Pengasuhan Dengan Cinta: Cara Jemaat Nekamese Turunkan Stunting

Amanuban-TTS,www.sinodegmit.or.id, Pertengahan Maret 2022, Presiden Jokowi mengunjungi Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kunjungan ini bermaksud melihat langsung kondisi anak-anak stunting sekaligus mendorong pemerintah daerah serius menangani masalah ini.   

Menurut data Pokja Stunting Provinsi NTT, periode Agustus 2021, jumlah anak stunting di provinsi ini sebanyak 81.179 orang (20,9%). Dari jumlah tersebut 13.123 orang di antaranya berasal dari Kabupaten TTS.

Mengingat TTS merupakan basis pelayanan GMIT, sebenarnya tidak sulit menemukan anak-anak stunting di lingkungan Jemaat-Jemaat GMIT. Salah satunya adalah Jemaat Nekamese, di desa Neke, Klasis Amanuban Tengah Utara.

Menurut Pdt. Seprianus Adonis, Ketua Majelis Jemaat Nekamese, jumlah anak dengan status stunting bersifat fluktuatif. Di tingkat desa, tahun 2022 jumlahnya sebanyak 86 orang. Tahun berikutnya turun menjadi 61 orang tapi meningkat pada pertengahan tahun menjadi 72 orang. Tahun 2022 jumlah ini turun 52 orang. Dan, 25 orang di antaranya adalah anak-anak asal Jemaat Nekamese.

“Untuk menanggulangi masalah ini, Jemaat GMIT Nekamese sejak tahun 2020 menetapkan dalam program bidang Diakonia untuk melakukan pendampingan kepada keluarga anak stunting. Khusus tahun 2022 kami melakukan pendampingan dan penguatan kapasitas bagi para orang tua anak stunting dan ibu hamil dengan nama program “Gerakan Firdaus,” ungkap Pdt. Sepri.

Program ini terbilang menarik lantaran bersifat partisipatif dan holistik. Tidak sekedar melatih para orang tua menyediakan kebutuhan gizi anak tetapi menyasar hingga hal yang paling mendasar seperti mindsetpola pengasuhan anak, membangun visi dan relasi anggota keluarga, rujukan ke pusat layanan kesehatan, hingga monitoring evaluasi secara berkesinambungan.

Alur program ini, imbuh Pdt. Sepri, ditempuh melalui empat tahapan, yaitu: kunjungan rumah tangga, Focus Group discussion (FGD), pelatihan Pengasuhan Dengan Cinta (PDC) bagi pasangan suami itri anak stunting dan pasangan suami istri yang istrinya sedang hamil, dan terakhir diskusi/curahan hati (curhat) berkala bersama keluarga stunting dan ibu hamil setiap dua bulan.

Untuk pelatihan PDC, mereka melibatkan Tim Operating Model bentukan WVI dan Majelis Sinode GMIT. Pelatihan ini berlangsung pada akhir April 2022 yang lalu, diikuti 60 peserta sasaran dengan fasilitator Metri Snae (bidan) dan Pdt. Sepri selaku pendeta jemaat yang mengetahui persis kondisi setiap keluarga sasaran.

“Kami mendesain pelatihan menggunakan modul Pengasuhan Dengan Cinta dari Wahana Visi Indonesia, ditambahkan dengan beberapa materi lain yang penting. Kami berupaya menyederhanakan materi dan menyampaikannya dengan bahasa lokal. Kami juga berupaya menciptakan kelas yang lebih aman dan nyaman bagi peserta. Mereka boleh duduk di lantai atau di bangku. Bahkan boleh mendengarkan materi sambil mamah sirih-pinang,” kata Pdt. Sepri.

Pelatihan hari pertama, diawali dengan belajar membangun iklim kelas dengan membuat sumur harapan dan kekhawatiran, membangun kesepakatan kelas, memilih pengurus dan membuat peta pelatihan. Di sesi kedua peserta bernostalgia mengenang masa kecil berupa pengalaman menyenangkan dan menyakitkan bersama orang tua. Kemudian kelas bersepakat untuk memutuskan rantai pengasuhan masa anak-anak dengan membuang semua cerita menyakitkan di dalam bak sampah.

Pada sesi ketiga kelompok diajak membangun visi keluarga dengan merencanakan masa depan anak, lalu ditempel pada bingkai cita-cita. Selanjutnya pada sesi keempat, kelompok mengidentifikasi istilah-istilah anak dalam budaya Timor sebagai langkah penghargaan kepada anak; sesi kelima, belajar memahami permasalahan stunting yang meliputi penyebab, cara mencegah dan mengatasi. Sesi ke enam, memahami gizi seimbang pada ibu hamil, bayi dan balita. Pada sesi ini peserta belajar tentang manfaat ASI, menggambar piring makan dan belajar makanan empat bintang. Sesi terakhir adalah belajar cara merujuk anak ke fasilitas kesehatan, manajemen kebersihan diri dan lingkungan serta mencegah anemia pada remaja putri.

Pelatihan hari kedua berturut-turut peserta belajar mengenai membangun relasi komunikasi dengan pihak sekolah atau guru; keterampilan belajar anak dan teknik mendampingi anak belajar di rumah; waktu bersama dan aktivitas terstruktur bersama anak; cara positif kelola stress; dan terakhir belajar tentang No stigma.

Pada hari terakhir peserta belajar mengenai konsep resiliensi diri menuju sehat fisik, mental dan spiritual; lima bahasa cinta; praktek membuat makanan empat bintang mengunakan bahan lokal; mendampingi anak makan sambil belajar; dan kami mengakhiri sesi pelatihan dengan membuat komitmen perubahan dalam pengasuhan terhadap anak sebagai langkah pencegahan dan penangggulangan masalah stuting dalam Jemaat.

“Dalam sesi pembuatan komitmen beberapa orang tua bercerita sambil berkaca-kaca bagaimana pelatihan ini menyadarkan mereka tentang tanggungjawab terhadap anak-anak mereka agar anak bertumbuh dan berkembang secara utuh. Bahkan ada yang berkata, “kami perlu mengaku dosa bersama untuk kelalaian kami dalam mengasuh anak-anak kami sehingga mereka disebut sebagai anak stunting”, ujar Pdt. Sepri.  

Rangkaian kegiatan berikutnya adalah diskusi atau curhat berkala pada Juni, September, Oktober dan Desember. Ruang curhat ini untuk mendengarkan tantangan dan perubahan yang terjadi dalam pola pengasuhan orang tua terhadap anak. Dalam kelas curhat nanti, peserta akan datang dengan membawa pangan lokal masing-masing untuk diolah menjadi makanan sehat dan bergizi untuk anak-anak. Pelatihan ditutup dengan nyanyian dan doa bersama. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *