HUT GMIT DAN REFORMASI 2021: Menjadi Gereja yang Hidup, Bertumbuh & Berbuah – Pdt. Mery Kolimon

Merayakan ulang tahun adalah karunia khusus untuk orang hidup. Orang yang mati tak lagi merayakan ulang tahun, hanya orang yg hidup yang merayakan ulang tahun. Pada orang hidup ada karunia untuk mengingat, mengurai kepedihan, menyebut syukur, dan merayakan kehidupan. Di ulang tahun, kita bersyukur untuk hidup, pertumbuhan dan untuk karunia buah-buah kehidupan.

Hari ini sebagai GMIT, kita bersyukur Tuhan mengijinkan gereja kita untuk masih hidup. Tapi apakah kita adalah gereja yang bertumbuh, dan berbuah? Apa artinya menjadi gereja yang hidup? Apa artinya menjadi gereja yang bertumbuh dan berbuah? Menjadi gereja yang hidup berarti kita mesti tetap melekat pada pokok kehidupan, yaitu Allah sendiri. Kita hanya bisa menyebut gereja kita sebagai gereja yang hidup kalau kita menerima daya kehidupan dari Tuhan, Sumber Kehidupan. Hidup gereja tidak berasal dari sumber apapun, kecuali Tuhan. Bukan kepemimpinan yang hebat, bukan jumlah anggota yang banyak, bukan besarnya asset yang menentukan suatu gereja dikatakan gereja yang hidup. Hal-hal itu penting namun bukan merupakan sumber kehidupan gereja. Sumber kehidupan gereja adalah Allah Tritunggal sendiri.

Gereja yang bertumbuh dan berbuah itu adalah gereja yang matang secara spiritual. Mereka tekun berdoa, membaca Alkitab, memahami maknanya dan menghidupinya hari demi hari. Gereja yang bertumbuh dan berbuah adalah persekutuan yang mencari jalan agar semua kelompok usia dapat terjangkau oleh pemberitaan Injil dan diasuh dalam kerohanian yang baik. Gereja yang bertumbuh itu bertambah juga secara jumlah. Kesaksian mereka dipercaya, orang mengalami kasih Tuhan melalui hidup mereka dan tertarik bersekutu bersama mereka dalam iman, harapan, dan kasih. Gereja yang hidup, bertumbuh, dan berbuah adalah gereja yang anggota-anggotanya tidak tergantung alkohol, seks bebas, judi; juga tidak melakukan kekerasan pada sesama dan merusak alam. Gereja yang makin matang dalam usia mengasuh jemaat-jemaat mengenali apa yang lebih utama dalam hidup.

Gereja yang hidup, bertumbuh, dan berbuah itu adalah gereja yang anggotanya peduli satu terhadap yang lain. Di gereja kita belajar untuk melepaskan keegoisan kita. Di gereja kita dipanggil menjadi saudara satu bagi yang lain, apapun latar belakang kita. Di gereja kita belajar memahami orang lain, saling mendahulukan kepentingan bersama. Kalau ada yang masih mau ngotot dengan pendapat dan pandangan pribadi, mau menang sendiri, merasa benar sendiri, dia perlu belajar lagi hakikat bergereja. Gereja adalah persekutuan orang percaya, di mana tiap-tiap orang entah tua atau muda, kecil atau besar, kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau rendah, memiliki nilai yang sama sebagai keluarga Allah. Gereja yang hidup, bertumbuh, dan berbuah itu juga menjadi berkat bagi sekeliling mereka. Gereja itu tidak hidup untuk dirinya sendiri dan mengusahakan kebaikan persekutuannya sendiri, melainkan berkomitmen menghasilkan juga buah-buah kebaikan bagi dunia di sekelilingnya.

Gereja yang hidup itu berbagi kabar baik kepada sesama dan seluruh ciptaan kata dan perbuatan. Pemberitaan itu berlangsung di mimbar-mimbar gereja, dalam ibadah-ibadah kita secara tatap muka maupun online. Kemajuan teknologi informasi telah memungkinkan pemberitaan kita melampaui tembok-tembok gereja. Gereja yang hidup, bertumbuh, dan berbuah itu mau terus menerus belajar: memahami perubahan dunia dan mengartikulasikan pemberitaan kasih Allah dalam perubahan dunia itu. Gereja yang hidup itu memberi perhatian pada dan mendukung sekolah-sekolah milik gereja di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi. Gereja yang hidup, bertumbuh dan berbuah itu juga siap berdialog dengan denomonasi dan agama-agama lain. Dialog merupakan ruang untuk bersaksi tentang kasih Allah yang kita alami dalam perssekutuan kita, sekaligus ruang belajar mengenai rahmat Allah dalam pengalaman orang lain sebab Allah dan karyaNya tak bisa dibatasi hanya dalam gereja kita.

Gereja yang hidup, bertumbuh, dan menghasilkan buah itu aktif dalam pembangunan bangsa yang adil dan makmur. Mereka giat membangun kesejahteraan bangsanya, bahu membahu dengan semua warga bangsa yang lain. Gereja yang hidup terlibat aktif dalam upaya penanggulangan bencana, mendampingi jemaat yang terdampak pandemi dan Seroja, berbagi iman, kasih, dan harapan. Gereja yang hidup, bertumbuh dan berbuah tidak hanya mau menerima bantuan, tetapi juga aktif mengorganisir dukungan kemanusiaan. Mereka tidak hanya sibuk membangun tembok-tembok gedung dan berpuas dengan administrasi gereja yang rapi. Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang berbagi kebaikan. Gereja yang berbuah adalah gereja yang menjadi berkat bagi sesama manusia dan juga bagi alam. Gereja yang hidup, bertumbuh dan berbuah akan mencari jalan agar kemiskinan ekstrem, perdagangan orang dan kekerasan berbasis jender dapat dientaskan betapapun sulitnya. Gereja yang hidup, bertumbuh dan berbuah tidak bekerja sendiri melainkan berjejaring dengan banyak pihak untuk mencari jalan agar keselamatan yang utuh diberitakan, diperjuangkan dan dinyatakan. Gereja yang hidup, bertumbuh, dan berbuah tidak akan tenang dan terus mencari jalan keluar ketika angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, stunting, gizi buruk, jumlah orang terinveksi Covid, yang belum divaksin, dan angka kematian ibu dan bayi masih tinggi di lingkungannya.

Gereja yang bertumbuh dan berbuah adalah gereja yang menata dirinya rapi tersusun, diikat menjadi satu. Persekutuan itu belajar tentang tata gereja, memahami makna tata gereja itu dan melaksanakan dengan tekun sebagai tanda ketaatan pada Allah. Mereka tidak sekedar terpaku pada kata-kata dari aturan gereja namun menghidupi nilai penataan gereja yang merangkul kehidupan dan persaudaraan. Gereja yang hidup, bertumbuh, dan berbuah menata pelayanan gereja secara terbuka, partisipatif, dan bertanggung-jawab. Hidupnya menunjukkan kejujuran, keadilan, kebenaran, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

Gereja yang bertumbuh dan berbuah tidak menyimpan kepahitan masa lalu. Mereka sadar sejarah bisa saja termasuk konflik, permusuhan, dan kemarahan. Gereja adalah orang berdosa yang dibenarkan. Kita bisa membuat kesalahan, namun kita juga beroleh anugerah pembenaran. Gereja yang bertumbuh tidak terpenjara dalam kegetiran hari kemarin, melainkan belajar dari sejarah yang pahit untuk hidup yang lebih damai dan berkeadilan di masa kini: berdamai dengan diri sendiri, dengan mereka yang pernah melukai dan dilukai, berdamai dengan Tuhan. Gereja yang bertumbuh berkomitmen untuk tidak terpenjara dalam dendam masa lalu, melainkan membangun jembatan perjumpaan dan pemahaman untuk memuliakan Tuhan yang adalah Bapa bagi semua.

Kiranya Roh Tuhan memberi kita daya menjadi gereja yang hidup, bertumbuh, dan berbuah.

Kupang, 31 Oktober 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *