Spiritualitas Bertumbuh dalam Keluarga (2 Timotius 1:1-14) – Pdt. Melkisedek Sniut

Foto: Jemaat GPM Silo.org

www.sinodegmit.or.id, Apakah Anda punya bapak dan mama ani? Di GMIT, bapakdan mama anibukanlah kewajiban, kecuali untuk anak-anak yang lahir di luar pernikahan yang sah. Tetapi ada banyak anggota GMIT yang punya bapakdan mama ani. Saya pun adalah bapak anidari beberapa orang anak.

Bapakdan mama aniadalah anggota sidi atau presbiter yang dipilih menjadi saksi dalam baptisan anak-anak. Biasanya saksi-saksi baptis ini dipilih oleh orang tua dari anak yang hendak dibaptis. Tetapi ada pula anggota sidi yang menawarkan diri kepada orang tua calon baptisan untuk menjadi bapakatau mama ani. Tujuannya adalah untuk mempererat persahabatan atau tali kekerabatan di antara mereka.

Pada awalnya, kata “ani” adalah singkatan dari seraniyang berarti Kristen. Namun karena kata seranisudah jarang digunakan maka kata serani bergeser ke kata rohani. Jadi “ani” adalah singkatan dari kata “rohani”. Dengan demikian bapakdan mama aniberarti bapak dan mama rohani.

Istilah “ani” ini bagus sekali. Sayangnya, sering kali hanya istilah doang. Dalam pelaksanaannya, hampir tidak ada peranan rohani dalam pertumbuhan iman anak. Misalnya, ada anak-anak Kristen yang tidak tahu siapa bapakdan mama ani-nya. Atau anaknya tahu dan kenal. Tetapi kehidupan bapakdan mama ani-nya tidak rohani sama sekali.

Ada bapak aniyang punya kebiasaan minum miras. Ada yang suka berjudi. Ada yang malas gereja. Yang lain suka iri hati, dengki, suka berselingkuh dan sebagainya. Mama anijuga sebelas dua belas. Artinya sama saja. Ada mama aniyang suka bamaki. Ada yang suka bergosip sambil cari kutu. Yang lain suka belanja online sampai terlilit hutang, dan sebagainya.

Jika demikian, peranan rohani apa yang bisa diharapkan dari bapakdan mama aniseperti ini? Jangan-jangan bapakdan mama anihanya ingat anak ani-nya ketika hari ulang tahun atau natal saja. Itu pun untuk kasikado yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan rohani anak sama sekali.

Saya bilang begini tidak berarti bahwa saya sudah menjadi bapak ani yang baik. Tidak sama sekali. Bahkan setelah merenungkan nas ini, saya merasa tidak pantas menjadi bapak ani. Biar pun begitu, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Apalagi firman Tuhan ini omong tentang spiritualitas yang bertumbuh dalam keluarga. Karena itu kita perlu belajar dari hubungan Paulus dan Timotius.

Selain sebagai rasul Yesus Kristus, Paulus juga adalah seorang bapak ani. Timotius itu anak ani-nya. Hubungan rohani di antara keduanya cukup akrab. Buktinya, Paulus tidak hanya kenal mama dari Timotius yaitu Eunike. Paulus juga kenal neneknya yang bernama Lois. Bahkan Paulus tahu dengan jelas iman yang dimiliki oleh mama dan nenek Timotius. Iman itulah yang diwariskan kepada Timotius.

Tetapi warisan iman dari mama dan neneknya tidak cukup. Karena itu Paulus terlibat dalam pertumbuhan iman Timotius. Ada banyak nasihat, perintah, peringatan, teguran, tetapi juga penghiburan dan peneguhan yang Paulus berikan kepada Timotius. Kolaborasi antara orang tua jasmani dan orang tua rohani Timotius inilah yang membuat spiritualitas Timotius bertumbuh secara luar biasa. Sekalipun masih muda, namun dia mendapat kepercayaan untuk mengemban tanggung jawab yang besar di tengah-tengah jemaat yang baru terbentuk.

Sebagai bapak ani,Paulus menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Sebagai anak ani,Timotius juga bisa menempatkan dirinya dengan tepat. Itu sebabnya pertumbuhan spiritualitas yang Timotius peroleh dari mama dan neneknya, disempurnakan oleh bapak ani-nya. Hal inilah yang pertama-tama mesti kita perhatikan. Apabila kita ingin agar pertumbuhan spiritual anak-anak dalam keluarga dapat berjalan dengan baik, peranan orang tua kandung saja tidak cukup. Harus ada peranan dari orang tua rohani juga. Bahkan peranan bapakdan mama anicukup besar. Jadi harus ada kolaborasi antara orang tua kandung dan orang tua rohani.

Hal penting lain yang mesti kita perhatikan yaitu status pernikahan bapak atau mama ani. Pada umumnya bapak dan mama aniadalah pasangan suami istri. Artinya mereka menikah. Kalau pun ada yang sendiri, itu karena perubahan status menjadi duda atau janda. Tetapi bisakah seseorang dengan status lajang menjadi bapak atau mama ani?

Apabila kita melihat Paulus dan Timotius maka jawabannya adalah bisa. Paulus hidup melajang. Dia tidak pernah menikah. Biar pun begitu, dia menjadi bapak aniyang luar biasa bagi Timotius. Ini merupakan contoh yang baik sekali bahwa seseorang yang memilih untuk tidak menikah pun bisa menjadi bapak aniatau mama ani, asalkan kehidupan rohaninya baik.

Lalu apa yang mesti dilakukan agar dapat disebut bapakdan mama aniyang baik seperti Paulus? Nas ini menunjukkan lima hal.

Pertama,menampilkan diri sebagai anak Tuhan dan selalu memohon berkat bagi anak ani-nya (ayat 1-2). Paulus memulai suratnya yang kedua kepada anak ani-nya dengan menampilkan diri dan mengucapkan salam. Pertama-tama Paulus menyebut namanya sebagai pengirim surat. Lalu dia menyebut jabatannya. Kemudian dia menyebut tanggung jawabnya. Inilah cara Paulus menampilkan dirinya.

Berikutnya dia menyapa Timotius. Tetapi bukan hanya nama. Dia juga bilang Timotius adalah anaknya yang kekasih. Tentu yang Paulus maksud dengan anak adalah anak ani. Selanjutnya Paulus mengucapkan berkat bagi Timotius. Jadi apapun kondisi Timotius ketika menerima surat Paulus, isi surat dimulai dengan doa berkat.

Sebenarnya ini adalah bentuk salam yang Paulus tulis dalam semuanya suratnya. Tetapi ketika surat ini ditujukan kepada pribadi maka ada nuansa keakraban di dalamnya. Dengan demikian tidak bisa disamakan dengan surat kepada jemaat di Roma, Korintus atau Efesus, misalnya.

Hal ini menunjukkan bahwa bapakdan mama animesti mestilah menampilkan diri dengan identitasnya yang asli. Identitas pribadi dari bapakdan mama animesti benar. Tidak boleh dipalsukan. Jadi bapakdan mama aniharus membuat dirinya dikenal dengan akrab oleh anak ani-nya. Ini pun bukan hanya dalam dunia nyata.

Di media sosial seperti facebook, IG, Twitter, WA, Youtubedan lain-lain pun harus demikian. Bapakdan mama anitidak boleh menggunakan akun palsu. Tidak boleh juga memalsukan nama, foto profil, foto, video dan berbagai identitas lainnya. Sebab hanya orang-orang yang menulis status, storyatau komentar negatif sajalah yang selalu bersembunyi di balik akun palsu. Sebaliknya, mereka yang menampilkan dirinya ada adanya, termasuk di media sosial, kemungkinan besar akan menampilkan kata-kata positif. Setidak-tidaknya, mereka adalah orang yang bertanggung jawab.

Bapakdan mama anipada masa kini harus sadar bahwa anak ani-nya lebih mahir dan aktif di media sosial. Karena itu mesti menggunakan media sosial dengan bijak dan bertanggung jawab. Jauhkan segala bentuk kepalsuan dari dalam diri. Kemudian apabila berjumpa dengan anak ani, mesti disapa dengan mengucapkan kata-kata berkat.

Kedua,hubungan bapakdan mama anibukan hubungan oleh darah daging melainkan oleh darah Kristus (ayat 3-4). Lois dan Eunike punya hubungan darah daging dengan Timotius. Tetapi Paulus tidak. Sekalipun demikian, ada sebuah ikatan yang sangat kuat di antara keduanya. Ikatan itu adalah ikatan oleh darah Kristus. Itu sebabnya Paulus mengucap syukur kepada Allah karena Timotius. Paulus selalu ingat Timotius siang dan malam. Paulus selalu mengenang air mata Timotius. Paulus juga selalu rindu untuk bertemu dengan Timotius. Ini adalah sebuah pelajaran penting bagi bapakdan mama anipada masa kini. Memang, ada bapakdan mama aniyang memiliki hubungan darah daging dengan anak ani-nya. Tetapi ada pula yang tidak punya hubungan darah daging sama sekali.

Biar pun begitu, ketika hubungan rohani itu terjalin, darah Kristus menjadi pengikat yang sangat kuat. Bahkan kita bisa yakin bahwa kekuatan ikatan melalui darah Kristus melampaui kekuatan ikatan karena darah daging. Oleh karena itu biar pun antara bapakdan mama anidengan anak ani tidak punya hubungan darah daging, namun darah Kristus telah mengikatsatukan semuanya. Itu sebabnya bapakdan mama animesti menuntaskan tanggung jawab yang besar dalam kehidupan iman anak ani­-nya.

Ketiga,bapakdan mama animesti mengingatkan anak ani-nya untuk selalu taat dan mengikuti tuntunan iman orang tuanya (ayat 5). Di bagian ini Paulus mengingatkan Timotius bahwa imannya diwarisi dari mama dan neneknya. Jadi di sini Paulus, dalam peran sebagai bapak ani, mengingatkan Timotius untuk taat dan hormat kepada orang tuanya. Bapakdan mama anipada masa kini pun mesti melakukan hal yang sama. Anak ani-nya mesti selalu diingatkan untuk taat dan hormat kepada orang tua. Apalagi jika orang tuanya memiliki jejak iman yang teguh. Iman itu mesti diwarisi oleh sang anak. Karena itu bapakdan mama animesti selalu ada untuk mengingatkannya.

Keempat,bapakdan mama ani memberikan peneguhan atau membesarkan hati anak ani-nya ketika melihatnya berkecil hati (ayat 6-10). Ini juga yang Paulus lakukan kepada Timotius. Paulus sadar bahwa ketika diserahkan tanggung jawab, Timotius masih muda. Rasa takut dan malu masih menguasai dirinya. Karena itu Paulus memberikan penumpangan tangan kepada Timotius.

Paulus juga mengingatkan Timotius bahwa yang Tuhan berikan bukanlah roh ketakutan melainkan roh kekuatan, kasih dan ketertiban. Selain itu Paulus meminta Timotius supaya tidak malu, baik untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus maupun karena punya bapak aniseorang narapidana. Untuk itu Paulus mengarahkan Timotius agar tidak hanya melihat masalah yang ada di hadapannya saja. Timotius diarahkan untuk melihat pada kuasa Yesus Kristus yang jauh lebih besar dari setiap masalah yang sementara dihadapi.

Inilah juga yang menjadi tugas bapakdan mama anipada masa kini. Mereka harus membesarkan hati anak ani-nya di saat berkecil hati. Kadang-kadang anak ani merasa takut, malu, segan atau tawar hati. Jika demikian, orang tua bisa memberitahukannya kepada bapakdan mama ani-nya untuk memberikan peneguhan dan penguatan. Bapakdan mama animesti mampu mengarahkan anak ani-nya agar sanggup melihat pada kuasa Tuhan Yesus yang jauh lebih besar dari setiap masalah yang ada. Tetapi ingat, ini hanya bisa terjadi kalau di antara bapakdan mama anidengan anak anitelah memiliki hubungan yang akrab seperti Paulus dengan Timotius. Untuk itu hubungan yang akrab mesti dibangun setiap saat, bukan hanya pada hari ulang tahun dan natal saja.

Kelima, bapakdan mama anitidak boleh hanya pandai berkata-kata dan memberi nasihat saja. Mereka juga harus mampu menunjukkan itu melalui sikap dan perbuatannya. Dengan kata lain, bapak dan mama animesti menjadi teladan dalam berbagai hal yang baik (ayat 11-14). Inilah yang Paulus juga tunjukkan kepada Timotius. Selain sebagai bapak ani, Paulus adalah seorang pemberita Injil, rasul dan guru. Semua tanggung jawab ini membuatnya menderita. Sekalipun demikian, dia tidak takut dan malu. Inilah yang mesti dipegang oleh semua bapakdan mama ani.  Ini jugalah yang mesti dipegang oleh semua orang Kristen. Sebab ada ungkapan begini, “Satu teladan yang baik lebih bermakna dari seribu kata nasihat”. Banyak nasihat itu baik. Tetapi kalau tanpa teladan, nasihat itu akan masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Artinya sia-sia. Karena itu teladan dalam sikap hidup dan perbuatan mesti ditunjukkan di mana pun kita berada.

Secara keseluruhan Firman Tuhan ini menunjukkan bahwa ternyata keluarga Kristen tidak hanya terdiri dari orang-orang yang tinggal dalam satu rumah saja. Tidak! Keluarga Kristen termasuk juga bapakdan mama ani. Sekalipun mereka tidak tinggal dalam satu rumah, namun peranannya sangat penting dalam menumbuhkan spiritulitas di tengah-tengah keluarga Kristen.

Oleh karena itu apabila kehidupan rohani belum siap, lebih baik menahan diri dari tanggung jawab sebagai bapakdan mama ani. Tetapi apabila tanggung jawab itu sudah diterima, tidak usahlah berkecil hati. Sebab itu merupakan tanggung jawab yang mulia.

Berdoalah agar Tuhan memberikan kemampuan dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut sesuai kehendak-Nya. Dengan demikian akan semakin banyak anak-anak dari keluarga Kristen yang kehidupan spiritualnya bertumbuh dari waktu ke waktu. Tuhan Yesus menolong dan memberkati kita semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *