GMIT Menari Dalam Lingkaran Ekumenes Global – Pdt. Mery Kolimon

Peserta Sidang Raya Eukumindo di Utrecht, Belanda.

Hidup adalah Tarian

www.sinodegmit.or.id, Menari seringkali diasosiasikan dengan sukacita. Dalam pesta-pesta nikah, ulang tahun, panen, dan berbagai peristiwa membahagiakan lainnya, orang menari. Ada tarian individu, ada juga tarian kelompok. Di pesta sukacita, semua yang menari membaur dalam kegembiraan bersama. Semua wajah berseri, senyum dikulum, hati senang. Namun ada juga suku-suku tertentu di NTT, seperti di Pulau Rote orang menari dalam kedukaan.  Saat menjadi vikaris di Thie (Rote Barat Daya), beta melihat orang menari saat duka. Gong dan tambur tetap dibunyikan dengan irama yang sama, namun dengan syair-syair yang sedih. Orang menari dalam pilu, untuk menghibur yang berduka dan kehilangan.

Ada juga tarian yang bersifat meditatif. Meski di acara-acara sukacita, ibu-ibu di kampung-kampung di Timor, menari dengan wajah datar, tak terbaca bahasa hati. Tangannya meliuk dengan selendang di pundak. Seperti berbicara dengan diri sendiri, bergerak sendiri seirama bunyi gong, pergi ke dalam batin, berjalan jauh ke kedalaman jiwa.

Metafora menari beta pakai di sini untuk mengungkapkan dinamika kehidupan. Hidup seperti tarian. Hidup adalah tarian. Ada gerakan ke atas, ada gerakan ke bawah, ada gerakan ke samping kiri dan kanan, ada meliuk, ada melompat, menyentuh tanah, menengadah ke langit, membungkuk, menoleh ke kiri dan ke kanan, mendekap, menghalau, jatuh, bangun, maju, dan mundur.

Hampir satu bulan kami mendapat kesempatan mengambil bagian dalam tarian ekumenes global. Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia (DGD). Agenda delapan tahun sekali yang mestinya diselenggarakan tahun 2021 yang lalu tertunda karena ancaman pandemic Covid-19. SIdang ini berlangsung pada 31 Agustus 2022 sampai dengan 8 September 2022 di Karlsruhe, Jerman. Sebelumnya Sidang ini didahului dengan prasidang raya selama 2 hari untuk empat kelompok: keadilan gender, pemuda, penyandang difabilitas, dan masyarakat adat. Selepas sidang raya DGD, kami mengunjungi mitra GMIT, Mission 21, di Basel Swiss. Selanjutnya kami memenuhi undangan untuk mengikuti Sidang Raya Eukumindo, 15-18 September 2022 di Utrecht Belanda.

Kasih Kristus Menggerakkan: Tema Sidang Raya

Sidang ini merefleksikan kehidupan gereja. Semua mengakui bahwa gereja-gereja bersidang di masa yang sulit. Krisis karena pandemi Covid-19 belum selesai, dunia kini menghadapi krisis baru akibat dampak perang di Eropa Timur, antara Rusia dan Ukraina. Persidangan dibayangi oleh kekuatiran krisis gas bagi seluruh Eropa, terutama pada musim dingin nanti. Tema sidang raya adalah “Kasih Kristus Menggerakkan Dunia kepada Perdamaian dan Kesatuan”.

Delegasi GMIT yang berhak suara terdiri dari tiga orang: Pdt. Mery Kolimon (Ketua Majelis Sinode/MS GMIT), Pdt. Yusuf Nakmofa (Sekretaris MS GMIT), dan Nona Anie Pili Roboh (wakil pemuda GMIT). Selain yang berhak suara, ada juga peninjau, yaitu Pak Fary Djemi Francis (Anggota MS GMIT) dan Pdt. Jacob Niap (Ketua Majelis Klasis/KMK Amarasi Timur). Di samping itu ada Pdt. Astrid Lusi yang mengikuti Global Ecumenical Theological Institute (GETI), yang merupakan bagian dari Sidang Raya, dan Nona Yuliana Benu yang menjadi pandu sidang. Jadi jumlah seluruh anggota GMIT yang mengikuti persidangan ini adalah tujuh orang. Enam orang dibiayai penerbangan internasional dan akomodasi serta konsumsi oleh DGD, sedangkan satu orang membiayai diri sendiri.

Peserta sidang DGD dari GMIT

Sidang dibagi dalam beberapa bagian setiap hari, yaitu ibadah bersama, pembahasan tema dari berbagai perspektif, pembahasan dalam kelompok, pendalaman Alkitab, sesi persidangan (business plenary), percakapan ekumenes (ecumenical conversation) dan ibadah malam.  Di sekitar persidangan ada ruang-ruang perjumpaan antar berbagai badan ekumenes internasional, yang disebut networking zone(ruang membangun jaringan). Selain itu ada tenda-tenda yang disediakan sebagai ruang kesaksian berbagai badan ekumenes nasional, regional, dan internasional. Ruang-ruang perjumpaan itu juga disebut Brunnen, yaitu kata dalam bahasa Jerman yang berarti sumur. Di sumur orang berjumpa dan berbagi kisah hidup. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) juga mendapat satu tenda yang mempresentasikan pelayanan MPH PGI dan gereja-gereja anggota. Kami dari GMIT menitipkan sejumlah selendang dari jemaat-jemaat GMIT dan tas tenun hasil karya kelompok purna migran yang didampingi BPAPE GMIT.

Delegasi GMIT membagi diri saat peserta persidangan dibagi dalam beberapa kelompok. Saya dan Nona Anie Pili Robo bergabung di kelompok percakapan tentang diakonia ekumenis. Setiap hari kami mendapat kesempatan untuk belajar tentang apa itu diakonia. Suatu bahan yang disediakan oleh DGD menjadi rujukan percakapan. Bahan yang kuat pendasaran teologisnya itu menuntun gereja-gereja di seluruh dunia untuk memahami diakonia secara utuh, terkait tugas-tugas gereja di bidang sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan hidup. Selain itu saya bergabung dalam kelompok kerja nomor delapan untuk berbagi pemahaman Alkitab dan pengalaman iman masing-masing gereja.

Saya juga mendapat kesempatan untuk berbagi dalam suatu percakapan khusus yang diselenggarakan oleh Act Alliance dan mitra-mitranya. ACT Alliance sendiri adalah aliansi global yang terdiri lebih dari 145 gereja dan organisasi terkait di lebih dari 120 negara. Organisasi ini didedikasikan untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi orang miskin dan terpinggirkan. Saya diminta untuk panel bersama Dr. Humberto Martin Shikiya dari Argentina dan Sekretaris Umum Act Alliance, Rudelmar Bueno de Faria. Saya diminta berbagi perspektif mengenai diakonia ekumenes dari pengalaman GMIT menghadapi Covid-19 dan bencana Seroja. Di kesempatan itu saya menegaskan bahwa pada tempat paling pertama, diakonia adalah tindakan belas kasih Allah sendiri. Allah mendengar jeritan orang yang tertindas. Dia mendengar suara mereka yang dianiaya dan mengambil tindakan untuk memberdayakan mereka. Tuhan memberi mereka energi kehidupan, energi perlawanan, kekuatan untuk bertahan hidup dan mengatasi penderitaan dan kejahatan. Seperti ketika Tuhan mendengar seruan orang Israel di Mesir, Tuhan memanggil Musa, Miriam, dan Harun, memberdayakan mereka, untuk membawa bangsa itu keluar dari perbudakan. Diakonia pertama adalah tindakan kasih Tuhan kepada dunia, manusia dan seluruh ciptaan. Ketika Tuhan mendengar Hagar dan Ismael menangis meminta air dan makanan di padang pasir, Tuhan memberi mereka jalan keluar. Tuhan ada bersama para korban, mendukung mereka, memberi mereka kekuatan untuk berjuang keluar dari situasi yang menghancurkan martabat dan harga diri mereka.

Percakapan dengan Act Alliance.

Dengan cara ini saya memahami diakonia ekumenis sebagai yang holistik dan kosmik. Sering kali, gereja menganggap tugasnya hanya berdoa saat bencana terjadi. Doa sangat penting dan gereja harus sangat serius dalam doa mereka, tetapi mereka tidak boleh hanya berhenti di situ. Gereja harus merangkul pelayanan holistik, bekerja dengan pihak lain, dengan orang dan organisasi dengan niat baik untuk memberikan harapan kepada orang yang membutuhkan, menangani seluruh aspek kehidupan. Terutama penting untuk menegaskan bahwa gereja harus hadir di arena publik, terlibat dalam keprihatinan masyarakat, mencoba memahami apa yang terjadi dan mengapa itu terjadi. Selanjutnya gereja mengambil tindakan, baik berdasarkan pemahaman yang baik atas kenyataan yang dihadapinya, maupun berdasarkan pengertian yang tepat dari Alkitab dan sumber-sumber Kristiani lainnya tentang tugas gereja demi berpartisipasi dalam misi Allah untuk keselamatan seluruh ciptaan.

Persidangan umumnya memakai bahasa Inggris. Disediakan juga penerjemahan ke dalam beberapa bahasa, antara lain Perancis, Spanyol, Jerman, dan Indonesia. Beberapa kawan dari Indonesia membantu peserta yang kesulitan memahami percakapan dalam bahasa Inggris. Panitia menyediakan alat bantu terjemahan yang sangat bermanfaat bagi kebanyakan peserta sidang.

Selama persidangan peserta dari Indonesia menginap di beberapa hotel yang disediakan panitia. Kebanyakan kami menginap di hotel yang bernama Radison Blu di daerah Etlingen, sekitar 20 menit dengan bus jaraknya dari tempat persidangan di pusat kota Karlsruhe. Setiap pagi jam 7.30 semua peserta dijemput bus khusus yang disiapkan panitia dan akan diantar kembali pada jam 9 malam. Peserta bisa juga naik bus umum lalu berganti naik trem/kereta api ke tempat persidangan. Waktu tempuh bisa lebih dari satu jam jika memakai kendaraan umum. Baik untuk bus yang disiapkan panitia, maupun untuk kendaraan umum peserta tidak membayar. Semuanya ditanggung oleh panitia dan pemerintah setempat. Pilihan yang lain adalah memakai taksi dengan membayar sendiri. Biayanya sekitar 20 euro, kurang lebih tiga ratus ribu rupiah.

Salah satu sesi yang juga penting adalah kebaktian minggu dan kunjungan ke jemaat-jemaat. Kelompok kami mendapat kesempatan untuk berkunjung ke suatu jemaat di perbatasan antara Jerman dan Perancis. Selepas kebaktian minggu di salah satu gedung gereja di perbatasan kedua negara, yang dipimpin bersama oleh pendeta dari Jerman dan Perancis, kami mengunjungi kebun-kebun anggur yang indah di batas kedua negara itu. Selepas makan siang di daerah pegunungan, kami didampingi untuk berjalan kaki sekitar tiga kilo meter menyusuri perkebunan anggur yang sedang ranum buahnya. Tumpukan buah anggur beraneka warna (hijau, merah, merah muda, hitam, dan ungu) bergelantung di perkebunan sejauh mata memandang. Kami boleh memetik sesuka hati untuk mencicipinya. Namun juga diingatkan untuk tidak makan terlalu banyak agar tidak sakit perut. Di tempat makan siang kami boleh mencicipi minuman anggur yang segar. Di bawah matahari yang bersinar cerah, kami syukuri pengalaman yang sangat indah itu.

Pemilihan Komite Sentral DGD adalah salah satu tugas persidangan ini. Bersama empat kawan lain dari Indonesia, saya terpilih sebagai salah satu anggota Komite Sentral. Jumlah keseluruhan Komite Sentral adalah 150 orang yang terpilih mewakili berbagai wilayah dunia dan tradisi gereja. Komite ini berfungsi sebagai badan pengatur utama DGD sampai sidang raya berikutnya. Komite Sentral bertemu setiap dua tahun dan bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan yang diputuskan di Sidang Raya, serta meninjau dan mengawasi program dan anggaran DGD. Selanjutnya dari 150 orang dipilih 25 anggota Komite Eksekutif. Dari Indonesia terpilih Nona Karen Pumeira dari GPIB sebagai anggota Komite Eksekutif yang biasanya bertemu dua kali setahun. Moderator DGD periode ini adalah Pdt. Dr. Heinrich Bedford-Strohm, Ketua Sinode Gereja Lutheran Injili di Bavaria, Jerman. Sudah menjadi tradisi ekumenes bahwa moderator DGD adalah salah satu ketua sinode dari tuan dan puan rumah sidang raya.

 

Ibadah penutupan sidang sekaligus perhadapan Komite Sentral.

Makanan yang Sederhana, Ibadah yang Indah dan Kaya

Ini pengalaman kali kedua saya mengikuti sidang raya DGD. Pengalaman pertama adalah saat persidangan di Busan, Korea Selatan, 2013 yang lalu. Saat itu saya diminta oleh PGI menjadi penerjemah bagi peserta sidang. Suasana persidangan di Korea dan Jerman berbeda, khususnya terkait pengaturan konsumsi bagi peserta. Di Busan, semua peserta sidang dibagikan semacam kartu ATM dan boleh memilih makanan apa saja dari kedai-kedai makanan yang tersedia di arena sidang. Peserta di Busan boleh memilih makanan Asia dari berbagai negara. Ada pula western food/makanan Eropa untuk mereka yang lebih suka makanan itu.

Tentu tak mudah untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi peserta sidang yang jumlahnya kurang lebih 4000. Apalagi Eropa sedang ada dalam keprihatinan besar akibat perang di Ukraina.  Pemerintah, gereja, dan masyarakat sedang berusaha membantu pengungsi dan pencari suaka dari berbagai negara yang masuk Eropa, terutama pengungsi dari Ukraina.

Di meja-meja makan di Karlsruhe tak ada banyak pilihan makanan. Yang terhidang di meja makan cukup sederhana: Rebusan macaroni yang diberi saus tomat dan daging; atau roti dengan isi keju atau daging dan sayur; kentang rebus dengan sosis. Semuanya sudah dibagi di masing-masing piring seperti untuk anak asrama. Makanan utama itu dilengkapi dengan yoghurt dan sayuran di gelas-gelas kecil untuk tiap-tiap orang. Setiap jam makan tersedia pula teh dan kopi panas. Kami duduk di bangku-bangku panjang dan makan menu yang sama. Kaya, miskin, putih, hitam, kuning, coklat, saudara dalam satu keluarga besar ekmenes menikmati makanan sederhana itu setiap hari.  Setelah beberapa hari makan yang sama sejumlah kawan dari Indonesia menyerah dan mencari nasi di restoran Asia di kota itu karena hampir tak lagi bisa menelan makanan Eropa yang selalu sama.

Bagian yang paling menyenangkan bagi saya adalah ibadah. Sepanjang persidangan, ibadah ditata dengan apik, menampilkan berbagai tradisi liturgis gereja-gereja anggota. Nyanyian dan doa ditampilkan dalam berbagai bahasa. Doa Bapa Kami diucapkan dengan bahasa masing-masing. Saat Doa Bapa Kami diucapkan perlahan dalam berbagai bahasa, seperti mengalami peristiwa Pentakosta: Murid-murid Yesus berbicara dalam berbagai bahasa. Di saat ibadah, ada momen perenungan diri yang membawa peserta ibadah ke perjumpaan dengan Tuhan dalam keharuan dan kesedihan, tangis tak dapat dibendung, air mata tumpah di hadapan Sang Pemilik Hidup. Ada pula bagian ibadah dengan musik dan lagu yang membuat tubuh melompat dalam suka, menari dengan luapan kegembiraan untuk Dia yang Menuntun Hidup. Para pemandu ibadah mempersiapkan diri sungguh-sungguh. Kami merasa diberkati dengan ibadah yang indah dan kaya. Bahan-bahan persidangan raya DGD itu dapat diunduh pada website DGD.

Kunjungan ke Mission 21, Mitra GMIT di Basel, Swiss

Selepas persidangan DGD, kami berempat berkunjung ke Swiss. Pak Fary Francis melanjutkan perjalanan ke bagian Eropa yang lain untuk tugas kedinasannya. Salah satu mitra GMIT yang mulai menjalin kerja sama dengan GMIT sejak 2018, yaitu Mission 21 (M21), berkedudukan di Basel. Saat mengontak pengurus di sana memberitahukan kunjungan kami, mereka sangat terbuka dan menyambut dengan gembira. Apalagi saat kunjungan kami bertepatan dengan dimulainya kampanye M21 untuk mendapat dukungan dari jemaat-jemaat di Swiss bagi pelayanan mereka di Asia Tenggara. Penginapan dan konsumsi kami selama di Swiss ditanggung oleh M21. Kami diminta untuk turut bersama dalam acara di jemaat-jemaat tersebut dan menceritakan pelayanan GMIT bersama M21.

Di depan gereja St. Johannes di Zurich. Ada papan dengan pengumuman tentang Rumah Harapan GMIT.

Untuk itu kelompok kami dibagi dua.  Pak Sekretaris MS dan Nona Anie pergi ke Basel, saya dan Pdt. Yapi pergi ke Zurich. Di masing-masing gereja, kami bercerita tentang pelayanan Rumah Harapan (RH) GMIT. Sejak 2018, RH GMIT dan BPAPE GMIT didukung oleh M21 untuk pelayanan pencegahan dan penanganan perdagangan orang berkedok pekerja migran. Setelah kebaktian di Zurich, kami makan siang bersama jemaat. Terhidang nasi goreng yang sangat nikmat dengan telur mata sapi. Lalu kami dipandu Pak Matthias Haupt, salah satu anggota majelis jemaat di Zurich, untuk berkunjung ke situs-situs penting terkait pelayanan suatu tokoh Reformasi, yaitu Zwingli. Kami juga mendapat kesempatan mengarungi danau Zurich dengan kapal pesiar selama 1 jam. Matahari bersinar cerah dan kami menikmati hari yang sangat indah ditemani Pak Matthias.

Selama persidangan DGD dan kunjungan ke mitra-mitra di Eropa, kami diberkati dengan cuaca yang bersahabat. Jaket-jaket kami yang tidak tebal mampu melindungi dari dingin yang belum ekstrim. Pohon-pohon masih berdiri indah dengan daun yang utuh di peralihan musim panas dan musim gugur. Beberapa mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning atau merah dan ungu. Alam sangat bersahabat. Kadang-kadang hujan turun, tetapi umumnya matahari bersinar cerah.

Bergulat dengan Hantu Masa Lalu: Study Day Sidang Raya Eukumindo di Utrecht.

Sejak tahun lalu, Eukumindo, yaitu persekutuan badan-badan misi gereja-gereja Eropa yang melayani bersama gereja-gereja di Indonesia merencanakan suatu lokakarya terkait posisi dam peran gereja dalam Tragedi ’65 di Indonesia. Gereja-gereja di Eropa juga ingin belajar mengenai peran mereka waktu itu dan apa yang perlu dilakukan pada masa kini. Untuk itu tiga orang pembicara diundang, yaitu Ibu Nieke Atmadja diundang untuk berbagi pengalaman pribadi dan refleksinya terkait peristiwa itu; Ibu Lia Wetangterah berbagi dari penelitian dan tulisannya tentang posisi dan peran para misionaris Belanda di Sumba saat peristiwa ’65; dan saya berbagi dari pengalaman GMIT dan Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT).  

Saya berbagi dari pengalaman penelitian yang dilakukan JPIT pada tahun 2009 hingga 2012. Hasil penelitian itu telah diterbitkan dalam buku yang berjudul Memori-Memori Terlarangdan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Monash University Australia dengan judul Forbidden Memories.Saya juga menceritakan bagaimana reaksi ketika buku itu terbit. Ada yang menyambut dengan gembira; ada yang ingin tahu; namun ada yang merasa takut dan terganggu. Saya selanjutnya berbagi bahwa Sidang MS GMIT Tahun 2018 memutuskan agar GMIT bekerja sama dengan JPIT untuk pelayanan terkait pelanggaran HAM masa lalu tersebut. Dalam perkembangan terakhir, pada ibadah syukur HUT RI ke-77, tanggal 22 Agustus 2022, MS GMIT mengundang para penyintas dari Kota Kupang, Oesao, dan Amarasi Barat untuk beribadah bersama.

Lokakarya ini menegaskan dorongan bagi gereja-gereja lain di Indonesia untuk melakukan studi terhadap pengalaman kekerasan masa lalu di konteks masing-masing dan mencari bersama upaya penyembuhan relasi. Tentu pengalaman tiap gereja berbeda. Selain itu, semua peserta mencatat perlunya memorialisasi dan dukungan terhadap para pembela hak asasi manusia (HAM).

Satu hari sebelum acara sidang raya Eukumindo, kami berjumpa dengan Ketua Umum dan Sekretaris Umum Gereja Protestan Belanda (Protestantse Kerk in Nederland/PKN). Hadir juga dalam pertemuan itu pimpinan Kerk in Actie, yaitu badan misi mereka. Kami berbagi pemahaman mengenai relasi kemitraan antara PKN dan GMIT dan berefleksi mengenai relasi yang terbangun sejauh ini. Kedua pimpinan gereja maupun pimpinan Kerk in Actie menyatakan rasa terima kasih mereka atas kemitraan panjang di antara kedua gereja dan berkomitmen untuk terus saling mendukung dalam melaksanakan misi Allah. Kami dari GMIT juga menyampaikan limpah terima kasih untuk kemitraan dan secara khusus untuk dukungan kepada GMIT saat terjadi badai Seroja tahun 2021 yang lalu.

Pada keesokan harinya, kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi De Bakkerij, yaitu pusat pelayanan misi bagi jemaat kota di Leiden. Rupanya beberapa jemaat di kota-kota seperti Leiden, Amsterdam, Den Hag, dan Roterdam membentuk pusat pelayanan misi untuk menanggapi kebutuhan pelayanan di konteksnya. De Bakkerij misalnya didirikan oleh jemaat Kota Leiden untuk melayani orang-orang yang paling lemah di kota itu. Ketika dibangun pada abad ke-15, pusat misi ini membantu memberi makan kepada orang-orang miskin. Sampai sekarang mereka berupaya mendukung kelompok-kelompok rentan yang tidak dilayani pemerintah atau pihak lain. Misalnya sekarang mereka mengorganisir bantuan pakaian layak pakai. Pakaian layak pakai itu mereka dapatkan dari sumbangan anggota-anggota jemaat. Para pengungsi Ukraina dan siapa saja yang membutuhkan bisa datang mengambil sesuai kebutuhan tanpa membayar. Saya pikir ini hal yang bisa kita lakukan di GMIT. Keluarga-keluarga dapat mengumpulkan barang-barang layak pakai yang tidak digunakan lagi untuk dijual dengan harga terjangkau bagi yang membutuhkan. Uang yang terkumpul bisa dipakai untuk pelayanan kemanusiaan, seperti mendukung pelayanan Rumah Harapan GMIT.

Di sela-sela kegiatan, kami pergi mengunjungi Oma Middelkoop di Oegstgeest, dekat Leiden. Oma sekarang sudah berusia 95 tahun dan masih tinggal sendiri di rumahnya. Kebanyakan orang tua dengan usia seperti itu sudah tinggal di panti jompo. Oma masih cukup mandiri. Beliau mampu mengendarai mobil, berbelanja untuk kawan-kawannya sesama sepuh, aktif dalam klub membaca dan mendiskusikan buku, menonton film bersama dengan kawan-kawannya para senior dan mendiskusikan film tersebut. Siang itu kami dijamu makan roti dan sup labu yang sangat enak, yang dimasak oleh puteri Oma, Ibu Henriet.

Selepas berkunjung ke Leiden, kami naik kereta api ke Zwolle, menempuh waktu sekitar dua jam dari Leiden. Kami berjumpa dengan Ibu Wil Reenders, Keluarga Tanja, dan Ibu Jeanet Van Bentum. Keluarga Tanja, yang menjadi saksi pernikahan beta di tahun 2003, memasak bagi kami makanan Indonesia yang nikmat. Nasi, telur bumbu, ayam kecap, rendang sapi, dan beberapa menu Indonesia lainnya terhidang di meja. Kami makan nasi dengan sangat bersyukur, lalu lari menuju stasiun kereta api untuk pulang ke penginapan kami di Utrecht, dekat kantor sinode PKN. Majelis Sinode PKN membiayai penginapan kami selama di Belanda.   

Berjuang untuk Penyembuhan dari Kekerasan Seksual dalam Gereja

Sejak berangkat kami bergumul dengan berita mengenai kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang vikaris terhadap belasan anak di Pulau Alor. Segera setelah mendengar berita itu kami berkoordinasi dengan KMK setempat. Selanjutnya ada pembentukan tim yang berkunjung ke Nailang, terdiri dari Badan Keadilan dan Perdamaian (BK), UPP Tanggap Bencana Alam dan Kemanusiaan (TBAK), dan Rumah Harapan GMIT.

Kekerasan itu adalah hal yang kita semua tidak kehendaki. Kami mengecam kejahatan yang terjadi dan menyadari bahwa kita semua terluka oleh peristiwa ini. Ini saatnya kita melakukan pembenahan serius dengan membangun sistem untuk mencegah keberulangan kekerasan. Kita bisa kecewa satu terhadap yang lain. Namun sebagai ganti saling mempersalahkan, kita perlu menimba dari kasih dan hikmat Kristus untuk pembenahan dan penyembuhan dari luka-luka dalam persekutuan kita.

Mari menarikan tarian kehidupan, mendengarkan musik dan irama kasih Kristus, untuk bersatu sebagai gereja yang saling berpegangan tangan dalam tarian cinta kasih.  Sebagian ganti tarian kekerasan dan perang, kita bergerak maju untuk kehidupan yang bebas dari kekerasan, penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia, perdamaian, pertanggungjawaban atas kesalahan, sambil tetap mendengar suara Kristus yang bergema di tengah berbagai hiruk-pikuk kehidupan untuk perdamaian dan kesatuan.

Batik Air, Penerbangan Jakarta Kupang, 21 September 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *