Solidaritas: Lahir dari Kepekaan, dan Melahirkan Kreativitas – Pdt. Gusti Menoh

Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atasnya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring (ay.4)Markus 2:1-12

sumber: sesawi.net

Pengantar

Richard Rorty, seorang Filsuf Amerika menentang para pemikir modern yang menganggap nilai-nilai universal kemanusiaan sebagai dasar solidaritas. Bagi para pemikir modern, kita akan solider dengan sesama apabila kita memiliki pandangan yang sama tentang kemanusiaan. Etika modern dibangun atas dasar pandangan universal tentang martabat manusia yang sangat bernilai. Rorty mengatakan bahwa pandangan yang sama tentang manusia tidak membantu kita untuk menciptakan solidaritas. Pandangan Rorty ada benarnya. Orang-orang Rusia dan Ukraina memiliki banyak kesamaan dari segi ras, budaya dan agama, dan dengan demikian tentu mereka memiliki pandangan yang sama tentang manusia, namun ternyata mereka saling berperang. Mayoritas kedua bangsa itu beragama Kristen Ortodoks, dan karena itu, mereka pasti punya keyakinan yang sama tentang martabat manusia sebagai imago dei (gambar Allah), namun mereka saling membunuh. 

Rorty berpendapat bahwa dasar solidaris bukanlah pandangan universal tentang kemanusiaan, tetapi kepekaan. Kepekaan terhadap mereka yang menderita, yang lapar, yang sakit, yang terpinggirkan, yang terdiskriminasi, yang dilecehkan, yang lemah, yang tertindas, itulah yang membangkitkan rasa solidaritas kita. Dengan kata lain, kepekaan terhadap penderitaanlah yang membuat kita membangun solidaritas. Pendapat Rorty mendapat pembenarannya dalam konteks Indonesia.

Bangsa Indonesia didirikan dari semangat gotong-royong seluruh komponen anak bangsa. Semangat gotong royong itu muncul karena adanya penderitaan bersama. Cukup lama seluruh nusantara dijajah oleh bangsa-bangsa asing. Akibatnya masyarakat sangat menderita. Dalam situasi itu, kepekaan pun muncul. Para warga mulai peka terhadap penderitaan mereka. Kepekaan itu kemudian melahirkan semangat gotong royong untuk mengusir penjajah dan memerdekakan diri.

Itulah sebabnya, ketika bangsa Indonesia didirikan, nilai gotong-royong sangat ditekankan. Sokarno menyatakan bahwa apabila kelima sila dalam Pancasila diperas menjadi satu, maka intisarinya adalah gotong-royong. Presiden pertama itu menekankan bahwa “gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, memeras keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama”. Semangat gotong-royong ini melandasi seluruh perjuangan para pendiri bangsa untuk membangun Indonesia sehingga segala perbedaan dan persoalan yang muncul dapat teratasi dengan baik.

Sayangnya spirit solidaritas dan budaya gotong-royong itu mulai terkikis. Akibatnya saat ini masing-masing pribadi berjuang sendiri-sendiri. Solidaritas antar sesama anak bangsa mengalami krisis. Banyak warga tidak peduli terhadap mereka yang menderita. Berbagai persoalan bangsa kian memburuk karena minimnya solidaritas, kepedulian, dan semangat gotong-royong dalam masyarakat. Sebagai gereja, kita dituntut untuk senantiasa membangun solidaritas dan gotong royong dengan sesama dalam mengatasi berbagai persoalan yang terjadi. Bacaan hari ini adalah contoh bagaimana bersolider dan bergotong-royong untuk menolong sesama yang menderita.

Penjelasan Teks

Dalam bacaan ini Markus bercerita tentang seorang lumpuh yang disembuhkan Yesus di Kapernaum. Sebelumnya Yesus dan para murid-Nya pernah berada di Kapernaum, namun Yesus pergi keluar dan mengelilingi Galilea selama beberapa hari. Ketika Yesus kembali, orang banyak kembali mengerumuni-Nya. Yesus menjadi idola banyak orang waktu itu karena hikmat dan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan-Nya. Banyak orang datang untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Banyak pula yang datang dengan berbagai penyakit untuk disembuhkan. Dikisahkan bahwa ketika Yesus sedang mengajar di sebuah rumah, banyak orang datang sehingga rumah itu menjadi penuh sesak. Tak ada tempat lagi, bahkan di depan pintu sekali pun.

Sementara Yesus sedang mengajar, orang banyak membawa seorang lumpuh kepada Yesus. Orang lumpuh itu digotong oleh empat orang. Keempat orang ini sangat memahami penderitaan sang lumpuh. Mereka peka  terhadap kesengsaraan sesamanya itu. Itulah sebabnya mereka berjuang membawanya kepada Yesus. Tetapi mereka kesulitan memperhadapkannya kepada Yesus karena begitu banyak orang. Akses ke Yesus tertutup oleh kerumunan orang banyak.  Namun hambatan itu tidak menyulutkan niat mereka untuk menolong sesamanya. Mereka peduli dengan orang lumpuh itu. Mereka mengasihi orang lumpuh itu. Ada rasa solidaritas dari keempat orang itu terhadap sesamanya yang lumpuh tersebut.

Oleh karena itu, walaupun ada kesulitan untuk membawanya pada Yesus, mereka tetap berusaha menerjang kesulitan itu. Solidaritas terhadap orang lumpuh itu melahirkan kreativitas. Ada beberapa langkah, pertama, keempat orang itu sangat kreatif. Betapa pun tertutup jalan ke Yesus, mereka mencari jalan lain asal orang lumpuh itu bisa sampai ke hadapan Yesus. Mereka membawa orang lumpuh itu ke atas atap dan membongkar atap rumah tersebut. Atap rumah waktu itu terbuat dari campuran tanah dan jerami. Kita bisa membayangkan kegaduhan yang terjadi akibat ulah keempat orang yang membongkar atap rumah di mana Yesus sedang mengajar. Tentu saja ada bongkahan-bongkahan yang jatuh.

Kedua, mereka bekerja sama. Solidaritas mereka kepada sesamanya yang menderita membangkitkan semangat gotong-royong di antara mereka. Keempat orang ini bahu-membahu menggotong dan menaikan orang lumpuh itu ke atap, membuka atap dan mengantarnya pada Yesus.  Mereka tentu perlu bekerja sama yang baik karena harus berhati-hati menurunkan orang lumpuh itu. Nampak juga bahwa mereka tidak mudah menyerah. Terbukti mereka berusaha menaikan orang lumpuh itu ke atas atap, lalu membuka atap rumah dan menurunkannya ke hadapan Yesus.

Ketiga, walau pun mereka bekerja dalam kesulitan, keempat orang itu bekerja dengan tulus dalam menolong orang lumpuh itu. Mereka tidak peduli siapa yang mendapat penghargaan. Hal itu terbukti di mana dalam kisah ini, nama mereka tidak disebutkan. Mereka tidak berpikir akan dipuji atau tidak. Karena niat mereka semata-mata demi kesembuhkan temannya.

Keempat, Ternyata pula bahwa mereka bertindak atas dasar iman. Keempat orang itu percaya bahwa Yesus sanggup menolong orang lumpuh itu. Yesus adalah anak Allah yang Maha kuasa. Iman itu kemudian melahirkan tindakan solidaritas. Solidaritas itu melahirkan kreatifitas berupa tindakan gotong-royong.  Tindakan gotong-royong itu dinilai Yesus sebagai iman yang nyata, yang kreatif. Sebab sesungguhnya iman hanyalah menjadi iman apabila ia aktif, bila ia terwujud dalam tindakan, bila ia menjadi penggerak dalam kehidupan, bila ia bertindak. Iman membawa mereka mendekat kepada Yesus. Iman membuat mereka menjadi berkat bagi orang lain.

Yesus meresponi iman mereka. Respon atau tindakan Yesus tidak dinyatakan dengan langsung menyembuhkan orang lumpuh itu. Yesus justru mengatakan: “hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni”. Hal ini menunjukan bahwa sekalipun orang lumpuh itu membutuhkan kesembuhkan, Yesus melihat bahwa pertama-tama dan terutama, batin atau manusia batiniah orang itu perlu disembuhkan dan dipulihkan, relasinya dengan Allah perlu dipulihkan. Ia perlu diampuni.

Ia mengampuni orang lumpuh itu terlebih dahulu. Mengapa? Yesus membebaskan orang itu dari belenggu dosa yang menjeratnya. Sebab kuasa dosa mengikat jiwa dan roh orang itu. Pengampunan diberikan agar orang lumpuh itu bebas. Dan itu terjadi saat itu juga. Hal ini membuktikan bahwa Yesus benar-benar Anak Allah yang memiliki otoritas untuk mengampuni dosa manusia dan menyembuhkan orang sakit. Itulah sebabnya Yesus pun bertindak membebaskan orang lumpuh itu. Dan dengan kebebasan itu, Yesus melanjutkan tindakan kedua, yaitu menyembuhkannya. Orang lumpuh itu akhirnya bisa berjalan. Setelah jiwanya merdeka, tubuhnya pun bisa bergerak. Penderitaan orang lumpuh itu berakhir karena ada iman bahwa Yesus sanggup menolongnya, dan adanya rasa solidaritas yang melahirkan kreativitas berupa  tindakan gotong royong dari sesama kepada sang lumpuh itu.

Penutup

 Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk merenungkan sejumlah hal. Pertama, bahwa hidup ini penuh tantangan, persoalan, kekurangan, sakit penyakit, penderitaan, dan lain sebagainya. Apapun itu, bacaan hari ini mengajak kita untuk datang kepada Yesus sebagai yang maha kuasa. Ia akan menolong kita dengan cara-Nya dan tentu seturut kehendak-Nya. Berbagai penderitaan hidup mengajak kita untuk bergantung pada Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa. Kita hanyalah ciptaan yang terbatas sehingga mesti rendah hati untuk memercayakan hidup kepada Allah.

Kedua, persoalan dan teruatama penderitaan sesama merupakan sebuah undangan bagi kita untuk melakukan segala sesuatu untuk menolongnya. Di sekitar kita mungkin ada orang yang tidak bisa makan, atau tak mampu mengganti bajunya, atau tak punya tempat tinggal, atau sedang berbaring di tempat tidur karena sakit. Penderitaan mereka mestinya menggugah nurani kita untuk bertindak. Kita harus peka terhadap mereka. Rasa solidaritas terhadap mereka perlu dibangun. Belajar dari keempat orang yang menggotong orang lumpuh itu, kita mesti peduli kepada mereka yang menderita dan membantu mereka. Ketika melakukan sesuatu pada sesama yang menderita, sesungguhnya kita sudah melakukannya untuk Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya berfokus pada kepentingan diri, dan menutup mata terhadap sesama yang berkekurangan dan menderita.  

Ketiga, ada begitu banyak persoalan sosial di tengah masyarakat dan bangsa ini, seperti masalah penddidikan, kemiskinan, kelaparan, kekeringan, sakit penyakit, konflik sosial, bencana alam, dan lainnya. Terhadap berbagai persoalan itu, dibutuhkan solidaritas diantara kita. Sebagai gereja, kita perlu kerja sama dengan berbagai pihak untuk mencari solusi atas segala persoalan yang ada. Penting untuk kita bergotong-royong untuk mengatasi berbagai masalah yang ada. Kerja sama antara gereja dan pemerintah, antara  sesama warga masyarakat, perlu digalakan untuk menyelesaikan segala macam persoalan dan kesulitan bangsa. Budaya gotong-royong yang ditanamkan oleh para pendiri bangsa perlu digiatkan kembali sehingga segala permasalahan dan penderitaan kita teratasi dengan baik. Perlu gotong-royong dalam bidang ekonomi, pendidian, sosial, budaya, dan seterusnya.

Sejarah membuktikan bahwa seberat apapun penderitaan suatu masyarakat atau bangsa, apabila semua pihak mau bahu-membahu dan bekerja sama, maka beban tersebut akan berakhir. Para pendiri bangsa menunjukkan bahwa betapa pun di awal kemerdekaan, ada banyak kesulitan dan keterbatasan yang dialami, namun dengan bergotong-royong, mereka mampu membangun republik ini dengan baik. Kita perlu bergotong-royong untuk saling menolong, betapa pun kita berbeda agama, suku, kelas sosial, dan lain sebagainya.

Keempat, rasa solidaritas yang mewujud dalam semangat gotong-royong juga perlu digiatkan untuk mencegah terjadinya konflik-konflik sosial di tengah-tengah kita. Sebab apabila gereja atau masyarakat sudah terbiasa bekerja sama, mereka akan saling mengenal dan mengerti sehingga mengurangi ketegangan di antara mereka. Mereka juga bisa menyelesaikan persoalan yang muncul akibat perbedaan-perbedaan di antara mereka. Oleh karena itu, asahlah nurani kita agar selalu peka terhadap penderitaan sesama. Milikilah hati yang peduli pada orang lain. Bangunlah rasa kebersamaan/persaudaraan dengan siapapun.  Biasakanlah bekerja sama dengan orang-orang di sekitar kita agar ketika muncul persoalan, kita sudah terlatih untuk bekerja sama.  Bila hal-hal baik itu kita lakukan, niscaya bangsa kita akan maju. Oleh karena itu, asalah kepekaan nurani, pedulilah kepada penderitaan sesama, bangunlah solidaritas dengan mereka, dan berkaryalah bagi mereka agar mereka pun mengalami kemerdekaan. Tuhan menolong kita. Amin. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *