Etos Kerja Orang Kristen (Pengkhotbah 9:10-12) – Pdt. Melkisedek Sni’ut

sumber: https://geotimes.id/opini/etos-kerja-kristiani/

www.sinodegmit.or.id, Ada anekdot lama dari Gus Dur begini. Sifat orang-orang dunia ada lima jenis. Pertama, orang yang banyak omong, banyak kerja. Contohnya, orang Amerika dan China. Kedua,orang yang sedikit omong, banyak kerja. Contohnya, orang Jepang dan Korsel. Ketiga, orang yang banyak omong, sedikit kerja. Contohnya, orang India dan Pakistan. Keempat,orang yang sedikit omong, sedikit kerja. Contohnya, orang Nigeria dan Angola. Kelima,orang yang omong lain, kerja lain. Yang ini orang Indonesia.

Orang Kristen termasuk golongan yang mana? Mungkin ada yang bilang orang Kristen Indonesia termasuk golongan yang kelima. Namun bagi saya, kelima golongan ini ada dalam persekutuan Kristen. Jumlahnya saja yang bervariasi.

Biarpun begitu, tidak satupun golongan yang sesuai dengan ajaran Kristus. Yang mendekati ada. Itulah golongan yang pertama: banyak omong, banyak kerja. Orang Kristen adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus melalui kata dan perbuatan. Karena itu mereka mesti banyak omong dan banyak kerja. Tetapi tidak hanya itu. Sebab apabila hanya demikian maka bisa jatuh ke dalam dosa kesombongan.

Iman Kristen meyakini bahwa kerja merupakan bentuk kemitraan Allah dan manusia. Melalui kerja, Allah dan manusia berkolaborasi dalam mewujudkan tatanan dunia baru. Dengan demikian kerja yang dilakukan oleh Allah dan manusia memiliki arah dan tujuan yang sama. Apa itu? Transformasi. Artinya, melalui kerja, dunia harus mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Puncak perubahan itu adalah akhir zaman ketika Tuhan Yesus datang kembali.

Dengan demikian kerja yang semata-mata hanya untuk mengumpulkan uang dan harta tidak sesuai dengan prinsip kerja Kristen. Justru itu adalah bentuk egoisme (mementingkan diri sendiri) dan egosentrisme (berpusat pada diri sendiri). Tentu saja ini bukan kehendak Tuhan. Sebab yang Tuhan kehendaki yaitu melalui kerja semua orang turut serta dalam proses pembaharuan dunia.

Jadi kerja merupakan panggilan Tuhan. Yohanes Calvin pernah berkata bahwa saudagar yang bekerja dengan kesadaran akan penggilan Tuhan lebih beriman dari seorang pendeta. Inilah pemahaman dasar tentang kerja yang mesti dimiliki oleh semua orang Kristen. Dengan pemahaman yang demikian, mari kita memperhatikan Pengkhotbah 9:10-12.

Pada umumnya, kitab Pengkhotbah dikenal sebagai kitab yang berbicara tentang kesia-siaan. Lalu karena itu penulisnya dicap sebagai orang yang pesimis. Seolah-olah semua yang ada di dunia ini akan berakhir sia-sia. Padahal sebenarnya tidak begitu.

Pdt. Eka Darmaputera menyebut kitab Pengkhotbah sebagai kitab kehidupan. Itu karena kitab Pengkhotbah berbicara tentang hidup. Bukan hidup yang terjadi di akhir zaman, melainkan hidup saat ini.

Buku kumpulan Pemahaman Alkitab tentang kitab Pengkhotbah yang ditulisnya berjudul “Merayakan Hidup”. Oleh karena semua yang hidup pasti akan mati maka kehidupan mesti dirayakan. Salah satu caranya adalah dengan memiliki etos kerja yang sesuai kehendak Tuhan. Apa yang dapat kita pelajari tentang etos kerja dari bagian Alkitab ini?

Ada tiga aspek. Pertama,orang Kristen mesti bekerja keras sesuai profesi, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat yang Tuhan berikan (ayat 10). Bagian ini merupakan nasehat agar mengerjakan semua pekerjaan yang dijumpai. Pengerjaannya pun bukan dengan asal-asalan melainkan sekuat tenaga. Untuk itu pertimbangan, pengetahuan dan hikmat mesti digunakan. Jadi bekerja harus sungguh-sungguh. Harus pakai empat “kartus As”: kerja kerAs, kerja cerdAs, kerja IkhlAs dan kerja tuntAs.

Salah satu ciri orang Kristen dalam kaitannya dengan kerja adalah keyakinan bahwa tidak ada pekerjaan yang hina. Semua pekerjaan itu mulia apabila ada kesadaran bahwa itu merupakan panggilan Tuhan. Inilah yang diyakini oleh Martin Luther dan Yohanes Calvin, para reformator gereja.

Pada masa sebelum reformasi gereja di abad ke-16, lingkup kerja di Eropa terbagi menjadi dua. Ada pekerjaan kudus. Tetapi ada pula pekerjaan sekuler. Pemahaman ini dimiliki oleh Bapa-bapa gereja, mulai dari Agustinus sampai Thomas Aquinas.

Bagi mereka ada de vita activa.Ini adalahkerja dalam kehidupan sehari-hari. Nilainya rendah. Dengan demikian orang-orang yang mengerjakannya pun rendah. Sebaliknya, ada pula devita contemplativa. Ini kerja yang suci. Tempatnya di dalam gereja. Nilainya sakral, kudus dan mulia. Karena itu yang mengerjakannya pun dianggap lebih sakral, kudus dan mulia. Konsekuensi dari keyakinan ini adalah para imam di gereja lebih tinggi statusnya dari semua orang.

Pemahaman inilah yang direvisi oleh Luther dan Calvin. Bagi mereka, tidak ada perbedaan dalam dunia kerja berdasarkan kekudusannya. Baik gereja maupun lapangan kehidupan, sama-sama bernilai ibadah dan sama-sama bernilai kerja. Sebab kerja merupakan mandat suci dari Allah ketika manusia pertama kali diciptakan. Allah menciptakan dunia dan isinya dari hari pertama sampai keenam. Pada hari ketujuh Dia berhenti dan menguduskannya. Jadi semua yang Allah lakukan dari hari pertama sampai ketujuh merupakan satu kesatuan.

Inilah yang menjadi teladan bagi orang Kristen. Saat bekerja sesuai profesi, orang Kristen sedang melakukan ibadah karya. Lalu saat beribadah di gereja, orang Kristen sedang melakukan ibadah liturgis.

Jadi semuanya adalah devita contemplativa.Semuanya sakral, kudus dan mulia. Sekali lagi, itu kalau pekerjaan diterima sebagai panggilan agar melaksanakan mandat dari Tuhan untuk mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Ibadah karya dan ibadah liturgis seumpama pertandingan dan time outpada permainan bola volley. Pada pertandingan volley, terdapat lima set.  Dalam satu set, ada 25 poin untuk diperebutkan oleh dua tim yang bertanding. Tim yang lebih dahulu mencapai angka 25, merekalah yang memenangi set itu. Lalu tim yang memenangi lebih banyak set, merekalah yang memenangkan pertandingan. Setiap tim memiliki 6 orang pemain dengan posisi dan tugasnya masing-masing.

Di dalam tiap set terdapat time out. Ini adalah waktu yang diberikan oleh wasit kepada kedua tim untuk beristirahat selama 30 detik (ada yang 1 menit), di bangku cadangan masing-masing. Saat itu pelatih akan memberikan evaluasi, perintah, teguran, pengaturan ulang strategi dan lain-lain kepada para pemainnya agar dapat mencetak lebih banyak angka.

Time outakan diberikan wasit ketika suatu tim telah lebih dahulu mencapai angka 8 dan 16. Di samping itu, time outdapat pula diberikan apabila ada pelatih dari suatu tim yang memintanya. Ketika waktu untuk time outdiambil, penonton tidak tahu apa yang dibicarakan oleh pelatih dan pemain dari masing-masing tim. Tetapi time outdapat memengaruhi situasi pertandingan, bahkan mengubah jalannya pertandingan. Sehebat apapun sebuah tim, mereka butuh time out. Tidak ada tim yang karena dianggap begitu hebatnya sehingga tidak membutuhkan time out.

Hidup orang Kristen seperti itu. Hari Senin sampai Sabtu orang Kristen bertanding di lapangan kehidupan sesuai profesi dan tanggung jawab masing-masing. Hari Minggu orang Kristen time outke gereja untuk mendapatkan evaluasi, teguran, perintah, petunjuk, larangan, penghiburan, semangat dan sebagainya. Semuanya ini diperoleh dari Tuhan melalui hamba-hamba-Nya. Selain hari Minggu, ada juga keluarga Allah yang meminta time outuntuk ibadah syukur, rumah tangga, orang mati dan lain-lain. Ini juga merupakan kesempatan untuk mendengar Firman Tuhan.

Orang Kristen harus menjalani pertandingan sekaligus time out di dunia ini. Tidak bisa kalau hanya salah satunya saja. Sebab orang Kristen yang hanya bekerja terus tanpa waktu istirahat untuk beribadah kepada Tuhan, sama dengan pemain yang bertanding berset-set tanpa time out. Dia akan tumbang sebelum pertandingan selesai karena kehabisan napas atau cedera. Sebaliknya, orang Kristen yang hanya ingin beribadah terus tanpa bekerja, sama dengan pemain yang hanya ingin time outtetapi tidak mau bertanding. Dia akan dipecat dan diusir oleh “Sang Pelatih Agung” sebab tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada tim dan penonton.

Kedua,kesuksesan adalah anugerah Tuhan (ayat 11). Banyak orang yang beranggapan bahwa kesuksesan merupakan buah kerja keras seseorang. Ternyata Pengkhotbah mengingatkan bahwa tidak selalu begitu.

Ada yang menikmati kemenangan dalam lomba padahal bukan yang tercepat. Ada yang unggul padahal bukan yang paling kuat. Selain itu roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas atau karunia bukan untuk cendikiawan. Apa artinya?

Artinya sekalipun seseorang bekerja keras, cerdas, ikhlas dan tuntas namun keberhasilan merupakan anugerah Tuhan. Manusia tidak dapat mengklaim kesuksesan sebagai hasil upayanya semata-mata. Campur tangan Tuhanlah yang membawa kesuksesan.

Dalam buku Institutio: Pengajaran Agama Kristen, halaman 153, Calvin menulis begini: “… kita tidak boleh dengan tamak mencari kekayaan dan kehormatan, sambil mengandalkan lincahnya kecerdasan kita, atau ketekunan kita, ataupun mengharapkan kebaikan orang, atau percaya kepada nasib, bayangan kosong itu. Tetapi kita senantiasa harus memandang kepada Allah, supaya dengan bimbingan-Nya kita dituntun ke masa depan mana saja yang menurut pemeliharaan-Nya ditetapkan bagi kita.”Nasehat Calvin ini mesti menjadi pengingat agar tetap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dengan demikian Tuhanlah yang menuntun kita sesuai kehendak-Nya.

Ketiga,tidak semua hal dapat berjalan sesuai rencana dan harapan (ayat 12). Sekilas aspek ketiga ini mirip dengan aspek kedua di atas. Tetapi sebenarnya tidak. Pada aspek kedua, hanya hasilnya saja yang diserahkan ke dalam keputusan Tuhan. Sedangkan untuk aspek yang ketiga ini, seluruh proses mulai dari rencana, pelaksanaan, hasil maupun evaluasi, semuanya terbuka terhadap campur tangan Tuhan.

Kita ambil contoh HKUP GMIT. Setelah ditetapkan dalam Sidang Sinode ke-34 tahun 2019, harusnya langsung dilaksanakan. Namun ternyata pandemi Covid-19 dan badai Seroja datang menghantam. Akibatnya pelaksanaan HKUP terhambat.

Biarpun begitu ada banyak lompatan kemajuan yang diperoleh melalui bencana ini. Itu semua tentu karena campur tangan Tuhan. Jadi ketika tahun 2022 GMIT “tancap gas” untuk melaksanakan HKUP, ada banyak sumber daya pendukung yang diperoleh selama pandemic Covid-19 dan badai Seroja yang ikut memberikan dukungan.

Kata-kata Calvin dalam buku Institutiohalaman 153-154 penting untuk kembali dikutip: “…kita tidak berlari dengan cara-cara yang tidak diizinkan, dengan tipu muslihat dan kelicikan atau dengan nafsu tamak kita, untuk memburu kekayaan dan mengejar kehormatan dengan merugikan sesama kita. Tetapi, kita hanya mencari harta yang tidak menyimpangkan kita dari kesucian hati. Kita akan dipasangi kekang, supaya kita tidak terbawa oleh nafsu yang keterlaluan akan kekayaan, dan tidak dengan penuh ambisi mendambakan kehormatan. Dan berkat hal itu, kesabaran kita tidak akan hilang jika segala perkara tidak berjalan sesuai dengan keinginan atau harapan kita.”

Yang ingin Calvin katakan adalah orang Kristen mesti terus-menerus melatih diri agar siap menerima semua keputusan Tuhan. Sebab hanya dengan demikian orang Kristen dapat terus bekerja bersama Tuhan.

Ingat, kerja itu panggilan. Karena ituorang Kristen harus bekerja sungguh-sungguh, apapun profesinya. Mengenai hasilnya, serahkan kepada keputusan Tuhan. Kalaupun di dalam prosesnya ada hal-hal yang terjadi di luar harapan, tetaplah sabar sambil terus mencari tahu kehendak Tuhan untuk dijalani.

Inilah tiga aspek yang ada dalam etos kerja orang Kristen. Jadi orang Kristen tidak hanya banyak omong, banyak kerja. Lebih tidak masuk akal lagi kalau ada yang mengaku orang Kristen tetapi omong lain, kerja lain. Yang benar adalah orang Kristen itu harus banyak omong tentang kabar baik, ulet mengerjakan hal-hal yang baik, sungguh-sungguh berdoa, tekun membaca dan mendengar firman Tuhan. Amin. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *