Pasca Bencana Longsor, Warga Tamalabang-Pantar Krisis Air Bersih

Anak-anak di Pantar mencari air bersih lantaran sumur-sumur tertimbun longsor

PANTAR, www.sinodegmit.or.id, Pasca diluluhlantakkan banjir bandang dan longsor akibat Siklon Seroja pada 4 April 2021 yang lalu, kampung Tamalabang, yang terletak di Desa Kaleb, Kecamatan Pantar Timur-Kabupaten Alor, saat ini mengalami krisis air bersih.

“Sekarang warga Tamalabang sulit mendapatkan air bersih karena pipa-pipa rusak dan sumur-sumur juga masih tertutup longsor. Kali sedalam kurang lebih lima meter yang biasanya menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan air juga tertimbun. Beruntung, ada satu sumur di ujung kampung yang masih bisa dimanfaatkan,” tutur Amos Sir, warga Tamalabang, Rabu, (21/4).

Amos berharap pemerintah segera memperbaiki embung yang jebol dan pipa-pipa yang rusak agar warga tidak kesulitan mendapatkan air bersih.

Selain kebutuhan air, kata Amos, warga juga sangat membutuhkan perlengkapan dapur seperti; piring, gelas, sendok, periuk, wajan, dan lain-lain.

Sedangkan untuk kebutuhan sembako, Amos mengaku bantuan ke Tamalabang terus mengalir baik melalui kapal laut maupun helikopter.

Kapal Motor membawa bantuan bencana dari Tim Tanggap Bencana Siklon Seroja MS GMIT menuju Pulau Pantar

Selasa kemarin, (20/4), lanjut Amos, Wakil Gubernur NTT, Yosef Nae Soi bersama staf ahli gubernur NTT, Imanuel Blegur mengunjungi Tamalabang dan menyerahkan bantuan sembako.

“Kami merasa terhibur dan dikuatkan dengan kunjungan Bapak Wakil Gubernur, dan juga Ibu Ketua Sinode GMIT sebelumnya. Melalui kehadiran para pemimpin pemerintah dan gereja, kami merasa tidak ditinggalkan sendirian.”

Dalam kunjungan itu, kata Amos, Wakil Gubernur NTT menjanjikan akan membangun kembali permukiman warga dan merelokasi 40-60 kepala keluarga ke Urbir, yang terletak di bagian Timur Tamalabang.

Ketua MS GMIT, Pdt. Mery Kolimon dibonceng sepeda motor mengunjungi jemaat-jemaat yang terdampak bencana di Pantar

Sebelumnya, 13 April 2021, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon mengunjungi jemaat-jemaat GMIT yang terdampak bencana di Pantar diantaranya; Jemaat Ebenhaezer Tamakh, Jemaat Imanuel Adiabang, Jemaat Pniel Dubar, Jemaat Jeditiah Abangiwang dan Jemaat Ekklesia Tamalabang.

Khusus di Jemaat Ekklesia Tamalabang, sebanyak 112 rumah warga di 6 rayon, rata tanah oleh terjangan banjir dan longsor batu yang jatuh dari perbukitan. Rumah-rumah warga terkubur. Beruntung tidak ada korban jiwa lantaran warga sigap menyelamatkan diri pada tengah malam itu ketika mendengar bunyi gemuruh yang dasyat dan bau lumpur.

Dalam kunjungannya, Pdt Mery menyerahkan bantuan dari Tim Tanggap Bencana Siklon Seroja MS GMIT dan juga bantuan dari jemaat-jemaat se klasis Alor Tribuana. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *