Mathias Van Den Broeck: Pendeta Protestan Pertama Di Nusa Tenggara Timur -Fransisco de Kr. A. Jacob[1]

Gedung Gereja Jemaat GMIT Kota Kupang sekitar 1925 -1930
Sumber: KITLV (Belanda)

www.sinodegmit.or.id, Apabila hari ini anda berkunjung ke kompleks Gereja GMIT Kota Kupang, anda akan menemukan sebuah tulisan di dekat konsistori demikian: “Generasi Pemuda Mathias Van Den Broeck”. Pertanyaan yang muncul adalah siapakah Mathias van den Broeck? Mengapa namanya digunakan sebagai salah satu penanda pada jemaat protestan tertua di NTT ini? Apa perannya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentu saja akan langsung muncul dibenak orang-orang yang pertama kali melihat tulisan tersebut.

Mathias van den Broeck adalah seorang berkebangsaan Belanda. Ia dikukuhkan sebagai pendeta pada Desember 1609 oleh pendeta Herman Faekelius. Dua tahun setelah pengukuhannya (1611), van den Broeck diutus ke Hindia Timur, tepatnya di Ambon. Dengan demikian, van den Broeck merupakan pendeta Belanda pertama yang melayani di Hindia Timur. Sayang sekali, waktu pelayanan van den Broeck di Ambon hanya berlangsung selama beberapa bulan saja (hingga 1612). Ia segera terlibat konflik dengan para pegawai VOC di Ambon. Terlebih lagi ia juga menolak untuk membacakan khotbah yang dibuat oleh Frederick de Houtman, Kepala Benteng Victoria pada waktu itu.[2] Frederick de Houtman menganggap tindakan Van den Broeck sebagai bentuk ketidaktaatan terhadap VOC dan karena itu diputuskan bahwa ia akan dipulangkan kembali ke Belanda.[3] Kendatipun demikian, keputusan de Houtman untuk memulangkan Van den Broeck tidak dilakukan. VOC takut apabila Van den Broeck dipulangkan, maka ia akan memberitahukan pekerjaan VOC di Hindia Timur kepada rekan-rekannya sesama pendeta dan dengan demikian mereka tidak akan berminat lagi untuk datang ke Hindia Timur. Van den Broeck tetap tinggal di Ambon hingga ia dipindahkan ke wilayah pelayanannya yang baru.[4]

Selanjutnya, pada 17 Januari 1613 armada VOC yang dipimpin oleh Apollonius Scotte berhasil mencapai Solor dari arah Ambon. Armada ini terdiri dari dua kapal, yakni kapal “de Veer” dan “de Halve Maen”, serta sejumlah kapal kora-kora. Kedatangan VOC ke Solor merupakan respons atas permintaan sejumlah elit lokal di sana, yang ingin menggulingkan dominasi Portugis. Para elit ini berjanji apabila VOC membantu mereka mengusir Portugis, maka mereka akan membangun hubungan dagang dengan VOC, dan bila diperlukan, mereka juga akan memberi diri dibaptis. Hal ini segera disambut baik oleh VOC, sebab Solor juga merupakan salah satu tempat penjualan cendana di Hindia TImur. Apalagi cendana yang ada di tempat ini dijual dengan harga yang sangat murah.[5]  

Ketika tiba Solor, Armada VOC langsung membombardir benteng Portugis. Pasukan Portugis yang tidak punya cukup kekuatan akhirnya harus mengaku kalah dan segera memindahkan basis mereka ke Larantuka. Penyerahan Solor kepada VOC oleh Portugis secara resmi terjadi tiga hari setelah penyerangan. Peristiwa perebutan benteng ini menjadi penanda awal mula berkembangnya kekuasaan VOC dan masuknya protestantisme di Solor dan Timor.[6]

Di Solor, VOC menemukan orang-orang Kristen Katolik yang ditinggalkan oleh Portugis dan berniat menjadikan mereka sebagai anggota gereja Protestan. Oleh karena itu, VOC segera memindahkan Van den Broeck dari Ambon ke Solor. Selain itu, VOC juga mengutus seorang Ziekentrooster atau Penghibur Orang Sakit[7]  yang bernama Pieter Wynants. Pekerjaan keduanya di Solor tidak membuahkan hasil yang baik. Van den Broeck hanya bekerja selama beberapa bulan sebelum akhirnya dipindahkan ke Kupang (Timor Barat) dan Wynants hanya melayani selama dua tahun (1614-1616) sebelum akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia.

Sama seperti di Ambon, hubungan Van den Broeck dan pegawai VOC yang berada di Solor juga tidak berjalan harmonis. Dalam suratnya yang kemudian dimuat di majalah De Timor Bode, Breijer menunjukkan bahwa masa-masa awal pelayanan Van den Broeck dipenuhi dengan perselisihan antara dirinya dengan Adriaen van der Velde yang pada waktu itu menjabat sebagai komandan benteng di Solor. Oleh karena perselisihan yang terus-menerus terjadi antara kedua belah pihak, maka van der Velde berencana untuk memulangkan Van den Broeck ke Belanda. Akan tetapi, rencana ini dibatalkan karena terdapat permintaan sejumlah penguasa di Timor yang ingin menjadi Kristen. Van den Broeck kemudian dipindahkan ke Kupang.[8] Berikut ini adalah kutipan dari surat Appollonius Schote mengenai perpindahan VOC dari Solor ke Kupang yang kemudian dikutip oleh Breijer dalam tulisannya di majalah De Timor Bode:

“Di Timor beberapa raja, beberapa dari mereka sudah berbicara dengan kami dan mau bekerjasama dengan kita. Mereka memberitahukan kami dan juga menunjuk[k]an persahabatan, dan juga memohon sesuatu yang sangat mereka butuhkan, antara lain raja Kupang mempresentasikan wilayahnya untuk dibangun sebuah benteng, dan bersama dengan semua rakyatnya mau menjadi Kristen, sama yang dulu ia janjikan dulu kepada orang Portugis.”[9]

Van den Broeck tiba di Kupang[10] pada pertengahan tahun 1614. Ama Pono I, penguasa Kupang pada waktu itu, telah berjanji bahwa ia akan memberikan sebidang tanah kepada VOC yang dapat mereka gunakan untuk membangun sebuah benteng. Van den Broeck juga bertemu dengan Ama Pono I dan mempercakapkan mengenai pembaptisannya. Tampaknya Ama Pono I memiliki pengetahuan – walaupun sangat minim – mengenai kekristenan. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah surat pastoral dari pastor Katolik[11] yang ia terus simpan dan tunjukkan ketika bertemu dengan Van den Broeck. Di samping itu, ia juga mengetahui sejumlah ayat dalam Alkitab dan doktrin keselamatan menurut kekristenan.[12]

Menarik untuk dicatat bahwa di Kupang, Van den Broeck menolak gagasan bahwa Injil harus diberitakan dalam bahasa Melayu. Sebaliknya, ia bersikeras bahwa Injil seharusnya diberitakan dalam bahasa masyarakat lokal setempat. Ia bahkan menolak permintaan VOC untuk mengkhotbahkan memberitakan Injil dalam bahasa Melayu. Baginya pemberitaan Injil terhadap masyarakat Kupang menggunakan bahasa Melayu adalah sesuatu yang bertentangan dengan semangat reformasi. Pokok sola scriptura (hanya karna Alkitab) yang selalu dikumandangkan gereja-gereja Protestan seharusnya termanifestasi juga dalam cara mereka memberitakan Injil, yakni menggunakan bahasa milik masyarakat lokal yang ada. Mengenai Van den Broeck, Middelkoop mencatat demikian:

When he [Van den Broeck] was sent to Kupang, he was ordered to make use of the writings in Malay prepared for Church services. But he refused, saying that he did not understand them and was unable to judge whether they were an adequate measn to convey the message. Moreover, he argued that it was incomprehensible why the Gospel was brought in Malay and not in the vernacular. How is it possible, he asked, that we – who are blessed with the scripture in our own language as a result of the reformation – don’t bring the Gospel to these people in their own language.[13]

Menurut kebiasaan pada waktu itu, pelayanan seorang pendeta dan Penghibur Orang Sakit biasanya hanya difokuskan kepada orang-orang Belanda yang tinggal dalam benteng. Dengan demikian, pekabaran Injil kepada orang-orang lokal belum terjadi. Kendati demikian, model ini tampaknya tidak diikuti oleh van den Broeck. Dia juga mencoba memberitakan Injil kepada orang-orang lokal, bahkan berupaya agar pemberitaanya menggunakan bahasa lokal pula.[14]

Sama seperti di Solor, di Kupang Van den Broeck juga tidak bekerja dalam waktu yang lama. Pada 1615 ia mengajukan pengunduran diri dan memutuskan untuk kembali ke Belanda. Cooley menginformasikan bahwa keputusan ini ditempuh oleh Van den Broeck karena ia berulang kali mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan yang dilakukan VOC. Sayang sekali Cooley tidak memberikan informasi lebih detail mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang dihadapi oleh Van den Broeck. Kemungkinan besar karena ia terlibat perselisihan lagi dengan pegawai VOC.[15] 

Menarik untuk dicatat bahwa dokumen-dokumen yang ada menyebutkan Van den Broeck sebagai seseorang yang keras kepala dan suka sekali berdebat. Dalam catatannya, Breijer bahkan menyebutkan bahwa para pegawai VOC yang hidup semasa dengan Van den Broeck menganggap dia sebagai laki-laki yang merepotkan dan menjengkelkan. Inilah yang menyebabkan Van den Broeck selalu terlibat perselisihan dengan para pejabat VOC di tiga tempat pelayanannya yang berbeda (Ambon, Solor, dan Kupang). Kendati demikian, informasi tersebut patut juga diragukan. Benarkah Van den Broeck adalah seseorang yang suka membangkang dan bersifat buruk? Apa yang menyebabkan dia seringkali bertengkar dengan para pejabat VOC? Untuk memahami hal ini, maka kita harus terlebih dahulu memahami hubungan/relasi di antara VOC dan para pendeta yang diutusnya. 

VOC didirikan pada tahun 1602 dan sejak awal pendiriannya, VOC memiliki kewenangan yang tak terbatas untuk mengatur wilayah perdagangannya di Hindia Timur, termasuk dalam hal keagamaan. Oleh karena itu, VOC mengawasi setiap gerak-gerik para pendeta dan penghibur orang sakit yang diutus ke Hindia Timur. Para pendeta ini haruslah menjadi kaki-tangan yang setia dan apabila mereka melanggarnya, maka VOC akan menjatuhkan hukuman. Isi khotbah, jenis nyanyian, jadwal, ibadah, bentuk liturgi, pendirian jemaat baru, dan berbagai hal lainnya yang berhubungan dengan pengembangan Gereja Protestan, selalu berada dalam pengawasan VOC.[16]

Pengekangan ini VOC lakukan demi melindungi kepentinganya. VOC takut jika kebebasan gereja akan berdampak buruk terhadap stabilitas politik-ekonomi yang telah dibangunnya. Karenanya, dukungan VOC terhadap pengembangan Gereja Protestan berbanding lurus dengan dampak pengembangan tersebut terhadap kemajuan politik-ekonomi-nya. Jika pengembangan Gereja Protestan di suatu wilayah berdampak baik terhadap kemajuan VOC, maka VOC akan mendukungnya. Sebaliknya, jika berdampak buruk, maka VOC akan menghambatnya.[17]

Inilah konteks relasi antara agama dan pemerintah ketika Van den Broeck mulai bekerja di Hinda Timur. Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dianalisis bahwa pertengkaran yang sering kali terjadi di antara Van den Broeck dan pejabat VOC disebabkan oleh keengganan atau ketidaksukaan Van den Broeck terhadap intervensi VOC yang berlebihan dalam urusan agama. Sebagaimana disebutkan di atas, salah satu alasan utama pemindahan Van den Broeck dari Ambon ke Solor adalah karena ia menolak untuk membacakan khotbah Frederik Houtman, Kepala Benteng Victoria. Di samping itu, Cooley juga memperlihatkan secara jelas bahwa pada akhirnya Van den Broeck memutuskan kembali ke Belanda sebab ia mendapat tekanan dari pihak VOC.

Demikianlah kisah Mathias van den Broeck, pendeta Protestan pertama yang melayani di Nusa Tenggara Timur. Kendati informasi mengenai pekerjaannya hanya sedikit yang dapat kita temukan, namun dialah yang menjadi pembuka jalan bagi Gereja Protestan di Nusa Tenggara Timur yang hingga kini terus hidup.

KEPUSTAKAAN

Abineno, Johannes Ludwig Ch. “Liturgische Vormen en Patronen in De Evangelische Kerk op Timor.” Ph.D. Disertasi., Rijksuniversiteit Utrech, 1956.

Bere, Priscilla Juniarti. “Tanggung Jawab Gereja Masehi Injili Di Timor terhadap Pendidikan: Suatu Tinjauan Historis terhadap Penyelenggaraan Pendidikan yang Dilaksanakan oleh Yayasan Usaha Pendidikan Kristen (1966-2014)”. M.Th Tesis, Universitas Kristen Artha Wacana, 2018.

Middelkoop, Pieter. “Curse – Retribution – Enmity as Data in Natural Religion, Especially in Timor, Confronted with the Scripture”. Ph.D Disertasi, Rijksuniversiteit Utrecht, 1960.

Breijer, “Satu Dua Hal mengenai Sejarah Zending di Timor”. dalam Kupang Punya Carita: Orang Kupang di sekitar Injil 150 Tahun Lalu, peny. (penerjemah). Ebenhaizer Nuban Timo, 1-27. Salatiga: Fakultas Teologi UKSW, 2017.

Cooley, Frank F. Benih yang Tumbuh XI: Gereja Masehi Injili di Timor. Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi Dewan Gereja-gereja Se-Indoensia, 1976.

De Bruyn, C. A. L. van Troostenburg. De Hervormde Kerk in Nederlandsch Oost-Indie Onder De Oost-Indische Compagnie (1602-1975). Arnhem: H. A. Tjeenk Willink, 1884.

De Bruyn, C. A. L. van Troostenburg. Biographisch Woordenboek Oost-Indische Predikanten. Nijmegen: P. J. Milborn, 1893.

Locher, Gerrti H. P. De Kerkorde der Protestantse Kerk in Indonesie: Bijdrage Tot de Kennis van Haar Historie en Beginselen. Amsterdam: Prukkeru Kampert en Helm, 1948.

[1] Penulis adalah peneliti pada Lembaga Timor Indikator. Sejumlah tulisan yang telah dihasilkan penulis adalah: “Protestantisme dan Gerakan Penghancuran Kebudayaan di Nusa Tenggara Timur”(https://indoprogress.com/); “Gereja Protestan di Timor Barat pada Masa Nederlandsch Zendeling Genootschap, 1820-1860:Suatu Kajian Mengenai Sejarah dan Bentuknya” (Jurnal Theologi in Loco, Volume 3, No. 1, 2021); “Lunat: Tato Tradisional Masyarakat Dawan di Timor Barat” (Jurnal Anthorpos, Volume 7, No. 1, 2021); “Pendidikan Kristen di Keresidenan Timor Pada Masa Nederlandsch Zendeling Genootschap: Suatu Kajian Historis” (Kenosis: Jurnal Kajian Teologi, Vol. 7, No. 2, 2021); “Merayakan Cinta di Sabu: Kisah Cinta Misionaris Jan Kornelis Wijngaarden dan Dina Berg” (https://sinodegmit.or.id);

[2] Pada masa VOC, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Nusantara atau Indonesia, disebut sebagai Hindia Timur (Oost-Indie). Sebutan Hindia-Belanda baru muncul pada awal abad ke-19.

[3] C. A. L. van Troostenburg De Bruijn, Biographisch Woordenboek Oost-Indische Predikanten (Nijmegen: P. J. Milborn, 1893), h. 58.

[4] Breijer, “Satu Dua Hal mengenai Sejarah Zending di Timor”, dalam Kupang Punya Carita: Orang Kupang di sekitar Injil 150 Tahun Lalu, peny. (penerjemah). Ebenhaizer Nuban Timo (Salatiga: Fakultas Teologi UKSW, 2017), h. 8.

[5] B. J. J. Visser, Onder de Compagnie: Geschiedenis der Katholiekie Missie van Nederlandsch Indie, 1606-1800(Batavia: Uitgave G. Kolff & Co, 1934), h. 141-142.

[6] Visser, Onder de Compagnie, h. 141-142.

[7]     Mengenai jabatan Ziekentrooster atau Penghibur Orang Sakit akan saya jelaskan pada bagian selanjutnya. 

[8]     Visser, Onder de Compagnie. h. 142; Breijer, “Satu Dua”, h. 8-10.

[9]     Breijer, “Satu Dua”, h. 11.

[10]    Penting untuk dicatat bahwa Kupang yang dimaksud pada masa VOC adalah sebuah wilayah yang sangat kecil. Pada waktu itu yang disebut sebagai Kupang hanya terbatas pada daerah-daerah yang sekarang berada dalam wilayah administratif Kelurahan Lai-lai Bisikopan, Fatufeto, Bonipoi (bagian bawah), Fointen (bagian bawah), dan bukannya Kupang sebagaimana wilayah administratifnya saat ini. Di sepanjang artikel ini kata “Kupang” yang saya gunakan selalu merujuk pada Kupang dalam bentuknya yang lampau. Oleh karena itu, sebagian pembaca – terutama yang tinggal di Kupang – akan melihat bahwa tempat-tempat yang saat ini masuk dalam wilayah administratif Kota Kupang seperti Penfui, Namosain, dan Merdeka, akan disebut sebagai daerah di luar Kupang.

[11]    Sebelumnya Portugis telah terlebih dahulu membangun kerja sama dengan Ama Pono I dan bahkan mengajari dia pokok-pokok kekristenan sesuai dengan tradisi Gereja Katolik. Kemudian pada tahun 1619, ketika mengetahui bahwa Ama Pono I telah melanggar perjanjian dengan bekerja sama dengan VOC, maka pihak Portugis segera menangkap dan membunuh Ama Pono I. Lih. Hans Hägerdal, Lords of the Sea, Lords of the Land: Conflict and Adaptation in Early Colonial Timor, 1600-1800 (Leiden: KITLV Press, 2012), h. 417.

[12]    Pieter Middelkoop, “Curse – Retribution – Enmity as Data in Natural Religion, Especially in Timor, Confronted with the Scripture” (Ph.D Disertasi, Rijksuniversiteit Utrecht, 1960), h. 36.

[13]    Middelkoop, “Curse”, h. 36.

[14]    Breijer, “Satu Dua”,h. 14-15; Priscilla Juniarti Bere, “Tanggung Jawab Gereja Masehi Injili Di Timor terhadap Pendidikan: Suatu Tinjauan Historis terhadap Penyelenggaraan Pendidikan yang Dilaksanakan oleh Yayasan Usaha Pendidikan Kristen (1966-2014) (M.Th Tesis, Universitas Kristen Artha Wacana, 2018), h. 17.

[15]    Frank F. Cooley, Benih yang Tumbuh XI: Gereja Masehi Injili di Timor (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi Dewan Gereja-gereja Se-Indoensia, 1976), h. 30-31.

[16]    Gerrti H. P. Locher, De Kerkorde der Protestantse Kerk in Indonesie: Bijdrage Tot de Kennis van Haar Historie en Beginselen (Amsterdam: Prukkeru Kampert en Helm, 1948), h. 16-17.

[17]    Johannes Ludwig Ch. Abineno, “Liturgische Vormen en Patronen in De Evangelische Kerk op Timor.” Ph.D. Disertasi, Rijksuniversiteit Utrech, 1956, h. 21.

Visser, B. J. J. Onder de Compagnie: Geschiedenis der Katholiekie Missie van Nederlandsch Indie, 1606-1800. Batavia: Uitgave G. Kolff & Co, 1934.  


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *