Sumber Air Terbatas, 259 Kepala Keluarga di Tamalabang Butuh Sumur Bor

Ibu Mery Waang dan Ibu Yohana Tuati warga Tamalabang mencuci pakaian di sumur

Pantar-Alor,www.sinodegmit.or.id, Terik matahari siang tak menyurutkan niat ibu rumah tangga beranak dua itu menghadapi setumpuk pakaian kotor di tepi sumur.

Sudah dua pekan, pakaian-pakaian itu teronggok di rumah. Bukannya ia sibuk atau malas, melainkan persediaan air untuk keperluan mencuci terbatas. Kelangkaan ini sudah berlangsung sejak awal April 2021 lalu.

Kabarnya, bupati, gubernur dan dua orang Menteri sudah mampir dan melihat langsung kebutuhan warga Tamalabang yang menjadi korban bencana Siklon Seroja. Namun, rupanya warga perlu bersabar.  

Ibu rumah tangga bernama lengkap Mery Waang (30 tahun) ini, bukan satu-satunya. Ada 259 kepala keluarga lain di Kampung Tamalabang, Pulau Pantar, Kabupaten Alor yang juga mengalami nasib serupa.

Pipa-pipa yang biasanya mengalirkan air ke rumah warga sudah tidak berfungsi akibat diterjang longsor dan banjir yang dipicu oleh Siklon Seroja. Sebagian putus atau patah dan sisanya lagi hilang, tak jelas rimbanya. Maka, warga pun hanya bisa mengandalkan dua buah sumur di pesisir pantai dan satunya lagi di dekat gereja untuk memenuhi semua keperluan yang membutuhkan air.

“Ini kami cari air jauh sekali. Saya jalan setengah kilometer pikul pakian datang cuci di sumur ini karena air leding sudah tidak jalan lagi jadi. Banjir juga sudah bawa pipa-pipa ke dalam laut jadi kita tambah susah,” keluh Mery dengan logat Alor-nya yang kental.

Namun, lanjut Mery, persoalan utamanya bukan sekadar kerusakan jaringan perpipaan melainkan sumber mata air dari kali (sungai) yang menjadi andalan warga untuk minum maupun menyiram tanaman juga kering lantaran tertimbun material batu dan tanah.

Tangis haru Pdt. Mery Duka saat dikunjungi Pdt. Mery Kolimon sepekan pasca bencana Seroja di Jemaat Ekklesia Tamalabang

Alhasil, dampak ikutannya pun jadi panjang. Selain jarak akses yang cukup jauh, debit air sumur pun tidak cukup memenuhi kebutuhan semua warga. Paling banter hanya untuk minum, masak dan mandi. Sedangkan untuk cucian, warga berbondong-bondong ke sumur.

Itu pun tidak bisa serentak sebab debit air terbatas. Harus pintar-pintar membaca situasi. Itulah sebabnya, dia memilih datang pada siang hari. Sebab, kalau pagi atau sore, kadang-kadang harus antre menunggu giliran.

“Sejak bencana ini ada ojek air. Dua jerigen isi 30 liter, dijual dengan harga 10 ribu rupiah. Tapi, hidup sudah susah begini, kami tidak sanggup. Kami minta kalau bisa na, ada yang bantu dengan sumur bor,” harap warga GMIT Ekklesia Tamalabang ini sambil menurunkan tali timba yang ujungnya diikatkan jerigen untuk menarik air.

Harapan Mery Waang tersebut dibenarkan Ketua Majelis Jemaat GMIT Ekklesia Tamalabang, Pdt. Mery Duka, S.Th. Ia mengatakan air bersih masih menjadi kebutuhan mendesak pasca bencana Seroja. Pasalnya, air kali yang menjadi andalan warga selama ini telah tertutup oleh material longsor.

Menurutnya, hanya ada 3 buah sumur galian yang saat ini dimanfaatkan oleh 259 kepala keluarga atau 1.221 jiwa. 2 sumur di ujung Barat kampung melayani 138 Kepala Keluarga. Sedangkan 1 buah sumur di bagian Timur dekat Gereja Ekklesia Tamalabang untuk 121 Kepala Keluarga.

Oleh sebab itu, sumur bor merupakan salah satu solusi yang dapat meringankan beban warga.

Anak-anak di Tamalabang bantu orang tua mereka mengambil air menggunakan jerigen

Selain kebutuhan air, hal yang tidak kalah mendesak adalah mobil eksavator dan traktor untuk membersihkan kebun-kebun warga yang tertimbun material longsor.

“Bencana longsor bikin rusak semua kebun. Padahal warga jemaat di sini hidup dari bertanam sayur-sayuran. Kalau mau kerja kebun harus pakai eksavator untuk kasi pindah batu-batu besar. Jadi sekarang, kami pusing, mau memulai kerja dari mana?”

Belum lagi kata Pdt. Mery, sebanyak 112 rumah warga telah terkubur oleh longsor sehingga mereka masih mengungsi di rumah-rumah keluarga sampai saat ini.

“Sampai sekarang masih ada rumah yang menampung 7 sampai 8 Kepala Keluarga sekaligus karena rumah-rumah mereka hilang dan rusak berat. Rencana bangun kembali pun butuh waktu panjang karena permukiman yang sekarang itu rusak parah. Sehingga harus relokasi, tapi tantangannya mencari lokasi tanah yang agak rata itu sulit.”

Di tengah aneka persoalan pasca bencana, pendeta yang telah melayani 5 tahun di Jemaat GMIT Ekklesia Tamalabang ini menyampaikan terima kasih untuk para donatur baik individu maupun lembaga yang sejak bencana terjadi telah memberi dukungan doa dan bantuan materil. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *