Sub Tema Pelayanan GMIT 2021: Roh Kudus Menyembuhkan Relasi dan Memulihkan Kita Dari Dampak Pandemi Covid-19 (Yehezkiel 37:14)* – Pdt. Ira Mangalilo, Ph.D.

Pdt. Dr. Ira Mangililo

Pendahuluan

Yehezkiel adalah seorang nabi yang berasal dari keturunan imam Zadok di Yehuda. Ia dibuang ke Babilonia bersama dengan Raja Yoyakhin dan bangsawan Yehuda lainnya; dan di pembuanganlah Ia dipanggil untuk menjadi nabi bagi orang buangan di sana. Awal dari pembuangan di Babilonia itu (597/587-539 SZB) sendiri dapat dikategorikan sebagai “masa kegelapan” yaitu masa yang dipenuhi dengan hal-hal yang menakutkan dan juga membingungkan di mana pengetahuan maupun bentuk-bentuk kepercayaan tradisional tidak lagi cukup menolong menjelaskan peristiwa kekinian yang tengah dialami.[1]

Hal ini dapat dimaklumi mengingat bahwa umat Israel tidak hanya dilemparkan ke dalam tanah asing melainkan ke dalam konteks politik dan keagamaan yang sangat berbeda dibandingkan dengan tradisi dan kebudayaan Yahudi. Itu berarti bahwa, pembuangan tidak hanya berarti diusir dari tanah Allah sebagai bentuk pembalasan atas tindakan yang melawan perjanjian dengan Allah melainkan penghancuran identitas Israel sebagai sebuah bangsa.[2] Keberadaan raja dan para imam sebagai simbol kekuatan politik dan agama negara yang dimaksudkan untuk menghadirkan ketertiban dan keamanan dan untuk memastikan dan memediasi tercurahnya berkat dan perlindungan Ilahi tidak lagi dirasakan di pembuangan. Hal ini menunjukkan kegagalan para pemimpin politik dan agama untuk melindungi rakyat mereka mengingat bahwa keputusan-keputusan merekalah yang secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan terjadinya malapetaka yang membuat mereka tidak berdaya di hadapan pasukan Babilonia.[3] Ketercabutan dari tanah yang menimbulkan persoalan psikologis yang luar biasa ini semakin diperparah dengan berbagai tantangan yang kemudian di hadapi di Babilonia. Di sana, para orang buangan ini kehilangan status istimewa mereka yaitu jaringan sosial dan peran mereka dalam masyarakat. Itulah sebabnya, situasi ini digambarkan sebagai “kematian sosial.” Hingga pertanyaan mengemuka yang muncul tentang “siapa kita?” dan “di mana Allah di dalam semua ini?” merupakan pertanyaan-pertanyaan yang terus mereka tanyakan seiring dengan hancurnya identitas personal dan kolektif mereka. Kitab Yehezkiel dengan demikian dapat diposisikan pada persimpangan jalan di mana paradigma sosio-keagamaan yang lama telah dihancurkan dan bentuk yang baru masih terus dicari.[4]

Keberadaan Kitab Yehezkiel ini sendiri dimasukkan dalam jajaran Kitab Nabi-nabi Kemudian dalam kanonisasi Alkitab Ibrani. Kitab ini merupakan salah satu dari 5 kitab Nabi-nabi Besar. Jika dibandingkan dengan yang lainnya, Kitab Yehezkiel dilihat sebagai yang paling menarik dibandingkan dengan yang lainnya karena terlepas dari empat pengalaman penglihatan (Yeh. 1; 8; 37; 40) dan aspek-aspek dramatis lainnya, Biwul mengatakan bahwa ada sejumlah hal yang membuat kitab ini unik.

Pertama, ketika nabi Israel lainnya dipanggil untuk menjadi nabi di Palestina, baik itu di bagian Utara maupun Selatan, Nabi Yehezkiel diutus untuk menjadi nabi di pembuangan Babilonia (Yeh. 1:1; 2:2-7; 3:1-11); dan hal ini sangat memengaruhi pengalaman penglihatan dan isi nubuat atau pesan yang disampaikannya.[5]

Kedua, Yehezkiel dipanggil untuk menjadi nabi tepat pada saat yang sangat genting dalam sejarah perjanjian Israel. Masa ini merupakan masa yang kacau dan mengancam karena kota Yerusalem, kebudayaan, agama dan pusat ekonomi dari kehidupan umat Yahudi berada dalam resiko penghancuran oleh bangsa Babilonia. Pemusnahan yang menyebabkan hilangny kota, Bait Allah, keimaman dan kerajaan (Yeh. 33:21, 27-29) adalah sebuah peristiwa yang telah dikehendaki Allah akibat ketidaksetiaan Israel untuk hidup sebagai umat perjanjian. Meski demikian, sang nabi tidak mampu untuk menyakinkan orang-orang Israel yang tidak percaya dan yang adalah para pemberontak ini untuk mengakui dosa mereka dan membuat mereka untuk bertobat dan meminta belas kasihan Allah (Yeh. 2:2-5; 3:7, 11).[6]

Ketiga, akibat dari nubuat palsu di Yehuda tentang lamanya durasi pembuangan di Babilonia (Yeh. 13:1-16; 22:28; Yer. 5:31; 14:13-15) dan ketidakpercayaan orang-orang pembuangan tentang nubuat kematian Yerusalem yang tertunda membuat perkataan Yehezkiel menjadi tidak efektif di pembuangan (Yeh. 12:2-3). Kondisi psikologis dari para pendengarnya telah mendorong Yehezkiel untuk menjadi nabi yang paling dominan yang mengunakan unsur-unsur koreografi yang sangat dramatis dibandingkan dengan nabi-nabi lainnya.[7]

Keempat, peralihan fungsi nubuat Yehezkiel dari seorang hakim yang berorasi kepada seorang yang beretorika menyampaikan kata-kata penghiburan harus dicatat sebagai sesuatu yang penting. Hal ini terjadi karena Yehezkiel menyaksikan bagaimana peristiwa pembuangan itu sendiri telah memengaruhi kondisi sosio-psikologis umat Israel dan hal ini megharuskannya untuk menjadi seorang teolog yang kreatif – yang tidak hanya menafsir ulang tradisi kenabian pada masanya melainkan juga memberikan berita penguatan dan penghiburan.[8]

Kelima, formula pengenalan yang dominan dalam Yehezkiel (“Engkau akan tahu/mereka akan tahu”) membedakan nubuat nabi ini dari yang lainnya. Baik dalam penghakiman maupun pemulihan, Allah menunjukkan diriNya sebagai yang satu-satunya mengontrol kosmos dan sejarah manusia. Ia menghakimi dan menghukum baik yang jahat dan baik dalam rangka menanamkann rasa kagum dan menobatkan diriNya dalam kedaualatan Ilahi.

Gambaran Pemulihan dari “Tulang-tulang Kering” dalam Yehezliel 37:1-14

Pemaparan tentang latar belakang kitab Yehezkiel menghantarkan kita pada pemahaman tentang kekompleksitasan pekerjaan Yehezkiel di tengah-tengah umat Israel yang frustrasi di tanah pembuangan. Menghadapi umat yang hidup dalam trauma akibat kehilangan segalanya memaksa Yehezkiel, sang nabi yang sangat pesimis dan sinis, untuk kemudian berbicara tentang kemungkinan adanya terang di ujung kegelapan – untuk berbicara tentang harapan. Di sinilah, Yehezkiel berupaya keras untuk menyakinkan pendengarnya yang putus asa untuk melihat diri mereka sebagai bagian dari berkat Allah – untuk menerima dengan iklas peran mereka dalam pemulihan kembali kehidupan nasional.[9]

Pengharapan akan adanya pemulihan Allah terdapat di sepanjang Yehezkiel 34-48; dengan demikian Yehezkiel 37 termasuk dalam bagian yang berbicara tentang harapan pemulihan ini dan dibagi ke dalam dua bagian yaitu: pengalaman penglihatan sang nabi tentang Lembah Tulang-tulang kering (ay. 1-14) yang menggambarkan kondisi kematian Israel; dan grafik perealisasian reunifikasi pasca pembuangan suku-suku Yehuda dan Israel yang terserak (ay. 15-28). Ayat 1-14 sendiri yang menjadi bagian dari pembahasan kita terbagi dalam 2 sub unit yaitu pengantar yang disampaikan dalam sebuah formula laporan kenabian (ay. 1-4) dan ucapan Allah yang diungkapkan dalam bentuk formula pembawa pesan (ay. 5-14). Lebih lanjut, dalam penyampaiannya Yehezkile 37:1-14 diramu dengan menggunakan gambaran mental yang jelas yang merupakan esensi dari pesan kenabian yang dikomunikasikan. Di sini, gambaran yang ada berfungsi sebagai kata-kata pemancing atau perangkap yang digunakan untuk membangkitkan emosi bangsa Israel sehingga membuat mereka benar-benar menangkap dan mengerti apa yang hendak disampaikan sang nabi.[10] Dan dalam hal ini, gambaran yang dipakai adalah “Tulang-tulang kering.”

Penglihatan dramatis itu sendiri dilaporkan oleh Yehezkiel sebagai yang terjadi di sebuah lembah, di tengah-tengah lembah tersebut. Lembah itu adalah lembah yang tidak memiliki kehidupan, seperti medan perang kuno berisi tulang-belulang mereka yang telah mati yang telah terletak di sana selama bertahun-tahun. Hal yang patut diperhatikan adalah penempatan Yehezkiel di tengah-tengah lembah tersebut dilakukan dengan tujuan agar ia dapat memperoleh pemandangan yang penuh akan semua tulang yang ada dengan kondisi yang benar-benar kering. Di sini, Allah menginstruksikan sang nabi untuk berjalan melewati tulang-tulang tersebut guna mencapai maksud ini. Ketika Yehezkiel melintasi tulang-tulang tersebut, maka ia mendapati bahwa memang tulang-tulang itu sangat kering. Istilah Ibrani yang dipakai adalah meodyang berarti sangat; sementara untuk kata tulang sendirimaka kata Ibrani yang digunakan adalah etzem. Di sini frase, “tulang yang sangat kering” menggambarkan kondisi manusia yang telah terletak tanpa nyawa dan dengan demikian tidak memiliki kegunaan untuk tujuan apapun. Tulang-belulang yang telah terlepas satu dengan yang lainnya menggambarkan keterpisahan mereka dengan anggota tulang yang lainnya. Ketika frase ini dipahami secara mendalam maka dapat merujuk secara khusus kepada situasi bangsa Israel yang benar-benar tidak dapat diperbaiki atau ditutupi – suatu keadaan yang berada dalam kematian yang total.[11]

Tulang-belulang yang sangat kering sehingga tidak menarik ini juga menandakan kondisi politik dan keagamaan umat Israel yang sangat kering yang mengindikasikan keadaan yang tidak berpengharapan. Metapora tulang yang tidak dikuburkan diungkapkan secara jelas dalam ekspresi intens dari orang-orang buangan, “Tulang-tulang kami sudah menjadi kering dan harapan kami sudah menjadi lenyap, kami sudah dipotong/hilang” (Yeh. 37:11). Kata Ibrani gazaryang berarti “dipotong” digunakan untuk mengindikasikan sebuah pemisahan, pelepasan, keterasingan, pengusiran dan pengucilan orang Yahudi dari tanah leluhur mereka.[12]

Ada sejumlah hal yang dapat ditangkap dari penggambaran tulang-tulang kering ini. Pertama, ungkapan Yehezkiel tentang tangan dan Roh Allah yang membawanya ke lembah tulang-tulang kering merepresentasikan pemahaman teologis Yehezkiel akan kehadiran Allah. Di sini Roh berfungsi sebagai agen pemindah yang mengingatkan kita akan peran ruakh (Roh Allah) pada kisah penciptaan (Kej. 1:2) yang juga melayang-layang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dalam hubungannya dengan Yehezkiel, ia mendapati dirinya diangkut dan dipindahkankan ke sebuah lembah. Lembah di sini menjadi sebuah metafora untuk keadaan pembuangan – tempat mereka berdiam sekarang. Untuk itulah, bangsa Israel harus dibebaskan dari tempat kematian ini karena hanya setelah proses itulah mereka akan memasuki tanah kehidupan, yaitu kehidupan baru yang Allah berikan melalui Rohnya. Dengan demikian, dalam lembah kematian inilah Yehezkiel menemukam harapan akan masa depan, yang dibawa melalui kehadiran dan kekuatan ruakh.[13]

Selanjutnya, dalam ayat 3, Allah berkata kepada Yehezkiel secara langsung,  kepadanya diajaukansebuah pertanyaan yang sangat aneh, “Apakah tulang-tulang ini dapat hidup?” Meskipun ada contoh dalam Alkitab Ibrani di mana orang mati dapat hidup kembali (I Raja 17:17-24; 2 Raja 4:18-37; 2 Raja 13:21), namun tidak ada satu pun dari orang-orang ini yang telah mati dalam jangka waktu yang lama seperti yang terdapat dalam visi Yehezkiel; bahkan di sana tidak ada satu tubuh pun yang tertinggal – yang ada hanyalah tulang-tulang. Untuk itu seharusnya, pertanyaan Allah ini dijawab sang nabi dengan perkataan, “tidak mungkin.” Namun Yehezkiel tidak secara langsung menghilangkan adanya kemungkinan yang berbeda. Untuk itu, ia mengembalikan bola kepada Allah dengan berkata, “Tuhan Allah, Engkaulah yang mengetahui.” Jawaban ini mengindikasikan perasaan putus asa yang benar-benar dirasakannya di hadapan ketidakmungkinan yang ada di depannya. Namun Allah tidak membiarkan Yehezkiel bebas begitu saja. Allah memberikannya tugas untuk bernubuat kepada tulang-tulang itu untuk hidup. Ia harus memperkatakan perkataan Allah kepada tulang-tulang itu ibaratnya mereka adalah penonton yang hidup.

Kita tentu berpikir betapa anehnya ini namun bagi mereka yang membaca kitab ini mulai dari pasal 1 hingga bagian ini akan mengetahui dengan jelas bahwa sang nabi sudah terbiasa dengan hal-hal aneh seperti ini. Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah memerintahkan Yehezkiel untuk memberitahukan kepada tulang-tulang itu bahwa Allah akan menyebabkan ruakh-Nya yang memberi kehidupan untuk memasuki mereka dan mereka akan hidup lagi. Allah akan meletakkan otot/urat-urat lagi pada mereka dan menutupi mereka dengan daging dan kulit. Tetapi, otot/urat, tulang dan kulit itu tidak akan memberi kehidupan. Kehidupan hanya akan terjadi ketika ruakh memasuki mereka. Ruakh di sini merujuk pada kekuatan animasi/bergerak Allah. Tentu hal ini mengingatkan kita pada kisah penciptaan manusia (Kej 2:7) di mana manusia hanya hidup ketika nafas Allah dihembuskan ke dalam dirinya. Di sinilah, ketika manusia hidup kembali, mereka akan tahu bahwa Allah adalah Tuhan. Pengetahuan ini tidak merujuk pada pengetahuan kognitif melainkan pengetahuan ekperinsial atau berbasis pengalaman. Pengalaman mereka akan kekuatan pemberian hidup yang berasal dari ruakh akan membawa mereka pada pengetahuan tentang Allah. Hingga jelaslah bahwa tujuan Allah bukanlah hanya semata-mata untuk membawa tulang-tulang itu untuk hidup melainkan untuk memperbaharui kondisi spiritual dari umat Israel. Allah ingin agar mereka hidup dalam relasi yang baru denganNya. Memulai dari awal lagi.[14]

Pemenuhan dari nubuat itu terjadi dalam dua tahap yaitu dalam ayat 7-8, Yehezkiel patuh dan mulai bernubuat. Di saat ia mulai bernubuat maka kedengaranlah suara yang berderak-derak, tulang-tulang bertemu satu sama lain dan tubuh mereka ditutupi oleh daging. Pada tahap ini, semua tulang itu hanyalah baru berupa mayat. Namun, pada tahap kedua, ketika Yehezkiel memerintahkan ruakh memasuki mereka – ruakh yang dipanggil dari empat penjuru bumi. Di sinilah, sang nabi menyaksikan sesuatu yang sungguh luar biasa. Ruakh memasuki tubuh-tubuh yang mati itu dan mereka menjadi hidup dan berdiri dengan kedua kaki mereka. Sekali lagi, ruakh diidentifikasikan sebagai yang membawa kehidupan.[15]

Selanjutnya, perhatian diberikan kepada bagaimana caranya memahami visi atau penglihatan yang ada ini. Dalam Ayat 11-14 dikatakan bahwa tulang-tulang itu merepresentasikan bangsa Israel termasuk mereka yang telah diangkut ke pembuangan oleh bangsa Asyur kurang lebih 130 tahun yang lalu. Allah memulihkan 12 suku secara keseluruhan. Bangsa Israel yang merasa ditolak dan ditinggalkan Allah dan hidup seolah-olah dalam kondisi kematian kini akan mengalami perubahan atau transformasi yang signifikan. Allah akan membuka kubur-kubur mereka dan membangkitkan mereka dari kematian dan Ia akan mengembalikan mereka ke tanah leluhur mereka dalam sebuah peristiwa keluaran/eksodus yang baru.

Gambaran perubahan lembah kematian yang berisi tulang belulang kepada lembah penguburan tubuh-tubuh yang mati mengindikasikan sesuatu yang penting yaitu tentang komitmen Allah untuk membawa kehidupan baru dan memulihkan kondisi umatNya. Dalam ayat 14 secara eksplisit dikatakan bahwa Allah akan menempatkan ruakh-Nya di dalam tubuh mereka. Mereka akan hidup lagi dengan sebuah pengetahuan baru akan Allah yang akan bermuara para munculnya relasi yang baru.

Roh Kudus Memulihkan dan Menyembuhkan

Yehezkiel 37:1-14 ditulis pada masa ketika bangsa Israel hidup di dalam pembuangan di Babilonia. Ketercabutan mereka dari tanah leluhur dan keterpisahan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, politik dan keagamaan membuat mereka seperti berada dalam kematian.  Hal ini dimaknai Yehezkiel sebagai akibat dari tindakan umat Israel sendiri yang melawan Allah yang berakibat pada rusaknya relasi mereka dengan Allah. Itulah sebabnya kematian yang dialami umat Israel dapat digambarkan sebagia kematian spiritual. Yehezkiel dengan baik menggambarkan kondisi itu seumpama hidup di dalam lembah peperangan di mana yang umat Israel hanyalah tinggal tulang-tulang kering yang bahkan anjing sekalipun tidak sudi untuk mendekatinya.

Apakah konteks pandemi Covid 19 saat ini dapat dengan baik menggambarkan kondisi kehidupan manusia di seluruh dunia yang seolah-olah hidup pula dalam lembah kematian? Jika direnungkan lebih jauh lagi maka apakah sebenarnya yang menyebabkan kita hingga sampai pada keadaan seperti ini? Ada banyak faktor tetapi sama seperti Yehezkiel yang meletakkan beban yang paling berat di pundak manusia, maka pada saat ini pun kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa apa yang terjadi pada kita di hari ini adalah merupakan akumulasi dari segala perbuatan kita terhadap Allah dan alam semesta. Ketidakpatuhan manusia untuk memelihara relasi di antara dirinya dengan alam semesta karena didorong oleh hasrat manusia untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan meninggalkan alam sebagai yang terluka – telah mengakibatkan kerusakan alam semesta yang parah.

Debit air yang kian berkurang, sungai dan kali yang mulai kering; pohon yang ditebang dengan semena-mena telah berbalik melawan manusia. Di hari ini, bahaya kekeringan dan kelaparan menjadi ancaman yang sangat nyata. Penyakit stunting akibat gizi buruk merupakan persoalan yang luar biasa bagi manusia. Dengan mata kepala sendiri kita menyaksikan bagaimana manusia yang kuat menyakiti dan menindas manusia yang lemah. Kita juga melihat bahwa dalam proses pengrusakan alam semesta, orang-orang kecillah yang paling merasakan dampak yang luar biasa bagi kehidupan mereka. Namun, hal ini tidak bertahan lama. Ketika penyebaran virus corona mulai terjadi di awal bulan Desember 2019 dan mulai terasa dampak globalnya di awal tahun 2020 maka bukan hanya kehidupan rakyat kecil yang terpengaruh; dunia kaum elitlah yang benar-benar nyaman kemudian secara kuat digoyahkan – kekuatan badai covid yang melumpuhkan daya gerak dan daya usaha dari kaum pemilik modal membuat perusahaan kemudian bangkrut. Di sinilah, keberadaan virus yang tiada terbendung dan sulit dilumpuhkan hingga saat ini membuat kita berefleksi bahwa manusia tidak sehebat yang dipikirkannya. Manusia ternyata terbatas dan tidak berdaya di hadapan Allah dan alam semesta karena keduanya dapat hidup tanpa manusia namun manusia tidak dapat hidup tanpa mereka.

Di sinilah manusia patut bertanya bagaimana cara memperbaiki relasi yang rusak ini. Bagaimana cara menyembuhkan dunia yang sakit ini? Bagaimana caranya memulihkan relasi yang saat ini tidak berlangsung baik di antara Allah, manusia dan alam semesta? Yehezkiel menawarkan kita sebuah sikap untuk tidak berlari menghindari bencana – melainkan berdiri dan mengakui keberadaan bencana itu; pengakuan akan adanya realitas kegagalan dan kekalahan yang diakibatkan oleh tindakan manusia sendiri. Pengakuan akan perbuatan manusia yang merusak relasi ini akan menuntun pada pengakuan dosa dan pengakuan dosa akan menuntun pada upaya untuk meminta pengasihan Allah dan harapan akan adanya pemulihan relasi antara Allah dan manusia. Di sini Yehezkiel mengajarkan kita untuk menjawab pertanyaan Allah, “Apakah tulang-tulang itu dapat hidup?” dengan sebuah optimisme bahwa jika Allah berkenan maka tentu tulang-tulang itupun akan hidup.

Di sini pengetahuan kunci yang harus kita pegang adalah hanya Allah sendirilah yang mampu memulihkan relasi itu melalui RohNya. Tetapi sama seperti Yehezkiel, Allah tidak pernah bekerja sendiri melainkan selalu melibatkan manusia sebagai partnernya dalam mengupayakan pemulihan dan penyembuhan relasi. Dalam Yehezkiel kita mengetahui bahwa Allah memakai sang nabi untuk menyampaikan nubuat atau perkataanNya karena nanti perkataan itulah yang menjadi Roh dan Roh itulah yang akan masuk dan tinggal dalam tubuh manusia sehingga menyembuhkan dan memulihkan diri manusia yang mati secara spiritual. Di sini kita belajar dari Yehezkiel bahwa Ia taat mendengar dan melaksanakan perintah Allah; bahwa meskipun ia sendiri telah putuh asa namun ketika Allah memerintahkannya maka ia mendengar dan melakukan apa yang Allah inginkan. Tindakan mendengar dan taat melakukan ini menghantarkan Yehezkiel untuk menjadi sebagai agen pengubah atau pembawa kehidupan baru. Tindakan sang nabi ini dapat menjadi model bagi kita semua.

Di hari ini orang tentu bertanya bagaimana kita mendengar nubuat atau perkataan Allah. Tentu sebagai orang percaya kita menyakini bahwa perkataan Allah tinggal tetap dalam wujud kabar baik yang kita ketahui melalui kitab suci. Perkataan Allah yang memerintahkan kita untuk mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri dan juga perintah untuk menjaga dan mengusahakan alam semesta dengan penuh tanggung jawab telah kita temukan secara baik dalam Alkitab. Perkataan-perkataan itulah nafas kehidupan kita yang dihembuskan ke dalam tubuh kita menjadi Roh yang menghidupkan, menyembuhkan dan memulihkan. Tetapi sama seperti Yehezkiel, kita diminta untuk mendengar dan taat melakukan perkataan Firman Allah yang mengandung pengetahuan akan Allah. Dan ketika Firman Allah ini terus hidup dalam diri kita maka kata-kata Allah membuat kita terus bergerak dan berdaya; terus bersikap ramah dan baik kepada sesama. Terus menjaga dan mengusahakan keutuhan tubuh Allah, manusia dan alam semesta. ***

*Materi ini disampaikan pada webinar Sub Tema GMIT 2021, pada 27 November 2020


[1] Janina M.: In Conversation with Ezekiel,” dalam Religions 2019, 10, 476, 1.

[2] Joel K. T. Biwul, “The Restorationof the ‘Dry Bones’ in Ezekiel 37:1-14: An Exegetical and Theological Analysis,” dalam Scriptura 118 (219:1), 1.

[3] Hiebel, “Hope in Exile,” 2.

[4] Ibid., 3.

[5] Biwul, “The Restoration,” 2.

[6] Ibid., 3.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Jacqueline E. Lapsley, Can These Bones Live? The Problem of the Moral Self in the Book of Ezekiel (Berlin; New York Walter de Gruyter, 2000), 2.

[10] Joel K.T. Biwul, “The Vision of ‘Dry Bones’ in Ezekiel 37:1-28: Resonating Ezekiel’s Message as the African Prophet of Hope,” dalam HTS Teologiese Studies/Theological Studies 73 (3), a4707, https://doi.org/ 10.4102/hts.v73i3.4707, 2.

[11] Biwul, “The Restoration,” 5.

[12] Leslie C. Allen, Ezekiel 20-48: World Biblical Commentary Volume 29 (Dallas: Word Books, 1990), 186.

[13] Iain Duguid, Ezekiel (NIVAC; Grand Rapids: Zondervan, 1999), 58.

[14] Leobard P. Mare, “Ezekiel, Prophet of the Spirit: רוח in the Book of Ezekiel,” OTE 31/3 (2018), 565-66

[15] Ibid., 566.

Connect With Us. Popular Posts.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *