Mengenang Mendiang Pdt. Oktovina Metboki-Nalle

Mengenang Mendiang Pdt. Oktovina Metboki-Nalle   

Kebaktian Penguburan Pdt. Okctovina Metboki-Nalle, Senin (29/3-2021)

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Di kalangan pendeta-pendeta GMIT, Octovina Rosina Metboki-Nalle adalah sosok pendeta yang tenang, ramah dan sederhana. Penampilannya hampir tidak pernah lepas dari ragam pakaian dan aksesoris motif adat yang sebagian merupakan hasil keterampilan tangannya sendiri.

Tak cuma itu, ia juga dikenal terampil meramu obat-obat tradisional dan telaten membuat ramuan pengawetan jenasah.      

Mungkin karena kecintaan pada budaya lokal itu pula yang membentuk karakter anak kedua dari pasangan Pdt. Laurens Latorius Nalle (Almarhum) dan ibu Nelci Christiana Tagi Huma ini begitu dekat dan peduli dengan orang-orang kecil.  

“Kalau kami ke pasar, ia hampir-hampir menyapa dan disapa semua orang. Jadi, ketika kami pulang, belanjaan pun jadi banyak,” kenang Pdt. Mery Kolimon, sahabat seangkatannya di Fakultas Teologi UKAW-Kupang.

Pertengahan Januari 2021, Pdt. Nicolas Yanche Auw, sahabat semasa kuliah yang juga rekan sepelayanannya meninggal dunia. Ketika mengetahui kesulitan yang dihadapi keluarga yang ditinggal, ia menunjukan empati yang mengesankan.    

Ia mengajak teman-teman angkatan 1990 menggalang dana untuk membeli sebidang tanah guna membangun rumah bagi istri dan anak-anak dari mendiang Pdt. Yanche.

“Sebelum Mama Auw keluar dari pastori, rumah untuknya sudah harus ada. Sebab ke manakah seorang janda akan pergi?” Demikian tekad yang diungkapkan kepada teman-temannya.  

Kepedulian serupa juga dihidupi dalam pelayanannya. Ia tidak hanya menggumuli kebutuhan ekonomi jemaat, tetapi juga memikirkan solusi perlindungan bagi yang mengalami sakit, kecelakaan dan meninggal dunia melalui kemitraan dengan BPJS Ketenagakerjaan/Jamsostek.

Melalui perkunjungan pastoral dan rapat-rapat Majelis Jemaat, ia tak henti menyampaikan gagasan mengenai pentingnya menjadi peserta Jamsostek.

Dalam sebuah wawancara kami dengan Pdt. Vina pada 4 Agustus 2020, -saat itu ia masih menjadi Ketua Majelis Jemaat Pniel Manutapen- ia mengisahkan betapa sulitnya meyakinkan Majelis Jemaat agar para karyawan gereja mendapat bantuan untuk diikutsertakan dalam program asuransi itu. Perjuangannya baru membuahkan hasil dalam Persidangan Majelis Jemaat pada tahun ke-3.  

“Kami berjuang dari tahun 2015, 2016, dan pada 2017 baru Majelis Jemaat setuju karyawan gereja diikutkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Lalu, tahun 2019, salah satu pegawai gereja meninggal dunia dan saya undang BPJS datang untuk menyerahkan santunan pada kebaktian pemakaman, waktu itu jumlahnya 26 juta rupiah. Sejak itu banyak jemaat mulai percaya dan termotivasi untuk ikut.”

Sejak jemaat menyaksikan penyerahan santunan tersebut, Pdt. Vina mengaku berhasil mengajak 300-an anggota jemaatnya menjadi peserta. 4 orang diantaranya telah mendapat manfaat berupa santunan kecelakaaan kepada seorang koster, dan santunan kematian kepada 3 lainnya yang berprofesi sebagai pegawai tata usaha dan penjual ikan.

Mendiang Pdt. Octovina Metboki-Nalle

Pdt. Vina tak cuma mengajak dan mengurus warga jemaatnya. Warga lain pun ia bantu termasuk yang bukan warga GMIT.

“Bukan hanya jemaat Pniel saja yang kami urus tapi juga jemaat tetangga seperti Jemaat Bukit Karang, Ekklesia Nunbaun Dela, Maulafa, Dano Ina, juga anggota jemaat di Sabu dan Amarasi, bahkan dari ‘gereja tua’ yang berdomisili di Manutapen. Saya bawa BPJS Jamsostek ke beberapa jemaat itu untuk sosialisasi,” ujarnya ketika menyampaikan testimoni pada acara penyerahan santunan sebesar 42 juta rupiah dari BPJS Jamsostek kepada ahli waris salah satu anggota Jemaat Pniel Manutapen setahun yang lalu di Kantor Majelis Sinode GMIT.

Kepribadian Pdt. Vina yang suka membantu itu sungguh melekat di hati banyak orang yang mengenalnya. Terutama BPJS Ketenagakerjaan yang menjadi rekan Pdt. Vina.

Tak heran, Sabtu, 27 Maret 2021 lalu, ketika mendengar Pdt. Vina meninggal dunia, mereka yang pernah mengenalnya sangat terkejut. Ratusan pelayat berdatangan menghadiri kebaktian penguburannya.

Riza, perwakilan dari BPJS Ketenagakerjaan NTT, saat menyampaikan sambutan dalam kebaktian penguburan mendiang, berkali-kali menyatakan rasa kehilangan dan dukacita yang dalam. Bagi mereka, mendiang adalah sosok yang sangat peduli pada kesulitan hidup sesama.

”BPJS Jamsostek sangat kehilangan Mama Vina. Beliau memperkenalkan perlindungan BPJS Jamsostek kepada masyarakat di sini. Ia sangat peduli dengan sesama. Sampai hari ini sudah ada 550 anggota jemaat yang sudah mendapat perlindungan. Kami harap kebaikan yang selama ini Mama Vina lakukan akan diteruskan.”

Rasa kehilangan yang sama juga diungkapkan pemerintah Kecamatan Alak dan kelurahan setempat.

Pendeta Vina atau Napulu sapaan karibnya, lahir di Bodae-Sabu, 26 Oktober 1971 sebagai anak kedua dari empat bersaudara.

Ia diangkat menjadi pendeta GMIT pada tahun 1998 dan ditempatkan di Jemaat Wilayah Toifae-klasis Mollo Timur. Ia menghabiskan periode pelayanan perdananya selama 3 tahun di jemaat ini.

September 2001, Pdt. Vina dimutasikan dari Jemaat Wilayah Toifae ke Jemaat Bethesda Maulafa-Klasis Kupang Tengah. Ia melayani jemaat ini hingga tahun 2010 atau selama 9 tahun.

Dari Jemaat Bethesda Maulafa, ia pindah ke Jemaat Dano Ina dan melayani selama satu periode.  

Perjalanan pelayanan terakhirnya dilalui di Jemaat Pniel Manutapen pada Agustus 2014 hingga ia meninggal dunia pada 27 Maret 2021 yang lalu dalam usia 49 tahun.

Pdt. Vina menikah dengan Drs. Martinus Metboki, M.Si dan mereka dikaruniai seorang anak bernama Auden Alut Neno Metboki.

Kebaktian penguburan berlangsung di Jemaat Pniel Manutapen, pada Senin, 29 Maret 2021, dipimpin Pdt. Veronika Lay-Gella dan Pdt. Nicolas Lumba Kaana.

Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT, Pdt. Elisa Maplani, dalam suara gembala menyatakan turut berdukacita dan menyampaikan terima kasih yang tulus kepada keluarga yang telah mempersembahkan dan mendukung mendiang selama 24 tahun melayani di GMIT. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *