Orang miskin dan Empati Gereja (Efesus 2:1-10) – Pdt. Melkisedek Sniut *

foto: Kominfo GMIT/wanto

www.sinodegmit.or.id, Jumat, 18 Pebruari 2022, adik perempuan saya yang bekerja di kantor BPS (Badan Pusat Statistik) kabupaten TTS, bersama dua temannya, mengunjungi kami di pastori Klasis Flores di Ende. Ia memberi kado sebuah buku kecil berjudul, “Menjejak Harapan: Kumpulan Keresahan Menjadi Dasar Harapan”. Kata adik saya, buku itu ditulis oleh salah seorang seniornya di kantor BPS. Namanya Charisal Matsen A. Manu.

Karena ditulis oleh pegawai BPS, saya menyangka isinya berkisar aktivitas seorang pegawai BPS atau hasil kerjanya. Rupanya tidak. Buku ini berisi refleksi tentang berbagai pengalaman unik yang menyentuh kehidupannya. Sekalipun pengalaman itu berhubungan dengan pekerjaannya, namun dipotret dengan hati nurani yang jernih. Gaya bahasanya indah dan puitis. Penuh empati. Karena itu kesan saya, buku ini ditulis dari hati.

Salah satu bagian yang paling menyentuh saya adalah bab dua. Judulnya: Di Antara Kita (Aku, Paulus Bombang dan Donatus Ado). Sebagian besar renungan saya pagi ini merupakan kutipan tulisan dari bab ini. Saya sengaja mengutip, bukan menarasikannya kembali, agar kita dapat merasakan kekuatan gaya bahasa dan empati yang terkandung di dalamnya. Berikut ini penggalan bab dua yang saya kutip:

“Paulus Bombang, lelaki berkulit gelap dan berbadan besar larut dalam iba tak tertahankan. Bola matanya yang memancarkan kelelahan, tak mampu membendung gelora tangisnya. Matanya berkaca, bening airmata membasahi pipinya yang mulai keriput. Pengalaman selama melakukan pendataan rumah tangga miskin memperlihatkan betapa realitas orang-orang pinggiran yang termarginalisasi oleh hiruk pikuk modernisasi menggores sanubarinya. Aku mencoba menguasai diri agar tidak larut dalam suasana yang mengepung kami. Relung terdalam hatinya yang bergolak coba kupahami. Tanpa histeria, logikaku membisikkan alasan: hati siapa takkan iba; air mata siapa yang tak akan menetes bila sukma telah digores oleh realitas di depan kami.

Seakan tak percaya, kuamati setiap sudut gubuk berukuran dua belas meter persegi yang baru saja kumasuki. Tak kulihat satupun kursi atau meja di sana. Perabot-perabot standar sebuah rumah juga tak terlihat. Lantai yang berdebu karena tanah yang tak disiram ini menjadi tempat bermain anjing piaraan kurus dan seekor induk ayam yang sementara berusaha menemukan sisa-sisa makanan. Papan-papan yang disejajarkan sebagai dinding menyisakan celah untuk mengintip dengan jelas. Daun-daun kelapa yang diatur sebagai atap meninggalkan ruang terbuka yang tidak saja dapat memandang bintang di malam hari, tetapi juga untuk disakiti terik pada siang hari. Gubuk kecil ini hanya memiliki papan yang disandarkan sebagai pengganti pintu untuk menghambat pergerakan masuk keluar rumah manakala dibutuhkan.

Aku terdiam, dibungkam realitas tak terpikirkan ini. Kelelahan fisik karena perjalanan jauh seakan sirna. Beban yang semula menghantui pikiran kami terlepas sudah. Perjalanan yang tidak mudah karena harus ditempuh dengan berliku dan melelahkan tidak lagi mengganggu. Dengan jatah 3 hari perjalanan, aku harus menempuh perjalanan udara selama 1 jam dari Kupang ke Soa. Dari Soa, harus melanjutkan dengan perjalanan darat selama 1 jam ke Bajawa. Selanjutnya dari Bajawa harus kutempuh perjalanan berliku penuh jurang dan tebing ke Borong selama 3 jam. Oh Tuhan, kami pikir sulit, ternyata tidak. Pikirku, kami punya beban yang berat, ternyata tidak. Akhirnya perjalanan yang akan kutempuh besok ke Ruteng selama 3 jam dan besoknya lagi kembali ke Ende selama 8 jam, seterusnya dengan pesawat Ende-Kupang selama 50 menit tidak lagi menjadi beban.

Donatus Ado, kepala rumah tangga yang kami kunjungi ini, menatap masa depannya dengan berat. Beban membiayai seorang istri dengan dua orang anak bukanlah tanggungan mudah. Penghasilan dari menjual pisang hasil kebun tidak juga mencukupi. Menghidupi dua anaknya yang masih balita dengan asupan gizi yang memadai tidak pernah terpikirkan. Lelaki berumur 26 tahun yang pernah merantau tersebut tak dapat menjawab ketika kami bertanya apa yang ia harapkan tentang kehidupan anaknya kelak. Matanya nanar menatap seakan menyangsikan hari depan putra-putrinya. Bahkan ketika kami bertanya tentang harapannya pada pemerintah sehubungan dengan kemungkinan bantuan yang mungkin dapat diterimanya, lelaki yang belum menikah secara agama dan pemerintah tersebut tidak juga berpendapat. Istrinya yang sedari tadi tidak berbicara, akhirnya berani berpendapat ketika didesak. Ia bercerita tentang kehidupan tanpa rasa takut. Keberanian menatap masa depan patut dicontoh. Wanita tamatan sekolah dasar tersebut berharap kelak anaknya menjadi seorang guru. Cita-cita yang sederhana, sesederhana perspektifnya tentang kehidupan; namun menyimpan begitu banyak ambisi tentang sebuah perubahan. Ambisi inilah yang memampukannya berjalan kaki lebih dari 2 kilometer untuk mengambil air bagi keperluan kesehariannya. Berbekal 4 jerigen ukuran 5 liter, setiap hari ia harus rela bersama penduduk kampung menyusuri jalan-jalan berliku demi keperluan minum, mandi, cuci, dan mungkin juga untuk kakus.

Donatus Ado, sebuah nama yang semula tak kukenal, kini tersimpan rapi dalam memori kehidupan tentang orang-orang yang terpinggirkan. Mestinya kamera nurani anak-anak manusia, jeli memotret hingga relung terendah wajah buram anak-anak ibu pertiwi.”

Gambaran penulis tentang Donatus Ado ini seakan menggambarkan keadaan orang tua dan saudara-saudari saya ketika kami masih kecil dulu. Syukurlah, doa dan harapan orang tua kami telah Tuhan jawab di mana kami diberikan ladang pelayanan dan pengabdian sesuai talenta masing-masing. Sekarang tinggal bagaimana kami meneruskan apa yang telah Tuhan berikan sebagai kasih karunia itu kepada sesama. Di sini saya melihat tiga tahapan yang dilewati: kondisi terpuruk (kemiskinan, keterbelakangan, keterpisahan dari Allah dan sesama dan sebagainya), diselamatkan oleh kasih karunia Allah dan tanggung jawab melayani sesama dengan penuh empati sebagai bentuk syukur atas kasih karunia Allah.

Gambaran seperti inilah yang terdapat juga dalam nas hari ini. Paulus mengatakan bahwa semua manusia pada awalnya telah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa. Baik jemaat di Efesus, dirinya sendiri dan rekan-rekannya, bahkan kita semua (ayat 1-3). Kematian di sini tidak hanya berarti keterpisahan dengan Tuhan dan kematian fisik saja, melainkan semua bentuk penderitaan yang mengakibatkan matinya harapan. Misalnya, kemiskinan esktrim, gizi buruk, rendahnya tingkat pendidikan, perdagangan orang, ketidakadilan berdasarkan gender, kurangnya akses untuk mendapatkan pelayanan yang memadai dari gereja dan pemerintah dan sebagainya. Dalam konteks GMIT bentuk kematian itu bisa ditambah dengan bencana, baik Covid-19 maupun Siklon Seroja, yang kita hadapi sejak tahun lalu sampai saat ini.

Hari Sabtu tiga lalu, seorang ibu yang adalah seorang anggota presbiter dan jemaat GMIT Syalom Ende memfoto nasi kuning satu termos penuh beserta lauk mie goreng, sayur, ikan dan sambal lalu mempostingnya di facebookdengan memberi caption: “Coroncis,(maksudnya virus corona), kau membunuh usahaku. Siap bagi-bagi anak kos”. Ibu tersebut punya usaha kantin di kompleks SMKN 2 Ende (STM) yang baru empat bulan memberlakukan kembali pembelajaran tatap muka. Namun karena Kabupaten Ende masuk kategori PPKM Level III mulai hari Kamis, 17 Pebruari 2022 yang lalu, maka Pemkab Ende kembali mengambil kebijakan pemberhentian pembelajaran tatap muka selama tiga minggu sampai tanggal 12 Maret 2022 nanti. Kebijakan ini tidak diketahui, sehingga ibu tersebut terlanjur memasak nasi kuning. Inilah salah satu bentuk kematian yang telah dan sedang dihadapi oleh banyak sekali anggota jemaat GMIT.

Namun dari nas ini kita belajar bahwa semua bentuk kematian ini hanyalah tahap awal untuk mendapatkan kasih karunia Allah melalui kebangkitan kembali. Bangkit dari keterpurukan, bencana dan sebagainya. Inilah yang Paulus sebutkan dalam ayat 4-9. Semuanya karena kasih karunia Allah, bukan hasil pekerjaan kita. Oleh karena itu sebagai orang yang telah mendapat kasih karunia, kita mesti melakukan berbagai pekerjaan baik yang Allah tugaskan kepada kita (ayat 10). Ada banyak Donatus Ado di sekitar kita. Sudahkah kita melihat mereka dengan hati dan empati yang kuat seperti yang dilakukan oleh penulis buku: “Menjejak Harapan: Kumpulan Keresahan Menjadi Dasar Harapan”.

Hari ini agenda persidangan kita adalah laporan-laporan dan informasi pelayanan. Marilah kita melihat setiap laporan yang disampaikan, bukan hanya sebatas angka-angka statistik tentang kegiatan dan keuangan yang sudah atau yang belum dicapai. Hal itu memang penting sebagai bahan evaluasi kita. Tetapi kita mesti lebih dalam melihatnya sebagai gambaran atau potret tentang realitas yang sesungguhnya ada dalam lingkup pelayanan GMIT. Dengan demikian bentuk-bentuk pelayanan yang akan kita tetapkan tidak hanya untuk mengejar target semata-mata, melainkan betul-betul menyentuh kehidupan yang utuh dari tiap anggota jemaat yang dilayani. Seorang pegawai BPS saja bisa melakukan itu? Masakan kita yang adalah pendeta dan presbiter tidak mampu melakukannya? Saya yakin, dengan kuasa Roh Kudus kita akan dimampukan. Amin.

*Refleksi ini disampaikan pada ibadah pagi Persidangan MS GMIT XLIX di Aula GMIT Center, 22 Februari 2022.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *