Ribuan Rumah Rusak, Warga Rote Ndao Butuh Material Bangunan dan Sembako

Rumah hancur tertimpa pohon di Lobalain

KUPANG,www.sinodegmit.or.id, Ribuan rumah rusak akibat diterjang Siklon Seroja di Kabupaten Rote Ndao saat ini membutuhkan material bangunan seperti seng, paku dan semen.

Data sementara yang dilaporkan Ketua Majelis Klasis Rote Barat Daya terdapat 34 gedung gereja dan 500-an rumah penduduk rusak dengan kategori ringan, sedang dan berat.  

Di Rote Tengah kerusakan berat menimpa gedung gereja GMIT Sarfat Daeloni, 200-an rumah penduduk di wilayah pesisir pantai Talae Mok dan 37 rumah di Keka Timur.

Kondisi serupa juga terjadi di Klasis Rote Barat Laut dan Rote Barat. Kendati belum tersedia data akurat namun laporan dari para pendeta bahwa hampir semua rumah warga terdampak. Perahu-perahu nelayan rusak, tenggelam dan hilang.

Klasis Rote Timur yang dikabarkan sebagai wilayah terparah hingga hari ini belum ada informasi karena jaringan internet dan listrik terputus.

Posko di Klasis Lobalain mencatat 30-an rumah rusak berat di kampung Namo Ndao, 3 rumah terdampak longsor di Tou Ndao, 4 perahu nelayan tenggelam, dan 10 Kepala Keluarga mengungsi di gedung gereja GMIT Kana Daimea.

Pdt. Inggrid Foeh, menjelaskan ratusan warga GMIT dan denominasi gereja lain juga warga Muslim mengungsi ke gedung gereja GMIT Betania Baa pada saat puncak bencana siklon, Senin dini hari, (5 April 2021).

Para pengungsi sudah kembali ke rumah pada esoknya, namun hingga Sabtu, 10 April atau H+6 bantuan dari pemerintah sangat minim.

“Hari Selasa, 6 April, Ibu Bupati kunjungi Posko di Gereja Betania dan menyerahkan bantuan 60 kilogram beras, 3 dos mie instan dan 3 renteng susu. Jadi kami belum salurkan bantuan tersebut. Hari ini (Sabtu, 10 April, red.), kami gabung bantuan pemerintah itu dengan bantuan dari gereja barulah kami salurkan. Totalnya, ada 50 paket berisi 10 kilogram beras dan mie instan untuk 50 kepala keluarga.”

Sebagian atap rumah rusak terbawa angin di Rote Tengah

Ia juga melaporkan lambannya bantuan mengakibatkan sejumlah warga korban yang bermukim di pesisir pantai Daimea hanya mengkonsumsi gula air.

“Waktu kami kunjungi jemaat-jemaat pada Kamis, 8 April, warga jemaat di GMIT Kana Daimea bilang sudah 2 hari mereka hanya minum gula air karena tidak ada makanan,” kata Pdt. Inggrid, Ketua Majelis Jemaat GMIT Betania Baa.

Sementara itu para Ketua Majelis Klasis di Rote Barat Daya, Rote Selatan, dan Rote Barat Laut juga melaporkan hingga Sabtu, 10 April, belum ada bantuan sembako maupun material bangunan dari pemerintah setempat. Oleh karena itu warga berinisiatif memperbaiki rumah mereka masing-masing secara mandiri maupun gotong royong.

“Di Klasis Rote Barat Daya sejauh ini belum ada bantuan dari pemerintah. Kami hanya melihat ada petugas yang melakukan pendataan. Jadi para pendeta mengorganisir jemaat untuk bergotong royong memperbaiki satu per satu rumah,” ujar Pdt. Tonias Nalle, Ketua Majelis Klasis Rote Barat Daya.

Selain kerusakan permukiman, banyak ternak sapi dilaporkan mati dan sekitar 80 persen padi sawah rusak akibat terendam banjir sehingga para petani terancam gagal panen. Bencana serupa juga menimpa para petani rumput laut.

Para pendeta berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan berupa uang tunai, sembako dan material bangunan guna meringankan beban warga. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *