Panggilan Iman Untuk Menyejahterakan Bangsa (Yeremia 29:1-7) – Pdt. Jahja A. Millu

sumber foto: https://jalandamai.org/mengingat-ulang-gotong-royong.html

KUPANG,www.sinodegmit.or.id, Salah satu cita-cita nasional yang hendak dicapai bangsa Indonesia ialah mewujudkan kesejahteraan umum. Hal ini tertuang dengan jelas dalam pembukaan UUD 1945.Hal senada juga ditekankan Alkitab.

Allah menaruh perhatian serius terhadap kesejahteraan umat-Nya. Itu sebabnya Ia menyuruh Yeremia menyampaikan pesan kepada raja dan rakyat Yehuda yang dibuang ke Babel. Melalui Firman ini, Allah hendak mendorong umat-Nya untuk mengupayakan kesejahteraan hidup di negeri asing.

Tafsir Teks
Teks kita merupakan surat yang dikirim nabi Yeremia kepada orang Yehuda yang berada di pembuangan Babel. Surat ini dikirim melalui jalur diplomatik lewat Elasa dan Gemarya, utusan khusus raja Zedekia yang dikirim dari Yerusalem ke Babel (ay. 1-3). Ada kerjasama antara nabi dan raja untuk kesejahteraan kaum buangan di Babel. Melalui kerjasama nabi-raja, pesan yang berharga ini dapat mencapai sasarannya dengan baik.
Surat ini dimulai dengan menyatakan siapakah Allah itu (ay. 4). Pertama, Ia adalah Tuhan semesta alam. Kemahakuasaan-Nya mencakup seluruh dunia, tidak terkecuali Babel. Itu sebabnya meski bersabda dari Yerusalem, firman-Nya akan terwujud di Babel. Rancangan Yahwe, dan bukan rancangan Babel, yang sedang mengendalikan sejarah dunia. Kedua, Yahwe adalah Allah Israel. Pembuangan tidak berarti Yahwe berhenti menjadi Allah Israel. Ia tetaplah Allah mereka, dan akan membebaskan mereka dari tangan Babel.


Ayat 5-7 mengandung empat perintah pokok untuk membangun kehidupan di Babel yakni mendirikan rumah, membuat kebun, berkembang biak, serta mengusahakan dan mendoakan kesejahteraan Babel. Perintah ini mirip dengan yang disampaikan Tuhan saat Israel hendak memasuki tanah perjanjian (Ul. 20:5-8), maupun saat kembalinya Israel dari pembuangan ke Yerusalem (Yes. 65:21-23).

Menurut John Hill, yang paling mengejutkan adalah perintah keempat yakni “usahakan” dan “doakan” kesejahteraan Babel. Melalui perintah ini, doa yang biasa Israel lakukan bagi kesejahteraan Yerusalem (Mzm 122), sekarang menjadi doa bagi kebaikan kota penakluk Yerusalem. Doa yang biasanya dipanjatkan dari Bait Allah di Yerusalem, kini dilakukan dari kota para penghancur bait Allah. Keanehan juga terjadi karena sebelumnya Tuhan melarang nabi berdoa bagi keselamatan Yerusalem (7:16; 11:14; 14:11).

Namun kini Ia memerintahkan umat-Nya untuk berdoa bagi kesejahteraan bangsa yang menghancurkan mereka (John Hill. Friend or Foe? The Figure of Babylon in the Book of Jeremiah MT. 1999:145-153).
Perintah untuk memiliki sikap positif yang sama antara kehidupan di tanah perjanjian dan di luar tanah perjanjian, lanjut Hill, adalah pesan yang radikal. Itu berarti menyamakan Babel dengan tanah perjanjian. Berkat khusus bagi tanah perjanjian kini telah diperluas mencakup wilayah kemana umat Tuhan diutus. Di manapun rumah didirikan, kebun dikerjakan, perkembangbiakan manusia berlangsung, serta adanya kerja keras dan doa untuk mengembangkan suatu daerah, maka Allah akan mencurahkan berkat-berkat perjanjian-Nya.

Pentingnya perintah ini juga berkaitan erat dengan latar belakang rombongan Yehuda yang dibawa ke pembuangan Babel. Menurut ayat 1-2, mayoritas mereka adalah orang-orang terpandang seperti tua-tua Israel, imam, nabi, pegawai istana, pemuka, orang terampil seperti tukang dan pandai besi. Kaum elit yang dideportasi ini tidak mungkin mempertahankan posisi sosial mereka di pengasingan. Lapangan kerja yang tersedia disana umumnya di sektor pertanian. Mereka harus turun kelas dari pejabat istana dan agama menjadi petani, peternak atau nelayan (Elelwani Farisani. A Sosiological Analysis of Israelites in Babylonian Exile. 2004:380-388). Memang tidak mudah karena membutuhkan proses adaptasi, namun mesti dilakukan guna mempertahankan hidup.
Agar proses integrasi Yehuda di Babel berjalan dengan baik tanpa menghilangkan identitas mereka, maka Allah memberi panduan dalam ayat 8-14. Panduan ini menguraikan bagaimana Yehuda mempertahankan identitasnya yang paling penting. Mereka harus tetap menjadi penyembah Allah. Karena itu, terus memanggil nama Allah, berdoa kepadaNya dan selalu mencari Dia dengan sepenuh hati adalah inti kekahasan itu.

Aplikasi
Beberapa aplikasi yang dapat disimpulkan dari teks ini sebagai berikut:

  1. Perintah Tuhan dalam teks ini bukan sekedar langkah-langkah praktis untuk hidup, tetapi sekaligus untuk mewujudkan integrasi komunitas. Orang buangan harus berintegrasi dengan masyarakat lokal di Babel. Karenanya Yeremia menganjurkan keterbukaan pada orang Babel yang sebelumnya adalah musuh. Meminjam Volf, diperlukan adanya suatu “teologi pelukan”, yakni persekutuan antar para mantan musuh. (C. A. Strine. Embracing Asylum Seekers and Refugees: Jeremiah 29 as Foundation for Christian Theology of Migration and Integration. 2018:478-496).
  2. Berada di bawah disiplin Tuhan tidak berarti kehilangan pemeliharaan-Nya yang agung. Dosa membawa Yehuda terbuang dari negerinya, tetapi Tuhan tetap mengingat janjiNya kepada mereka. Itu sebabnya Ia memberi petunjuk tentang bagaimana membangun hidup dalam disiplin Tuhan. Setelah hukuman yang begitu dahsyat, Allah menata kembali kehidupan umatNya di tanah asing. Biarlah kita pun tetap mengupayakan berbagai karya krearif untuk membangun hidup di tengah puing-puing kehancuran kita.
  3. Allah meminta umat di Babel untuk mengendalikan sifat inferioritas sebagai orang buangan. Kondisinya yang penuh trauma dan putus asa pasca kejatuhan Yerusalem tidak boleh merendahkan peran sosial mereka. Demikian pula seharusnya gereja. Kita memang adalah komunitas yang juga terdampak covid dan seroja. Namun itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengalihkan perhatian pada pergumulan bangsa – yang mungkin saja – kondisinya lebih parah dari yang dialami gereja. Tuhan Yesus memberkati. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *