Peringati Satu Tahun Siklon Seroja, MS GMIT Imbau Jemaat-Jemaat Syukuri Penyertaan Tuhan

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Bertepatan dengan peringatan satu tahun peristiwa bencana Siklon Seroja, Majelis Sinode GMIT meminta jemaat-jemaat GMIT agar menaikan doa syukur kepada Tuhan yang telah menyertai umat melewati masa-masa yang sulit pasca bencana.

Seruan untuk doa syukur itu tertuang dalam surat tertanggal 1 April 2022, yang meminta semua jemaat GMIT menaikan doa pada kebaktian Minggu, 3 April 2022.

Berikut kutipan surat dimaksud:  

TerpujilahAllah Tritunggal yang telah memelihara kita sampai saat ini. Dalam minggu ini, khususnya pada tanggal 4-5 April nanti kita akan mengenang satu tahun terjadinya Badai Seroja di beberapa wilayah pelayanan GMIT. Memperingati satu tahun Seroja, kami meminta perhatian jemaat-jemaat GMIT kepada hal-hal berikut ini:

  1. Dalam doa syafaat pada kebaktian Minggu 3 April 2022, menandai satu tahun paska Seroja, kami meminta pemimpin kebaktian mendoakan hal-hal berikut: a. Semua jemaat menyukuri pimpinan Tuhan bagi kita semua untuk berpulih dari dampak badai Seroja. Terpujilah Allah Tritunggal yang menyelamatkan kita saat peristiwa dasyat itu terjadi. Selama setahun ini, meskipun banyak kesusahan terjadi, Tuhan memulihkan kita. b. Mendoakan keluarga-keluarga yang kehilangan anggota keluarga dan harta benda saat badai besar itu terjadi. Tuhan terus menghibur dan menguatkan mereka. c. Berdoa memohon pimpinan Tuhan untuk upaya-upaya rehabilitasi dan rekonstruksi secara menyeluruh, termasuk upaya yang sedang dibuat pemerintah untuk membangun kembali pemukiman-pemukiman yang hancur karena badai. Juga berdoa untuk upaya-upaya rehabilitasi dan rekonstruksi di kalangan GMIT. d. Memohon hikmat Tuhan bagi upaya-upaya GMIT dan berbagai pihak untuk belajar menjadi keluarga, gereja, dan masyarakat yang tangguh bencana. e. Memohon belas kasihan Tuhan untuk menjauhkan kita dari ancaman bencana serupa, maupun bencana-bencana yang lain.
  2. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua jemaat GMIT yang telah bahu membahu, saling membantu saat bencana terjadi. Ketika bencana terjadi, secara spontan terbentuk berbagai pos bantuan di jemaat-jemaat, klasis-klasis, dan majelis sinode. Tuhan kiranya memberkati kebaikan hati kita semua yang telah bekerja membantu saudara-saudara kita yang terdampak.
  3. Kita juga berterima kasih kepada mitra-mitra ekumenes GMIT, di tingkat lokal, nasional, maupun internasional yang telah mendukung GMIT ketika bencana terjadi. Allah Tritunggal juga kiranya terus memberkati kebaikan mereka.
  4. Kita belajar untuk meningkatkan kemampuan mengurasi resiko bencana, mengingat apa yang disampaikan BMKG bahwa ancaman siklon/badai masih dapat terjadi di masa depan sebagai akibat dari perubahan iklim yang terjadi karena rusaknya keseimbangan alam oleh ulah manusia. Untuk itu UPP Tanggap Bencana di berbagai lingkup: jemaat, klasis, dan sinode perlu terus berupaya agar kita semua sadar mengenai risiko bencana, berupaya mengurangi risiko itu, dan meningkatkan kapasitas kita dalam menghadapi bencana.
  5. Kita perlu mengembangkan pola hidup ramah alam untuk tidak menyebabkan rusaknya lahan yang mengakibatkan gampang terjadi longsor dan banjir pada musim hujan. Kita mendidik diri, persekutuan, dan masyarakat kita untuk tidak melakukan pembakaran lahan, perusakan hutan, pencemaran sungai dan laut, serta bentuk-bentuk perusakan alam lainnya. Kalau kita hidup ramah dengan alam, alam akan ramah dengan kita. Kalau kita tidak ramah alam, kita akan juga menerima akibat bahwa alam tidak ramah kepada kita. Tuhan kiranya memberi kita hikmat untuk menjaga alam sebagai ciptaan Allah yang berharga dan perlu dijaga karena hidup kita tergantung dari rahmat Allah yang ada di dalam alam.

Pasca bencana siklon seroja Tim Tanggap Bencana Siklon Seroja Majelis Sinode GMIT (TTBSS-MS GMIT) mencatat, 27 warga GMIT meninggal dunia, 3 orang hilang, 45 orang luka-luka, 21.479 rumah huni warga rusak, 311 gedung gereja rusak, 94 rumah pastori rusak dan 29 gedung sekolah GMIT rusak.

Belajar dari dampak bencana tersebut, TTBSS-MS GMIT saat ini sedang melaksanakan program rekonstruksi dengan membangun dua gedung gereja dan empat rumah pastori contoh tahan bencana dan ramah alam.

Kedua gedung gereja tersebut adalah gedung gereja Jemaat Ichtus Danoheo di Klasis Rote Barat Daya dan Jemaat Kanaan Oesena di Klasis Amarasi Timur. Sedangkan keempat rumah pastori dimaksud masing-masing di Jemaat Persaudaraan Wagga Ae di Klasis Sabu Barat, Jemaat Ephata Nada di Klasis Sabu Timur, Jemaat Ekklesia Mokdale di Klasis Rote Timur dan Pos Pelayanan Jemaat Imanuel Kanaikai di Klasis Alor Tengah Selatan.

Akhir tahun 2022 ini pembangunan gedung gereja dan rumah-rumah pastori tersebut akan selesai. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *