Pertobatan Nasional: Membaca Yunus dari Perspektif Prokes C-19 (Yunus 3:1-10) -Pdt. Jahja A. Millu

www.sinodegmit.or.id, Manusia era post human cenderung enggan mempercakapkan tobat. Itu karena kata ini punya implikasi yang sangat kuat bagi kehidupan, berseberangan dengan prinsip manusia zaman now yang mengutamakan kebebasan. Seseorang tak bisa bicara tentang tobat, namun diam tak berbuat apapun. Harus ada yang kita ubah. Harus ada transformasi, yang menurut Hoekema mencakup aspek intelektual, emosional maupun volisional.

Sejujurnya, fenomena mengabaikan pertobatan bukan hanya ciri manusia zaman ini. Sejarah manusia selalu diwarnai keengganan untuk bertobat. Manusia tidak ingin beralih dari dosa (salah) kepada Allah (benar). Pembangkangan ini bahkan mencapai titik nadirnya dengan jatuhnya korban di pihak Allah. Yesus, Sang Anak, harus mati karena manusia bersikukuh pada pendirian dan sikap yang salah.

Hari ini kita menyaksikan lagi pola yang sama. Keengganan manusia untuk mendisiplinkan diri dengan protokol kesehatan menyebabkan jatuhnya korban terdampak covid dengan eskalasi yang memprihatinkan. Banyak nyawa jadi korban karena hanya untuk memakai masker pun kita masih harus dipaksa. Bahkan dengan regulasi negara. Dulu, kekerasan hati manusia telah menyebabkan kematian Anak Allah. Kini, hal yang sama menyebabkan banyak jiwa melayang. Bolehkan kita bertobat supaya tidak ada lagi korban jiwa?

Mungkin kita beralasan, toh yang mati saya. Mengapa anda harus repot dengan nyawa saya? Ini prinsip yang keliru. Tuhan sayang nyawa manusia. Itu adalah pemberianNya yang berharga. Pesan kitab Yunus juga sangat kuat tentang hal ini. Tuhan sayang 120 ribu nyawa orang Niniwe. Meski Niniwe adalah musuh bebuyutan Israel. Meski mereka berbeda suku. Meski mereka tidak percaya Tuhan.

Penegasan PB lebih dahsyat lagi. Saking berharganya nyawa manusia, Allah ngotot untuk menempuh segala upaya buat menyelamatkannya. Allah bahkan menempuh langkah yang paling radikal, yakni dengan taruhan nyawa AnakNya. Lalu mengapa kita demikian meremehkan nyawa kita sendiri?

Memang, itu adalah nyawa anda. Namun saat anda sakit, ada banyak orang yang terdampak. Anda mengancam nyawa dokter dan perawat serta keluarga mereka. Anda mengancam orang seisi rumah anda, tetangga anda, rekan kerja anda. Bahkan semua orang yang berelasi dengan anda, karena harus ditracking. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pemeriksaan orang-orang ini, juga untuk pengobatan mereka dan diri anda? Dan saat nyawa anda melayang, bunyi sirine yang mengangkut jenazah anda ke TPU menimbulkan ketakutan orang yang mendengarnya

Semua cara pikir dan kebiasaan yang dapat menyebabkan tingginya angka penderita dan angka kematian covid sebagaimana dikemukakan di atas, harus segera dihentikan. Kita membutuhkan pertobatan nasional terhadap hal ini. Kita perlu bertobat dari kebiasaan yang menganggap remeh protokol kesehatan (Prokes). Tobat dari ketidakdisiplinan menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M, atau 6 M).

Agar pertobatan nasional ini dapat mencapai hasil yang baik, diperlukan partisipasi dan kerjasama yang baik antara unsur agama, pemerintah dan masyarakat. Pemulihan Niniwe mengajarkan kita tentang betapa pentingnya kerjasama antara ketiga pihak ini, sebagaimana diperankan nabi Yunus, raja Niniwe dan rakyatnya. Tentu saja dengan Allah sebagai tokoh utamanya. Sentralitas peran mereka dalam narasi ini, kiranya menjadi acuan positif dalam pertobatan kita. Agama, pemerintah dan masyarakat mesti memainkan perannya masing-masing dengan baik dalam proses pertobatan nasional ini, sehingga tidak ada lagi nyawa manusia melayang sia-sia.

Mungkin ada yang bertanya, “Apakah tidak disiplin dalam 3M itu hanya pelanggaran protokol, ataukah tergolong dosa?” Memang, abai melaksanakan prokes bukanlah dosa. Namun bila menyebabkan anda sakit dan meninggal, maka anda sedang berdosa terhadap tubuh dan hidup pemberian Tuhan. Bila anda menyebabkan orang lain sakit, apalagi sampai meninggal, anda telah berdosa karena membunuh orang lain. Jadi, disiplin dalam protokol kesehatan dapat menyebabkan kita terhindar dari berdosa terhadap diri sendiri dan orang lain.

Semua pelajaran dari kitab Yunus ini kiranya menolong kita untuk mengambil haluan hidup yang benar guna memelihara kemanusiaan. Disiplin dalam protokol kesehatan adalah wujud pertobatan kita yang penting saat ini. Kita belajar dari pilihan pertobatan orang Niniwe yang sangat bijak. Mereka menempuh langkah preventif, yakni bertobat sebelum situasi buruk menunggangbalikkan hidupnya. Sudah tentu pertobatan kita sekarang harus melampaui mereka, sebab covid sudah menunggangbalikkan kita dan meluluhlantakkan banyak sektor kehidupan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *