Seekor Anjing ‘Selamatkan’ Satu Keluarga Dari Bencana Seroja di Pulau Pantar

Yan Vester Lau Blegur dan anjing ‘penyelamat’-nya di tengah puing rumah mereka yang tertimbun longsor

PANTAR-ALOR, www.sinodegmit.or.id, Dalam benak warga NTT, hujan adalah berkat Tuhan yang dinanti-nantikan. Sebab itu, ketika provinsi beriklim kering ini diguyur hujan lebat pada Jumat, 2 April 2021, nyaris tidak seorang pun menyangka akan datang malapetaka.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis prakiraan Siklon Tropis yang akan melintasi NTT, namun pengumuman itu tidak cukup mendapat perhatian pemerintah maupun warga oleh karena kejadian alam ini dianggap angin kencang biasa. Lagi pula siklon ini tidak pernah terjadi di NTT dalam hitungan puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya.

Menuju hari Sabtu dan Minggu, intensitas hujan dan angin semakin tinggi sehingga terjadi longsor dan banjir bandang. Padahal, dua hari tersebut merupakan momentum sukacita bagi umat Kristen yang menyambut perayaan Paskah. Namun, begitulah sifat bencana. Ia tidak memilah dan memilih waktu.

Akibatnya, ratusan orang meninggal dunia; sebagian korban hilang tak ditemukan; ribuan orang mengungsi; puluhan ribu rumah rusak; harta benda musnah; serta menyisakan trauma berkepanjangan.  

Kendati demikian, dalam banyak pengalaman, bencana tidak hanya meninggalkan kengerian. Ia kerapkali menciptakan rasa takjub dan memantik sederet pertanyaan iman yang tidak mudah dijawab.

Pengalaman iman dari satu keluarga di Kampung Adiabang, Pantar Timur, Kabupaten Alor ini, menegaskan rasa takjub sekaligus kengerian tersebut.

Dibangunkan Anjing

Kampung Adiabang, terletak di sebelah Selatan Pulau Pantar. Sisi Selatan pulau ini berupa perbukitan dengan kemiringan berkisar 60-70 derajat. Persis segitiga sama sisi. Permukiman penduduk berjejer sepanjang lereng hingga menuju bibir pantai.

Permukiman di pesisir Pulau Pantar

Karena kontur geografis yang demikian, pada umumnya orang Alor lebih akrab dengan dua penunjuk arah saja yakni; “kita turun, baru kita naik”. Maksudnya, ke manapun pergi, hanya ada dua pilihan; menurun atau mendaki.

Dengan kemiringan semacam itu, dalil hukum fisika mengatakan bahwa benda yang jatuh akan melaju dengan kecepatan maksimum. Semakin berat benda, semakin besar pula daya rusak yang ditimbulkan.

Pada malam naas itu, Yan Vester Lau Blegur (28 tahun) bersama istrinya Herlofina Nananjabar (27 tahun) dan dua anaknya Semuel (3 tahun) dan Alexsander (7 tahun) tidur lelap. Tidak ada firasat akan terjadi hal buruk.

“Hari Sabtu malam Alex dan adiknya Semuel bermain bersama teman-temannya di gereja Imanuel Adiabang yang terletak di depan rumah kami. Mereka baru pulang sekitar jam 10. Setelah itu, kami semua langsung tidur, karena hujan tidak berhenti. Listrik juga padam. Dan, kami rencana mau ikut pawai Paskah jam 3.00 subuh,” kisah Yan yang kami temui sepekan pasca bencana.  

Sekitar jam 1:00 dini hari, sambungnya, ia merasakan sesuatu mengais-ngais kakinya. Terdengar di luar hujan turun sangat deras. Ia terbangun. Seisi rumah gelap. Ia meraih senter hendak melihat apa yang terjadi. Ternyata anjing piaraan mereka berupaya naik ke atas tempat tidur. Saat kakinya menyentuh lantai, ternyata lumpur bercampur genangan banjir sudah memenuhi semua bagian rumah. Bermacam perabot terendam. Barang-barang jualan kios berserakan.

Tumpukan material longsor dari bukit yang terbawa hingga ke Pantai di Pantar Timur

Ia bergegas membangunkan istri dan kedua anaknya. Berbekal senter, mereka lari menyelamatkan diri. Tidak ada pikiran untuk membawa sesuatu dari rumah.

“Tengah malam, saya rasa ada yang garuk-garuk kaki. Jadi saya bangun cari senter karena listrik mati, ternyata lumpur longsor sudah masuk di dalam rumah. Saya lihat anjing piaraan kami ada di pinggir tempat tidur. Rupanya lumpur itu yang bikin dia mau naik ke tempat tidur dan injak saya punya kaki. Saya kasi bangun istri dan anak-anak lalu kami lari ke jalan raya. Alex dan adiknya Semuel tidak sempat pakai baju. Saat itu longsor sudah setinggi lutut.”

Terseret Banjir Hingga ke Laut  

Tiba di jalan raya, kata Yan, longsor sudah setinggi pinggang. Hal itu membuat mereka sulit bergegas menyelamatkan diri. Ia menggendong Alex, sedangkan istrinya menggendong Semuel. Belum sempat menjauh dari kepungan longsor, tiba-tiba banjir besar menerjang.   

Bahayanya, rumah kami berada tepat di tebing pantai. Tingginya kurang lebih 5 meter dari permukaan laut. Jadi saat banjir besar datang tengah malam itu, kami terseret dan langsung terlempar seperti jatuh dari air terjun ke dalam laut. Maka itu, saya punya badan penuh luka karena benturan batu dan kayu.

Kira-kira 10 atau 15 menit kemudian, saya dengar Alex pangggil.

“Bapaaaaaa … Bapa, di mana?”

Saya jawab, “Bapak di sini!”

Lalu, saya berenang selamatkan dia. Beruntung, dia tau berenang sehingga dia tidak tenggelam. Jarak kami sekitar 20 meter. Pada saat bersamaan, istri saya teriak panggil, “Lauuuuu … Lauuuuuu!”

Lau, itu nama kampung dari Alex. Jadi, saya menyahut, “kami ada di sini.” Jarak saya dengan istri sekitar 30 meter. Jadi, saya ambil keputusan selamatkan Alex duluan karena dia yang lebih dekat.   

Yan dan Alex di halaman Gereja GMIT Ebenhaeser Tamakh-Pantar

Setelah berhasil pegang Alex, kami berenang cari batang kayu untuk jadikan pelampung. Akhirnya dapat. Lalu, saya kasi naik dia di atas batang kayu. Dia menangis tanya Mama dan dia punya adik.

“Bapak …, mama dan adik Semuel di mana?”  

Saya bujuk dia, “Mama ada sama-sama dengan adik. Nanti pagi baru kita cari mama dengan adik.”

Menurut Yan, situasi yang dialaminya sangat dilematis. Apakah ia tetap menjaga Alex? Ataukah melepas anak sulungnya terbawa arus demi mencari istri dan anak bungsunya di tengah gelap malam dan derasnya hujan? Sementara tubuhnya sendiri sudah tidak berdaya akibat luka-luka di sekujur tubuh.

“Saya hanya bisa angkat hati minta Tuhan tolong supaya kami semua bisa selamat, sebab keputusan apa pun yang saya ambil sangat berisiko. Kalau saya kasi tinggal Alex, dia akan terbawa arus atau jatuh dan hilang karena banjir tidak hanya datang dari satu tempat. Sepanjang pantai yang sekian kilometer itu, banjir turun di mana-mana. Jadi mau tidak mau saya harus jaga dia dari benturan pohon-pohon.”

Tidak hanya benturan pepohonan dan arus laut, kata Yan, nyawa mereka juga dalam ancaman bahaya karena darah yang meleleh dari luka-luka di sekujur tubuh mereka berpotensi mengundang ikan-ikan hiu.

Yan akhirnya memutuskan tetap menjaga putra sulungnya, sambil berharap Tuhan berkenan menyelamatkan istri dan putra bungsunya.

Istri dan Anak Ditemukan

Sekitar jam 5 pagi, atau selama 4 jam terapung-apung, Yan dan buah hatinya terdampar di pantai Morilelang, sekitar 700 meter dari rumah mereka. Kendati sangat letih, keduanya berusaha memanjat pohon tamarin di bibir pantai karena takut terseret banjir dari kali yang tak jauh dari posisi mereka terdampar.

“Saat matahari muncul, saya berteriak minta tolong. Tidak lama kemudian, Anton Lau dan Koli Blegur, datang tolong kami. Jadi, saya cerita kejadiannya dan minta tolong warga cari saya punya istri dan anak.

Beberapa saat kemudian, warga bawa satu anak kecil yang ditemukan di pingggir pantai. Mereka bilang ini anak bukan warga Morilelang. Jadi minta saya untuk lihat. Ternyata itu anak saya Semuel. Dia sudah meninggal dunia.

Alex dan adiknya Semuel di belakang rumah mereka di Adiabang

Lalu, sebagian warga kembali cari saya punya istri, dan warga lainnya bantu bawa jenasah anak saya untuk persiapan penguburan di Gereja Ebenhaeser Tamakh karena kami anggota jemaat di sana.

Pas lewat depan kami punya rumah, tidak ada apa-apa lagi di situ. Semua lenyap. Fondasi rumah pun tidak ada sama sekali. Yang ada hanya timbunan longsoran batu.

Sampai sekarang, saya sedih lihat anak saya Alex. Dia trauma berat. Kalau omong dengan dia seperti orang bingung. Setiap malam dia takut, jadi harus peluk dia.”

Dua hari kemudian kata Yan, istrinya Herlofina yang sehari-hari bekerja sebagai guru kontrak di TK/PAUD Ebenhaeser Tamakh ditemukan di laut dalam kondisi meninggal dunia.

Bagaimana Nasib Anjing Penyelamat?

Semenjak kejadian tengah malam itu, Yan tidak tahu ke mana pergi dan bagaimana nasib anjing yang telah ‘menyelamatkan’ mereka itu. Seingatnya, anjing berbulu putih itu sempat mengikuti mereka sampai di jalan raya, sebelum banjir besar tiba.

Kata Yan, anjing pintar itu adalah ‘teman’ kesayangan kedua anaknya. Putra bungsunya memberinya nama Goda. Tidak jelas nama itu dipungut dari mana, tapi yang pasti, sejak kecil, Goda menjadi teman bermain Semuel.

Jalur longsor & banjir dari arah Gereja GMIT Imanuel Adiabang yang menerjang rumah Yan

Pada hari Senin, ketika jenasah Semuel ditemukan, Goda tidak muncul. Yan menduga, ia sudah mati tertimbun longsor atau tenggelam di laut. Ternyata tidak.

“Nanti hari Selasa ketika kami jalan menyusur pantai untuk cari istri saya, tiba-tiba dia muncul. Saya hampir-hampir tidak percaya, anjing ini bisa selamat. Mungkin Tuhan mau pakai anjing untuk selamatkan kami dari bencana. Sebab kalau dia tidak kasi bangun kami, mungkin kami semua sudah mati tertimbun longsor atau tertimpa rumah.”

Menurut Yan, kendati Goda hanya seekeor anjing namun ia bisa merasakan dukacita yang dialami majikannya.

“Setelah jenasah anak dan istri saya ditemukan dan dikuburkan, anjing ini kelihatan murung. Tiap hari dia tidur di kuburan. Kalau lapar, dia pulang. Setelah makan, dia kembali lagi ke kuburan.”

Harapan Pasca Bencana

Usai mendapat perawatan medis, luka-luka akibat benturan material batu dan kayu di sekujur tubuh Yan dan Alex berangsur sembuh, namun, entah sampai kapan luka psikis ayah dan anak ini akan pulih. Selain kehilangan orang yang paling dikasihi, harta benda yang menopang hidup mereka juga ikut musnah.

Batu-batu besar inilah yang menewaskan dan meluluhlantahkan permukiman warga di Pantar

“Kami punya rumah dan kios hanyut tanpa bekas. Motor yang saya pakai untuk ojek pun hilang sampai saat ini. Padahal, motor itu yang selama ini saya pakai untuk cari hidup. Saya berdoa, semoga Tuhan kasi saya kesehatan supaya bisa urus Alex.”

Yan berterima kasih kepada semua orang yang telah mendoakan dan membantu mereka. Khususnya kepada Bapak Sole Blegur yang menemukan jenasah anaknya Semuel. 

Ia berharap bantuan yang mereka terima dari gereja, donatur, maupun pemerintah bisa menjadi modal untuk melanjutkan hidup terutama untuk menopang Alex yang saat ini bersekolah di SD GMIT Tamakh.

Kisah haru yang dialami keluarga Yan hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah serupa lainnya. Menurut data BNPB, bencana akibat Siklon Seroja yang melanda NTT awal April 2021, menyebabkan 181 orang meninggal dunia dan 47 orang hilang. Khusus di Pulau Pantar jumlah korban sebanyak 5 orang; 3 orang dewasa dan 2 anak balita. 4 korban berhasil ditemukan sedangkan 1 korban hilang sampai saat ini.***

NB: Foto Yan Vester Lau Blegur bersama kedua anaknya dipublikasi atas ijin yang bersangkutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *