Perjumpaan Dengan Yesus Membarui Budaya dan Misi (Kisah Para Rasul 9:1-18) – Pdt. Jahja A. Millu

www.sinodegmit.or.id, Kebudayaan merupakan aspek yang sangat penting dalam misi gereja. Aktifitas misi mesti memperhatikan apa yang disebut Geertz sebagai “deskripsi tebal budaya” dari setiap masyarakat penerima Injil (Schreiter, 1993:48). Hanya melalui upaya mencoba menangkap makna budaya pendengar secara holistik dengan seluruh kompleksitasnya, gereja akan dapat melaksanakan misinya dengan baik.

Tetapi patut pula disadari bahwa kebudayaan adalah hasil dari karya, cipta dan rasa manusia. Budaya lahir dari pergulatan manusia mengembangkan peradaban guna menjadi manusia beradab. Semakin tinggi kebudayaan suatu masyarakat diharapkan melahirkan manusia yang semakin beradab. Sayang, sejarah kemanusiaan menunjukkan fakta lain. Kebudayaan tidak hanya menghasilkan manusia beradab, tapi juga biadab.

Menyadari konsekuensi kebudayaan inilah, GMIT menetapkan perlunya Perayaan Bulan Budaya GMIT. Di satu pihak, perayaan ini dimaksudkan untuk merayakan kekayaan yang terkandung dalam kebudayaan. Kita percaya bahwa kebudayaan berakar di dalam mandat budaya yang diberikan Allah bagi manusia untuk mengelola alam semesta (Kej. 1:28).

Di sisi lain, perayaan ini juga hendak mengajak jemaat untuk melihat budaya secara kritis. Dosa telah merusak mandat budaya sehingga pelaksanaannya diwarnai “tanah yang terkutuk, susah payah mencari rezeki, semak dan rumput duri, serta peluh sepanjang hayatnya hingga manusia kembali menjadi debu” (Kej. 3:17-19). Dosa telah merusak hakikat mandat budaya yang diberikan Tuhan sehingga kebudayaan pun memerlukan transformasi dari Injil.

Tafsir Teks

Bacaan kita memperlihatkan model misi yang dilaksanakan Saulus. Sebagai seorang Farisi, ia termasuk dalam golongan yang menganggap bahwa kekristenan merupakan bidat yang mesti dibasmi. Rencana pembasmian Saulus tidak hanya terhadap ajaran, tetapi juga dengan mengancam dan membunuh para pemeluknya.

Dengan hati yang berkobar-kobar, ia berangkat dari Yerusalem menuju Damsyik untuk mewujudkan misinya (ay. 1). Istilah “berkobar-kobar” berasal dari kata Yunani empneon yang secara harafiah berarti bernafas. Bukan nafas biasa, tetapi mendengus. Seperti banteng yang mendengus hendak menyerang. Artinya bahwa setiap desahan nafas Saul menghembuskan ancaman dan pembunuhan.

Setiap tarikan dan hembusan nafasnya mengandung bahaya bagi orang percaya.

Saulus menghadap Imam Besar dan meminta surat kuasa guna melaksanakan niatnya. Surat kuasa Imam Besar adalah bukti bahwa penganiayaan kepada orang kristen saat itu tidak bersifat perorangan semata, tetapi merupakan kebijakan lembaga keagamaan. Ini adalah sikap resmi Yudaisme terhadap kekristenan. Bukan hanya di Yerusalem, tetapi juga mencakup wilayah non Yahudi seperti Damsyik.

Dalam perjalanannya menuju Damsyik, Yesus menampakkan diri kepada Saulus dalam kilatan cahaya yang menyilaukan. Saulus mendengar suara Yesus: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Tindakan mengancam dan membunuh yang Saulus anggap sebagai kebenaran, bagi Yesus adalah sebuah penganiayaan. Bukan kepada manusia, tetapi kepada Yesus sendiri. Prinsip beragamanya mengalami koreksi total. Kebenaran Yahudi dan Kristen disandingkan bersama dan kesimpulannya jelas: kekristenan bukanlah bidat yang mengancam Yudaisme. Berita Injil bahwa Yesus adalah Anak Allah yang mati, bangkit, naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa adalah sebuah kebenaran. Itulah mengapa Yesus menampakkan diri kepadanya.

Tuhan tidak menyukai tindakan membunuh orang lain, meski atas nama Tuhan sekalipun. Ia mengambil insiatif untuk menghentikan penganiayaan Saulus. Yesus hendak menegaskan kepada Saulus dan semua penganiaya bahwa barangsiapa menganiaya orang percaya sama dengan menganiaya Yesus sendiri. Itu sekaligus penghiburan dan kekuatan bagi semua orang percaya yang dianiaya karena nama-Nya. Kesengsaraan mereka adalah kesengsaraan Kristus sendiri. Dialah yang akan berurusan dengan para penganiaya untuk menolong mereka.

Tetapi Tuhan menyiapkan pertolongan itu bukan supaya orang percaya berdiam diri dan berpangku tangan. Ini nampak dalam perintah-Nya kepada Ananias. Tuhan ingin Ananias selaku hamba-Nya terlibat dalam upaya mengatasi budaya kekerasan atas nama agama ini. Saulus dan Yudaisme mengancam, namun kekristenan menghadapinya dengan kekuatan Tuhan. Allah ingin agar mereka menjadi pelaku rekonsiliasi. Ananias harus menghadapi sang musuh bebuyutan Kristen. Awalnya ia menolak karena takut terhadap Saulus. Ia tahu persis sikap Paulus terhadap orang percaya, baik di Yerusalem maupun Damsyik. Namun Tuhan mengubah prinsip Ananias. Ia harus menjadi pelaku rekonsiliasi terhadap musuh besarnya itu.

Perjumpaan dengan Yesus menuntun Ananias mengawali misi rekonsiliasi ini dengan sapaan “Saulus saudaraku….” Ini adalah sapaan yang mengubah musuh menjadi saudara. Dan bukan sekedar saudara. Sapaan “saudaraku” menunjukkan sifaf posesif, tanda kepemilikan. Musuh tidak sekedar menjadi saudara secara umum, tetapi menjadi milik pribadi, sesuatu yang begitu dekat dengan kita. Perubahan musuh menjadi saudara adalah tanda penuh kasih yang ditawarkan kekristenan bagi dunia.

Aplikasi

Terdapat beberapa aplikasi yang dapat menjadi panduan hidup keagamaan kita selaku orang percaya seturut teks ini.

1. Kita perlu mengevaluasi cara beragama kita. Hal ini penting sebab agama berpotensi terperangkap dalam pola misi Saulus seperti bacaan kita. Menurut Charles Kimball, kejahatan atas nama agama ternyata lebih banyak dibandingkan kekuatan counterpart sekulernya. Tak heran lahir kesimpulan bahwa misi semua agama penuh dengan lumuran darah. Fakta Saulus dan kesimpulan Kimball mesti menyadarkan kita bahwa semangat keagamaan yang berkobar-kobar untuk membunuh pemeluk agama lain tidak boleh dibiarkan tumbuh dalam agama manapun, termasuk Kristen. Lembaga keagamaan tidak boleh diperalat untuk memberi legitimasi (surat kuasa) bagi upaya kekerasan atas nama agama. Ruang untuk menjalankan ibadah dan aktivitas keagamaan harus dibuka seluas-luasnya bagi semua agama. Melarang agama tertentu untuk melaksanakan perintah agamanya tidak boleh terjadi. Kita mesti mensponsori pertemuan kelompok Saulus dan Ananias bagi perdamaian dunia dan kebebasan beragama yang lebih baik.

2. Hal yang sama juga berlaku bagi kebudayaan. Di masa lampau, para misonaris barat menganggap kebudayaannya lebih tinggi dari budaya penerima yang dianggap kafir. Saat kekristenan memasuki suatu wilayah, semua artefak budaya dirusak, dihancurkan dan dibakar karena dianggap sebagai bagian dari penyembahan berhala. Niebuhr menyebutnya sebagai Kristus melawan kebudayaan, yang meluluhlantakkan budaya lokal (1951:45-82). Para misionaris kurang menyadari bahwa keyakinan superirotas seperti ini dapat menciptakan kebudayaan dunia yang monochrome tanpa keanekaragaman (Brownlee dalam Eka Darmaputra, 1997:246). Prinsip ini sudah harus kita ubah. Kristus bukan musuh kebudayaan, Ia adalah pembaharu kebudayaan. Seluruh kebudayaan manusia mesti diukur dari standar Injil. Namun pada saat yang sama, kebudayaan pun dapat menjadi alat transformasi yang penting bagi misi. Ia memperkaya sekaligus menyiapkan jalan bagi Injil kepada para penerimanya.

3. Teks ini bukan saja menekankan perubahan Saulus, tetapi juga Ananias. Bukan hanya musuh yang memerlukan transformasi, tetapi juga para murid sendiri. Perjumpaan dengan Yesus yang menampakkan diri menyebabkan keduanya menjadi alat Tuhan yang luar biasa. Pernahkah kita berjumpa secara langsung dengan Yesus? Banyak orang menjawab pertanyaan ini seturut pengalaman imannya masing-masing. Alkitab memberi tahu kita bahwa salah satu fitur penting dari pelayanan Yesus ialah kesediaan-Nya untuk berjumpa dengan orang-orang. Sebagian besar kehidupan Yesus yang ditemukan dalam Injil bukan sekedar mencakup ajaran-ajaran-Nya, meskipun ini penting. Juga bukan hanya catatan tentang karya-karya besar-Nya. Apa yang unik tentang Injil adalah kisah-kisah dimana Yesus meluangkan waktu untuk berbagai kalangan orang. Meskipun ada kelompok yang menolak bahkan membunuhnya, namun perjumpaan itu telah mengubah kehidupan banyak orang yang tertarik padaNya dan bersedia menjadi pengikutNya (Burge, 2010:1-2). Pertanyaan bagi kita ialah ketika Tuhan datang sendiri secara pribadi kepada kita, apa implikasi radikalnya? Biarlah perjumpaan dengan Tuhan membalikkan arah pencarian kebudayaan dan misi kita ke arah yang dikehendaki-Nya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *