Pengalaman Mengikuti Sidang XI DGD di Jerman – Yuli Benu*

Voting anggota Central Committee WCC, Photo: Albin Hillert/WCC, Oikoumene.org

Karlsruhe, Jerman, www.sinodegmit.or.id, Sidang Raya XI Dewan Gereja Sedunia (World Council of Churches/WCC) dilaksanakan di Karlsruhe, Jerman, sejak 31 Agustus sampai 8 September 2022. Walaupun masih dalam situasi pandemi Covid-19, namun kurang lebih 3500 peserta hadir dalam sidang raya ini. Para delegasi dan peserta sidang datang dari 8 regional wilayah WCC yaitu Afrika, Asia, Karibia, Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Pasifik. Selain gereja-gereja angota WCC, ada juga peserta dari Bossey Ecumenical Institute, steward, Ecumenical Young Gathering(EYG), Ecumenical Disability Advocates Network(EDAN), dan Global Ecumical Theological Institute(GETI). Turut hadir juga undangan dari mitra kerja WCC juga pemerintah.   

Sidang yang dilaksanakan setiap 8 tahun sekali ini mengusung tema Christ Love’s Moves the World to Reconciliation and Unity (Kasih Kristus Menggerakkan Dunia untuk Rekonsiliasi dan Kesatuan). Agnes Abuom, Moderator Sentral Komite WCC dalam sambutannya pada pembukaan sidang mengatakan, “tema ini mengingatkan kita bahwa di dalam kasih Kristus terletak kunci kesatuan kita. Sidang ini adalah sebuah momentum bagi gereja-gereja sedunia untuk merayakan ziarah spiritual bersama dalam memahami kasih Allah yang membaharui hati, pikiran, dan tindakan kita untuk berpihak pada mereka yang terpinggirkan.”

Dr. Agnes Abuom, Moderator Sentral Komite WCC 2013-2022

Dalam laporannya sebagai moderator, Agnes juga menekankan empat alasan mengapa gereja-gereja berkumpul dalam sidang raya di Karlsruhe.

Pertama, kita berkumpul di sini karena kita adalah murid-murid Yesus dari Nazaret itu. Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita terpanggil untuk mewartakan kabar baik pada orang-orang miskin. Belas kasihan-Nya pada orang-orang yang terpinggirkan, perlu dihidupkan dan dinyatakan dalam dunia yang semakin ditandai dengan individualisme dan ketidakpedulian pada mereka yang rentan mengalami ketidakadilan (alam maupun sesama manusia). Ketimpangan sosial yang mengakibatkan penderitaan ini, menunjukkan kurangnya kepedulian dan kasih. Oleh karena itu, keadilan, damai, rekonsiliasi, dan kesatuan adalah kebutuhan yang sangat penting dan mendesak saat ini untuk dilakukan.

Kedua,kita hadir di sini karena kita ada dalam persekutuan yang berbeda-beda sebagai murid-murid Kristus, yang mana persekutuan ini belum sepenuhnya rukun satu dengan yang lain. Jika kita belum sepenuhnya bersatu sebagai gereja-gereja yang utuh, tentu akan sulit bagi kita menjadi saksi untuk menghadirkan misi kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini untuk memutus rantai kekerasan, menghadirkan perdamaian, rekonsiliasi dan kesatuan. Seperti dalam pengakuan iman percaya bahwa kita perlu bertobat dan hadir dalam dunia ini di dalam persekutuan gereja-gereja yang kudus dan am (universal).

Ketiga, kita berkumpul di sini karena kita percaya bahwa sebagai manusia, tanpa memandang perbedaan gender dan warna kulit, diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah dengan memiliki martabat yang setara. Kita juga percaya bahwa Kristus yang hidup, yang kita imani dan percaya itu tidak hanya sebagai kepala gereja, tetapi juga di dalam Dia, kita dibaharui menjadi ciptaan yang baru. Di atas pengakuan itu, kita dipanggil untuk bekerja bersama-sama dengan mereka dari agama atau keyakinan lain yang dengan sungguh-sungguh berkomitmen untuk mengakhiri setiap perang atau konflik, keadilan ekonomi, memulihkan alam yang telah rusak karena keserakahan kita, dan untuk mengupayakan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.

Keempat,kita berkumpul di sini juga untuk merefleksikan ziarah perjalanan WCC dan mandat yang telah dikerjakan selama delapan tahun sejak Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia ke-10 di Busan, Korea Selatan pada 2013 silam. Hasil keputusan sidang yang dihasilkan melalui diskusi, doa, pendalaman Alkitab, dan analisis isu-isu terkini akan dijadikan sebagai pedoman bagi pekerjaan, kesaksian, dan strategi Sentral Komite WCC terpilih selanjutnya sampai sidang raya yang akan datang.

Beberapa agenda harian dalam sidang raya yang dilakukan selama seminggu ini ialah: ibadah, thematic plenary, home group/plenary bible study, Brunnen (workshop, networking zone, exhibition stands, side-event and performances),dan business plenaries.  

Ibadah

Ibadah sebagai Oases of Peace(sumber kedamian) menurut Rev. Prof. Dr. Ioan Sauca merupakan momen spiritual bagi peserta sidang untuk berefleksi melalui doa, nyanyian, mazmur, dan simbol-simbol liturgis yang meneduhkan hati dan jiwa yang lelah, mengingat situasi dunia yang dilanda pandemi Covid-19, kematian, perang, konflik, kekerasan, dan penderitaan.

Ibadah dilakukan pada pembukaan maupun penutupan sidang, begitu juga dilakukan setiap pagi maupun malam hari selama proses sidang berlangsung. Liturgi ibadah yang dipakai dalam ibadah ini juga adalah momen merayakan berbagai tradisi-tradisi gereja seperti Ortodox, Anglikan, Katolik, dan Pentakosta. Lagu-lagu rohani yang dinyanyikan juga mewakili konteks seperti Afrika, Pasifik, Timur Tengah, Asia, dan Amerika Latin.                           

Thematic Plenary

Beberapa tema yang diangkat dalam sesi ini ialah The Purpose of God’s Love for the Whole Creation-Reconciliation and Unity; Care for Creation; Affirming Justice and Human Dignity; Christian Unity and the Churches’s Common Withness.   

Di setiap sesi pembahasan tema-tema ini, gereja-gereja diajak untuk berefleksi tentang artinya persekutuan Kristen dalam kaitannya dengan misi gereja saat ini. Kasih Kristus yang mendamaikan itu memanggil semua orang percaya untuk mengambil tindakan nyata dalam persekutuan dan kesaksian hidup kita yang benar baik bagi sesama manusia maupun alam. Dalam Injil Matius 20:20-28 Yesus mengajarkan murid-murid-Nya tentang kasih dan kerendahan hati dalam melayani. Kasih Kristus menjadi simbol kepemimpinan yang benar, dasar komitmen dalam persekutuan Kristen (Koinonia), kesaksian yang hidup (Marturia), dan panggilan melayani (Diakonia).

Thematic plenary: Care for Creation (1 September 2022)

Sesi ini juga menantang gereja-gereja untuk menguji sejauh mana kualitas persaudaraan dan kebersamaan dalam ziarah iman di dalam Kristus, keberpihakan gereja dalam memperjuangan hak-hak masyarakat adat, menentang kerusakan lingkungan, dan memperjuangan keadilan ekologi.

Berbagai upaya yang dilakukan gereja-gereja untuk menunjukkan kesatuan iman dan persekutuan ekaristi, tidak terlepas dari masalah-masalah perpecahan dalam tubuh gereja. Begitu juga dengan upaya menyuarakan keadilan ekologi saat ini tidak terlepas dari keterlibatan gereja dalam penghancuran budaya di masa lalu.                                            

Kesadaran perlu dibangun dan diingat bersama bahwa persekutuan Kristen dan misi adalah jantung panggilan gereja-gereja (Yoh. 17:21). Kasih Kristus membaharui kemuridan kita dan mengundang kita untuk bersaksi dan terlibat dalam misi pelayanan kasih dan rekonsiliasi. Hal ini membutuhkan pengakuan dan pertobatan tentang apa yang salah di masa lalu, mengembalikan atau memulihkan kondisi alam yang telah rusak, proses pemulihan ingatan-ingatan luka masa lalu dan rekonsiliasi.

Brunnen

Brunnenadalah sebuah istilah dalam bahasa Jerman yang berarti sumur, mata air, dan air pancuran sebagaimana terinspirasi dari cerita Alkitab tentang Yesus dan Perempuan Samaria (Yoh. 4:5-43). Secara fisik, Brunnenmenjadi tempat pertemuan dan sharing, berbagi pengetahuan, menyambut pengunjung, sekaligus bertemu orang baru. Secara spiritual, Brunnenadalah ruang di mana keberagaman, keberadaan, dan harapan menjadi satu; mengembangkan gerakan ekumenis global dan masyarakat sosial; mengumpulkan pengalaman ziarah iman dan ide-ide untuk masa depan gereja. Ada empat program di Brunnenyaitu: workshops, networking zone, exhibition stands, side-event and performances.

Workshop:Workshop ini menyediakan ruang dan kesempatan pada para peserta sidang berkumpul bersama untuk berdiskusi dan mengeksplor tema-tema spesifik. Lebih dari 90 tema diskusi disediakan dalam workshop ini. Beberapa tema dalam workshop ini antara lain:

  • Towards Tax Justice in Latin America

Tema ini membahas tentang ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi sebagai masalah endemik di Amerika Latin. Secara historis, masalah ini adalah warisan kolonial dan juga regulasi dengan paham kapitalis neo-liberal yang diterapkan secara paksa bahkan brutal melalui program-program penyesuaian struktural dari lembaga keuangan global.

Agama dan ekonomi adalah dua aspek yang saling terkait antara produksi dan reproduksi dalam kehidupan. Tapi, agama (teolgi) seringkali absen membicarakan tentang ekonomi. Padahal setiap sistem ekonomi turut memberi pengaruh pada pemahaman teologi tentang manusia dan masyarakat.

  • Promoting Gender Equality, Social Inclusion, Climate Justice, and Women Empowerment through Recycling and Reuse of Resourcesm a case study from Pakistan.

Pakistan adalah negara dengan yang didominasi oleh laki-laki Muslim dan perempuan hidup di daerah pedesaan yang miskin, rentan, dan terpinggirkan. Dalam konteks ini, kerentanan perempuan semakin berlapis karena agama mereka. Kerentanan sosial diperhadapkan dengan kerentanan ekonomi menyebabkan perempuan mendapat upah tidak layak. Tren industri pertanian telah memaksa perempuan-perempuan di desa masuk dalam lingkaran kemiskinan yang sangat buruk.

Society for Peace and Sustainable Development (SPSD) Pakistan bekerja sama dengan International Federation of Rural Adult Catholic Movement (FIMARC International) mengintervensi masalah-masalah tersebut melalui kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan perempuan-perempuan rentan dari desa. Upaya-upaya ini dilakukan untuk mengembangkan sebuah model pemberdayaan ekonomi yang berputar dengan memanfaatkan sampah-sampah yang bisa didaur ulang untuk bisa digunakan kembali agar mengurangi dampak krisis lingkungan. Perempuan-perempuan ini juga mengupayakan pemberdayaan ekonomi melalui pertanian organik dengan memanfaatkan lahan di sekitar tempat tinggal mereka.   

  • Ending Statelessness to Uphold Every Human’s Equal Dignity; Faith Imperatives for a Gender-Focused Media Watch; Actions from Various Perspectives.

Tema ini membahas tentang penduduk yang tidak memiliki/kehilangan status kewarganegaraan. Ketiadaan status kewarganegaraan bisa terjadi pada orang perorangan maupun komunitas (anak, perempuan, masyarakat adat) mengakibatkan mereka menjadi orang-orang yang terpinggirkan dalam masyarakat.        

Kekerasan, dan diskriminasi baik dari Negara maupun masyarakat menjadi batu sandungan bagi upaya pemenuhan hak-hak asasi mereka seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pekerjaan. Ketidadaan status kewarganegaraan juga membuat mereka mudah terjebak dalam mafia perdagangan orang. Dalam konteks ini, gereja terpanggil untuk hadir bersama mereka yang terpinggirkan dalam komunitas masyarakat karena ketiadaan status kewarganegaraan. Gereja hadir bersama mereka untuk menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami.

Network Zone: Mirip dengan workshop, namun di Networking Zone ruang interaksi bagi peserta lebih hidup dan dinamis. Beberapa aktivitas yang disediakan di ruang ini seperti book launch (Let the Waves Roar, Christian Perspectives on Human Dignity and Human Rights) di mana peserta bisa bertemu langsung dengan para penulis untuk berdiskusi; Out of the Shadow (Campaign-Eliminating violence against children), sebuah upaya merespon kekerasan seksual terhadap anak dan eksploitasi; Youth, Hatred, and Phobia in the Digital Era(panel diskusi yang membicarakan tentang kekerasan dan fobia di internet oleh anak-anak muda berkaitan dengan kebebasan berekspresi); Migration and Life (mengangkat topik interseksionalitas dalam isu migrasi terkait dengan krisis perubahan iklim, ketidakadilan ekonomi, rasisme, dan HIV).

Panel diskusi/Oikoumene.org

Exhibition stands

Stan pameran menjadi ruang bagi masing-masing gereja, organisasi/komunitas, patner ekumenis, jaringan, dan anggota WCC untuk berbagi informasi tentang kerja-kerja yang sedang dilakukan di masing-masing konteks melalui foto-foto, cerita, flayer, benda-benda yang memiliki nilai budaya. Ada sekitar 20 stan pameran dalam siding ini. Setiap peserta yang berkunjung ke setiap stan mendapatkan informasi dan pengalaman baru.                                                                                                                             

Side-event and performances:Setiap perserta sidang diundang untuk menyaksikan penampilan atau pertunjukan musik oleh anak-anak muda, pertunjukan budaya, konser, seni visual, dan ruang untuk diskusi. Setiap peserta yang mengambil bagian dalam ruang ini juga diberi kesempatan untuk mengeksplor lebih jauh tema-tema diskusi dalam sidang, sesi berbagi informasi dan pengalaman bersama serta menjadi panggung untuk pertukaran budaya.

Business Plenaries:Dalam setiap rapat pleno selama proses sidang, anggota sentral komite WCC melaporkan hasil kerja mereka sejak 2013 sampai 2022 berkaitan dengan nominasi, keuangan, program kerja, referensi kebijakan, pesan/publikasi/pernyataan, dan isu-isu publik mewakili 8 wilayah anggota WCC. Sentral Komite ini mengusulkan delapan isu publik yang dijadikan bahan diskusi dalam sidang ini yaitu:

  • War in Ukraine: Peace and Justice in Europe Region;
  • The Living Planet: Seeking Just and Sustainable;
  • The Things that Make for Peace: Moving the World to Reconciliation and Unity;
  • Justice and Peace in the Holy Land: Preconditions for Future of Christian Communities and Social Cohesion in the Middle East;
  • Christian Witness and Action for Human Dignity and Human Rights;
  • Confronting Racism and Xenophobia: Overcoming Discrimination, Ensuring Belonging; Global Health and Wellbeing;
  • New and Emerging Technologies’ Ethical Challenges.            

Dalam pembahasan dan presentasi tema-tema ini yang dilakukan oleh anggota komite sidang meminta pada para delegasi untuk memberikan kontribusi berupa pemikiran-pemikiran yang positif, kritik, masukan, serta usulan berkaitan dengan tema-tema di atas tersebut sesuai dengan konteks lokal masing-masing peserta.

Kepengurusan WCC yang Baru

Pdt. Dr Henriette Hutabarat-Lebang (Asia), Rev. Dr Angelique Walker-Smith (North America), Rev. François Phiaatae (Pacific), Rev. Dr Rufus Okikiola Ositelu (Africa), H.E. Metropolitan Dr Vasilios of Constantia – Ammochostos (Eastern Orthodox), Rev. Philip Silvin Wright (Caribbean and Latin America), Rev. Dr Susan Durber (Europe). Yang tidak ada dalam photo ini: H.H. Catholicos Aram I (Oriental Orthodox). 

Rev. Prof. Dr. Ioan Sauca, Sekertaris Jendral WCC mengatakan bahwa sidang raya ini tidak hanya menjadi ruang untuk merayakan ziarah gereja-gerja dalam keterlibatannya mengerjakan misi untuk keadilan dan perdamaian, tapi juga menjadi ruang pengambilan keputusan tertinggi bagi WCC. Pada, 5 September 2022, 8 presiden WCC terpilih untuk wilayah Afrika, Asia, Karibea, Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Pasifik. Mandat yang diemban oleh 8 presiden terpilih ini adalah bekerja mendukung kerja-kerja ekumenis WCC di wilayah di mana mereka akan memimpin. 

Pada 6 September 2022, terpilih 150 orang anggota sentral komite WCC mewakili 8 regional WCC yaitu Afrika, Asia, Karibea, Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Pasifik. Untuk wilayah Asia, 5 orang anggota sentral komite terpilih berasal dari Indonesia. Mereka adalah Rio Alexander Dodokambey dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Dr. Fransina Yoteni dari Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKITP), Pdt. Dr. Mery Kolimon dari Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Karen Erina Puimera dari Geeja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB), dan Pdt. Dr. Robinson Butarbutar dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). ***

*Relawan Pandu Sidang XI DGD di Jerman, asal GMIT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *