Hidup Dalam Persekutuan Dengan Allah Tritunggal (Yohanes 16:1-16) – Pdt. Gusti Menoh

sumber: http://danielleshroyer.com/the-word-perichoresis/

www.sinodegmit.or.id, Hari ini kita merayakan Minggu Trinitas. Melalui bacaan alkitab ini, kita hendak merenungkan doktrin Trinitas, atau Allah Tritunggal, dan bagaimana mestinya kehidupanpersekutuan kita dengan Allah Tritunggal itu. Doktrin Tritunggal merupakan salah satu ajaran gereja yang paling sulit. Masalahnya adalah Alkitab tidak secara eksplisit menyebut Allah sebagai Tritunggal atau Trinitas.

Itulah sebabnya kebenaran tersebut terus dipersoalkan. Banyak orang di luar kekristenan menuduh orang Kristen menyembah tiga Allah: Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Saksi Yehova sering menyerang gereja dengan alasan bahwa di dalam Alkitab tidak ada dasar untuk bicara doktrin Tritunggal. Saksi Yehova berpendapat bahwa sejak kekal Allah adalah suatu wujud yang tunggal dan tersendiri, yang tidak dapat diterangkan atau pun diketahui. Benarkah demikian? Memang tidak ada nas yang secara terang memaparkan konsep Tritunggal atau Trinitas. Namun konsep tersebut secara implisit tampak dalam Alkitab. Yohanes16:1-16 adalah salah satu bagian kebenaran Firman Tuhan yang secara tidak langsung bicara tentang keTritunggalan Allah.

Pendalaman Teks

Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang tahu segala sesuatu mengenai diri-Nya. Ia tahu dari mana Ia datang, apa yang harus dilakukan, dan ke mana akhirnya Ia akan pergi. Ia diutus sang Bapa untuk menghadirkan Kerajaan Allah bagi mausia, yaitu kasih, kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera. Ia melayani bersama para murid dalam menyatakan shalom Allah di tengah dunia. Kebersamaan tiga tahun itu menciptakan relasi yang intim di antara para murid dengan Yesus.

Tetapi Yesus tahu bahwa tak selamanya Ia tinggal bersama mereka. Walaupun Ia anak Allah, namun ketika Ia datang sebagai manusia, Ia terikat oleh ruang dan waktu. Akan tiba saatnya Ia kembali ke sorga. Para murid pasti sedih, kecewa, putus asa, dan kehilangan semangat dan kekuatan bila waktu itu tiba. Bagaikan seekor induk ayam yang tiba-tiba hilang, sudah tentu anak-anaknya akan bingung. Itulah sebabnya Yesus memberitahu mereka sejak awal sebelum segala sesuatunya terjadi. Ia mau mempersiapkan hati mereka. Seperti orang tua yang hendak pergi jauh, mereka akan berpesan pada anak-anaknya tentang banyak hal.

Pertama-tama Yesus memberitahu mereka akan nasib mereka nantinya. Di ayat 2, Yesus memberitahu para murid bahwa mereka akan dikucilkan dan dibunuh. Pada pasal sebelumnya, 15:18, Yesus mengingatkan bahwa sebagaimana Ia sendiri ditolak, dibenci, dan disalibkan, nasib para murid juga sama. Mengapa? Karena dunia tidak mengenal Allah Bapa maupun Allah Anak (ay.3). Allah Bapa telah menyatakan diri melalui karya penciptaan, bahkan telah memberikan Hukum Taurat sebagai pedoman hidup. Tetapi manusia menolak kebenaran itu. Mereka seringkali menyimpang dan meninggalkan Tuhan.

Allah kemudian datang dalam diri Yesus Kristus untuk  menyatakan kebenaran secara langsung kepada umat manusia, namun mereka tidak percaya kepada-Nya. Allah membuka kasihNya melalui Yesus Kristus, namun mereka menolak dan menyalibkanNya. Salib adalah bentuk penolakan manusia terhadap tawaran kasih Allah kepada manusia. Para murid sebagai orang pilihan Tuhan, pasti juga akan ditolak, dibenci, dan dianiaya persis seperti yang dialami Yesus.

Namun Yesus tidak ingin misiNya gagal. Ia ingin Kerajaan Allah terus dinyatakan bagi dunia.  Sebab itu setelah mendidik para murid-Nya, Ia ingin mereka melanjutkan pemberitaan injil. Tetapi Yesus tahu bahwa, para murid pun akan mengalami nasib yang sama. Manusia enggan melakukan kebenaran, kasih, kebaikan. Manusia lebih suka hidup dalam kejahatan dan dosa. Oleh karena itu, pada waktunya, ketika para murid memberitakan injil itu, dunia pun akan memusuhi mereka. Sebab dunia lebih mencintai dosa daripada Allah.

Yesus memberitahu para murid sejak dini agar mereka tidak kecewa dan menolak Yesus ketika datang acaman itu. Yesus meminta kepada para murid agar mereka tidak perlu berduka, atau takut, gentar, dan menyerah. Mengapa? Karena para murid tidak akan ditinggalkan sendirian. Yesus memang akan pergi kepada Bapa. Tetapi Ia akan mengutus Roh Kudus untuk menyertai para murid (ay.7). Dalam bahasa Yunani, dipakai kata parakletos, yang diterjemahkan sebagai Penghibur, tetapi lebih tepat sebagai Penolong, atau Pemberi kesaksian. Roh Kudus akan menolong dan meyakinkan para murid untuk tetap setia kepada tugas dan panggilannya.

Roh itu seolah-olah pengganti Yesus yang melanjutkan karya-Nya. Roh penolong itu aka tetap medampingi para murid agar mereka semakin memahami Yesus, dan juga menolong mereka agar dalam melaksanakan tugas kesaksian. Dengan demikian Roh itu menjadi jaminan bahwa penyataan diri Allah dalam Yesus akan terus berlangsung.

Yohanes mencatat bahwa Roh Kudus juga akan membantu pekerjaan para murid dengan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Pertama, Roh Kudus menyadarkan dunia akan kesalahan dan dosanya. Roh Kudus akan mengoreksi kesalahan dunia. Roh Kudus akan membuktikan bahwa dunia bersalah. Apa dosa manusia yang mau disadarkan Roh Kudus? Yakni menolak percaya kepada Yesus. Penolakan terhadap Yesus adalah dosa terbesar karena itu berarti menolak keselamatan yang ditawarkan Allah bagi mausia. Roh Kudus sekaligus memperbaiki kehidupan manusia dari kesalahan agar hidup dalam pertobatan. Artinya Roh Kudus akan menolong manusia agar mereka menerima Yesus dan percaya kepadaNya dan bertobat. Jadi, pertobatan itu bukan karya manusia, tapi karya Roh Kudus.

Kedua, Roh Kudus juga hadir dalam hati manusia untuk meyakinkan mereka bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup. Walaupun Yesus akan pergi, namun kebenaran-kebenaran yang diajarkan-Nya akan tetap hadir karena Roh Kudus akan memelihara semuanya itu. Ketiga, Roh Kudus akan bertindak sebagai hakim untuk menyatakan apa yang benar tentang Kristus, dan akan menghukum dunia karena ketidakpercayaannya. Keempat, Roh kudus adalah Roh kebenaran, yang akan memimpin para murid kepada kebenaran Allah.

Dengan menegaskan peran Roh Kudus, Yesus hendak menyatakan bahwa Roh adalah suatu Pribadi yang setara dengan diriNya. Roh Kudus bukan sekedar daya, seperti energi listrik. Ia adalah suatu Pribadi. Tetapi Yesus berkata bahwa Roh Kudus tidak bekerja dari diri-Nya sendiri. Tetapi apa yang dinyatakan-Nya berasal dari Yesus Kristus. Dan apa yang dikatakan Yesus Kristus, adalah dari sang Bapa. Semua yang dikerjakan itu bertujuan memuliakan Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus.

Secara tidak langsung, Allah sebagai realitas tiga pribadi nyata dalam bacaan ini. Ada tiga subjek yaitu, Allah bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Ketigaya setara. Atas dasar kenyataan inilah, Allah kita disebut Tritunggal.

Penutup

Pertama, Allah kita adalah Allah Tritunggal. Kita percaya kepada Allah yang memiliki tiga pribadi (Bapak, Anak dan Roh) dalam satu keberadaan (substansi). Tritunggal berarti tiga Pribadi di dalam satu Allah atau di dalam satu esensi diri Allah, ada tiga Pribadi. Ketiganya setara, sehakekat, dan memiliki kekekalan yang sama. Secara substansi dan kuasa dalam Allah Tritunggal tidak dapat dipisahkan, namun demikian juga ada keistimewaan atau perbedaan dalam tiap pribadi. Perbedaannya mengacu pada aktivitas/karya Allah dalam sejarah penebusan terhadap manusia, yaitu bahwa terdapat perbedaan urutan/prosedur dalam masing-masing pribadi Allah tritunggal. Namun ini tidak berarti ada yang lebih unggul daripada yang lain. Karya Allah Bapa nampak dalam penciptaan dan pemilihan umat Israel. Pekerjaan Allah Anak terwujud dalam inkarnasi dan penebusan (keselamatan). Pekerjaan Roh kudus nyata dalam kelahiran baru (pertobatan) dan pengudusan bagi orang percaya. Ketiganya selalu bekerja sama, saling menghormati, saling mendukung. Bagaimana pun, konsep Trinitas tidak sepenuh dapat dijelaskan. Ini membuktikan bahwa Allah itu sebuah misteri yang melampaui segala pikiran kita. Ia Maha Besar yang tak mampu diselami oleh pikiran manusia yang terbatas.

Kedua, persekutuan dan kerja sama yang indah antara Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus mengajari kita tentang pentingnya hidup dalam persekutuan dengan Allah maupun dengan sesama. Hidup kita sudah selalu bersama yang lain. Tak ada orang yang bisa hidup sendiri. Itulah sebabnya manusia disebut makhluk sosial. Yang mungkin adalah bahwa ada orang yang hidup hanya berfokus pada dirinya. Ia hidup bersama banyak orang, tetapi fokusnya adalah dirinya. Maka segala sesuatu hanya untuk dirinya. Melalui inkarnasi, datangnya Yesus ke dunia, kita mau diajak untuk selalu mengarah kepada yang lain, mau hidup berbagi dengan yang lain. Hidup dalam persekutuan.

Siapakah yang lain itu? Yang lain itu tidak hanya horizontal, tetapi juga vertikal. Hidup kita semestiya dalam relasi segitiga: dengan Allah dan orang lain. Hidup rohani yang intim dengan Allah tetapi mengabaikan sesama hanya akan melahirkan kesombongan iman yang bisa berakibat buruk. Lihatlah kehidupan kaum fundametalis, atau para teroris. Mereka kehilangan rasa kemausiaan karena kepicikan. Sebaliknya, relasi horisontal semata tanpa melibatkan Tuhan, dapat mengakibatkan kejahatan juga, sebab Tuhan tidak lagi menjadi dasar nilai perilaku. Kehidupan rumah tangga pun dibangun dengan relasi segitiga. Mengabaikan Tuhan dalam rumah tangga akan menuai petaka.  Oleh karena itu, sebagaimana pesan Yesus tentang saling mengasihi, kita mesti merajut kasih dan hubungan yang akrab dengan Allah maupun dengan orang-orang di sekitar kita sebagai tanda kita adalah anak-anak Allah.

Ketiga, janji Yesus bahwa para murid akan disertai Roh Kudus akan berlaku juga bagi kita. Mintalah selalu Roh Kudus, agar kita dibaharui, diubah, seturut kehendakNya. Kalau kita masih terikat oleh kedagingan seperti dendam, amarah, kebencian, iri hati, pementingan diri, undanglah Roh Kudus untuk bekerja dalam hati kita, agar kita dimampukan untuk membuang semua itu. Kalau ada yang kepala batu, tidak mau ke gereja, dan hidup dalam kejahatan, biarlah Roh Kudus akan menjamah hatinya supaya bertobat.

Undanglah Roh Kudus dalam hati kita agar kita dimampukan untuk melakukan kebaikan dan kebenaran. Teruslah kerjakan pelayanan dan kebenaran sebagai orang percaya walau pun dimusuhi, sebab Roh Kudus akan menolong kita. Keempat, bukalah hati agar Roh Kudus berdiam di dalamnya, agar kita dituntun kepada kebenaran sehingga hidup kita berkenan kepada Tuhan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *