In Memoriam Pdt. Emr. David Serang: Bela Rasa Dalam Beras Jempitan

KUPANG,www.sinodegmit.or.id, Minggu, 9 Januari 2022, hamba Tuhan ini berpulang ke rumah Bapa di Sorga dalam usia 77 tahun. Kisah hidup dan pelayanannya kerapkali menemui jalan buntu bahkan gagal.

Ketika tamat SMA tahun 1965, ia bercita-cita menjadi insinyur. Dan, impian itu hendak diraihnya di Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu universitas ternama di republik ini. Ia mengikuti tes di Kupang dan lulus. Namun, sayang sekali, saat disodorkan daftar biaya kuliah, jumlahnya terlampau besar. Orang tuanya tak mampu. Dan, mimpi menjadi insinyur pun kandas.

Di lain waktu, ia ingin menjadi pendeta tentara. Tapi harapan itu juga tak kesampaian gara-gara tidak mendapat katebelece dari pimpinan gereja. Padahal, sebelumnya sudah ada perjanjian dengan pihak militer yang memberinya beasiswa selama ia kuliah di Sekolah Teologi Makasar (Sekarang STT Intim).

Meski gagal meraih impiannya, namun Tuhan tidak gagal menuntun hidup dan pelayanannya. Itulah sosok Pendeta Emeritus David Serang, sang inisiator program diakonia beras jempitan yang ia gagas sejak 30 tahun lalu.

Beras Jempitan adalah program diakonia yang diperuntukkan bagi anak-anak yatim piatu, janda, duda, difabel dan orang-orang miskin. Ia memulai program ini ketika melayani di Jemaat Koinonia Kuanino-Kupang, tahun 1990.

Menurut sumber yang tersedia di Googgle, beras jempitan merupakan tradisi turun temurun masyarakat Kulon Progo, Jogjakarta. Kata jempitan berasal dari Bahasa Jawa atau dalam Bahasa Indonesia disebut jumputan. Praktiknya adalah setiap rumah tangga secara sukarela menyumbang segenggam beras yang dikumpulkan oleh petugas ronda dan dibagikan bergilir kepada warga yang membutuhan.

November 2019, atas permintaan Pdt. Bendelina Doeka-Souk, Ketua Majelis Jemaat Betesda Tarus, saya bertemu Pendeta David untuk berbagi cerita mengenai pelayanan diakonia beras jempitan tersebut.

Seusai wawancara itu, saya menyimpan file transkripnya dan berharap menulis kisahnya pada suatu waktu. Namun, belum sempat memenuhi harapan itu, Tuhan memanggil pulang hamba Tuhan ini. Saya sungguh merasa berhutang pada mendiang dan anaknya Oscar Serang yang menemani kami dalam percakapan itu.

Sebab itu, dalam obituari ini saya hendak meneruskan kisah hidup dan pelayanan mendiang sebagaimana yang ia ceritakan kepada saya.

Pdt. Emr. David Serang

Gagal Masuk ITB

David lahir dari orang tua yang beda suku dan agama. Ayahnya Simon Serang, berasal dari Besikama-Kabupaten Belu. Sedangkan ibunya Sarlin Ndun dari Rote. Ayahnya masih belia ketika merantau ke Kupang. Ia penganut agama suku tapi kemudian beralih Protestan ketika menikah dengan ibunya.

David adalah anak ke-7 dari 8 bersaudara. Enam saudaranya perempuan. Ia lahir di Tarus pada 12 Januari 1944. Mantan Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Thobias Messakh, adalah adik kelasnya di SD GMIT Manumuti. Ia menyelesaikan pendidikan menengah di SMP Frater dan SMA Giovani-Kupang. Ia termasuk murid cerdas.  Lulus SMA, ia mengikuti tes masuk Institut Teknolog Bandung (ITB). Dan, lolos.

Sayang sekali, kabar baik kelulusan di universitas bergengsi itu terpaksa ia kubur dalam-dalam karena orang tuanya tak punya biaya. Hasil berkebun untuk makan sehari-hari saja hampir-hampir tidak cukup untuk makan 10 perut, apalagi ongkos kuliah di Pulau Jawa. Ia pun menjadi petani, mengolah kebun, membantu kedua orang tuanya. Itu kejadian tahun 1965, masa di mana terjadi gejolak ekonomi, sosial dan politik di hampir seluruh wilayah Indonesia akibat G30S/PKI.

“Gagal masuk ke ITB, saya bantu bapak kerja kebun. Satu waktu sementara cangkul tanah, datanglah Pak Markus Udju Edo, Penatua Jemaat Ebenhaeser Tarus Barat dan Pak Y.R. Tube, mantan guru SD saya di Manumuti. Mereka bilang Pak Pendeta Itja Frans yang suruh mereka datang panggil saya untuk ikut tes masuk sekolah teologi di Makasar.”

Menurut kedua utusan itu, permintaan Pak Itja ini untuk mengisi jatah mahasiswa dari Kupang yang lowong karena Welem de Haan (saudara dari Pdt. Asar de Haan) yang lulus tes di Sekolah Theologi Makasar memilih ke Sekolah Tinggi Theologia (STT) Jakarta.

“Saya ikut tes di Kupang, dan lulus. Bapak dan Mama bilang, “Da’i pi sekolah sudah karna pasti Pak Itja kirim Da’i ke sana untuk hal yang baik,” ujarnya mengenang kata-kata ayahnya di tahun 1968 itu.

Dari Kupang, David menumpang pesawat dan turun di Surabaya. Perjalanan selanjutnya menggunakan kapal laut. Kebetulan di Surabaya ia bertemu sejumlah anak Sabu dan Timor yang bekerja di Pelni yang membantunya mencarikan tiket.

“Di Kantor Pelni saya bertemu Bapak Logo. Dia orang Sabu yang sudah lama tinggal di Surabaya. Dia bawa saya ke pelabuhan dan titip saya di satu orang tentara. Dia bilang, “Ini anak mau pi sekolah pendeta di Makasar jadi bantu dia naik kapal.” Waktu itu baru selesai Gestapu jadi pemeriksaan sangat ketat. Jadi saya lolos naik kapal tanpa melewati pemeriksaan tentara. Tiba di Makasar, tentara ini, titip saya lagi di teman tentaranya dengan pesan, “Tolong antar adik saya ke Sekolah Pendeta di Jalan Cendrawasih.”

Mendapat Beasiswa Tentara

David mengaku senang mengikuti proses perkuliahan. Dosen-dosennya adalah misionaris dari Belanda, Australia dan Jerman. Namun, baru beberapa bulan mengikuti kuliah, ia terkendala biaya studi dan terancam dipulangkan ke Kupang. Beruntung, saat itu ada informasi beasiswa untuk pendeta tentara. Rektor mengusulkan namanya untuk melamar beasiswa tersebut supaya tidak drop out. Puji Tuhan, ia diterima beserta sejumlah kawan lainnya. Syaratnya, setelah tamat dan ditahbiskan menjadi pendeta, mereka harus kembali bekerja di lingkungan militer.

Tahun 1969, David mendapat teman baru dari Timor, namanya Tom Therik, (Pdt. Tom Therik, Ph.D, red.).

“Waktu masuk kuliah, saya satu-satunya anak Timor di sana. Tahun berikutnya baru Tom Therik datang. Dia adik tingkat. Dia pintar. Itu buat saya senang.”

Setelah tamat tahun 1971, rektor memintanya pulang ke Kupang untuk proses menjadi pendeta sekaligus mengurus rekomendasi menjadi pendeta tentara.

“Sampai di Kupang, saya vikaris di Jemaat Paulus Naikoten satu. Hanya 3 bulan lalu ditahbiskan menjadi pendeta. Setelah itu, sesuai perjanjian dengan pihak pemberi beasiswa, saya minta rekomendasi dari Ketua Sinode GMIT, Pak Adang, untuk jadi pendeta tentara. Tetapi beliau tolak. Dia tidak mau kasi rekomendasi. Dia bilang, saya mau kamu ke Belu, bukan ke militer. Jadi kami dua sempat bertengkar. Saya bilang sama Pak Adang, saya siap ditempatkan di mana saja, tetapi tolong bicara dengan pihak militer karena merekalah yang membiayai saya sekolah di Makasar.”

Dari Atambua ke Kuanino

Pdt. David, mengaku tidak mengetahui proses negosiasi sinode dan pemberi beasiswa mengenai kelanjutan statusnya ketika itu. Ia tunduk pada keputusan Sinode GMIT yang mengutusnya melayani di Jemaat Atambua tahun 1974 hingga 1980.

Karena dedikasinya, ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Klasis atau Ketua Badan Pekerja Klasis Belu pada periode 1980-1983 dan 1987-1990.

Dari Atambua, ia dimutasikan ke Jemaat Koinonia Kuanino-Kupang tahun 1990. Di jemaat inilah ia menggagas diakonia beras jempitan.  

“Tahun 90 saya ditempatkan di Jemaat Koinonia. Kami pendeta 3 orang. Ibu Nance Nitti-Loe, Pak Corpinus Oematan dan saya. Ada 10 komisi waktu itu dan saya dapat tugas mengkoordinir komisi wanita, litbang dan diakonia. Ini jemaat besar, dan masalah-masalahnya juga besar dan kompleks, jadi saya mulai pikir bagaimana cara mengelola pelayanan diakonia bagi para janda, duda, yatim piatu,” ujar suami dari Johana Serang-Bessie ini.

Mula-mula ia mengajak anak-anak katekisasi untuk melakukan sensus jemaat. Tujuannya agar gereja memiliki data base. Setelah program ini selesai ia mengorganisir kaum wanita dan para diaken untuk membuat program beras jempitan. Supaya pengumpulannya cepat dan mudah dibuat kelompok sel grup terdiri dari satu orang bertanggungjawab untuk mengambil beras jempitan setiap bulan di rumah 5 kepala keluarga. 

“Dalam khotbah dan kunjungan Rumah Tangga, saya bilang, di setiap doa-doa makan kita, kita menyebut para janda, duda, yatim-piatu, orang miskin dan difabel. Tapi kita buat apa untuk mereka? Kita justru bikin disposisi suruh Tuhan yang kasi makan. Padahal, Tuhan titip bagian mereka melalui kita. Jadi, mari kita sisihkan satu genggam beras setiap kali kita masak untuk saudara-saudara kita yang butuh. Dengan berbuat begitu, kita melakukan apa yang kita doakan. Dan, luar biasa, banyak jemaat senang melakukan itu. Beras yang terkumpul bisa mencapai satu ton tiap bulan. Jadi ada kawan majelis yang bilang, Pak Serang bikin Dolog di Koinonia.”

Berhasil dengan program beras jempitan, ayah dari Margaretha, Yanti, Yudith, Oscar, dan Dian ini juga menggagas diakonia uang kecil dari sisa uang belanja. Caranya, tiap kepala keluarga menyiapkan satu kotak khusus untuk menaruh uang-uang kecil itu di dalamnya. Setiap bulan petugas beras jempitan akan mengambilnya. Uang-uang ini khusus untuk membantu biaya sekolah dari anak-anak yang membutuhkan.

“Saya belajar dari pengalaman mengelola diakonia beras jempitan dan diakonia uang kecil bahwa Tuhan selalu membuka jalan dalam setiap pelayanan tulus yang kita lakukan asal kita berusaha menemukan cara yang tepat dan orang melihat hasilnya.”

Dengan cara ini lanjutnya, orang saling memperhatikan, saling menopang, dan nama Tuhan dipermuliakan.

Warisan program diakonia uang kecil dalam celengan untuk pendidikan yang digagas mendiang Pdt. Emr. David Seran di Jemaat Bethesda Tarus

Ketika ia dimutasikan dari Jemaat Koinonia Kuanino ke Jemaat Betesda Tarus Tengah, program ini dilanjutkan sampai ia pensiun pada tahun 2003, dan oleh Majelis Jemaat diteruskan sampai hari ini.

Hari Minggu, 9 Januari 2022, hamba Tuhan ini berpulang dalam usia 77 tahun. Kebaktian penguburan dilaksanakan pada Selasa, 11 Januari 2022. Jalan hidupnya berliku. Tapi Tuhan menuntunnya menemukan tujuan hidup. Bukan kehendaknya, tapi kehendak Tuhanlah yang ia cari. Sebab itu, kendati gagal masuk ITB dan gagal jadi pendeta tentara, tapi ia tidak gagal melayani umat Tuhan.

Ia menaruh orang-orang kecil di dalam doa dan di hatinya. Ia mengupayakan cara-cara sederhana untuk membantu mereka. Ia setia mengerjakan perkara-perkara kecil bagi Tuhan, bagi sesama, bagi GMIT dan bagi keluarganya. Itulah teladan iman yang ia wariskan. Terpujilah Tuhan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *