Menghadapi Tantangan Berat: Belajar Dari Daniel 6:16-29 – Pdt. Leo Takubessi

www.sinodegmit.or.id, Mungkin saudara akan setuju dengan pameo ini “tidak ada orang kebal masalah”. Kebal hukum bisa dimiliki orang tertentu, kebal senjata tajam, kebal penyakit atau kebal virus, tetapi untuk satu hal ini saudara pasti akan setuju bukan? Memang harus jujur kita akui, manusia yang berhadapan dengan masalah bukan saja orang benar, orang saleh, orang taat ibadah, pendeta, majelis gereja dlsb. Semua manusia pasti pernah berhadapan dengan masalah. Tidak terkecuali tokoh Daniel yang kita baca kisahnya di akhir tahun ini.

Siapakah Daniel ini?

Daniel, adalah salah satu di antara rombongan bangsawan muda Kerajaan Yehuda yang diangkut Raja Nebukadnezar. Dia diangkut pada zaman Raja Yoyakhim bersama dengan 3 orang sahabatnya yaitu Hananya, Misael dan Azarya. Mereka diangkut ke Tanah Sinear dan hidup serta bekerja di Kerajaan Babilon sejak masa Nebukadnezar, Belsyazar, Darius anak Ahasyweros, dan Koresh. Ini berarti Daniel adalah Nabi yang hidup dari zaman Yesaya bernubuat sampai munculnya Nehemia dan Zakaria. Dia juga hidup pada zaman yang sama dengan Ester, namun Ester menjadi ratu di Niniwe, sedangkan Darius yang kita baca kisahnya pada pasal ini adalah anak dari Ahasyweros dan Ester, cucu dari Nebukadnezar. Ini berarti Daniel telah berjasa bagi kerajaan Babilonia sejak masa Nebukadnezar hingga menjadi Negara yang kuat dimasa Ahasyweros dan Koresh.

Nabi Daniel sangat dipengaruhi oleh Yesaya dan Yeremia. Kedua Nabi ini adalah Nabi Kerajaan yang menjadi guru para bangsawan Yehuda dan Samaria. Karena itu integritas Daniel telah ditempa sejak dia berada di negeri Asalnya Yehuda, dan Tuhan memakai Yesaya untuk membentuk jati diri Daniel bersama ketiga sahabatnya.  Tidak heran jika Daniel adalah orang yang sangat bijaksana dan mampu menempati posisi sangat tinggi dalam zaman pemerintahan raja-raja Babelonia.

Nama Daniel berarti “Allahku yang adil”. Keadilan Allah itu muncul dalam beberapa kisah heroik yang dialami oleh Daniel dan 3 sahabatnya Hananya, Misael dan Azarya. Dalam masa-masa pembuangan di Babilonia itu, umat Yahudi mengalami berbagai upaya penghilangan iman, identitas secara sistematis oleh pemerintahan para Raja Babel.

Namun saudaraku, orang saleh, pandai, kaya, terpandang, terkenal juga seorang budak atau bangsawan adalah juga manusia yang menghadapi masalah dan tantangan bukan? Dan Daniel juga demikian. Kita mungkin pernah bertanya, mengapa orang benar juga mengalami tantangan kehidupan? Mengapa orang yang saleh, rajin berdoa, tekun beribadah, hidup penuh kasih, justru adalah orang yang sering ditipu, difitnah ditolak bahkan dimusuhi?

Dimanakah Tuhan Allah yang menyelamatkan itu ketika cobaan terjadi? Mengapa Allah mengizinkan hal itu terjadi? Jikalau Allah baik mengapa ada kesulitan, tantangan, dll?

Pertama mari kita cermati situasi apakah yang terjadi di kerajaan Darius orang Media itu?

Kerajaan Media adalah salah satu Kerajaan kuat dalam Kerajaan Babel. Sebagai salah satu cucu Nebukadnezar, Darius diangkat menjadi raja di usianya yang lanjut (62 tahun). Ini berarti Darius dan Daniel juga hidup dari masa yang sama. Daniel telah melayani kakek Darius. Dari kisah Daniel pasal 5, kita mendengarkan bagaimana Daniel dikenal baik oleh Belsayar dan permaisuri kerajaan. Belsyazar dan permaisuri kerajaan adalah paman dari Darius. Itu berarti Darius juga menyaksikan bagaimana Tuhan memakai Daniel sejak muda untuk menorehkan sejarah kerajaan Babilonia. Daniel dan Darius adalah 2 orang yang menyaksikan pembunuhan raja Belsyazar orang Kasdim. Kudeta kerajaan Persia yang dipimpin Ahasyweros yang menggenapi tafsiran mimpi Daniel dan juga naiknya Darius menjadi raja menggantikan Ahasyweros. Diusianya yang sudah sangat lanjut Daniel masih membaktikan diri kepada Darius.

Kerajaan Babilonia itu terdiri dari bebebrapa kerajaan kecil dan terbagi atas 120 Provinsi yang dikepalai Gubernur. Di masa Darius memerintah, ia mempunyai 120 gubernur yang membantunya. Negeri yang luas dan berbeda agama masing-masing taklukan menuntut sebuah penyeragaman filosofi dan gaya hidup. Karena itu sebagai bangsa penakluk yang majemuk, kehendak penguasa adalah mutlak. Itu berarti Agama adalah tantangan bagi kerajaan Babel yang berbeda-beda itu untuk bersatu padu. Akibatnya dalam beberapa kisah, baik pada masa Azarya, Misael dan Azarya maupun masa Ahasyweros di masa Ester, serta dimasa Darius, upaya menyatukan bangsa yang berbeda itu menjadi kendala. Karena itu mencuatlah isu untuk memaksakan semua warga negara memiliki 1 jenis agama. Inilah awal dari kisah heroik penyelamatan Allah melalui Daniel, ketiga sahabat Daniel yang dibuang ke dalam api, kisah Daniel di gua singa dan kisah Mordekhai di masa Ahasyweros.

Orang Babilonia memang terkenal dengan cara menghukum penjahat yang unik dan sadis. Bukan saja hukum pancung, penggal, gantung, dibakar hidup-hidup, dimasukkan dalam minyak panas atau yang agak lunak seperti penjara, pengasingan atau kerja paksa, Bangsa babilonia juga menyiksa para penjahat dengan cara penyaliban, melemparkan para penjahat kedalam kawanan karnivore ganas seperti singa, serigala, buaya atau anjing. Dan dalam kisah Daniel, pembakaran dan mengumpankan penjahat kepada singa adalah pilihan yang diambil. Tindakan ini dilakukan jika pelaku kejahatan adalah pengkhianat dan pembangkang serta mata-mata.

Mari kita pelajari hal kedua dari kisah ini. kali ini kita belajar dari Daniel ketika ia berhadapan dengan tantangan. Reaksi Daniel dalam menghadapi ancaman terhadap hidup dan imannya:

  1. Integritas diri yang tidak berubah.
  2. Penyerahan diri total

Bagaimana cara Allah bekerja untuk menyelamatkan kita?

  1. Sebagai orang percaya kita selalu percaya bahwa Allah juga turut mengatur sejarah dunia. Allah mampu menarik garis lurus di antara garis bengkok dan lekak-lekuk sejarah manusia berdosa. Banding Roma 8 : 26,
  2. Kejahatan, kesulitan dan pandemi bukanlah hal yang kekal. Kita tetap meyakini bahwa segala sesuatu ada batasnya dan manusia diberikan kekuatan untuk mengatasinya. Banding 1 Korintus 10 : 13
  3. Allah menjamin bahwa kejahatan dapat dikalahkan dengan kebaikan.

Unstopable God (Allah yang tidak dapat dihentikan)

Kisah Daniel ini adalah kisah heroik yang sama polanya dengan kisah penyelamatan dalam Alkitab lainnya. Kita percaya bahwa Allah yang dikasihi Daniel adalah Allah yang tidak terhentikan, meski sistem Undang-Undang Media Persia, meski kekuasaan 120 Kepala Daerah, tidak menjamin keselamatan Daniel. Bahkan usia Daniel yang sudah tua dan fisik yang lemah. Namun Allah Israel, Allah yang disembah Daniel adalah Allah yang hidup dan kekal.

Kuasa YHWH itulah yang menyertai Daniel. Kekuatan Allah yang tidak terhentikan. Allah itu tidak terhentikan ketika Dia membawa Israel melewati Teberau, Ketika Daud menghadapi Goliat, Ketika Naomi kembali ke Betlehem, ketika Paulus karam kapal di Malta.

Kuasa Allah yg tidak terhentikan itu yang telah menyertai kita melewati kesulitan Tahun Pandemi ini. Maka, jika hitungan kalender ini berhenti, 366 hari di tahun 2020 berakhir, duka dan kesulitan seakan menghentikan kita, kita mau percaya bahwa kita juga akan dibawa Allah untuk melanjutkan hidup kita di tahun yang baru. Dialah Allah yang tak terhentikan. MY GOD IS UNSTOPABLE GOD. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *