Dipilih Oleh Allah Untuk Memulihkan Kehidupan Keluarga (Mazmur 28) – Pdt. Nicolas St. E. Lumba Kaana

www.sinodegmit.or.id, Suara Gembala Majelis Sinode GMIT dalam rangka perayaan bulan keluarga tahun 2021 memberi pesan bahwa pandemi Covid-19 menjadi alarm yang mengingatkan kita agar kembali ke rumah. Belajar, bekerja dan beribadah di rumah menjadi pilihan terakhir untuk membatasi penularan virus yang mematikan.

Pengalaman itu menegaskan peran keluarga sebagai basis pemulihan dan pertumbuhan kehidupan. Mazmur 28 berbicara tentang Allah yang melindungi. Kita berefleksi atas mazmur tersebut untuk pemulihan fungsi keluarga sebagai sarana perlindungan kehidupan yang dianugerahkan Allah. Kiranya keluarga-keluarga kita segera berpulih sehingga dapat diandalkan dalam rangka pemulihan umat, bangsa dan semesta dari dampak bencana.

Mazmur 28, oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), diberi judul “Tuhan perisaiku”. Untuk memahami Mazmur ini, saya membingkainya menjadi dua bagian, yaitu bagian ayat 1-5 dan bagian ayat 6-9. Bagian pertama, berisi ungkapan kecemasan Daud. Seruan Daud ketika menghadapi gangguan dan ancaman dari orang-orang fasik di sekitarnya. Beberapa ciri orang fasik disebutkan: pelaku kejahatan, orang-orang yang kelihatan ramah kepada teman-temannya tetapi hati penuh kejahatan, orang-orang yang tidak mengindahkan pekerjaan dan perbuatan tangan Tuhan. Situasi yang dihadapi Daud mendesaknya untuk berseru kepada Allah.

Jika Allah berdiam diri terhadapnya maka ia seperti orang yang turun ke dalam liang kubur: sendirian, terkucil dari orang lain, diselimuti kegelapan, tidak berdaya dan hancur.  Dapat dikatakan bahwa berseru, minta tolong kepada Allah adalah cara Daud untuk mempertahankan hidup di tengah himpitan kesulitan. Daud memahami Allah sebagai gunung batu baginya. Serangan kejahatan yang mematikan dari para musuh tidak bisa menembus gunung batu perlidungan. Dari bagian ini kita belajar untuk menjadi keluarga yang selalu mendekat kepada Allah dan tunduk di hadiratNya. Melalui ibadah, kontemplasi dan refleksi yang mendalam kita menyelami makna kehidupan di tengah bencana yang Allah kehendaki.

Bagian kedua, ayat 6-9 berisi tanggapan Daud atas pertolongan Tuhan baginya. Ada perubahan, dari kecemasan menjadi kegembiraan. Hati Daud sedang beria-ria, penuh nyanyian syukur atas pertolongan Allah. “Terpujilah Tuhan”, demikian kata Daud di ayat 6, “karena Ia telah mendengar suara permohonanku”. Dua istilah yang dipakai untuk menggambarkan perlindungan Allah, yaitu “kekuatan” dan “perisai”. Kekuatan berarti tenaga atau daya untuk bergerak dan beraktivitas. Sebagai kekuatan maka Tuhan tidak membiarkan Daud berdiam diri, melainkan menggerakkan dan memberdayakannya untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan. Perisai adalah sejenis perlengkapan perang yang terbuat dari tembaga, untuk mempertahankan diri dari serangan senjata musuh. Sebagai perisai Tuhan memberi perlindungan yang dinamis, funsional dan komunal. Perikop ini ditutup dengan seruan Daud agar Allah menyelamatkan, memberkati, menggembalakan dan mendukung umatNya.

Kita belajar dari Mazmur 28 tentang dua motif perlindungan Allah. Pertama, motif mendekat kepada Allah. Ada saat di mana kita begitu lemah, tidak punya apa pun dan siapa pun untuk memfasilitasi dan menolong kita menghadapi kesulitan. Pada saat itu kita dapat mengandalkan Allah sebagai Penolong. Sebagai gunung batu dan benteng perlindungan, Allah memberi pertolongan yang sempurna. Kedua, motif menggerakkan dan memberdayakan. Tuhan menolong kita menghadapi kesulitan dengan cara yang dinamis dan kreatif. Menurut saya, dua motif perlindungan Allah itu menyatu pada ungkapan ajakan Juruselamat di Matius 11:28. Tuhan Yesus mengajak orang-orang kecil yang sedang cemas, yang letih lesu dan berbeban berat, agar datang kepadaNya guna mendapatkan kelegaan. Dikatakan dengan jelas bahwa tindakan kecil, sederhana dan ringan jika dikerjakan dengan lemah lembut dan rendah hati akan berdampak perubahan yang sangat berarti.

Kita belajar dari Mazmur 28 untuk pemulihan fungsi keluarga bahwa keluarga yang beriman kepada Allah terpanggil untuk aktif beribadah dan bersolidaritas bagi sesama dan sekitar. Sebagaimana Daud, kita dapat berseru kepada Tuhan agar menolong keluarga kita mendekat kepada Allah guna merubah ancaman menjadi peluang bertindak dan merubah kesulitan menjadi kesempatan berkreasi.  Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *