Ketika Telinga Dipotong, Manusia Tak Bisa Mendengar Injil (Matius 26:47-56) – Pdt. Jahja A. Millu

www.sinodegmit.or.id, Injil Matius ditulis saat orang Kristen dianiaya, dipenjarakan dan dibunuh oleh pihak Yahudi dan Romawi. Menghadapi situasi seperti ini, timbul pertanyaan penting: “Apakah kekristenan tetap menjadi agama yang mengasihi musuh dan berdoa bagi orang yang menganiaya mereka (Mat. 5:44), ataukah mereka perlu melakukan perlawanan terhadap para penganiaya, bila perlu dengan mengangkat senjata?

Tokoh Petrus mewakili kelompok yang hendak melakukan perlawanan dengan kekerasan. Disebutkan dalam narasi bahwa Petrus yang tidak setuju dengan penangkapan Tuhan Yesus mencoba melakukan perlawanan. Ia memotong telinga Malkhus, hamba Imam Besar. Tindakan Petrus mungkin merupakan pembuktian loyalitasnya kepada Tuhan Yesus (Carson, 1984:547). Sebelum peristiwa ini, ia pernah diperingatkan tentang penyangkalannya.

Tapi Tuhan Yesus menentang jalan kekerasan yang ditempuh Petrus. Sepanjang ayat 52-56, kita melihat alasan penolakan Tuhan Yesus tersebut.

Pertama, Tuhan Yesus menyuruh Petrus memasukkan pedang ke dalam sarungnya, karena Ia tidak ingin murid-Nya menunjukkan loyalitas kepada-Nya dengan perlawanan senjata. “Kekerasan dalam membela Kristus sama sekali tidak dibenarkan” (Carson, 1984:547).

Sejarah mencatat bahwa pengabaian terhadap jalan damai menyebabkan agama berlumuran darah. Tidak ada perang yang begitu menumpahkan darah seperti yang ditimbulkan oleh alasan agama. “Lebih banyak perang telah dilancarkan, lebih banyak orang terbunuh, dan hari-hari ini lebih banyak kejahatan yang dilakukan atas nama agama daripada kekuatan institusional lainnya dalam sejarah manusia” (Kimball, 2008:1). Itu sebabnya Yesus meminta kita untuk memikul salib, bukan menghunus pedang.

Kedua, Tuhan Yesus meminta kita untuk mengakhiri siklus kekerasan. “…sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Suatu tindak kekerasan akan menghasilkan tindak kekerasan baru. Karena itu kita diminta untuk memutuskan siklus kekerasan dengan tindakan non-kekerasan secara kreatif. Kita harus membuat siklus kekerasan gagal beroperasi. Dengan demikian, kekristenan dapat menawarkan alternatif untuk memutuskan siklus kekerasan yang tak berujung itu.

Ketiga, Tuhan Yesus menegur Petrus sebab tindakannya dapat dijadikan alasan oleh otoritas agama dan kekaisaran bahwa mereka sedang menangkap seorang ekstrimis yang menggunakan kekerasan. Ini nampak dari istilah penyamun yang bisa bermakna ekstrimis atau bandit sosial.

Melalui perintah untuk menyimpan pedang, Tuhan Yesus hendak mempermalukan otoritas agama dan kaisar bahwa mereka sedang menangkap pejuang anti kekerasan. Mereka melakukan abuse of power terhadap orang-orang yang sedang berdoa di taman Getsemani.

Keempat, menyarungkan pedang bukanlah suatu pasifisme. Jika mau, Ia dapat memanggil 12 legiun malaikat, atau setara dengan 72.000 pasukan. Kisah PL menunjukkan bahwa satu malaikat dapat membunuh 185.000 tentara Asyur (2 Raja 19:35). Seluruh kekuatan surgawi itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sedang memegang kendali. Namun Ia memilih jalan anti kekerasan. Ia tidak menggunakan koneksi ilahi-Nya untuk tujuan yang salah. Segala sesuatu harus berlangsung seturut rancangan dan kehendak Allah.

Tuhan Yesus ingin kita yakin bahwa kekuatan yang sama juga disediakan Allah bagi orang percaya saat mengalami penganiayaan, bahkan kematian. Kepercayaan kepada Allah menunjukkan siapa sebenarnya yang duduk di takhta. “Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang” (Luk. 21:18).

Prinsip non kekerasan inilah yang menyebabkan Tuhan Yesus menyembuhkan telinga Malkhus, hamba Imam Besar itu (Luk. 22:52). Tuhan Yesus bukan seorang yang suka beretorika tentang agama. Bukan juga sekedar seorang pengajar damai. Ia membuktikan ajaran-Nya dengan menunjukkan cinta kasih dan pengampunan kepada orang yang hendak menangkap dan membunuhnya.

Sementara bagi para murid, tindak penyembuhan ini menurut Campbell Morgan (444), memperlihatkan jari lembut Tuhan Yesus yang terulur untuk memperbaiki paham agama yang salah sebagaimana diperagakan Petrus. Bahkan hingga kini, tangan Tuhan yang sama masih sering menyembuhkan luka yang ditimbulkan oleh para murid kepada sesama. Tak terhitung banyaknya luka yang dihasilkan orang percaya terhadap orang lain. Itu sebabnya mujizat terakhir Tuhan Yesus sebelum kematian-Nya ini penting bagi pemulihan dunia yang diakibatkan oleh kelemahan para murid.

Pesan pastoral cerita ini sangat penting bagi orang percaya di zaman penulisan Injil Matius, juga bagi kita sekarang. Petrus sering merupakan representasi dari gereja yang melembaga. Tindak kekerasan Petrus dapat melahirkan kesimpulan bahwa gereja tidak jauh berbeda dengan lembaga duniawi. Gereja juga menggunakan pedang untuk menegaskan posisinya di dunia. Itu sebabnya Tuhan Yesus perlu menegurnya dengan keras guna mencegah otoritas gereja di zaman Matius, juga di sepanjang zaman, untuk menggunakan instrumen yang setara. Injil Salib tidak boleh diberitakan dengan kekerasan dan intimidasi. Ketika telinga dipotong, manusia tak bisa mendengar Injil. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *