Menata Pelayanan untuk Memperkokoh Persekutuan (2 Tawarikh 17:1-12) – Pdt. Melkisedek Sni’ut

www.sinodegmit.or.id, Orang Kristen yang tekun membaca Alkitab pasti tahu bahwa di dalam Alkitab terdapat beberapa kitab yang berisi cerita yang sama, namun dengan versi yang berbeda. Contoh dari Perjanjian Lama adalah kitab 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-raja serta 1 dan 2 Tawarikh. Di dalam keenam kitab ini terdapat banyak kisah dengan versi berbeda. Mulai dari tiga raja Israel yang pertama (Saul, Daud, Salomo) sampai dengan raja-raja yang terakhir sebelum keruntuhan kerajaan dan pembuangan, baik di Kerajaan Israel Utara maupun Selatan (Kerajaan Yehuda). Sedangkan contoh dari Perjanjian Baru yaitu Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes yang berisi kisah Tuhan Yesus sejak lahir sampai naik ke surga. Selain itu ada juga cerita atau tema yang sama dalam Alkitab namun memiliki perbedaan versi antara satu kitab dengan kitab yang lain.

Mengapa satu cerita harus dikisahkan beberapa kali? Mengapa tidak cukup satu kali saja? Apalagi kalau ceritanya berbeda satu dengan yang lain. Kalau sudah begitu, cerita mana yang paling benar? Apakah ini merupakan bukti untuk meragukan kebenaran Alkitab sebagai kitab suci yang berisi Firman Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa saja mengganggu orang Kristen yang tekun membaca Alkitab.

Perlu kita sadari bahwa Alkitab bukanlah salinan atau foto copy kitab suci yang ada di surga. Tidak. Alkitab adalah kumpulan kitab yang ditulis oleh manusia berdasarkan wahyu dari Tuhan. Kitab-kitab itu ditulis oleh orang tertentu, pada suatu waktu tertentu, dengan bahasa dari suku atau bangsa tertentu, untuk orang atau umat tertentu dan dengan suatu tujuan tertentu pula. Proses penulisannya pun melibatkan pengalaman iman dari penulisnya. Dengan demikian jika ada perbedaan versi cerita dari suatu peristiwa, itu karena pengalaman iman dan tujuan penulisan yang berbeda dari setiap penulis kitab.

Hari ini kita belajar dari kitab 2 Tawarikh. Apa itu Tawarikh? Kata “tawarikh” berarti catatan harian, kronik atau sejarah. Jadi kitab tawarikh punya karakteristik catatan harian atau sejarah.

Kitab 2 Tawarikh merupakan pengulangan dan kelanjutan dari kitab 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-raja serta 1 Tawarikh. Namun kitab 2 Tawarikh menggunakan sudut pandang yang berbeda. Apabila dalam kitab-kitab Samuel dan Raja-raja unsur politik mendapat perhatian yang besar, dalam kitab 2 Tawarikh unsur politik dikesampingkan. Yang hendak ditonjolkan adalah unsur liturgis atau hal-hal yang berkaitan dengan ibadah dan tata ibadah.

Misalnya, ketika bercerita tentang Salomo, penulis kitab Tawarikh menghilangkan cerita tentang pengangkatan Salomo menjadi raja yang terdapat dalam 1 Raja-raja 1 – 2. Namun penulis kitab Tawarikh bercerita panjang lebar tentang pembangunan Bait Allah, perabotan dan pemanfaatannya dalam ibadah (2 Taw. 2 – 7). Atau ketika bercerita tentang raja-raja setelah Salomo, penulis kitab Tawarikh hanya memusatkan perhatian kepada empat raja di Kerajaan Yehuda yang taat dan setia beribadah kepada Allah saja yaitu Asa, Yosafat, Hizkia dan Yosia. Raja-raja yang lain, termasuk raja-raja di Israel Utara tidak disebutkan. Kalaupun ada raja dari Kerajaan Israel Utara yang disebutkan namanya, itu karena ada hubungannya dengan Kerajaan Yehuda. Mengapa penulis 2 Tawarikh mengambil sudut pandang ini?

Hal ini karena pembaca awal kitab 2 Tawarikh telah mengalami akibat dari kehancuran Yerusalem dan pembuangan di Babel. Penulis, bersama umat Tuhan semasanya, juga telah melihat akhir dari pemerintahan dinasti Daud. Kitab 2 Tawarikh ini ditulis lebih dari seratus tahun setelah orang-orang Yehuda pulang ke Yerusalem dari pembuangan di Babel (umat Yehuda pulang dari pembuangan di Babel pada tahun 537 SZB, sedangkan kitab 2 Tawarikh ditulis kira-kira tahun 400 SZB).

Pada saat itu banyak orang yang mempertanyakan hubungan mereka dengan masa lampau atau nenek moyang mereka yang telah mengalami pembuangan ke Babel. Mereka bertanya: “Apakah benar kita masih layak disebut umat Allah?” “Apa arti janji Allah kepada Daud bagi kita?”  Cerita-cerita yang ditulis dalam kitab 2 Tawarikh bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

Jadi penulis kitab 2 Tawarikh hendak menegaskan bahwa rencana Allah tidak terpengaruh dengan pengalaman bencana pembuangan yang telah dialami oleh umat Yehuda. Sekalipun mereka sempat terasing dalam waktu yang lama di pembuangan namun rencana dan janji Allah tetap berlaku. Sebagai manusia umat Yehuda merasa bahwa seluruh harapan mereka telah musnah bersama kehancuran Bait Allah dan Yerusalem. Namun dari sudut pandang iman, itu hanyalah satu tahapan dari penggenapan rencana Allah. Melalui kitab 2 Tawarikh penulis hendak mengobarkan semangat umat Yehuda untuk menjalankan kembali ibadah liturgis dan ibadah karya yang sungguh-sungguh kepada Allah.

Dengan latar belakang ini, mari kita melihat tindakan Yosafat dalam nas hari ini. Seperti yang telah disebutkan di atas, Yosafat adalah salah satu dari empat raja yang disebutkan kitab ini karena melakukan hal yang benar di mata Tuhan. Apa yang membuat Yosafat dianggap hidup benar di mata Tuhan?

Tentu saja karena dia setia beribadah kepada Tuhan. Dia juga mengajak dan mengajar umat Yehuda untuk setia kepada Tuhan. Karena itu dia menyingkirkan semua berhala dari seluruh wilayah kerajaan yang dipimpinnya. Dia pun melakukan perintah-perintah Tuhan. Dengan demikian kita bisa bilang bahwa Yosafat adalah bukti nyata dari tema pemberitaan Firman Tuhan GMIT pada minggu lalu (Minggu, 19 Juni 2022): Kehidupan yang Baik Berawal dari Kesetiaan Beribadah.

Semua kebaikan yang Yosafat lakukan dan teladan yang dia tinggalkan dimulai dari kesetiaannya beribadah kepada Tuhan. Dalam kedudukannya sebagai raja, kesetiaannya itu berdampak luas di tengah-tengah umat yang dipimpinnya. Jadi Yosafat menegaskan kebenaran Firman Tuhan yang sudah kita dengar pada minggu yang lalu.

Namun teladan yang Yosafat tinggalkan, tidak sebatas itu saja. Dia tidak hanya berhenti pada kesetiaan dalam ibadah liturgis. Dia juga menunjukkannya dalam ibadah karya yaitu dalam seluruh kehidupannya. Dalam kehidupan politik, militer, sosial dan keagamaan, juga pribadi dan persekutuan, dia menempatkan Tuhan di pusat dari segala sesuatu.  

Dalam nas ini, kita dapat menemukan setidaknya ada empat hal. Keempat hal ini pulalah yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Pertama,Yosafat adalah pemimpin yang antisipatif dan memiliki skala prioritas (ayat 1-2). Setelah menjadi raja, Yosafat menempatkan pasukan di seluruh wilayah pemerintahannya. Tindakannya ini selain untuk menjaga keamanan, juga untuk menjaga stabilitas politik. Sebab dengan demikian dia dapat menjalankan berbagai program yang menjadi visi dan misinya sebagai raja. Ini menunjukkan bahwa Yosafat punya sikap antisipatif dan tahu tentang apa yang mesti diprioritaskan.

Hal ini merupakan teladan bagi para pemimpin pada masa kini. Entah itu bagi pemimpin dalam keluarga, gereja, masyarakat maupun bangsa dan negara di berbagai tingkatan, harus memiliki sikap antisipatif dan skala prioritas. Tanpa sikap antisipatif maka akan selalu terlambat menyelesaikan suatu tugas atau masalah. Sedangkan tanpa skala prioritas maka semua orang akan bekerja serampangan sehingga tidak memperoleh hasil yang diharapkan.

Saya ambil contoh pemimpin dalam keluarga. Seorang bapak sebagai kepala keluarga, sudah harus mengantisipasi biaya rumah sakit apabila sewaktu-waktu ada anggota keluarganya jatuh sakit. Salah satu caranya adalah dengan menjadi anggota BPJS Kesehatan. Sekalipun pekerjaannya adalah tukang kayu, tukang batu, tukang ojek, petani, nelayan, buruh, pedagang kecil atau yang sejenisnya, tetap bisa menjadi anggota BPJS Kesehatan secara mandiri. Dengan iuran hanya Rp 35.000,-/bulan, dia sudah bisa mengantisipasi biaya berobat bagi empat orang dalam keluarganya untuk mendapatkan pelayanan rumah sakit di kelas III. Tetapi kalau tidak maka ketika ada yang jatuh sakit, biaya berobatnya jauh lebih besar. Akibatnya persekutuan dalam keluarga itu rapuh. Bahkan iman dan keselamatan keluarga itu pun terancam apabila mencari pengobatan ke dukun.

Di sini yang disebut tindakan antisipatif yaitu menjadi anggota BPJS Kesehatan sebelum ada anggota keluarga yang sakit. Sedangkan skala prioritasnya adalah sang bapak mendahulukan pembayaran iuran BPJS Kesehatan daripada membeli rokok, sirih pinang atau moke.Ini hanya salah satu contoh. Masih ada banyak contoh yang lain dalam lingkup yang lebih luas.

Kedua,pemimpin yang hidup menurut kehendak Tuhan pasti disertai dan diberkati Tuhan (ayat 3-6). Inilah Yosafat alami. Dia hidup menurut jejak iman dan perbuatan dari Daud leluhurnya. Dia juga selalu mencari kehendak Allah seperti Asa, ayahnya. Karena itu Tuhan Allah mengokohkan kekuasaannya, selain kekayaan dan kehormatan yang didapat dari umat Yehuda yang dipimpinnya.

Pengalaman Yosafat ini merupakan bukti bahwa hidup bersama Tuhan pasti dipenuhi dengan berkat-Nya. Tentu saja bentuk berkatnya tidak sama. Yang Yosafat peroleh adalah kekuasaan, kekayaan dan kehormatan. Sedangkan bagi kita mungkin bentuknya berbeda.

Dalam konteks keluarga misalnya, pasangan yang mencintai dan setia, keluarga yang harmonis, anak-anak yang sehat dan cerdas, pekerjaan dan penghasilan yang baik, karier dan jabatan yang mentereng dan sebagainya. Dalam konteks gereja misalnya kesempatan untuk beribadah dan menunjukkan identitas diri sebagai orang Kristen dalam di suatu daerah atau negara yang mayoritas beragama bukan Kristen. Dalam konteks masyarakat dan bangsa misalnya kesempatan untuk menjadi pemimpin padahal ada banyak orang yang beranggapan bahwa kita tidak pantas, dan sebagainya.

Ini hanyalah beberapa contoh berkat Tuhan bagi orang yang hidup menurut kehendak-Nya. Selain itu masih ada banyak sekali contoh dari bentuk-bentuk berkat yang diterima oleh orang yang hidup menurut kehendak Tuhan. Apapun bentuknya, yang pasti orang yang hidup menurut kehendak Tuhan pasti terberkati.

Ketiga,pemimpin yang bijaksana akan meningkatkan SDM (Sumber Daya Manusia) dari semua orang yang dipimpinnya (ayat 7-9). Memasuki tahun ketiga di masa pemerintahannya sebagai raja, Yosafat mulai mengarahkan perhatian pada pembangunan Sumber Daya Manusia. Itu sebabnya dia mengutus lima orang pemimpin pemerintahan dan sebelas orang pemimpin agama untuk mengajar semua orang di kota-kota Yehuda. Di sini terlihat bahwa Yosafat tidak hanya membangun infrastruktur (pembangunan fisik). Dia juga membangun suprastruktur (membangun manusianya).

Ini juga merupakan teladan dari Yosafat bagi setiap pemimpin pada masa kini. Sering kali pembangunan di berbagai lingkup hanya difokuskan pada pembangunan fisik saja. Misalnya, gedung gereja yang sudah dibangun, direnovasi lagi karena dianggap sudah tidak representatif atau ketinggalan zaman. Setelah itu gedung yang lain dibangun lagi, direnovasi lagi, begitu terus. Hal ini tidak salah apabila sudah menjadi kebutuhan mendesak. Tetapi pada saat yang sama pembangunan manusia pun tidak boleh dikesampingkan.

Pemimpin dalam keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara mesti menempatkan pembangunan manusia sebagai bagian pokok dari penatalayanan. Sebab yang mengokohkan persekutuan bukan sebuah gedung atau berbagai bentuk infrastruktur lainnya. Yang mengokohkan persekutuan adalah semua orang yang ada dalam persekutuan. Itu sebabnya yang mesti ditata dan dibangun adalah orang-orang yang ada dalam persekutuan tersebut.

Yosafat memberi tugas, baik kepada pemimpin pemerintahan maupun pemimpin di bidang keagamaan, untuk sama-sama mengajar umat. Para pemimpin pada masa kini pun mesti mengajarkan pengetahuan sekuler maupun pengetahuan iman secara seimbang. Sebab apabila salah satu saja yang diutamakan maka akan menghasilkan sumber daya manusia yang timpang.

Dengan kata lain, belajar Firman Tuhan dari dalam Alkitab itu penting. Tetapi belajar sains dan berbagai disiplin ilmu juga penting. Sebab dengan belajar dari Firman Tuhan maka kita akan memiliki panduan iman, etika dan moral ketika mempelajari sains. Sebaliknya, dengan mempelajari sains dan berbagai bentuk ilmu pengetahuan maka akan menolong kita dalam menemukan pekerjaan dan maksud Tuhan yang masih tersembunyi bagi kita.

Keempat, pemimpin yang bijaksana dan takut akan Tuhan akan disegani secara internal maupun eksternal (ayat 10-12). Penulis kitab 2 Tawarikh mencatat bahwa Tuhan membuat Yosafat ditakuti oleh semua kerajaan di sekeliling Yehuda. Bahkan di dalam negerinya pun dia semakin kuat dari waktu ke waktu sehingga menjadi luar biasa kuat. Dengan kekuatannya itu dia membangun benteng-benteng dan kota-kota perbekalan. Hal ini menunjukkan bahwaYosafat tidak hanya memiliki ketahanan politik, militer, sosial dan keagamaan saja. Dia jugamemiliki ketahanan pangan. Dengan demikian Yosafat mewujudkan ketahanan umat secara menyeluruh.

Hal ini pun merupakan salah satu pelajaran penting bagi kita semua. Agar menjadi pribadi dan persekutuan (keluarga, gereja, lembaga maupun organisasi) yang disegani secara internal dan eksternal, pemimpin mesti mampu menata diri dan persekutuan begitu rupa agar memiliki ketahanan secara menyeluruh. Sebab tanpa ketahanan, suatu pribadi atau persekutuan akan mudah dirongrong oleh berbagai kekuatan yang merusak baik dari dalam maupun luar persekutuan.

Kisah tentang Yosafat dalam nas ini menunjukkan pentingnya peranan pemimpin dalam menata pelayanan di berbagai lingkup. Bentuk kepemimpinan memang berbeda satu sama lain. Bentuk kepemimpinan dalam keluarga berbeda satu sama lain. Berbeda pula dengan bentuk kepemimpinan dalam gereja. Berbeda lagi dengan bentuk kepemimpinan dalam pemerintahan dan masyarakat.

Sekalipun demikian, teladan yang Yosafat telah tinggalkan dapat menjadi panduan bagi orang Kristen dalam menata pelayanan di setiap lingkup dan konteks. Apabila hal ini diterapkan secara konsisten maka persekutuan pasti semakin kokoh. Tuhan memberkati kita. Amin. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *