Warga Bangsa Yang Berhikmat (Pengkhotbah 9:13-18) – Pdt. Jahja A. Millu

sumber:https://www.poskata.com/pena/cerpen-hikayat-si-miskin/

www.sinodegmit.or.id, Kejayaan suatu bangsa ditentukan oleh dua faktor kunci yakni raja dan senjata. Bila raja dan para pemimpinnya hebat, ditambah dengan kekuatan militer yang besar, maka ia akan disegani bangsa lain. Mereka akan dengan mudah menguasai bangsa kecil di sekitarnya untuk memperluas wilayah kekuasaan. Itulah kebenaran umum yang berlaku pada zaman Pengkhotbah. Namun teks seolah hendak mempertanyakan kebenaran ini.

Apakah benar kehidupan hanya menyediakan satu kemungkinan terkait hal ini? Sebab bila anggapan ini benar, maka dunia akan dikuasai oleh prinsip serigala. Manusia akan menjadi serigala bagi sesamanya. Pihak yang berkuasa dan kuat akan selalu menempati puncak rantai makanan.

Untuk menjawab pertanyaan ini, Pengkhotbah menuliskan sebuah kisah. Seorang raja yang besar dengan kekuatan perang yang hebat sedang mengepung suatu kota kecil. Kejatuhan kota kecil ini sudah di ambang pintu. Nampaknya tidak ada jalan keluar bagi kota kecil ini untuk meloloskan diri. Namun tiba-tiba sesuatu terjadi. Di tengah kegentingan ini, tampillah seorang berhikmat yang meloloskan negaranya dari kehancuran. Hikmatnya mampu membebaskan bangsanya dari kekalahan. Keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat karena adanya alternatif lain. Kota kecil ternyata bisa menang perang melawan negara adidaya (ay. 14-15).

Pembalikan keadaan yang tiba-tiba dalam kisah ini hendak menegaskan pandangan Pengkhotbah yang menolak pendekatan satu dimensi tentang kehidupan. Hidup itu multidimensi, malah seringkali sangat kompleks. Kita mesti tetap terbuka terhadap kemungkinan lain, termasuk yang mengecewakan. Pembaca Pengkhotbah diajak untuk merasakan ketegangan antara berbagai peristiwa yang terjadi. Hikmat Pengkhotbah tidak berusaha untuk menghilangkan ketegangan ini, tetapi menggunakannya sebagai pelajaran bahwa itulah keterbatasan manusia di di bawah matahari (Richard A. Fuhr Jr. An Analysis of the Inter-dependency of the Prominent Motifs within the Book of Qohelet. 2013:79).

Ketegangan dalam Pengkhotbah pun dapat berupa rangkaian ketegangan yang silih berganti. Teks kita dengan jelas menunjukkan hal ini. Setelah ketegangan pertama diatasi, muncul ketegangan berikutnya. Si miskin yang menjadi pahlawan bangsa, kini dengan mudah dilupakan. “Tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu,” kata Pengkhotbah. Apakah dengan demikian maka manusia, termasuk orang miskin, berhenti mencari hikmat? Bila kehidupan tidak berlaku adil terhadap orang berhikmat, apa gunanya menambah ilmu?

Jawabannya tentu saja tidak. Ketidakadilan ini terjadi karena persepsi terhadap pihak lain seringkali tidak tepat. Manusia selalu dipandang dari casing (kulit luarnya). Orang miskin, kaum kecil dan lemah, bukanlah mitra yang tepat, apalagi untuk menyelesaikan masalah super genting seperti dalam kisah ini. Pikiran kita selalu tertuju kepada orang-orang terhormat, penguasa dan orang kaya. “Tidak ada orang yang memilih untuk berpikir bahwa kesejahteraan mereka bergantung pada kebijaksanaan dari seseorang dengan status rendah.” (Robert Alter. The Wisdom Books: Job, Proverbs, and Ecclesiastes (New York: W. W. Norton & Company, 2010), 349 – ePub edition).

Teks mengoreksi pandangan seperti ini. Justru masyarakat kecil yang menyelamatkan bangsa dari situasi bencana. Melalui hikmatnya, si miskin mematahkan anggapan bahwa solusi selalu datang dari kelompok prestisius. Sayangnya, model berpikir casing ini telah mengakar kuat dalam masyarakat kita. Itu sebabnya jasa si miskin dengan mudah dilupakan. Meski hikmat sangat bermanfaat, ia pun mengalami ketidakadilan hidup di dunia yang sia-sia. Pengkhotbah menyarankan bahwa kita tidak boleh menggunakan kenyataan ini sebagai alasan untuk mengabaikan hikmat dan hidup dalam kebodohan (Fuhr Jr, 2013:90). Orang miskin harus mengejar dan memiliki hikmat agar mampu mematahkan mitos casing ini.

Teks kemudian menegaskan kembali peran hikmat. Ia dapat menolong manusia untuk melihat akar persoalan yang sebenarnya. Kita selalu mengkambinghitamkan kendala modal, kekurangan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam sebagai biang kerok berbagai persoalan dalam masyarakat. Namun teks ini hendak memberi alternatif terhadap semua asumsi tersebut. Masalah utamanya seringkali bukan situasi yang kita alami, seperti status sebagai negara kecil, terkepung oleh negara besar, serta terancam kalah perang dan hancur. Semua keterpurukan ini ternyata dapat diatasi saat hikmat tampil sebagai panglima.

Aplikasi

Bagaimana seharusnya manusia menghadapi situasi tanpa solusi seperti bangsa kecil dalam teks ini? Guna menjelaskan hal ini, pandangan Crensaw patut diacu. Dia menjelaskan bahwa kitab Pengkhotbah membedakan tiga reaksi manusia terhadap situasi seperti ini, yakni skeptisisme, pesismisme dan sinisme. Saya kutip secara lengkap pandangannya: “Skeptis adalah cara jujur untuk merefleksikan keraguan sambil mempertahankan iman. Ini adalah pendekatan yang jujur terhadap iman yang sejati. Pesimisme, di sisi lain, memungkinkan keraguan untuk menang. Karenanya, si pesimis dikalahkan oleh realitas keraguan yang menindas dan menyerah pada bobotnya (penulis: semakin tinggi bobotnya, semakin mudah menyerah). Sementara sinisme adalah menghina kenyamanan dan kesenangan, mereka menghina segala sesuatu yang ditawarkan kehidupan” (Fuhr Jr, 2013:80-81).

Pengkhotbah menempatkan dirinya dalam aliran hikmat skeptis. Sama seperti semua orang percaya lainnya, Pengkhotbah sering mengajukan pertanyaan terhadap pengaturan Tuhan yang tak dapat ia pahami. Namun sebagai orang berhikmat, ia selalu menimbang pengalamannya dengan firman Tuhan. Melalui hikmat yang takut akan Tuhan, ia menemukan bagaimana orang bijak bereaksi dengan benar terhadap hidupnya (Fuhr Jr, 2013:81). Hikmat Tuhan menolong mereka untuk belajar menghargai ketegangan dalam hidup. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *