Tokoh Agama di NTT Ajak Umat Rukun dan Dukung Pemerintah Atasi Pandemi

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Merayakan Bulan Kebangsaan GMIT dan HUT Kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia, Majelis Sinode GMIT menggelar dialog virtual bertema “Peran Agama-Agama Membangun Bangsa di Masa Pandemi”.

Dialog ini dipandu Pdt. Leo Takubessi dan Pdt. Astrid Lusi, menghadirkan empat narasumber antara lain: Mgr. Vincent Sensi Potokota (Uskup Agung Ende), Boli Tonda Baso, M.Si, (Dewan Pimpinan Harian MUI-NTT), Pdt. Ayub Amheka (Wakil Ketua PGIW-NTT) dan Pdt. Mery Kolimon (Ketua MS GMIT).

Menurut Uskup Vincent, ada dua peran penting pemimpin agama di tengah pandemi Covid-19, yakni: memberikan masukan yang konstruktif kepada pemerintah dalam menanggulangi pandemi dan membuka wawasan berpikir umat agar tumbuh kesadaran dalam menaati protokol kesehatan.

“Saya selalu bilang kepada para pastor untuk memotivasi umat agar ikuti pendapat pemerintah. … Kedua, ada beberapa sikap dasar yang menurut saya sebagai pimpinan agama kita belum berhasil yaitu dalam hal pendekatan iman. …kita gagal dalam nilai saling percaya, solidaritas, ketaatan dan nilai-nilai dasar lainnya dalam menghadapi pandemi,” kata Uskup Vincent.

Terkait dukungan kepada pemerintah, Pdt. Ayub dan Boli Tonda Baso, sependapat dengan Uskup Vincent. Menurut keduanya, kendati kebijakan-kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi dalam hal tertentu terkesan memaksa, namun itu merupakan solusi yang tepat.

“Ada keputusan negara yang sifatnya memaksa termasuk pembatasan ibadah. Ini sesuatu yang baru dalam relasi agama dan negara tapi dalam suasana hari ini … itu solusi yang paling tepat. Kita harus percaya pada pemerintah demi kemaslahatan bangsa,” ungkap Boli.

Selain membahas tentang peran pemimpin agama dalam penanganan Covid-19, para narasumber juga dimintai tanggapan mengenai tantangan-tantangan dalam merawat persatuan dan kesatuan bangsa dewasa ini.

Terkait hal ini, Pdt. Mery mengatakan bahwa ada beban sejarah warisan kolonial yang berkontribusi terhadap dinamika sosial politik hingga saat ini. Karena itu diperlukan ruang-ruang perjumpaan lintas agama yang berkelanjutan guna mereduksi perasaan saling curiga, benci dan permusuhan antar sesama umat beragama.

“Kita lihat sejarah bahwa kolonialisme dibangun di atas politik devide et impera yang menebarkan perasaan saling curiga, benci, saling memusuhi satu dengan yang lain, dan seterusnya. … karena itu perjuangan kemerdekaan adalah juga perjuangan mengatasi kecurigaan, kebencian, permusuhan. Banyak kali kita bilang merdeka, akan tetapi kita belum selesai dengan warisan-warisan kolonial itu,” kata Pdt. Mery.

Pada sesi closing statement, keempat narasumber mengajak segenap umat beragama khususnya di NTT untuk membangun kerukunan hidup bersama sebagai bangsa yang majemuk, menjauhi sikap-sikap ekslusivisme, memperkuat daya tahan iman, dan mendukung pemerintah mengatasi pandemi Covid-19.

Mengisi Bulan Kebangsaan tahun ini, selain mengadakan kegiatan dialog kebangsaan pada Jumat, (20/8-2021), MS GMIT juga mengadakan ibadah virtual bertema, “Ratapan dan Harapan Bagi Bangsa” yang digelar pada 18/8-2021. ***    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *