DFAT Apresiasi Kerja Sama GMIT dan ADRA Dorong Kaum Rentan Vaksinasi Covid-19

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, The Department of Foreign Affairs and Trade/DFAT atau Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia melalui perwakilannya Simon Ernst, mengapresiasi kerja sama pihaknya dengan Majelis Sinode GMIT terkait upaya vaksinasi Covid-19 bagi kelompok rentan.

“Sebuah kebanggaan kami pemerintah Australia dapat bekerja sama dengan Sinode GMIT serta mitra untuk program bersama dalam menanggulangi Covid-19 di NTT,” ungkap Simon dalam kegiatan “Diskusi Interaktif Vaksinasi Covid-19 Bagi Kaum Rentan” yang berlangsung di Aula Serbaguna Jemaat Paulus Kupang, Kamis, (4/8).

Dalam sambutannya mengawali kegiatan diskusi tersebut, ia mengharapkan kerja sama dengan mitra gereja maupun pemerintah ini dapat meningkatkan kualitas implementasi program sehingga masyarakat segera pulih dari dampak pandemi.

Hadir dalam kegiatan tersebut mewakili MS GMIT, Pdt. Emile Hauteas, Ketua UPP Kemitraan dan Hubungan Oikumenis, D’Karlo Purba, direktur program Adventist Development and Relief Agency Indonesia (ADRA), dan Tiurmasari Elisabeth Saragih Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Kupang, serta para peserta diskusi yang berasal dari kaum difabel, lansia, komorbid, transgender dan ibu hamil.

Terkait prospek implementasi program vaksinasi ini, Pdt. Emile Hauteas menjelaskan bahwa sejak penandatanganan MoU pada Maret 2022, tim kerja telah melakukan vaksinasi pada 11 lokasi di kabupaten Kupang dan 8 lokasi di Kota Kupang atau total 19 lokasi.

Tantangan yang dihadapi tim, lanjut Pdt. Emil, salah satunya adalah menurunnya angka penularan Covid-19 yang menyebabkan warga enggan vaksin. Akibatnya, target sasaran program belum maksimal. Dilaporkan hingga Juli, tim kerja telah melakukan vaksinasi kepada 2.175 orang, dimana 704 orang di antaranya kelompok rentan.

Kepada peserta yang hadir, Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Kupang, menegaskan kendati kurva Covid-19 saat ini menurun namun kewaspadaan harus terus ditingkatkan mengingat penyakit ini masih dalam kategori pandemi bukan endemi.

Dalam diskusi interaktif tersebut beberapa peserta mengungkapkan tantangan yang mereka alami dalam mengambil keputusan mengikuti program vaksinasi berkelanjutan.

 

Prima Bahren (38), salah satu peserta dari Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi (Garamin) NTT, menuturkan bahwa awalnya ia ragu mengikuti vaksin lantaran terjebak pada informasi hoax yang memberitakan bahwa vaksin haram karena mengandung enzim babi.

Selain itu, ada pula perasaan takut pasca vaksin seperti yang dialami oleh Afliana Atakai (60), warga Jemaat Paulus, Kupang.

“Ada gejala pada vaksin pertama. Saya rasa pusing, mata gelap, lemas. Jadi saya takut vaksin kedua. Saya konsultasi dan dokter bilang tidak apa-apa. Dan benar, vaksin kedua tidak ada gejala apa-apa.”

Melalui pengalaman tersebut keduanya mendorong kaum rentan agar tidak ragu-ragu mengikuti vaksinasi demi keselamatan diri dan sesama. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *