Merayakan Perjumpaan, Merefleksikan Lokalitas: Upaya Menghadirkan Transformasi – Pdt. Astrid Bonik Lusi, M.Th

Peserta Global Ecumenical Theological Institute (GETI) 2022, di Karlsruhe, Jerman.

www.sinodegmit.or.id, Global Ecumenical Theological Institute (GETI) 2022 dilaksanakan di Karlsruhe, Jerman, pada tanggal 28 Agustus-9 September 2022. Pelaksanaannya berlangsung sepanjang masa persiapan persidangan dan persidangan Dewan Gereja Sedunia (DGD) yang ke-11. Dalam persidangan DGD, peserta GETI berhak mengikuti persidangan sebagai partisipan yang memiliki hak untuk berbicara, namun tidak memiliki hak untuk memilih.

GETI  2022 adalah suatu pertemuan ekumenis yang berupaya membangun teologi konstruktif dalam menjawab isu-isu kontemporer. 100 orang teolog dan pengajar muda dari berbagai tradisi Kekristenan dan delapan wilayah DGD pun dipertemukan untuk saling berefleksi secara kritis dan saling membangun dalam kesatuan. Ada enam topik yang dibahas secara mendalam di bawah tema, “Christ’s Love Moves the World to Reconciliation and Unity”. Dua di antaranya adalah Healing Memories dan Kairos for Creation.

Christ’s Love Moves the World to Reconciliation and Unity

Dunia tanpa batas justru memperlihatkan banyaknya tembok perbedaan. Tembok itu dapat menyatukan maupun menghambat terwujudnya kesatuan dan rekonsiliasi. Tembok itu hadir dalam berbagai bentuk. Identitas etnis, pekerjaan, usia, gender, agama, asal gereja seseorang dapat membuat ia bersatu atau terpisah dari yang lain.

Pandemi Covid-19 menunjukkan begitu banyaknya tembok pemisah yang membawa kesedihan dan kecemasan. Upaya penanggulangan pandemi Covid-19 justru memperlihatkan adanya kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi, politik, sosial dan etnis dalam lingkup suatu negara maupun antarnegara. Mereka yang miskin adalah mereka yang paling menderita. Kesejahteraan hanya dinikmati oleh sebagian kelompok masyarakat.

Tembok pemisah itu harus dilawan dengan memahami keterhubungan kita. Status sebagai gambar Allah membuat kita terhubung. Seorang individu harus berada dalam relasi untuk dapat menjadi seseorang dan menemukan dirinya. Perbedaan itu menyatukan kita bukan memisahkan kita.

Vinoth Ramachandra menjelaskan bahwa kesatuan (inclusive of diversity) adalah pesan inti dari Injil. Setiap orang dipanggil untuk merangkul yang lain dengan memahami kerentanan mereka. Gereja dipanggil bukan untuk membangun tembok yang melindungi kekhasannya dan memisahkan diri dari dunia. Gereja hanya bisa menemukan dirinya dalam aksi bersama dengan orang lain. Gereja hanya bisa membela dirinya jika ia berada dan berjuang dengan mereka yang hancur dan terluka.

Dalam diskusi kelompok ada beberapa rekan yang berefleksi tentang hierarki dalam persekutuan gereja. Bagi mereka, selalu ada batasan tempat duduk, tempat tinggal, tempat berdiri antara pimpinan gereja, pendeta dan jemaat. Namun batasan tersebut tidak ditemukan dalam relasi yang dibangun pada persidangan DGD yang ke-11. Dalam persidangan ini semua orang diberi ruang yang sama untuk berbicara, duduk, makan, dan belajar. Kesatuan dalam kebersamaan dihadirkan dalam ruang publik.

Healing Memories

Kehidupan gereja secara universal maupun lokal berakar dalam kehidupan masyarakat. Sejarah maupun perkembangan gereja menunjukkan bahwa gereja bersinggungan bahkan berpartisipasi dalam pengalaman kemanusiaan yang paling kelam. Memori kelam secara individual maupun kolektif perlu dipulihkan. Amélé Adamvi-Aho Ekué menjelaskan bahwa dalam pemulihan memori, cerita-cerita yang kelam (the stories of woundedness) perlu diceritakan dan didengarkan. Namun proses ini tidak mudah karena trauma seringkali tidak dapat disampaikan dalam kata-kata. Memori mengingat masalah atau cerita tentang luka, tetapi tidak ada satu kata pun yang mampu mengungkapkannya.

Ketika gereja terlibat dalam lingkaran kekerasan dan meninggalkan memori kelam, maka percakapan tidak hanya ada dalam ruang sosio-historis dan psikologis, tetapi juga dimensi teologis. Percakapan tentang pemulihan tidak pernah selesai pada pembahasan tentang Kristus yang memberi diri-Nya sehingga kita dapat didamaikan dengan Allah atau tentang tubuh Kristus yang telah dibangkitkan dan dimuliakan. Gereja harus berani untuk menjelaskan bahwa tubuh Kristus yang bangkit itu adalah tubuh yang terluka. Luka itu tidak hilang sekalipun Ia bangkit. Fakta ini menegaskan bahwa pemulihan memori bukanlah proses menghilangkan luka, tetapi menerima dan melihat luka tersebut dalam perspektif yang berbeda. Dalam workshop Dancing through the Wound Septemmy E. Lakawa mengusulkan tarian sebagai cara mengungkapkan luka yang tidak dapat dijelaskan melalui perkataan. Tubuh mengingat setiap luka sehingga tarian dapat menjadi sarana komunikasi dan pemulihan. Melalui tarian kita dapat merasakan Allah yang merangkul dan merahmati.

Kairos for Creation

Era saat ini adalah era Antropocene. Era yang menunjukkan bahwa aktivitas manusia berdampak signifikan pada perubahan iklim dan kerusakan ekosistem. Badai Siklon Tropis Seroja dan banjir di NTT adalah dampak perubahan iklim. Dietrich Werner menyampaikan bahwa persoalan lingkungan yang melahirkan krisis dalam segala aspek kehidupan adalah kairos yang memanggil setiap kita untuk bertindak bagi ciptaan.

Kepedulian terhadap ciptaan dibutuhkan. Namun bentuk kepedulian terhadap ciptaan cenderung berfokus pada model penatalayanan yang menekankan aspek manajerial. Model penatalayanan yang baru membutuhkan pendekatan de-antroposentris. Kita tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari kekuasaan manusia terhadap alam jika kita terus menggunakan ideologi yang lama.  Covid-19 telah mengingatkan kita bahwa bumi tidak perlu dikelola. Bumi perlu dibiarkan sendiri. Bumi perlu beristirahat. Gagasan Sabat dan Tahun Yobel mengajarkan tentang pentingnya waktu beristirahat bagi tanah dari kerja. Werner bukan hanya mengusulkan ide tentang waktu beristirahat tetapi juga eco-diakonia sebagai model teologi penatalayanan yang baru.

Eco-diakonia mengusulkan tentang pencegahan eksploitasi tanah dan pemanfaatan tanah secara bertanggungjawab dengan memberlakukan konsep agroekologi. Bukan hanya tanah, ketersediaan air pun perlu dijaga dan didistribusikan bagi semua orang. Dalam hal udara, pengurangan emisi CO2 penting diupayakan. Cara yang bisa dilakukan adalah mengurangi perjalanan dengan kendaraan pribadi jika bisa ditempuh dengan berjalan kaki, mengefektifkan penggunaan transportasi publik, bijak dalam berbelanja, tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan, hemat dalam penggunaan listrik dengan menggunakan produk hemat energi atau mematikan peralatan listrik yang tidak terpakai.

Tiga topik yang saya kemukakan di atas adalah sebagian kecil dari berbagai topik yang dibahas dalam pertemuan GETI 2022 maupun sidang DGD yang ke-11. Topik-topik tersebut kemudian didalami dalam diskusi-diskusi kelompok. Diskusi menjadi sarana perjumpaan dan pengenalan akan keberagaman konteks. Melalui diskusi saya sadar bahwa gereja di berbagai tempat belum selesai dengan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, konflik antaragama, perang, pengungsi, dan persoalan lingkungan hidup. Perjumpaan di tingkat internasional ini sungguh bermakna. Dalam merayakan perjumpaan dengan yang lain, kita justru didorong untuk semakin berefleksi tentang lokalitas. Bagaimana konteks kita? Apa upaya kita untuk menghadirkan transfomasi?

Transformasi adalah tujuan pertemuan GETI 2022 maupun sidang DGD yang ke-11 diadakan. Melalui semangat transformasi, panitia pertemuan GETI 2022 dan persidangan DGD berusaha untuk mengurangi penggunaan kertas dengan menggunakan aplikasi WCC 11th Assembly. Melalui semangat transformasi, beberapa utusan Ukraina secara khusus diundang untuk mengeluarkan suara serta pendapat mereka. Utusan dari Rusia pun hadir sebagai bentuk keterbukaan terhadap dialog dalam upaya rekonsiliasi. Melalui semangat transformasi, satu kursi sebagai jatah perwakilan Indonesia di Central Committee diberikan kepada Timor Leste. Pemberian ini adalah bentuk perangkulan dalam kasih persaudaraan untuk melangkah bersama demi membangun kehidupan berdasar pada kasih Kristus.  Dalam konteks GMIT, setiap kita dipanggil untuk menghadirkan transformasi dalam konteks. Berbagi pengetahuan melalui media sosial seperti saat ini dapat menjadi langkah awal dari upaya transformasi. ***    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *