Kesulitan Akan Berlalu (Yesaya 55:1-13) – Pdt. Nicolas Lumba Kaana

Pada saat rumusan tema ini dibuat (pada November 2021), terbersit pikiran bahwa kita perlu penguatan dan penghiburan iman selama menghadapi kesulitan akibat bencana berlapis. Pandemi Covid-19 telah berulang tahun ke-2. Keadaan makin sulit karena siklon tropis Seroja yang begitu berdampak, terutama bagi kaum kecil dengan sumberdaya yang terbatas. Dua musibah tersebut memperburuk daya tahan kita menghadapi musim hujan yang panjang karena La Nina dan perubahan iklim. Sebelum dua musibah besar ini terjadi, untuk jangka waktu yang panjang kita terus bergumul dengan berbagai macam peristiwa alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, gelombang pasang, angin kencang, kekeringan, banjir, longsor, kebakaran lahan. Terlalu sering kita menghadapi situasi krisis pangan, hama dan penyakit pada tanaman dan ternak, stunting, putus sekolah di kalangan anak dan remaja, pengangguran, buruh migran, perdagangan orang, KDRT, perceraian, proselitisme, dan sebagainya. Kita sedang menghadapi situasi yang tidak mudah.

Sudah terasa sekarang bahwa perang yang sedang berkecamuk di Ukraina makin mempersulit situasi kita. Penderitaan rakyat di daerah perang, kelangkaan dan kemahalan bahan kebutuhan pokok di seluruh dunia, akibat terputusnya suplai energi dan bahan pangan dari negara-negara yang terlibat perang. Keadaan dunia tidak sedang baik-baik saja.

“Kesulitan akan berlalu”. Baiklah tema ini dipahami sebagai harapan, kiranya kesulitan akan berlalu.

Deutero Yesaya

Bacaan kita hari ini dari kitab nabi Yesaya 55:1-13. Sebagaimana lazim dalam percakapan kita mengenai struktur kitab Yesaya, bahwa kitab Yesaya terdiri atas 3 jilid. Jilid pertama, pasal 1-39 adalah bagian yang terbit pada masa sebelum pembuangan umat Israel ke Babel. Jilid kedua, pasal 40-55, adalah bagian yang terbit pada akhir masa pembuangan. Dan bagian ketiga, pasal 56-66, adalah bagian yang terbit setelah umat Yehuda yang terbuang itu sudah kembali hidup di Palestina. Jilid kedua ini dimulai dengan kisah pemanggilan nabi pada pasal 40 dan diakhiri dengan visi pemulihan pada pasal 55. Dari struktur yang sederhana itu dapat dipastikan bahwa perikop kita, Yesaya 55:1-13, adalah bagian penutup dari jilid kedua kitab Yesaya (deuteron Yesaya).

Bagian kedua dari kitab Yesaya tersebut berisi bahan-bahan dari Babel pada periode akhir masa pembuangan. Pada waktu itu umat Yehuda adalah orang-orang buangan yang mebutuhkan penghiburan, berhubung di Babel mereka sedih dan putus asa. Yerusalem dan Yehuda sudah dihancurkan. Maka itu sang nabi berusaha membangkitkan harapan orang-orang buangan bahwa kemahakuasaan Allah akan terbukti melalui pembebasan yang sedang terjadi. Situasi politik pada masa itu ditandai dengan kemunculan Koresh, raja kerajaan Persia, sebagai kekuatan baru yang dapat menandingi kekuatan Babel. Kemunculan Koresh menimbulkan harapan di kalangan orang-orang buangan behwa mereka mungkin dapat dibebaskan dan diizinkan pulang ke Yerusalem.

Konteks Pemberitaan Deutero Yesaya

Dari penelusuran para ahli diperkirakan periode pelayanan sang nabi berlangsung antara peristiwa keruntuhan Yerusalem (586 SM) dan keruntuhan Kerajaan Babel (539 SM). Setelah raja Nebukadnezar digantikan oleh Nabonidus (556-539 SM), kekasiran Babel mengalami kemunduran yang sangat drastis. Nabonidus adalah penganut kepercayaan dewa Bulan. Ia dimusuhi oleh mayoritas imam di kota Babel yang beribadah kepada dewa Marduk (dewa pelindung kota Babilon). Ketegangan terus menerus antara raja dan para imam merupakan awal keruntuhan kerajaan Babel. Ketika kekaisaran babel sedang melemah, muncul kekuatan baru, yaitu kekaisaran Persia dengan rajanya bernama Koresh. Namanya melejit setelah berturut-turut menaklukan kerajaan Media yang bersekutu dengan Asyur, dan menaklukan juga kerajaan Lydia. Tidak sulit bagi Koresh untuk menaklukan Babel setelah ambruk kerjasama militer antara Babel dengan Mesir dan Lydia. Walau Nabonidus mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi Koresh, namun hal itu sia-sia karena pengaruh para imam Marduk menyebabkan banyak kalangan di Babel acuh terhadap upaya Nabonidus. Pada tahun 539 SM, Koresh dengan mudah memasuki ibukota kerajaan Babel, dan runtuhlah kerajaan itu. Kemenangan Koresh tersebut melahirkan harapan di kalangan bangsa jajahan di Babel, sekiranya Koresh akan membebaskan mereka.

Kesaksian Deutero Yesaya memperlihatkan kekuatan lain di balik peristiwa kejatuhan Babel, bahwa Allah adalah pelaku utama dari proses sejarah yang panjang itu. Kita mengenal 2 sosok nabi yang hidup di Babel sebagai orang buangan, yaitu nabi Yehezkiel dan nabi Deutero Yesaya.  Mereka termasuk dalam puluhan ribu umat Yehuda yang terbuang, yang terdiri dari para tokoh dan para pemimpin bangsa Israel, termasuk para intelektual dan pemimpin agama. Yeremia menyebut mereka sebagai “buah ara yang baik” (Yer. 24:5). Pada masa akhir pembuangan, ada kesempatan bagi umat di pembuangan untuk mengusahakan kehidupan sosial yang layak. Mereka boleh membangun rumah, bercocok tanam dan beranak-cucu. Mereka dapat hidup tenang dan dapat menjalankan aktivitas sosial di sana. Dengan demikian tradisi peribadahan kepada Allah dapat dijalankan. Baik Deutero Yesaya maupun Yehezkiel tidak memberi petunjuk tentang peribadahan orang-orang Israel kepada ilah Babilon. Sebaliknya pengalaman di Pembuangan membentuk masa depan Israel, memberi pertunjuk baru bagi iman mereka dan memotivasi pembaruan masyarakat orang Yahudi yang ada di Palestina.

Pengasingan di Babel menuntut pergeseran-pergeseran tertentu dalam peribadahan. Ketika mereka beribadah di pembuangan, di negeri asing, tanpa Bait Allah. Di sana mereka berusaha mempertahankan iman kepada Allah dengan cara berkumpul dan berenung secara sederhana dan informal, tanpa kurban, tekanan utama pada pengajaran secara lisan. Goyahnya status kebangsaan berupa hancurnya Bait Allah dan punahnya dinasti Daud, oleh orang-orang pada waktu itu, dipandang sebagai akhir dari pemeliharaan Allah atas umat Israel. Penjajahan diasosiasikan dengan perseteruan antar-ilah. Dengan cara pandang itu maka pembuangan menunjukkan kemenangan ilah Babilon atas Allah Israel. Demikian menurut pandangan orang-orang pada masa itu. Akibat pemahaman tersebut maka peribadahan menjadi muram. Terjadi kemerosotan semangat beribadah lantaran seakan tidak ada Allah yang mengendalikan mereka. Suasana inilah yang melatar belakangi gaung pemberitaan Deutero Yesaya.

Untuk berbicara kepada orang-orang yang lesu imannya, Deutero Yesaya menggunakan gaya bicara yang khas. Ia berusaha menimbulkan kesan guna meyakinkan pendengarnya. Ia selalu mengingatkan pendengarnya tentang kebesaran bangsanya di masa silam dan harapan pembangunan kembali bangsanya oleh Allah mereka.

Pemahaman Teks Yesaya 55:1-13

Saya membagi perikop bacaan kita atas 3 bagian. Penggalan pertama, ayat 1-5. Penggalan kedua, ayat 6-9. Penggalan ketiga, ayat 10-13. Penggalan pertama: ayat 1-5, berisi seruan yang menyerupai seruan seorang penjual di pasar, sang nabi mengajak umat di pembuangan agar mendapatkan pemulihan yang dikerjakan Allah. Mereka tidak perlu berbelanja untuk dapat makanan dan minuman yang baik dan lezat. Tentu itu tidak berarti mereka tidak perlu bekerja, melainkan mereka melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah dan menikmati berkat dari Allah. Mereka tidak mengerjakan hal yang jahat dan sia-sia sehingga tidak makan dan minum dari hasil kecurangan dan kejahatan. Seperti Tuhan mengaruniakan manna dan air segar di padang gurun, demikianlah umat di pembuangan akan dikenyangkan dan dipuaskan oleh anugerah Allah. Hal itu terjadi sebagai tanda terwujudnya janji Allah di masa lalu.

Janji Allah dengan para leluhur Israel bersifat perjanjian kekal maka perwujudan janji itu tidak dapat dibatalkan oleh siapa pun atau dalam situasi apa pun. Pembuangan tidak melemahkan, apalagi membatalkan perjanjian itu. Kasih setia yang teguh dari Allah akan terbukti ketika orang-orang buangan itu kembali memperoleh situasi hidup semasa pemerintahan Daud, di mana mereka dapat memanggil bangsa mana pun untuk mendekat demi perwujudan rencana Allah bagi bangsa-bangsa.  Kasih setia dan anugerah kehidupan dari Allah tidak terbatas untuk kebaikan umat Israel saja, melainkan tersalurkan melalui kehidupan persekutuan umat Israel kepada seluruh bangsa.

Penggalan kedua: ayat 6-9, berisi seruan nabi agar umat sungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Tuhan. Kenyataan hidup di pembuangan tidak boleh dijadikan alasan untuk orang hidup jauh dari Allah, mengabaikan kehendak berbuat baik, bersikap sesuka hati dan menimbulkan kekacauan. Sebaliknya, kesulitan di negeri pembuangan membuktikan kasih setia Allah yang mengatasi pemberontakan mereka. Tidak sedikit situasi hidup di pembuangan yang benar-benar sulit. Sekali pun tertindas dan terbuang, namun karena kasih Tuhan mereka tidak binasa. Tuhan menyediakan kemungkinan dan kesempatan untuk hidup, walau dalam kesulitan. Sang nabi menyerukan agar umat memanfaatkan momentum dan peluang yang tersedia untuk visi hidup yang sesungguhnya. Carilah Tuhan, berserulah kapadaNya, untuk mendapatkan sebesar-besarnya capaian hidup yang Tuhan kehendaki. Kendala untuk pemulihan adalah kefasikan dan kejahatan. Relasi yang baik dengan Tuhan membuka kemungkinan untuk berpulih dari keterpurukan akibat kesulitan.  Orang fasik meninggalkan kefasikan dan orang jahat dijauhkan dari kejahatan ketika mereka memberi diri dituntun oleh Tuhan dan hidup menurut kehendak Tuhan. 

Penggalan ketiga, ayat 10-13, memuat rencana Allah tentang situasi hidup yang sangat baik di masa depan. Kehendak dan rencana Allah tidak hanya berupa ketenangan dan kedamaian dalam relasi antar manusia dan antar bangsa, melainkan mencakup relasi antar seluruh elemen kehidupan. Keteraturan iklim dan musim memungkinkan kesuburan dan kelimpahan di bumi. Firman Tuhan membuka pengetahuan, menjernihkan nurani dan melatih keterampilan hidup. Seperti Allah menciptakan segala sesuatu dengan firmanNya maka Firman yang didengarkan dan diindahkan akan berdampak bagi perbaikan hidup pada semua aspek. Dengan demikian, peristiwa pembebasan umat Israel dari pembuangan di Bebal tidak hanya menjadi moment politik berupa perubahan status dari orang buangan menjadi orang merdeka. Tidak hanya menjadi momen sosial dan ritual, bahwa Tuhan membebaskan meraka. Pembebasan yang sesungguhnya terjadi ketika persekutuan umat bertransformasi menjadi persekutuan yang berdampak bagi kehidupan semesta yang lestari. Kehidupan umat pasca pembuangan ditandai dengan perubahan perilaku hidup yang aktif beribadah dan tekun berbuat baik demi memperbaiki kerusakan alam dan merawat kehidupan semesta. Padang gurun menjadi taman. Semak duri dan kecubung (tanaman yang daunnya menyebabkan rasa pegal dan gatal, tumbuhan di tanah yang kurang subur) diganti dengan pohon sanobar yang tinggi merindang dan pohon murad yang wangi.

Masa raya kesengsaraan Tuhan Yesus menjadi kesempatan bagi kita untuk mendengarkan dan merenungkan tentang kesengsaraan Kristus. Perikop bacaan kita ini dipilih menjadi bahan renungan pada minggu keempat dalam masaraya sengsara Tuhan Yesus di tahun ini. Melalui kesempatan ini kita berefleksi tentang harapan bahwa kesulitan akan berlalu. Mengapa ada harapan itu? Karena Allah turut menanggung penderitaan akibat kesulitan oleh karena dosa dan kejahatan. Bagi korban bencana, kesulitan akan berlalu karena Allah bekerja di antara korban bencana yang sedang berusaha bangkit dari dampak bencana. Kesulitan akan berlalu setelah kita disadarkan bahwa umat perlu ditransformasikan melalui pemberitaan Firman agar lebih baik di masa depan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *