Merawat Persekutuan di Tapal Batas Republik

KUPANG,www.sinodegmit.or.id, Jika ingin melihat wajah Republik Indonesia di perbatasan, kunjungilah Taloi. Ini sebuah kampung yang indah di Amfoang Utara, Kabupaten Kupang-NTT, yang berbatasan langsung dengan negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).

Perjalanan ke sini cukup menantang. Namun jangan khawatir karena di sepanjang perjalanan terbentang panorama alam yang menakjubkan. Kita bisa menikmati barisan perbukitan hijau, ternak yang merumput di padang savanna, hutan eucalyptus berusia ratusan tahun, hamparan sawah di lembah dan aktifitas para petani desa yang mengajari kita tentang arti kesederhanaan dan ucapan syukur.

Kampung Taloi dan Amfoang pada umumnya terkenal sebagai penghasil madu terbaik di Indonesia. Itu lantaran pohon ampupudi kawasan hutan Amfoang masih awet dan menjadi rumah yang ramah bagi jutaan lebah madu. Silahkan datang dan buktikan sendiri manisnya madu Amfoang Timor pada bulan Mei atau Juni.

Dua pekan lalu kami mengunjungi Amfoang Utara dalam rangka Persidangan Majelis Klasis. Wilayah ini merupakan salah satu dari 54 klasis di GMIT.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon (selanjutnya Ibu Mery) menghadiri persidangan tersebut. Senin, (13/4), pukul 08.00 pagi, kami bertiga berangkat dari Kupang. Mengingat jauhnya perjalanan, Ibu Mery mengingatkan saya dan Om Natan Mana’o (driver) membawa bekal.

Kami memilih akses jalan melewati So’e. Ini jalur yang terasa lebih kecil ‘penderitaan’nya ketimbang Lelogama-Naikliu yang melintasi sungai/kali berkali-kali. Jumlahnya bukan main banyaknya. Ada 86 sungai besar maupun kecil. Tahun 2017, kami pernah berangkat melalui jalur ini dengan waktu tempuh 10 jam yang sangat melelahkan.

Jadi, untuk menghemat waktu dan tenaga, kami pilih jalur memutar. Dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan kembali lagi ke Kabupaten Kupang, menuju Taloi-Oepoli, tempat persidangan akan berlangsung. Itu pun tidak mudah. Infrastruktur jalan yang rusak setelah Kapan bikin perut mulas. Kalau seandainya Presiden Jokowi masih punya kesempatan mengunjungi wilayah perbatasan di Timor Barat, saya berharap kunjungan beliau melintasi jalur via dolorosa ini. Siapa tahu ruas jalan berbatu-batu berpuluh-puluh kilometer itu bisa segera diperbaiki. Insyallah.

Tiba di kampung Bijeli, saya merasakan pusing dan sakit kepala akibat terguncang-guncang di sepanjang jalan yang tidak berpri kemanusiaan itu. Beruntung, Ibu Mery bernostalgia tentang kampung ini. Inilah tempat pertama beliau melayani sejak ditahbiskan menjadi pendeta tahun 1997. Jadi, selama 25 tahun kondisi jalan ini masih sama, bahkan lebih buruk.  

Cerita pun berlanjut ke urusan cinta. Katanya, sekali waktu di hari Minggu, Bapak Yus Maro — waktu itu masih pacaran dengan Ibu Mery — meminjam sepeda motor entah milik siapa, untuk mengunjunginya. Ia tiba di Bijeli sekitar jam 9.00 pagi. Sejenak terlintas pertanyaan di kepala saya. Kalau tiba jam 9.00 pagi, padahal jarak Kupang-Bijeli sekitar 170 kilometer, kira-kira Bapak Yus berangkat dari Kupang jam berapa ya? Kami bertiga pun tertawa membayangkan betapa tipisnya arti rindu dan nekat saat jatuh cinta. Tapi begitulah takdir kaum laki-laki pada segala abad. Buktinya di zaman Perjanjian Lama, Yakub dengan enteng rela bekerja 2 kali 7 tahun demi cintanya kepada Rahel.

Kendati Bijeli seakan-akan terlupakan dalam perencanaan pembangunan tapi jangan lupa, Pdt. Dr. Benyamin Fobia, Ketua MS GMIT periode 1991-1999 yang juga terpilih menjadi rektor pertama Universitas Kristen Artha Wacana-Kupang berasal dari Bijeli tepatnya di Usapimnasi.  Teolog Perjanjian Baru dari Timor ini dua kali meraih predikat cum laude dari almamaternya STT Jakarta. Ini bukti bahwa anak-anak dari kampung terpencil tidak kalah cerdas dari mereka yang tinggal di kota. Asal ada ruang dan uang secukupnya untuk mereka mengakses pendidikan terbaik, bukan mustahil mereka bisa tampil bersinar menjadi pemimpin yang hebat.    

Sekitar pukul 13.00, kami memasuki kampung Eban yang merupakan pintu masuk Kabupaten TTU. Rupanya beda kabupaten, beda pula pola pembangunannya. Ruas jalan aspal di sini kondisinya relatif lebih baik kendati cuma beberapa kilometer. Sisa apa yang berikut dari ruas jalan perbatasan ini setali tiga uang dengan Bijeli. Saya kembali menggerutu dan mengecam dalam hati kebijakan pembangunan yang tak berkeadilan ini. Sudah 77 tahun Indonesia merdeka, masa’ tidak pernah tersedia cukup anggaran untuk membangun jalan lintas kabupaten yang lebih manusiawi?

Namun di saat yang bersamaan saya kagum pada Om Natan. Ia sopir paling sabar yang pernah saya temui di kolong langit ini. Kesabarannya kelas dewa. Hampir 40 tahun dia bolak-balik mengantar para pimpinan GMIT dari periode ke periode, melintasi jalan-jalan brengsek semacam ini di seluruh wilayah pelayanan GMIT. Dan, itu semua dilaluinya dengan TTS alias Tenang-Tenang Saja. Nyaris tanpa mengeluh.

Jangankan di jalanan yang rusak berat, di jalan hotmix sekali pun, ia sabar di bandul jarum spidometer 30-70 kilometer per jam. Saya menduga Om Natan memiliki apa yang dalam filisafat disebut “ketenangan stoik”. Stoik atau Stoa adalah aliran filsafat yang menerima segala sesuatu apa adanya. Di dalam Kisah Para Rasul 17:18, Lukas menulis bahwa ketika Paulus tiba di Atena, ia bertemu para penganut Stoa dan memberitakan Injil kepada mereka. Pengikut Stoa seperti cerita Lukas, adalah orang-orang yang senang belajar dan menyukai pengetahuan-pengetahuan baru.    

Kami berhenti sejenak untuk mengendorkan otot kaki yang pegal sambil menghirup udara pegunungan yang sejuk di sisi jalan menuruni perbukitan yang dinamai Bukit Cinta. Kawasan ini berupa padang savana luas yang diselingi pepohon cemara dan barisan perbukitan yang menjulang di kaki langit.

Sesaat kemudian, Pdt. Melki Ulu, Ketua Majelis Klasis Amfoang Utara, menelepon menanyakan keberadaan kami. Rupanya mereka sedang mempersiapkan acara penyambutan sehingga khawatir kalau kami terlambat tiba.

Menuruni Bukit Cinta, bagian dari wilayah Aplal, kami bertemu seorang ibu dan anak perempuannya yang masih kecil. Ibu Mery meminta Om Natan mundur dan mengajak menumpang. Mereka tampak senang. Ibu Mery menawari si kecil sekaleng susu dan biskuit. Matanya berbinar. Sang ibu membawanya mengikuti latihan koor menyongsong perayaan Paskah. Aha, Paskah menggerakan hati orang beriman, baik perempuan, anak-anak maupun laki-laki di desa dan kota untuk pergi memberitakannya dalam ragam bentuk termasuk melalui nada dan lagu.

Di ujung kampung desa Tasinifu, tepat di pinggir jalan, terlihat papan nama gereja “Pos Pekabaran Injil (PI) Pelita Aplal”. Gedungnya kecil. Ruang ibadahnya sekitar 3 X 6 meter. Jemaat GMIT di Pos PI ini beranggotakan hanya enam kepala keluarga. Esok hari waktu balik ke Kupang, kami bertemu Penatua Eduard dan beberapa pemuda serta dua tentara perbatasan sedang sibuk mengecat tiga buah tiang salib di depan Pos PI. Ibu Mery turun dari mobil, memperkenalkan diri dan kami berkumpul di ruangan gereja untuk berdoa bersama. Semua senang lantaran tak menduga dikunjungi Ketua Majelis Sinode GMIT di moment menyambut perayaan Paskah. 

Sekitar pukul 16.00, kami tiba di kampung Netemnanu. Ini adalah perbatasan antara Kabupaten TTU, Kabupaten Kupang dan negara Timor Leste di sisi Utara. Sebuah jembatan menjadi batas kedua kabupaten. Di pojok jembatan telah bersiap teman-teman pendeta, vikaris, Ketua Majelis Klasis, dan puluhan warga jemaat bersiap menyambut kami. Tampak pula beberapa personil tentara dan polisi perbatasan, camat, romo, dan aparat desa. Kekompakan para stakesholder ini menandakan relasi yang akrab di antara gereja dan pemerintah, sipil dan militer dalam membangun persatuan dan persekutuan sebagai sesama anak bangsa di tapal batas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usai disambut tarian dan pengalungan selendang kami beristirahat sejenak menikmati air kelapa muda dan singkong rebus di halaman gedung gereja Pos PI Karmel Jemaat Binoni. Warga yang sebagian besar baru pertama kali bertemu Ketua Majelis Sinode GMIT antusias mendengar sapaan beliau. Bapak Tom Kameo yang dituakan untuk menyampaikan isi hati jemaat menitip pesan agar Majelis Sinode GMIT mendukung SD GMIT Taloi sekaligus meminta Ibu Mery berkenan mampir di sekolah tersebut. Tahun 2017, sekolah ini nyaris tutup akibat kekurangan murid dan guru serta sumber daya lainnya. Puji Tuhan, SD GMIT yang sudah lahir sebelum Indonesia merdeka ini tidak jadi ditutup.

Berburu dengan waktu, kami segera beranjak dengan kawalan tentara dan polisi perbatasan. Beberapa personil adalah warga GMIT. Konvoi kendaraan menuju lokasi persidangan menjadi seru. Apalagi, ruas jalan perbatasan dari Jembatan Netemnanu hingga Oepoli, hotmix. Perjalanan menanjak, menurun dan berkelok-berkelok terasa menyenangkan. Sakit kepala saya pun sembuh dengan sendirinya lantaran mendapat hembusan ruah pegunungan Mutis yang sejuk.

Sekitar 45 menit perjalanan, kami tiba di Mata Jemaat Talitakumi Taloi. Warga tampak sibuk menyiapkan lokasi. Halaman gereja dipasangi umbul-umbul. Kami melintas tanpa mampir karena harus segera tiba di SD GMIT Taloi sebelum hari gelap.

Kepala sekolah Bapak Kiljon Baboi bersama beberapa guru dan pegawai telah menunggu kami di pintu gerbang sekolah. Beliau mengajak Ibu Mery melihat kondisi fisik beberapa ruang kelas. Sejumlah fasilitas belajar mengajar seperti lantai tampak bolong di sana-sini serta meja dan kursi yang kurang layak. Gaji guru-guru honor di sekolah ini pun masih memprihatinkan.

Tahun 2017, saya dan Pdt. Sally Bulan, pernah mengunjungi sekolah ini dalam rangka pembuatan video untuk penggalangan dana membantu sekolah-sekolah GMIT yang nyaris kolaps. Kami bertemu seorang tenaga honor bernama Ermina Parera. Ia bukan warga GMIT, juga bukan Protestan.  Namun, demi masa depan anak-anak Amfoang ia mengabdi di sekolah ini dengan honor hanya 250 ribu rupiah.

Dan, pada kunjungan kali kedua ini, ia masih setia mengabdi. Tahukah berapa honornya selama 10 tahun ini? Hanya bertambah 350 ribu rupiah. Jumlah ini lebih rendah dari belanja snack satu kali rapat di gereja-gereja di Kota Kupang. Ermi hanyalah salah satu dari sekian banyak tenaga honor yang tulus bekerja di sekolah-sekolah GMIT dengan upah yang sangat rendah namun terus berkarya dalam diam.

Padahal, separuh gereja-gereja kita lantang mengumumkan penghasilan bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan yang tersimpan rapi di brankas-brankas, namun enggan dan tidak jujur memberi Persembahan 2% Pendidikan untuk menopang sekolah-sekolah GMIT yang terpuruk sampai hari ini.  

Setelah mendengar tantangan dan harapan dari pihak sekolah, Ibu Mery memimpin doa di halaman sekolah dan kami pamit.

Hari sudah gelap. Tapi kerja belum selesai. Masih dua jemaat menunggu kunjungan kami. Kami melanjutkan perjalanan mengunjungi Jemaat Imanuel Neknusan. Jemaat yang dilayani Pdt. Yohanes Sunbanu ini beribadah di rumah darurat karena gedung gereja sedang dibangun. Usai bercakap sejenak dengan jemaat kami melanjutkan kunjungan di Jemaat Hosana Tataum. Kami dapat ole-ole padi beberapa karung. Karena mobil tak cukup ruang, sejumlah karung padi terpaksa ditunda keberangkatannya. Lantaran itu, Pendeta Melky Ulu berseloroh, “lain kali kalau datang ke Taloi, pakailah mobil Hillux. Jangan pakai Fortuner!”

Pukul 8.00 malam, kunjungan selesai. Jadi total waktu perjalanan kami dari Kupang sampai Taloi-Amfoang Utara ditambah kunjungan ke jemaat-jemaat menjadi 12 jam. Saya capek, tapi melihat sukacita jemaat, hati terasa sukacita. Apalagi, seluruh rombongan yang ikut konvoi kompak sampai selesai. Termasuk Pak Camat Alfred Tameses.

Sesudah makan bersama kami berpisah. Teman-teman pendeta dan vikaris kembali ke penginapan masing-masing di rumah-rumah jemaat. Saya, Om Natan dan Ibu Mery menginap di Pastori Mata Jemaat Talitakumi Taloi. Pdt. Daud Paselang dan istri menyediakan sebuah kamar yang nyaman untuk saya dan Om Natan. Tapi Om Natan lebih memilih tidur di dalam mobil. Saya menyiapkan perangkat liputan untuk besok karena berencana memotret panorama alam dan aktifitas warga desa sebelum matahari terbit.

Selasa, pukul 08.00, peserta persidangan sudah berkumpul. Mereka utusan dari 52 Jemaat dan Mata Jemaat yang tersebar di kecamatan Amfoang Timur, Amfoang Barat Laut dan Amfoang Utara. Wilayah pelayanan Klasis Amfoang Utara meliputi tiga kecamatan itu.

Lantaran wilayah pelayanan sangat luas dan dikepung berpuluh-puluh sungai, waktu yang pas untuk bersidang adalah sebelum atau sesudah musim hujan. Bila hujan sudah turun, sulit mempredikasi hambatan-hambatan di jalan. Pasalnya, pola hujan dan dan dampaknya tidak terduga. Seringkali hujan turun di kecamatan A tapi banjir di kecamatan B. Belum lagi kalau terjebak banjir. Biaya angkut sepeda motor sekali menyeberang tarifnya 100 ribu rupiah. Kalau 10 kali langgar kali, ongkos perjalanan menjadi berlipat kali. Itu sebabnya jadwal sidang maupun kegiatan-kegiatan klasis lainnya tidak bisa dilaksanakan pada musim hujan.

Turut hadir pada acara pembukaan persidangan para undangan antara lain: Komandan Kompi Pasukan Perbatasan RI-RDTL 743, Komandan Pos Angkatan Laut, Koramil Naikliu, Wakil DPRD Kab. Kupang, dan Camat Amfoang Timur.

Pdt. Yuliandri Karbeka yang memimpin kebaktian pembukaan menyampaikan khotbah dari Surat Roma tentang karya Kristus melalui Roh Kudus bagi kehidupan orang percaya/gereja. Karya Roh Allah itu menurutnya, tidak boleh dikelola dan dibatasi hanya di sekitar altar tapi juga di latar kehidupan sosial yang lebih luas.

Implikasi dari karya Roh Kudus itu diuraikan lebih dalam oleh Ketua MS GMIT saat menyampaikan suara gembala dan materi diskusi sub tema pelayanan GMIT 2022, “Dengan Kuasa Roh Kudus, Kita Bangkit dari Dampak Bencana”.

Melalui sub tema itu Ibu Mery mengajak seluruh perangkat pelayanan di GMIT agar tidak hanya menghitung dampak bencana berlapis baik bencana alam maupun kemanusiaan, melainkan juga membangun refleksi teologis bagaimana Roh Kudus memberi daya, kekuatan, inspirasi, imajinasi dan lain sebagainya untuk mengelola segala sumber daya yang tersedia bagi pembangunan Tubuh Kristus. Ia juga mendorong seluruh jemaat dan klasis-klasis di GMIT agar mengambil peran bersama pemerintah dalam menanggulangi isu-isu lokal di NTT seperti pendidikan, ekologi, kemiskinan ekstrim, gizi buruk, stunting, kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan orang, vaksinasi Covid-19, konflik agraria, dan lain-lain.

Penguatan kelembagaan melalui pelaksanaan Haluan Kebijaksanaan Umum Pelayanan (HKUP) juga menjadi salah satu hal yang diingatkan Ibu Mery agar sungguh-sungguh diperhatikan oleh sebab periode pelayanan 2020-2023 tidak lama lagi.

“Salah satu penyakit kita di GMIT adalah merencanakan apa yang tidak dikerjakan dan mengerjakan apa yang tidak direncanakan. Jadi kita mesti bertobat,” pesan Ibu Mery.

Bagi para pendeta juga diingatkan agar mencukupkan diri dengan persembahan jemaat. Jangan sekali-kali tergiur dan terjebak dengan investasi bodong yang marak akhir-akhir ini. Kemajuan internet yang telah merangsek hingga ke pelosok-pelosok desa di NTT perlu disyukuri melalui pengembangan pelayanan digital di semua lingkup pelayanan. Bukan sebaliknya digunakan untuk hal-hal yang kontra produktif dengan panggilan sebagai hamba Tuhan.

Selaku pimpinan gereja, Ibu Mery juga menyampaikan apresiasi kepada TNI/Polri yang turut berkontribusi bagi GMIT di perbatasan.  

“Kami lihat dan mendengar cerita tentang gedung gereja dan rumah pastori yang berwarna hijau. Itu hasil kerja bersama jemaat dan TNI. Terima kasih TNI. TNI manunggal rakyat. Tentara tidak boleh bermusuhan dengan rakyat. Tentara adalah anak kandung rakyat. … Tentara hadir untuk menjaga dan melindungi rakyat termasuk di masa-masa bencana,” ucap Ibu Mery disambut uplaus dari para pimpinan TNI/Polri serta peserta persidangan.

Diskusi sub tema baru berakhir pukul 13.00. Kami beristirahat untuk makan siang dan mempersiapkan diri kembali ke Kupang.

Kami pulang melintasi jalan viadolorosa yang sama, namun membawa spirit yang berbeda. Ibarat perjalanan Kleopas dan temannya yang pulang ke Emaus. Keduanya pergi dengan langkah gontai namun perjumpaan dengan Yesus yang bangkit, membangkitkan mereka untuk kembali ke Yerusalem dengan hati yang berkobar-kobar. Terima kasih untuk semua sahabat pelayanan di Amfoang Utara. Jerih lelahmu berjalan mengikut Yesus di tapal batas negeri tak akan sia-sia.  (wantomenda)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *