Siklon Tropis dan Seroja Porak-porandakan NTT, MS GMIT Desak Pemerintah Segera Tetapkan Status Darurat Bencana

Upaya evakuasi korban longsor di Alor

KUPANG, www.sinodegmit,or.id, Siklon Tropis dan Seroja yang menerjang wilayah NTT selama 3 hari sejak Jumat Agung hingga Minggu Paskah (2-4 April 2021) menyebabkan bencana longsor dan banjir bandang serta korban jiwa, trauma dan harta benda yang sangat besar.

Hingga Selasa, 6 April 2021, Majelis Sinode GMIT menerima laporan dampak bencana dari Kabupaten Alor sebanyak 17 orang meninggal dunia, korban luka 25 orang dan 24 orang masih hilang.

Para korban tersebut berasal dari Klasis Alor Tengah Utara, kampung Mainang, Klasis Pantar Barat-Alor di kampung Tamakh dan Klasis Alor Tengah Selatan kampung Malaipea dan Pido.

Di Klasis Flores, Waiwerang, 4 orang meninggal dunia, 10 orang masih hilang dan puluhan rumah hanyut.

Di Klasis Kupang Tengah satu orang Pendeta GMIT atas nama Merly Molina-Kande, S.Th, bersama anak dan keponakan meninggal dunia tertimpa bangunan gereja.

Korban meninggal dunia, Pdt. Merly Kande bersama anak dan keponakan

Klasis Kupang Timur di Kabupaten Kupang, Kabupaten Malaka, TTS, Rote Ndao dan Sabu-Raijua juga dikabarkan cukup parah namun belum ada laporan resmi korban jiwa dan harta benda. Umumnya warga kehilangan hewan piaraan karena terbawa banjir dan tanaman padi yang siap panen terendam.

Ribuan rumah warga di seluruh NTT rusak. Atap rumah beterbangan, tiang-tiang listrik dan pepohonan tumbang di semua ruas jalan.

Pasokan listrik di Kota Kupang hingga Selasa, 6 April masih putus. Jaringan internet pun sampai saat ini masih mengalami gangguan.

Sebagian gedung-gedung gereja GMIT mengalami kerusakan serius. Rata-rata kaca hancur dan atap gedung-gedung gereja rusak terbawa angin. Gereja-gereja di Kota Kupang yang terpantau mengalami kerusakan antara lain: GMIT Jemaat Betlehem Oesapa, GMIT Kota Baru, GMIT Galed Kelapa Lima, GMIT Talitakumi Pasir Panjang.

Atap gedung Gereja GMIT Kota Baru rusak

Sedangkan gedung-gedung gereja yang aman, dijadikan tempat-tempat perlindungan bagi warga yang mengungsi dari berbagai latar belakang agama. Â

Akibat dampak bencana yang memporak-porandakan Wilayah NTT tersebut, MS GMIT mendesak pemerintah segera menetapkan status darurat bencana agar mempercepat penanganan dan pemulihan para korban.

“Berdasarkan laporan dari klasis-klasis yang kami terima, hampir seluruh wilayah di NTT terdampak kerusakan yang intens. Oleh sebab itu kami membutuhkan penetapan status darurat bencana oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi di daerah ini sehingga koordinasi penanganan tanggap darurat bisa lebih maksimal agar kita mendapat dukungan pemerintah nasional dan internasional terhadap kerusakan besar dari badai Siklon Tropis dan Seroja ini,” ungkap Pdt. Mery. Â

Menurutnya Majelis Sinode GMIT saat ini telah melakukan sejumlah langkah diantaranya:

Pertama, sejak mendapat informasi dari BMKG, MS GMIT meminta para ketua klasis mengumumkan kepada jemaat-jemaat untuk waspada bencana dengan menghindari pesisir pantai, daerah aliran sungai dan tebing.

Kedua, gedung-gedung gereja dibuka untuk tempat pengungsian.

Ketiga, kebaktian syukur Paskah, Senin (6/4) dilakukan di rumah-rumah jemaat.

Keempat, membuka Posko Tanggap Bencana di kantor MS GMIT dengan nomor rekening Bank BRI: 2002 – 01 – 003847 – 53 – 0, atas nama: Tim Tanggap Bencana MS GMIT. Kontak person melalui Pdt. Mery Kolimon (Telp/WA: 0813-3946-9002) dan Pdt. Paoina Bara Pa (Telp/WA: 0822-3752-3160)

Lima, berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk mendukung jemaat-jemaat yang sedang mengungsi dan upaya evakuasi korban.

Selain dukungan doa, Ketua MS GMIT, Pdt. Mery Kolimon menjelaskan bantuan-bantuan yang dibutuhkan saat ini berupa; sembako, air mineral, uang tunai, obat-obatan, pelayanan medis, pakaian, popok bayi, pembalut, sabun, pasta gigi, terpal, tikar dan material bangunan.

Majelis Sinode GMIT juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mengulurkan tangan khususnya kepada seluruh jemaat GMIT yang bahu-membahu membantu para korban dengan membuka gedung-gedung gereja menjadi tempat pengungsian dan dapur umum. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *