MS GMIT, UNWIRA dan IAI Teken MoU Pembangunan Rumah Tahan Bencana

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Pengalaman bencana Siklon Seroja yang merusak puluhan ribu rumah di NTT pada awal April 2021, mendorong Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (MS GMIT) menginisiasi kerja sama dengan Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang dan Ikatan Arsitek Indonesia Provinsi NTT (IAI-NTT).

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) yang isinya fokus pada sinergitas ketiga lembaga ini dalam pembangunan rumah pastori dan gedung gereja contoh tahan bencana di GMIT.

Ketua MS GMIT, Pdt. Mery Kolimon melalui suara gembala pada acara penandatanganan MoU ini, Jumat, (5/11), mengatakan kerjasama ini merupakan wujud respon teologis gereja dalam kaitan dengan edukasi dan mitigasi bencana.

Sebagaimana kisah pemberian/pencurahan Roh Kudus kepada murid-murid yang dihantui ketakutan pasca kematian dan kebangkitan Yesus, Pdt. Mery menerangkankan bahwa Tuhan juga memberi kuasa atau daya Ilahi-Nya kepada Gereja di tengah-tengah ancaman bahaya. Oleh sebab itu pelayanan gereja tidak boleh berhenti pada distribusi bantuan kepada para korban pada masa tanggap darurat saja melainkan perlu melakukan langkah strategis lain yang bersifat jangka panjang sehingga meminimalisir risiko bencana yang berulang.

Upaya strategis ini ditempuh dengan salah satunya membuat program pelatihan tukang yang melibatkan 200 orang tukang bangunan di teritori Sabu, Rote, Alor dan Kabupaten Kupang dengan narasumber berasal dari Fakultas Teknik Unwira dan IAI-NTT. Hasil yang diharapkan adalah selain penguatan kapasitas para tukang itu sendiri tapi juga mereka terlibat dalam pembangunan rumah pastori di klasis Sabu Barat, Sabu Timur, Rote Timur dan Alor Tengah Selatan serta pembangunan gedung gereja di Klasis Rote Barat Daya dan Amarasi Timur.

Menyampaikan sambutan pada acara ini, Rektor Unwira, Pater Dr. Philipus Tule, SVD, mengucapkan terima kasih kepada MS GMIT yang telah menginisiasi kerja sama ini.

“Dengan nota kesepahaman yang kita kukuhkan secara legal ini memperkenalkan kepada publik, gereja dan pemerintah NTT bahkan Indonesia bahwa kita tidak hanya menunggu [bencana terulang] tetapi kita punya niat untuk rekonstruksi dan juga menyiapkan mental masyarakat agar sedari awal siap menghadapi bencana.”

Menurut Pater Philipus, akibat keterbatasan sumber daya pengetahuan dan dana di kampung-kampung maka pembangunan gedung-gedung gereja kerapkali tidak disertai gambar desain. Oleh sebab itu ia mendorong para dosen khususnya di Fakultas Teknik Arsitektur untuk mendukung kerja sama ini termasuk memanfaatkan kearifan-kearifan lokal dalam rancang bangun rumah atau gedung gereja tahan bencana.

Sementara itu Ketua IAI-NTT yang juga dosen di Fakultas Teknik Unwira, Ir. Robertus Rayawulan, MT., dalam sambutannya mengatakan bahwa moment kerjasama ini langka dan mahal, sebab bencana Siklon Seroja yang mengakibatkan banyak kerugian baik materil maupun korban jiwa ini justru mempertemukan ketiga lembaga ini untuk bersama-sama memperdayakan umat dalam menghadapi bencana.

Poin utama dalam MoU yang masa berlakunya hingga tahun 2023 ini adalah Unwira khususnya Fakultas Teknik dan IAI-NTT akan melatih para tukang, mengawal dan memastikan standar konstruksi rumah tahan bencana yang dibangun sedangkan GMIT mendukung dengan dana dan sumber daya lokal lainnya.

Keunikan bangunan yang didesain oleh para arsitek ini selain tahan bencana dan mengadaptasi nilai-nilai lokal tapi juga dilengkapi dengan panel surya pada atap dan turbin angin pada menara gedung gereja sebagai sumber energi alternatif serta lubang peresapan air.

Biaya pembangunan gedung gereja masing-masing senilai 500 Juta Rupiah dan rumah pastori sebesar 250 Juta Rupiah.

Untuk pembangunan rumah dan gedung gereja contoh tahan bencana tersebut, besok Minggu, (7/11), akan dimulai peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja Jemaat Kanaan Oesena, Klasis Amarasi Timur-Kabupaten Kupang dan juga peletakan batu pertama pembangunan rumah pastori di Jemaat Persaudaraan Wagga Ae-Klasis Sabu Barat dan rumah pastori Jemaat Ephata Nada-Klasis Sabu Timur. Sedangkan di Rote Timur dan Rote Barat Daya menyusul pekan depan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *