Membudayakan Keramahtamahan (Kejadian 18:1-10) – Pdt. Gusti Menoh

sumber:https://somuchbible.com/bible/gen/18-gen/

Tidak mudah untuk menerima dan melayani tamu yang tidak kita kenal. Sebab tamu yang masih asing bagi kita bukan tanpa resiko. Tamu yang sudah kita kenal, tidak begitu beresiko karena kita sudah tahu orangnya. Sedangkan tamu asing beresiko karena bukan saja ada kemungkinan bahwa ia adalah tamu yang baik tetapi bisa jadi ia adalah musuh yang berniat buruk. Oleh karena itu, terhadap tamu asing, kita biasanya berhati-hati, was-was dan penuh prasangka. Kewaspadaan seringkali membuat kita enggan untuk melayaninya dengan cepat dan sungguh-sungguh.

Tetapi tidak demikian bagi Abraham. Ketika dikunjungi tamu asing, Abraham memilih untuk menempatkan diri sebagai hamba dan memperlakukan tamu sebagai tuan yang dilayani dengan segenap hati dan pengorbanan tanpa takut disakiti. Tindakan Abraham adalah sebuah keramahtamahan, suatu hospitalitas yang luhur. Gereja mesti membudayakan sikap keramahtamahan itu agar kehadirannya di dunia benar-benar menjadi berkat.

Pendalaman teks

Keramahtamahan merupakan tindakan luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dan budaya mana pun. Namun keramahtamahan bukanlah tanpa risiko. Risiko itu melekat dalam arti kata keramahtamahan iu sendiri. Kata keramahtamahan dalam bahasa Inggerisnya adalah hospitality, yang diterjemahkan juga dengan istilah hospitalitas, atau kesanggrahan. Kata hospitality berasal dari bahasa Latin “hospes” yang berarti “tamu” dan sekaligus “tuan rumah”. Kata “hospes” sendiri adalah gabungan dua kata Latin lain, “hostis” dan “pets”. Kata pets berarti “memiliki kuasa”. Sedangkan kata hostis berarti “orang asing”, namun juga memiliki konotasi musuh. Dari kata hostis itu kita mengenal kata Inggris hostile (bermusuhan) dan hostility (permusuhan). Asosiasi makna “orang asing” dan musuh di dalam kata hostis mungkin muncul karena kemenduaan (ambiguitas) dari orang asing itu sendiri, di mana ia dapat menjadi musuh atau tamu. Jadi di dalam hospitalitas sekaligus terdapat risiko bahwa tamu menjadi musuh.    

Dalam bahasa Yunani, untuk kata hospitalitas/keramahtamahan dipakai philoxenia, yang terdiri dari dua kata, philos (kasih) dan xenos (orang asing, yang lain). Maka keramahamahan berarti mengasihi orang lain sebagai sahabat, atau menyahabati orang asing, atau menerima orang asing.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa keramahtamaan (hospitalitas) adalah sebuah proses yang melaluinya status orang asing diubah menjadi tamu, bahkan menjadi sahabat. Hal itu terjadi karena dalam keramahtamahan, orang asing, orang lain itu diterima dengan tulus, apa pun suku, agama, atau etnis orang itu. Hospitalitas juga dapat berarti menciptakan ruang bebas di mana orang asing dapat masuk dan menjadi kawan dan bukan lawan.

Lebih  jauh, dalam hospitalitas, terjadi pertukaran posisi: tamu seolah tuan rumah, dan tuan rumah seolah tamu. Tamu diperlakukan layaknya tuan rumah, dan dilayani dengan sungguh-sungguh. Namun perlu diingat bahwa hospitalitas tidak mengubah orang, tetapi hanya menawarkan mereka suatu ruang di mana perubahan dapat terjadi. Hospitalitas menawarkan kebebasan kepada sesama. Secara praktis, hospitalitas berarti kesediaan kita untuk menerima orang lain apapun pun latar belakangnya, menghormatinya sebagai manusia utuh, memberi tumpangan kepadanya, menyediakan makanan untuknya, melayani kebutuhannya, dan menyelamatkannya dari bahaya yang mengancam hidupnya.

Dalam arti itu, sikap Abraham dalam bacaan hari ini tidak lain adalah sebuah hospitalitas/keramahtamahan. Ada beberapa tindakan Abraham yang dapat diambil sebagai bentuk keramahtamahan. Pertama, nampak terjadi pertukaran posisi antara tamu dan tuan rumah. Diceritakan bahwa ketika melihat tiga orang asing itu di depannya, Abraham menyongsong mereka, lalu sujud sampai ke tanah serta memohon agar mereka mau singgah (ay.2-3). Mestinya, sebagai tamu, tiga orang asing itu merendahkan diri, bersujud di hadapan Abraham, dan memohon belas kasihan agar bisa diterima dan dilayani kebutuhannya. Tetapi tindakan merendahkan diri itu dilakukan oleh tuan rumah (Abraham), kepada para tamunya, seolah mereka adalah tuan rumah. Tanpa sadar, tindakan keramahtamahan Abraham itu membuat tiga orang asing itu merasa diterima dan merasa at home. Mereka tidak diperlakukan sebagai orang asing atau musuh, melainkan sebagai sahabat oleh Abraham.

Kedua, keramahtamahan Abraham ditunjukan melalui peragaan adat penghormatan kepada tamu. Hal itu nampak dalam tindakan Abraham yang memberikan air kepada tamu untuk mencuci kaki yang panas dan berdebu karena perjalanan yang jauh. Itu adalah adat penghormatan yang pertama untuk seorang tamu.

Ketiga, keramahtamahan Abraham kepada orang asing nampak dalam tindakannya yang mau melayani kebutuhan pokok para tamu. Abraham menyuguhkan makanan kepada mereka. Abaham mengambil tiga sukat tepung untuk dibuatkan roti bagi tamu. Menurut perhitungan, itu sama dengan tiga puluh sembilan liter tepung. Itu adalah suatu jumlah atau ukuran yang luar biasa besarnya, jika hanya diberikan untuk tiga orang. Sesungguhnya tiga sukat tepung adalah ukuran untuk raja. Demikian pula Abraham mengambil seekor lembu tambun untuk dihidangkan pada ketiga tamu itu. Ini adalah ukuran yang sangat besar. Lalu mereka menerima makanan itu, dan itu berarti mereka menerima persahabatan yang ditawarkan Abraham.

Dengan demikian, pihak asing yang berpotensi sebagai lawan/musuh (hostis) telah diubah menjadi kawan (hospes), perseteruan menjadi persahabatan. Yahweh yang bersembunyi dibalik tiga orang itu menerima korban Abraham sambil memakan dan meminum apa yang dihidangkan. Abraham memberi secara total, utuh, tidak setengah-setengah, tanpa hitung-hitungan. Ia memberikan yang terbaik dari apa yang dimilikinya bagi orang asing. Ia membuat tamu merasa nyaman, merasa diterima, dan dijadikan sahabat.

Hospitalitas yang dipraktikkan oleh Abraham tidak lepas dari pengalamannya sendiri. Sebagaimana Allah sudah memelihara Abraham, maka saatnya ia juga menunjukan sikap ini kepada sesama. Dengan kata lain, hosptalitas yang dialami Abraham bersama Allah, mau ia paktekan juga kepada orang lain.

Penutup

Budaya individualisme dan primordialisme merongrong budaya keramahtamahan kita. Di satu sisi, masyarakat manusia saat ini terancam oleh individualisme di mana masing-masing orang hanya berfokus pada kepentingan dirinya, sehingga sulit baginya untuk peduli pada orang lain secara sungguh-sungguh. Di sisi lain, banyak warga pun terpenjara oleh fanatisme primordial suku, etnik, agama, golongan, ideologi, kelompok kepentingan, sehingga tak mampu menerima perbedaan dan tak mau hidup bersama orang lain. Kaum primordial cenderung memusuhi orang lain, misalnya para pendatang di satu daerah, atau mereka yang berbeda suku dan agama. Hal itu nampak misalnya dalam ungkapan yang cenderung memuji suku/agama/kelompoknya sendiri dan menjelekkan suku/agama/kelompok lain.

Belajar dari sikap Abraham, kita mesti membudayakan keramahtamahan, yakni selalu bersedia menerima orang lain/orang asing, apapun identitasnya, mau menghormatinya, dan melayani kebutuhan-kebutuhannya dengan segenap hati. Kita juga belajar menerima perbedaan dan mau hidup bersama mereka yang berbeda dengan kita. Orang lain, agama lain, suku lain, etnis lain, bukanlah musuh kita, melainkan sahabat kita sesama manusia.

Hidup dalam keramahtamahan berarti mau mengubah orang asing menjadi sahabat, musuh menjadi kawan, perseteruan menjadi persahabatan, konflik menjadi perdamaian, kekerasan menjadi kelembutan, kebencian menjadi kasih, dendam menjadi pengampunan.

Mau tidak mau, tuntutan keramahtamahan seperti itu harus menjadi cara hidup kita. Sebab sesungguhnya hospitalitas adalah karakter Allah sendiri di dalam Yesus. Allah melalui Yesus Kristus menerima kita apa adanya, mengubah status kita dari musuh/seteru menjadi sahabat-Nya bahkan kita dijadikan sebagai anak-anak-Nya. Maka kita pun mesti belajar untuk menerima sesama dengan hati yang tulus dan gembira, mau bersahabat dengan mereka walaupun kita berbeda suku/agama. Allah telah mengampuni dosa kita dan mengasihi kita secara utuh, maka sudah semestinya kita pun belajar saling mengampuni dan mengasihi. Keramahtamahan Allah di dalam Kristus yang menerima kita dan mau hidup bersama kita, menjadi contoh bagi kita untuk mau menerima sesama dan mau hidup bersama orang lain. Kita terpanggil untuk membudayakan/membiasakan diri mau menerima sesama dan hidup bersama orang lain dengan saling mengasihi agar kehidupan ini menjadi indah. Amin. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *