Korban Meninggal Dunia Akibat Petir Tinggalkan Anak 2 Tahun

Rumah Delfiana Babys, korban meninggal dunia akibat petir, (6/1).

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Akibat sambaran petir, Kamis, 6 Januari 2022, Delfiana Babys, (24 tahun), meninggal dunia. Korban merupakan anggota jemaat GMIT Tilun Kaka, wilayah Toifau, Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS.

Menurut keterangan saudara kandung korban, Marselina Noni-Babys, peristiwa naas itu terjadi sekitar pukul 12.00 siang saat korban keluar hendak menadah air hujan di tirisan rumah kuburan tepat di samping rumah. Saat itulah korban disambar petir dan meninggal dunia.

Marselina mengaku tidak berada di tempat kejadian. Ia baru datang sekitar jam 2 siang. Saat tiba, Juniarto (7 tahun), anak Marselina yang tinggal bersama korban, sedang menggendong anak korban yang baru berusia 2 tahun tampak takut dan memanggilnya.

“Mama, tadi ti’i tadah air hujan di kuburan dan dia kejang-kejang. Sepertinya ti’i sudah meninggal,” ujar Marselina menirukan kesaksian anaknya, Minggu, (9/1).

Mendengar cerita itu, Marselina menuju kuburan dan melihat korban sudah meninggal dunia dalam posisi terlentang.

Marselina menuturkan handphone dan alat charger milik korban yang terhubung listrik juga hangus. Selain itu, 4 bola lampu (bolham) rusak, 1 di antaranya pecah.

Korban telah dikuburkan kemarin, Sabtu, (8/1), pukul 10.00 pagi. Mendiang merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara. Ia meninggalkan seorang anak perempuan berusia dua tahun.

Jonathan Tana, Sekretaris Majelis Jemaat GMIT Tilun Kaka, juga menjelaskan, selain korban meninggal dunia, terdapat 3 warga lain (bukan warga GMIT) tersengat listrik di dalam rumah karena sedang mengoperasikan peralatan elektronik.

Juga dilaporkan terjadi kerusakan meteran listrik pada 10 rumah warga. Diduga kerusakan merambat serentak di 10 rumah tersebut akibat mereka menggunakan jaringan listrik dari salah satu rumah.

Untuk diketahui, sepanjang perayaan natal 2021 hingga tahun baru 2022, beberapa wilayah di NTT terdampak La Nina yang ditandai dengan tingginya intensitas hujan sehingga mengakibatkan banjir bandang yang merendam sejumlah kampung di Kabupaten Alor dan juga petir yang menelan korban di Sulamu-Kabupaten Kupang, dan TTS. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *