Berbagi Inspirasi Dengan Para Pendeta Muda Gereja Toraja – Pdt. Mery Kolimon

Sharing Sumber Daya

www.sinodegmit.or.id, Sebulan lalu saya dihubungi oleh seorang kawan perempuan pendeta gereja Toraja, di Sulawesi Selatan. Pdt. Seny Padda’ yang menghubungiku berkata: “Kakak, apakah bersedia datang ke Toraja membantu kami dalam sesi pelatihan para pendeta kami di Gereja Toraja?” Saya senang dapat undangan itu sebab saya belum pernah ke Toraja dan senang bisa berbagi sumber daya dengan kawan-kawan di sana. Tetapi sekaligus saya berulang menimbang apakah bisa pergi atau tidak. Agenda di sinode GMIT sendiri sedang sangat padat. Paska tiga gelombang pandemi Covid selama 2 tahun dan hantaman Seroja tahun lalu, kami sedang berkonsentrasi untuk mengejar pelaksanaan berbagai program pelayanan yang tertunda. Selain itu saya berhitung untuk jalan darat Makassar-Toraja selama 8-9 jam yang akan menyita banyak energi.

Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, terutama mengingat kasih dan dukungan Gereja Toraja ketika jemaat-jemaat GMIT diterpa badai Seroja tahun lalu, saya memutuskan untuk pergi. Saat bencana, Ketua Umum Sinode Gereja Toraja, Pdt. Musa Salusu, dan Wakil Ketua I, Pdt. Alfred Angguy (yang sekarang menjadi Ketua Umum) datang mengunjungi kami di Timor. Kami bicara di MSH GMIT mengenai undangan itu. Kami sepakat bahwa saat susah dan senang, gereja orang bersaudara mesti saling membantu. Bagi kami, itu spirit yang mesti dihidupi gereja-gereja anggota PGI. Di tiap gereja, ada tatenta yang Tuhan berikan untuk saling melengkapi dalam penataan hidup dan misi gereja. Entah dalam situasi bencana maupun dalam masa yang teduh, kesadaran bahwa kita satu anggota tubuh Kristus, mesti memampukan kita untuk saling berbagi sumber daya dengan yang lain.

Perjalanan Darat Lebih dari 8 Jam

Perjalanan ke Toraja saya mulai dengan penerbangan dari bandara El Tari Kupang menuju Denpasar, selanjutnya dari Denpasar menuju Makassar. Saya berangkat siang hari, sekitar pukul setengah dua dari Kupang dan tiba di Makassar jam 7 malam. Di bandara sudah ada supir dari kantor Sinode Toraja yang menjemput. Gereja Toraja punya guest house di Makassar jadi Pak supir, Pak Tosa namanya, sudah bermalam sehari sambil menunggu saya. Begitu bertemu di bandara saya katakan bahwa saya sudah lapar. Beliau mengatakan kami akan makan malam di perjalanan. Setelah lebih dari satu jam berjalan dan lepas dari kemacetan jalan di Kota Makassar, kami mampir di tempat makan dengan menu ikan bakar di Pangkajene. Rupanya karena tempat itu ramai dikunjungi saat buka puasa, maka sudah tak ada sayur. Karena sudah lapar, dengan lahap saya memakan ikan bakar, sup, sambal, nasi putih, dan jeruk hangat yang terhidang. Selepas makan kami melanjutkan perjalanan.

Perjalanan ke Toraja selama lebih dari 8 jam kami tempuh di malam yang gelap. Di beberapa tempat hujan mengguyur. Jalan menjadi licin di beberapa titik sehingga perlu berhati-hati. Sebelum berangkat dari Kupang saya sudah mohon kepada kawan yang mengurus tiket dan penjemputan saya agar disiapkan bantal. Sepanjang perjalanan ke Toraja saya berusaha untuk tidur nyenyak, namun sulit lelap. Perjalanan malam di tempat yang baru membuatkan terus terjaga. Jam 4 dini hari kami tiba di Toraja. Pak Tosa mengantarkan saya ke Hotel Missiliana Toraja, sebuah penginapan yang sangat indah di Kabupaten Toraja Utara, dengan nuansa etnis kental. Rasanya tubuh sangat lelah namun saya tak langsung tidur. Saya masih perlu menyelesaikan materi pelatihan yang saya lanjutkan pengerjaannya dalam penerbangan ke Toraja. Jam 5.30 persiapan bahan selesai dan saya coba tidur. Alarm saya atur untuk bisa bangun jam 7 pagi. Belum benar-benar pulas, saya terbangun, mandi air hangat dan pergi ke ruang makan.

Pelatihan Pendeta Generasi Milenial

Pagi hari matahari bersinar cerah. Sejak dari Kupang saya sudah mengecek perkiraan cuaca Kota Rantepao, Toraja Utara, melalui internet. Cuaca cukup dingin di pagi itu, sekitar 24 derajat. Baju tenun Sabu yang saya bawa dari rumah membungkus hangat tubuh saya yang belum cukup tidur. Buah segar, bubur ayam, teh panas tanpa gula, segelas susu segar, dan kue serabi mengisi perutku yang kosong. Selesai sarapan saya merasa tubuhku pulih. Sinar matahari yang hangat turut menyemangatiku.

Jam 8 pagi saya selesai sarapan dan tepat jam 8.40 dijemput menuju tempat pelatihan di Institut Teologi Gereja Toraja (ITGT). Jarak tempuh dengan mobil sekitar 7 menit dari hotel tempatku menginap. Di aula pertemuan institute itu, sudah berkumpul sekitar 50 orang peserta dan panitia pelatihan kepemimpinan pendeta. Sejumlah vikaris, juga pendeta senior dari jemaat dan klasis juga hadir untuk belajar bersama. Saat saya tiba, para peserta sedang merampungkan sesi pendalaman Alkitab.

ITGT adalah lembaga yang didirikan oleh Gereja Toraja untuk pendidikan kependetaan gereja tersebut. Setelah seorang tamatan sekolah teologi melamar dan diterima sebagai vikaris (di sana disebut proponen), maka selanjutnya dia akan mengikuti pendidikan secara berjenjang, selama masa calon proponen, masa proponen, dan tahap-tahap kependetaannya. Kali ini yang mengikuti pelatihan adalah pendeta dengan usia pelayanan hingga lima tahun di dua sinode wilayah Gereja Toraja.

Tak lama setelah tiba di ITGT, sesiku dimulai. Kawan-kawan menyambutku ramah. Untuk pelatihan selama empat hari itu, saya diminta menyampaikan sesi selama dua hari, untuk dua topik berbeda: tentang Kepemimpinan di Era Generasi Milenial dan Kepemimpinan Kesetaraan. Untuk sesi Kepemimpinan Era Generasi Millenial di hari Rabu, saya berpanel dengan Ketua Umum Gereja Toraja, Pdt. Dr. Alfred Angguy. Saya beruntung Pdt. Merens Hale, teolog muda GMIT yang sedang berstudi di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, bermurah hati berbagi bahan-bahan studinya mengenai pendidikan Kristiani intergenerasi sehingga melengkapi bahan-bahan yang sudah saya kumpulkan untuk pelatihan itu. Untuk sesi hari Kamis tentang Kepemimpinan Kesetaraan, saya berpanel dengan Pdt. Dr. Johana Tangirerung. Dari Pdt. Johana saya belajar banyak mengenai perempuan dalam budaya Toraja.

Diskusi selama pelatihan yang saya turut fasilitasi itu berlangsung dinamis. Kawan-kawan pendeta muda itu bersemangat memberi tanggapan terhadap presentasi kami, baik dalam bentuk pertanyaan, sharing pengalaman, dan melengkapi informasi. Saya sangat menghargai keseriusan gereja Toraja untuk menyiapkan pendidikan/pelatihan berkelanjutan bagi para pendetanya. Bahkan mereka memiliki tempat dan fasilitas khusus untuk tujuan tersebut. Ada aula pertemuan besar berlantai dua, ada asrama, dapur, dan perumahan untuk pengelola di kompleks luas di bukit dengan pemandangan indah.

Kunjungan ke Kampung Adat dan Kuburan Orang Toraja

Selesai pelatihan hari kedua, setelah saya cukup tidur dan merasa lebih pulih, saya minta diantar ke tempat wisata kampung adat dan kuburan tradisional orang Toraja. Rasanya sayang datang ke Toraja tanpa berkunjung ke obyek wisata yang sudah terkenal di seluruh dunia. Ibu Lily Anggui, isteri Ketua Sinode Gereja Toraja, bermurah hati menemani saya, ditemani Vany, seorang calon proponen.

Destinasi pertama yang kami tuju adalah gua kuburan tradisional masyarakat adat Toraja di kampung yang bernama Londa. Awalnya kami melihat peti-peti yang ditaruh di dinding tebing. Semakin tinggi strata seseorang, semakin tinggi peti matinya diletakkan. Bagi orang-orang bangsawan yang meninggal di usia sepuh, keluarga juga membuat patung mereka dan diletakkan di tebing gunung batu. Ibu Lily dan guide kami bercerita biaya upacara penguburan yang disebut Rambu Solo bisa mahal sekali. Umumnya mesti disiapkan 24-100 ekor kerbau. Untuk itu, biasanya anggota keluarga (anak, cucu, dan semua yang terkait) bahu membahu menyiapkan semua kebutuhan upacara penguburan. Biaya upacara bisa sampai puluhan milyar harganya. Demi nama baik dalam masyarakat dan penghormatan terhadap orang tua yang meninggal, banyak keluarga masih melakukan upacara semahal itu.

Guide yang memandu kami menyediakan lampu strongking. Awalnya saya tidak mengerti mengapa diperlukan lampu. Namun rupanya kami harus masuk ke dalam gua yang gelap, tempat peti-peti mati diletakkan. Itu sebabnya kami butuh penerang. Sejak di luar gua, kami melihat tengkorak manusia dan peti mati berjejer di dinding gua. Ketika masuk ke dalam gua, semakin banyak tengkorak kami lihat. Menurut guideyang membawa kami ke dalam gua, untuk memindahkan tengkorak dan tulang para leluhur yang dikuburkan di sana dibutuhkan upacara khusus. Beliau juga menjelaskan kepada kami bahwa semakin tua suatu tengkorak semakin putih warnanya. Di dalam gua, kami melihat ratusan peti mati yang usianya sudah ratusan tahun. Terdapat juga peti-peti mati yang usianya baru beberapa bulan dan beberapa tahun. Menurut pemandu kami, semua yang dikuburkan di gua itu masih serumpun keluarga dan umumnya warga gereja Toraja.

Saya tidak mengerti mengapa saya tidak merasa ngeri melihat tengkorak-tengkorak itu. Saya kira karena saya terpengaruh oleh bagaimana orang Toraja memahami relasi mereka dengan keluarga yang meninggal. Saya mendapat kesan bahwa orang Toraja sangat dekat dengan jenasah keluarga mereka. Saya bertanya apakah jenasah yang dikuburkan dengan cara diletakkan di dinding tebing dan di dalam gua mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Menurut pemandu kami, hal itu tidak terjadi sebab biasanya sebelum dikuburkan jenasah bisa berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun disimpan di rumah dan diawetkan dengan ramuan herbal. Hal itu dimaksudkan untuk menunggu waktu yang tepat bagi keluarga menyiapkan upacara penguburan dan juga untuk memastikan saat yang tepat semua kerabat dari jauh dan dekat dapat berkumpul.

Setelah sekitar satu jam berkeling dan berfoto di kubur batu Londa itu, kami bersiap meneruskan perjalanan. Di pagi hari cuaca cerah, namun menjelang sore hujan turun lebat. Kami berlari menuju ke mobil di luar kompleks penguburan. Sempat basah, kami tetap gembira. Saya sangat bersyukur walau hanya sebentar dapat melihat sebagian kecil dari kekayaan budaya Toraja. Sepanjang jalan saya juga terkesima dengan alam Tana Toraja yang sangat subur.

Selanjutnya kami menuju kampung adat Kete Kesu. Rumah-rumah adat di sana telah berusia ratusan tahun. Kami sempatkan diri berfoto di sana. Juga di kompleks kampung adat itu ada kuburan keluarga. Kami sempat melihat peti mati dengan ukuran raksasa di kompleks pekuburan kampung itu. Kami sempatkan singgah dan minum kopi Toraja di salah satu warung kopi di sana. Ibu Lily Angguy memesan kue yang enak yang kami nikmati dengan kopi panas. Nikmatnya kue dan hangatnya kopi mengusir rasa dingin karena terkena hujan sebelumnya. Kami mampir dan belanja sedikit souvenir di kampung adat itu. Lalu balik ke rumah masing-masing. Saya bergegas ke hotel untuk menyiapkan diri. Jam 7 malam ada diskusi dengan kawan-kawan Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi (Peruati) Toraja dan Persekutuan Wanita Gereja Toraja (PWGT).

Pertemuan dengan Peruati dan PWGT

Jam 7 malam saya tiba di tempat kegiatan dan diajak makan bersama. Di meja makan ada ikan bakar air tawar dengan bumbu yang sangat enak, serta sayur daun ubi yang dimasak dengan pucuk pakis (di Alor disebut sayur paku). Buah pepaya dan pisang yang enak turut terhidang. Selesai makan kami menuju aula pertemuan yang terletak di lantai dua. Ruang yang sama untuk pelatihan dipakai untuk percakapan dengan kaum perempuan gereja Toraja.

Saya mengajak kawan-kawan gereja Toraja untuk memperhatikan isu kekerasan dalam rumah tangga, termasuk kekerasan seksual. Menurut survey Bilangan Research Center pada awal tahun 2022 ini, sepanjang masa pandemi Covid-19 terjadi peningkatan kekerasan dalam rumah tangga. Survey itu juga menunjukkan belum semua gereja di Indonesia memiliki kapasitas untuk menanggapi kebutuhan korban kekerasan dan menolong pelaku untuk perubahan sikap.

Kepada peserta saya ceritakan mengenai inisiatif GMIT untuk membangun Rumah Harapan (RH) sebagai rumah aman sekaligus sebagai simpul pelayanan untuk pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi korban kekerasan berbasis gender dan perdagangan orang. Kawan-kawan di gereja Toraja juga bercerita mengenai upaya-upaya pendampingan korban yang telah mereka lakukan. Saya mengatakan jika dibutuhkan untuk berkunjung dan belajar dari RH GMIT, kami siap membantu. Saya juga mendorong kawan-kawan menciptakan ruang aman untuk berbagi pengalaman berpulih dari kekerasan. Persahabatan para pendeta mesti menjadi ruang berbagi beban dan sukacita, ruang mengalami pemulihan dalam tuntunan Roh Tuhan. Percakapan semalam diwarnai juga air mata kawan-kawan yang bersedia berbagi pergumulan mereka.

Selanjutnya kami berbicara mengenai kepemimpinan dalam keluarga, gereja, dan masyarakat. Ada kerinduan agar semakin banyak perempuan dalam gereja-gereja di Indonesia, termasuk di GMIT dan Gereja Toraja terlibat dalam kepemimpinan gerejawi. Kami percaya bahwa keterpilihan perempuan berkualitas sebagai pemimpin di berbagai lingkup pelayanan gereja dapat berkontribusi bagi terjembataninya kesenjangan gender dalam gereja dan masyarakat. Seorang pemimpin perempuan yang punya perspektif feminis dibutuhkan untuk memfasilitasi gerejanya memberi tanggapan pada isu-isu sosial dalam masyarakat.

Selepas pertemuan, kawan-kawan mengantarku pulang ke hotel. Di kamar hotel telah ada empat buah durian Palopo, kiriman kawanku Pdt. Erny Tonapa. Kami menikmati durian di serambi kamarku. Hari yang indah dengan percakapan dan proses belajar yang bermakna, kunjungan ke situs budaya, dan merayakan persahabatan dengan gembira.

Doa untuk Kepulihan Bumi

Pertemuan dengan kawan Peruati dan PWGT hari itu kami akhiri dengan doa dalam bentuk tarian. Dalam diam kami menarikan doa diiringi musik dengan bahasa Spanyol: “Allah Yang Hidup, tuntun kami ke keadilan dan damai”. Lagu yang diciptakan untuk sidang raya Dewan Gereja Sedunia tahun 2013 yang lalu mengiringi tarian doa kami untuk sahabat-sahabat pelayan kami dan untuk dunia. Kami berdoa untuk kawan-kawan sedang bergumul dengan duka dan kehilangan, mereka yang berjuang pulih dari trauma, mereka yang sakit, mereka yang sedang merayakan sukacita hidup. Kami juga berdoa untuk pelayanan gereja-gereja kami, bagi tanah dan rakyat Nusa Tenggara Timur dan Tana Toraja, bagi Indonesia dan dunia untuk pulih dari pandemi dan terlindungi dari berbagai bencana.

Tugas tiga hari di Toraja selesai. Saya berdoa kiranya pelayananku menjadi berkat bagi sahabat-sahabat di Toraja dan memuliakan Tuhan. Saya bersyukur karena saya berbagi sedikit namun mendapat sangat banyak berkat: keramahan, pembelajaran bersama, kesempatan menikmati alam yang indah dan makanan yang lezat, budaya yang berbeda, dan kisah iman para pelayan di sana. Perjalanan dan penginapanku di Toraja dan di perjalanan dibiayai seluruhnya oleh Gereja Toraja.

Pagi-pagi salah satu sahabat kami di Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT), Pdt. Erny Tonapa yang turut hadir ketika JPIT dilahirkan di Bulan Agustus 2009 di Susteran Belo, Kupang NTT, mengunjungiku. Kami berbagi banyak hal yang terjadi selama tak berjumpa karena terpisah oleh Covid. Dia sekarang melayani di Komisi HIV/AIDS Gereja Toraja: mendampingi para ODHA dan mengedukasi komunitas gerejanya untuk peduli dan tidak melanggengkan stigma kepada para ODHA. Pdt. Erny berkata stigma terhadap ODHA harus dibongkar. Para ODHA bisa sembuh dan membangun keluarga bahagia. Kita mesti saling mendukung untuk menopang mereka berpulih secara fisik, psikis, dan iman. Kita tak boleh meminggirkan mereka dari pelayanan. Di bandara Toraja kami mengucapkan selamat berpisah sampai jumpa lagi.

Saat saya menulis bagian terakhir kisah ini, pesawat Sriwijaya Air yang saya tumpangi dari Makassar ke Denpasar sedang turun dari ketinggian. Tadi pagi ketika saya naik pesawat dari Toraja ke Makassar cuaca sangat cerah. Syukur hari ini ada penerbangan dari Toraja ke Makassar sehingga saya tak perlu menempuh perjalanan darat selama 9 jam. Katanya setiap Minggu ada tiga penerbangan di hari yang berbeda pulang pergi Makassar-Toraja.

Saat pesawat mendarat di Bali, Bandara Ngurah Rai sangat ramai. Penumpang domestik dan internasional hilir mudik. Keramaian yang sama juga saya lihat di Bandara Hasanudin Makassar. Lalu lintas manusia yang memenuhi bandara untuk menikmati liburan Idul Fitri di kota atau negara lain menunjukkan pembatasan gerak manusia berdasarkan protokol kesehatan mulai melonggar karena pandemi mereda. Kiranya bumi benar-benar pulih dari pandemi yang membelenggu kita lebih dari dua tahun.

Sebentar, dalam kasih Tuhan, saya bisa tiba kembali di rumah pastori TDM, memeluk semua yang saya kasihi di rumah. Hati saya sangat bahagia, dalam perjalanan pulang saya mendapat kabar naskah buku saya di BPK Gunung Mulia sudah selesai di-lay out dan jika tak ada halangan akhir Mei 2022 nanti sudah selesai dicetak. Terpujilah Tuhan yang memberi banyak sekali jalan kebaikan yang mendukung saya melahirkan buku tersebut. Bagi Dialah segala kemuliaan.

Denpasar, hari terakhir April 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *