Merangkul Keragaman di Jambore VI PAR GMIT 2022

Baa-Rote, www.sinodegmit.or.id, Unu, Dimas, Andre, Imanuel dan Tiara berlainan kampung. Unu dari SoE, Dimas dari Kelapa Lima, Tiara dari Penfui, Imanuel dan Andre dari Alor. Kelima remaja ini bertemu di Rote, bersama 300-an anak dan remaja lainnya dalam rangka Jambore VI PAR GMIT di Baa-Rote, 5-10 Juli 2022.

Sehari sebelumnya, ditemani para guru pendamping, ratusan anak dan remaja GMIT tersebut diberangkatkan dengan kapal dari Pelabuhan Tenau dan Bolok-Kupang menuju Pulau Rote. Gelombang Rossby yang melanda NTT dalam seminggu terakhir memicu gelombang tinggi. Puji Tuhan, tanggal 4 Juli, cuaca agak membaik.

Unu dan Dimas sudah merasakan mulas-mulas waktu menginjakkan kaki di atas kapal cepat di Pelabuhan Tenau. Maklum, kedua anak Timor ini tidak pernah menumpang kapal laut. Belum lagi mesin kapal hidup, Unu keringat dingin dan muntah. Padahal, AC kapal menunjuk 18°C. Dimas juga sama. Saya kenal Unu sejak kecil karena ibunya Pdt. Sutrini Lusi adalah teman SMA dan kuliah. Saya kirim pesan Whatsapp, “Unu tumbang,” dengan tambahan emotikon tertawa. Ibunya membalas, “Harap maklum, sejak kecil Unu naik odong-odong, bukan kapal laut, wkwkwkw.”

Jambore kali ini memang istimewa karena Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmayanti atau yang akrab di sapa Bunda Bintang Puspayoga menghadiri acara pembukaan. Dua bulan sebelumnya, ketika mengunjungi NTT, ia mampir di Jemaat GMIT Kaisarea-Kupang untuk melihat langsung program Gereja Ramah Anak di jemaat tersebut. Saat itu ia berjanji akan menghadiri Jambore Anak GMIT di Rote. Janji itu ia tepati.

Didampingi Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon, Ketua DPRD NTT, Ir. Emi Nomleni, Bupati Rote Ndao, Paulina Haning, Kadis PPPA Prov. NTT, Lien Adriany, dan sejumlah pejabat lainnya, Bunda Bintang Puspayoga antusias menyanyi dan menari bersama anak-anak dalam kebaktian pembukaan yang berlangsung di halaman gedung gereja Jemaat Betania Ba’a. Ia tidak canggung sama sekali mengikuti ibadah Kristen. Bahkan, ia turut menaruh persembahan dalam tangguh kolekte yang diedarkan anak-anak.  

“Nikmatilah Jambore ini dalam kegembiraaan. Seraplah ilmu sebanyak-banyaknya sekaligus perdalam iman kalian. … Jangan lupa hormati orang tua, hormati guru, cintai keluarga, masyarakat, bangsa dan negara,” demikian pesannya kepada peserta Jambore. Anak-anak bertepuk tangan merespon nasihat penuh makna itu. 

Perempuan pertama dari Bali yang menjadi Menteri Kabinet Jokowi ini juga sangat mengapresiasi peran Sinode GMIT dalam upaya-upaya perlindungan anak melalui program Gereja Ramah Anak dan pembentukan Forum Anak Sinode GMIT.  

“Saya berharap di bawah pimpinan Mama Mery, peran dan kontribusi gereja dalam memenuhi hak dan melindungi anak, demikian pula pemberdayaan dan perlindungan perempuan betul-betul semakin dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya dalam sambutan.  

Mengerasnya isu-isu perempuan dan anak baik di Indonesia maupun di NTT, demikian kata Pdt. Mery Kolimon, mendorong GMIT untuk berkomitmen meningkatkan pelayanan gereja yang berorientasi pada kepentingan terbaik dan mendukung partisipasi anak sesuai tumbuh kembang mereka tanpa kekerasan dan diskriminasi. Komitmen pelayanan anak GMIT seperti itu, dilakukan termasuk melalui lingkungan beribadah dan berkegiatan yang menjamin terpenuhinya hak-hak anak.

“Kita doakan Jambore ini menjadi momentum pemulihan anak pasca pandemi dan Seroja. Mencari cara meningkatkan pelayanan anak. Kita bahu-membahu keluar dari ancaman stunting, gisi buruk, putus sekolah, kekerasan oleh dan terhadap anak demi pelayanan gereja yang berdampak bagi pertumbuhan generasi muda, generasi milenial gereja.”

Atas seluruh perhatian pemerintah pusat melalui kehadiran Menteri PPPA, serta semua dukungan dari pemerintah daerah baik Provinsi NTT maupun Kabupaten Rote Ndao, Ketua MS GMIT menyampaikan terima kasih yang tulus.

Entah berapa persis jumlah anak dan remaja GMIT. Namun dengan membandingkan jumlah anggota GMIT yang diperkirakan 1,2 – 1,5 juta jiwa, bisa jadi tiga ratus ribu hingga lima ratus ribu dari jumlah itu adalah usia anak dan remaja. Angka yang sangat besar. Sebuah bonus demografi dan anugerah yang maha penting bagi GMIT, hari ini dan di masa depan.

Oleh sebab itu GMIT, menurut Pdt. Mery, membutuhkan sinergi dengan pemerintah dan stakesholder lainnya untuk bersama-sama memberi perlindungan kepada anak-anak guna membangun masyarakat yang lebih berkeadaban. Dan, Pulau Rote yang menjadi tempat berlangsungnya Jambore ini, lanjut Pdt. Mery, sejak dua abad yang lalu mencatat dalam sejarah bahwa sekolah dan gereja telah menyumbang bagi peradaban di NTT sampai hari ini.

Saya menghampiri Andri dan Imanuel yang asyik bercerita dengan teman-temannya di pojok. Saya menanyakan pengalaman apa yang yang mereka mau bagikan dengan teman-teman lainnya dalam jambore ini.

Tanpa pikir panjang Andri menutur, “Saya mau cerita tentang pengalaman iman saya sendiri. Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Saya punya kakak sulung beda usia dengan saya 8 tahun. Mungkin karena merasa tidak akan punya anak lagi, bapak dan mama saya pergi berdoa di seorang hamba Tuhan untuk meminta Tuhan beri seorang anak laki-laki. Waktu pergi berdoa tanggal 17 Juni 2008. Hamba Tuhan itu bilang, tahun depan bapak dan mama akan punya anak laki-laki seperti yang diminta. Dan benar, saya lahir, 16 Juni 2009.”

Tak mau kalah, Imanuel juga nimbrung dengan ide kreatifnya untuk berbagi pengalaman tentang penghematan air. “Saya mau cerita tentang bagaimana memanfaatkan air beras untuk menyiram tanaman dan pupuk organik. Ini penting karena NTT adalah provinsi kering.”

Hari kedua jambore diisi dengan kegiatan-kegiatan yang mendorong kreatifitas dan minat anak-anak. Mereka dibagi dalam 13 kelas sesuai dengan pilihan minat dan bakat. Ada kelas tari, public speaking, daur ulang, storytelling, matematika alkitab, konten kreatif, sasando, konservasi air, dan lain-lain.

Di kelas tari yang ditutori oleh Kak Eldi Natonis, anak-anak dituntun untuk belajar merasakan fenomena alam, aktifitas sosial, atau aneka gerak tubuh di sekitar mereka seperti gerakan petani menaman atau menuai, gerakan satwa, bahkan gerakan menulis atau membaca. Selanjutnya mereka juga diajak untuk membuat properti tari dari bahan lokal seperti daun lontar dalam waktu 3 menit.  

Kekompakan dan semangat belajar bersama juga tampak di kelas daur ulang. Kelas ini memanfaatkan kain perca dari beragam motif untuk membuat tas handphone, sepatu bekas, dompet, dan lain-lain.

Tiara mengaku sangat menikmati kegiatan-kegiatan pesta iman ini.

“Turun dari kapal, kotong cape, tapi waktu ikut kegiatan langsung kembali semangat,” ucap Tiara, anak PAR Jemaat Ora et Labora Nasipanaf-Penfui.

Di kelasnya, Tiara berbagi cerita seputar isu bullying. Mulai dari pengertian, pencegahan, ciri-ciri anak korban bullying dan sebagainya.  

Pesta iman anak dan remaja GMIT tahun 2022 ini diharapkan dapat menciptakan dan menumbuhkan rasa persaudaraan, persahabatan dan pemulihan. Persis itulah pesan firman Tuhan yang disampaikan Pdt. Samuel Pandie dalam khotbah dari perikop Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang (Yohanes 6).   

“Tuhan Yesus memberi contoh dengan cara merangkul anak-anak yang terpinggirkan dan menempatkan mereka di pusat kehidupan supaya kita orang dewasa belajar rendah hati. Dan melalui Jambore Anak dan Remaja GMIT, kita bertemu dan berbagi sebagai saudara. Anak-anak dari Amanuban Timur bertemu dengan anak-anak dari Alor Selatan. Anak-anak dari Amarasi Timur berjumpa dengan anak-anak dari Kota Kupang Timur. Itulah indahnya persaudaraan.” *** (wantomenda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *