Pendeta Diutus Melayani Umat Tuhan; Bukan Melayani Kebun, Sawah, Sapi, dan Babi

Penumpangan tangan bagi 34 pendeta baru pada kebaktian penahbisan pendeta, Minggu, (6/11).

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon, kembali mengingatkan para pendeta GMIT agar fokus pada tugas pengutusan gereja yakni melayani umat, bukan melayani kebun, sawah, sapi, dan babi.

“Waktu tanda-tangan akta [kependetaan], siap ditempatkan di mana saja. Tetapi ketika sapi-sapi sudah mulai diikat, sawah sudah satu dua bidang, di mana hartamu berada di situ hatimu berada. Ingat! kalian pergi bukan untuk melayani kebun-kebun, sawah-sawah, sapi-sapi dan babi-babi, tapi pergi untuk melayani umat Tuhan,” ujar Pdt. Mery saat menyampaikan suara gembala pada kebaktian penahbisan 34 orang pendeta baru, di Jemaat Lahairoi Tofa, Minggu, (6/11).

Peringatan ini dimaksudkan agar para pendeta waspada terhadap kepemilikan asset di tempat tugas yang mungkin saja menjadi alasan tidak mau dimutasikan ketika masa tugas berakhir. Padahal, peraturan GMIT membatasi masa tugas seorang pendeta di satu jemaat hanya empat tahun dan dapat diperpanjang empat tahun berikutnya atau dua periode.

“Empat tahun di satu jemaat, paling lama dua periode delapan tahun. Jangan alasan macam-macam lagi [bilang] kami dapat penglihatan bahwa Tuhan bilang saya pensiun di sini. Itu yang kita susah,” tegas Pdt. Mery.

Selain hal ketaatan pada Tata Gereja, ia juga mengingatkan tentang pentingnya hidup sederhana, dukungan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga pendeta, etika bersosial media, relasi dengan kawan sekerja, dan ketekunan berteologi.   

Menurutnya indikator utama keberhasilan pelayanan seorang pendeta adalah spiritualitas.

“Dari pengalaman kami yang sederhana di Majelis Sinode, yang kami lihat pertama-tama adalah spiritualitas. …Kalau hubunganmu dengan Tuhan tidak dipelihara dengan baik, kalian mencemarkan nama Tuhan dan mencemarkan toga yang kalian pakai,” simpulnya.

Prosesi penyerahan alat-alat sakramen kepada para pendeta baru

Ia berharap para pendeta sungguh-sungguh menjadi pembawa kabar baik yang cerdas, semangat, rajin, tekun, berdiam dan belajar di kaki Tuhan, gigih dan berjiwa juang, rendah hati, tidak gampang menyerah, berani, berpihak kepada kamu terpinggirkan, bersedia bekerja sama dengan sesama pendeta dan berbagai pihak secara kritis dan konstruktif.

Ke-34 orang pendeta yang ditahbiskan adalah: Ance Pitronela Ndoki, S. Th, Aryance Sarlen Nifu, S. Th, Andri Primus Eduard Liu, S. Th, Agustina Retebana, S. Th, Arni Norfa Tilofa Oematan, S.Th, Debby Selfiana Lasi, S. Th, Devison Armando Ittu, M. Th, Ermilinda Talan, S. Th, Efi Yumima Balan, S. Th, Ester Imelda Nabuasa, S. Th, Febriyani Bire, S. Th, Filda S. A. Bilistolen, S. Th, Fiktor Jekson Banoet, M. Fil, Handi Yusuf Paulus Ndun, S. Th, Ika Veronika Rohi Ke, S. Th, Idarmi Tefa, S. Th, Marlyn Riswianti Lolo, S. Th, Manekat Lastriany Tnunay, S. Th, Maria R. Rensini, S. Th, Mariana R. Manu Padja, S.Th, Maleachi Kameo, S. Si-Teol, M. Si, Meltry Ivon Ataupah, S. Si-Teol, Nova Risanti Taneo, S. Th, Nova Handayani Nomseo, S. Th, Nuke Angelya Laning, M. Si, Reni Devince Amung, S. Th, Riana, S. C. Banoet, S. Th, M. Si, Rudo Danay Tlonaen, S. Th, Simson Nenohaefeto, Seri Putri Sari Bunga, S. Th, Yeremia Tae, S. Th, Yopi Sakan, S. Th, Yane Selan, S. Th, dan Zet Adang, S. Th.

Sedangkan satu orang calon pendeta akan ditahbiskan secara terpisah di Klasis Flores Barat atas nama Novi Nendri Sardiana Beba, S. Th, pada pekan mendatang.

Dengan penambahan 35 tenaga pendeta baru, jumlah pendeta GMIT per November 2022 sebanyak 1.550 orang.

Kebaktian penahbisan dipimpin oleh Pdt. Elisa Maplani, Pdt. Maria Rensini, dan pengkhotbah Pdt. Anita Amnifu-Mooy.

Hadir juga dalam kebaktian tersebut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTT, Ganef Wurgianto, Ketua DPRD NTT, Ir. Emi Nomleni, Penjabat Walikota Kupang, George Hadjoh, dan lain-lain. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *