah. Laut memiliki nilai intrinsik yang menegaskan posisi dan peran uniknya di semesta ini, sekaligus kedudukannya di hadapan Penciptanya. Laut dan makhluk di dalamnya memiliki hubungan “ekslusif” dengan Allah; mereka taat kepada Allah dan memuji-Nya (lihat misalnya Mazmur 69:35; 104:24-30; 107:25, 29; Ayub 40-41; Matius 8:26; Wahyu 5:13). Laut turut berpartisipasi di dalam karya Allah bagi kehidupan segenap ciptaan.

Sebagai salah satu partisipan, laut adalah subjek dalam kehidupan ini sama seperti manusia dan ciptaan lainnya. Laut bukanlah sebuah objek eksploitasi atau komoditi manusia. Bukan juga laut itu diciptakan sebagai pelayan manusia. Laut melayani kehidupan bersama segenap ciptaan lainnya dalam relasi kebergantungan, kooperasi dan persekutuan dengan manusia serta elemen ciptaan lainnya. Peran sentral laut yang dibahas sebelumnya, yaitu sebagai sumber kehidupan (ekologis dan sosial) adalah wujud dari partisipasi laut dalam komunitas ciptaan Allah.

Melaut sebagai Partisipan Komunitas Ciptaan Allah

Jika laut, sama seperti manusia, adalah partisipan dalam komunitas ciptaan Allah, bagaimana itu menginspirasi pandangan dan sikap dalam melaut? Sebagai jawaban terhadap pertanyan ini, saya mencatat sekurang-kurangnya empat prinsip reflektif-teologis yang saling terkait satu sama lain.

Pertama, melaut itu sendiri harus dipahami sebagai sebuah bentuk partisipasi manusia dalam komunitas ciptaan Allah. Atau, melaut adalah sebuah wujud dari nilai intrinsik manusia. Itu merupakan partisipasinya untuk merawat kehidupan bersama, untuk dirinya, laut itu sendiri dan makhluk lain yang bergantung dari peran laut. Bagi orang Kristen, menjadi nelayan, misalnya, bukan pertama-tama urusan makanan atau mata pencaharian, melainkan untuk merawat kehidupan bersama komunitas ciptaan Allah. Ia menangkap ikan bagi sesamanya yang membutuhkan makanan bergizi,[9] tanpa merusak terumbu karang yang sangat penting bagi ekosistem laut dan bumi secara keseluruhan.

Kedua, melaut tidak didorong oleh motif ekonomi, melainkan untuk mengalami nilai intrinsik laut, sebagaimana yang diberikan Allah kepadanya. Di sini, laut tidak dijumpai sebagai objek eksploitasi atau komoditi manusia. Sebaliknya, orang percaya berjumpa dengan laut sebagai subjek yang dengan segala dayanya sedang berpartisipasi dalam komunitas hidup bersama. Segala sumbangan laut bagi kehidupan dialami dan dimaknai sebagai karyanya, serta tanggung jawabnya kepada Penciptanya. Mendapatkan makanan dan penghasilan dari laut (ekonomi) berarti menikmati buah dari nilai intrinsik laut itu. Tentu saja ekonomi penting, tetapi ia adalah akibat, bukan motif melaut.

Ketiga, melaut perlu dimaknai dan dijalani dalam semangat menghargai serta mendukung laut untuk terus mewujudkan nilai intrinsiknya itu. Sebagai sesama partisipan, manusia berada dalam hubungan kebergantungan, kooperasi dan persekutuan dengan laut. Dalam relasi ini, manusia dan laut saling mendukung untuk mewujudkan nilai intrinsik mereka. Dalam hal ini, aktivitas melaut tidak boleh menghambat laut untuk mewujudkan nilai intrinsiknya. Di tengah krisis ekologis laut sekarang ini, kegiatan menanam terumbu karang di Sabu Barat dan bakau di Amarasi Timur itu dapat dimaknai sebagai cara orang percaya mendukung laut untuk tetap berkarya bagi kehidupan bersama di planet ini.

Terakhir, melaut seharusnya dihidupi sebagai sebuah perjumpaan dengan Allah yang berdiam dan berkarya di laut. Membaca nubuat Yehezkiel melawan raja Tirus (28:2) dari perspektif teologi bait Allah (temple theology), Meric Srokosz dan Rebecca S. Watson mengatakan bahwa laut adalah tempat yang sakral karena Allah berdiam di dalamnya. Di situ, Allah berkarya untuk menghidupkan segenap ciptaan, menopang kehidupan di planet biru ini. Winston Halapua, sang teolog moana dari Oceania, dengan indah mengatakan, gelombang-gelombang lautan/samudera yang memecah di karang dan pasir tanpa henti itu adalah rangkulan Allah yang tanpa henti menghidupkan.[10] Maka, melaut adalah sebuah perjumpaan dengan Allah yang sedang merengkuh kehidupan komunitas ciptaan-Nya. Namun, perjumpaan ini hanya akan teralami ketika ketiga prinsip diatas juga dihidupi.

Dengan empat prinsip reflektif-teologis ini, kegiatan-kegiatan melaut mendapatkan makna teologis yang menegaskan bahwa melaut adalah sebuah perjumpaan dengan laut sebagai subjek kehidupan dan Allah yang berkarya di dalam serta melalui laut bagi kehidupan. Makna melaut seperti ini diharapkan mendorong warga GMIT untuk melaut, apa pun bentuknya, dan menikmatinya sebagai sebuah pengalaman iman yang nyata.

 *Untuk Je’o (Jefrison Rede), seorang nelayan dan sahabat yangbertahun-tahunmengajarkan saya makan meting dan memancing ikan di laut Nunbaun Delha, Kota Kupang, belasan tahun lalu.

Manchester, UK, 23 November 2020

[1] Sylvia Earle, “Protect the Ocean, Protect Ourselves,” in Coastal Change, Ocean Conservation and Resilient Communities, ed. Marcha Johnson and Amanda Bayley (Cham: Springer International Publishing, 2016), 156.

[2] Lih. Maggang, “Menampakkan Corak Biru Kekristenan Indonesia,” 169-70.

[3] Selengkapnya lihat Tom Therik, “Meramu Makanan Dari Laut: Kearifan Masyarakat Pantai Rote Di Semau,” Setia 1 (1997), 79.

[4] Maggang, 170.

[5] Elizabeth A. Johnson, Ask the Beasts: Darwin and the God of Love (London: Bloomsbury, 2014), 267.

[6] Richard Bauckham, Bible and Ecology: Rediscovering the Community of Creation (London: Darton, Longman and Todd, 2010), 64-102; dan Johnson, Ask the Beasts, 267-73.

[7] Peter Manley Scott, “Creation,” in Willey Blackwell Companion to Political Theology, Second Edition, ed. William T. Cavanaugh and Peter Manley Scott (Chichester: Blackwell, 2019), 390.

[8] David Atkinson, “Christian Ethics and Climate Change,” Crucible: The Journal of Christian Social Ethics, April (2019), 10.

[9] Pertanyaan penting yang sering muncul adalah bukankah makan ikan berarti kita mengambil kehidupan ikan tersebut? Isu ini dibahas dengan sangat baik oleh Ernst Conradie. Prinsipnya, manusia dan ikan berada di dalam rantai makanan. Maka, saya setuju dengan Conradie yang mengatakan bahwa hubungan “makan dan dimakan” antara manusia dan ciptaan lain terjadi dalam kepentingan untuk keberlanjutan kehidupan yang Allah ciptakan ini. Selengkapnya bisa baca Ernst M. Conradie,  “To Eat or Be Eaten? That’s the Question.” In Laura Hobgood and Whitney Bauman, eds. The Bloomsbury Handbook of Religion and Nature: the Elements (London: Bloomsbury Academic, 2018), 63-78.

[10] Winston Halapua, Waves of God’s Embrace (Norwich: Canterbury Press, 2008), 93-5.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *