MS GMIT Selenggarakan Workshop Interdenominasi Kristen

Foto bersama pemateri dan peserta workshop interdenominasi Kristen di Kabupaten Rote Ndao.

Rote, www.sinodegmit.or.id, Majelis Sinode (MS) GMIT melalui Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Kemitraan dan Hubungan Oikumenis, bekerja sama dengan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) NTT, menyelenggarakan workshop lintas denominasi Kristen.

Kegiatan ini dilakukan di tiga teritori yakni: TTS (15/11), Rote (19/11), dan Alor (25/11), dengan melibatkan gereja-gereja denominasi di teritori setempat.

Salah satu tujuan dari workshop ini adalah membentuk PGI di daerah guna penguatan kerja sama lintas denominasi Kristen.

Menurut Wakil Sekretaris Umum PGIW NTT, Pdt. Ceffry Djenal, pembentukan PGI di daerah diperlukan untuk memudahkan koordinasi di lingkup lokal.

“Masalah-masalah [lintas denominasi] lebih sering muncul di tingkat lokal sehingga kita membutuhkan struktur PGI di daerah-daerah guna memperlancar komunikasi,” ungkap Pdt. Ceffry.

Selain membentuk struktur PGI di daerah, workshop ini juga mau mendorong komitmen gereja-gereja mendukung pemerintah dalam menanggulangi isu-isu kemanusiaan di NTT.

“Kita tidak bisa menghindari keragaman teologi antar denominasi, tetapi kita bisa bersatu dan membangun kolaborasi dengan pemerintah untuk menangani masalah-masalah kemanusiaan,” kata Pdt. Ceffry.

Workshop ini juga membuka ruang dialog bagi semua denominasi gereja di di tiap teritori untuk mendiskusikan tantangan-tantangan pelayanan antar denominasi misalnya; perpindahan jemaat yang tidak prosedural, pembangunan gereja yang tidak merujuk pada SK 2 menteri, fanatisme denominasi, ego doktrinal, kurangnya sosialisasi aturan masing-masing denominasi kristen seperti saksi nikah, baptis, dan lain-lain.

“Sebelum ini seringkali muncul hal-hal yang membuat kita menutup diri. Akan tetapi dengan kegiatan ini ada keterbukaan di antara kita dalam pelayanan gereja. Misalnya, ada pandangan bahwa, GMIT menutup diri dalam hal saksi nikah, baptis dan lain-lain. Padahal, setelah dijelaskan barulah kami mengerti,” ujar Pdt. Jeni Evajati Feoh, dari GMMI Kalvari Rote Tengah.

Pdt. Jeni berharap dialog semacam ini diprogramkan secara berkala guna mempererat kerja sama dan mencegah konflik antar denominasi gereja.

Di teritori Rote, peserta yang hadir berasal dari pimpinan Gereja Betel Indonesia (GBI), Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA), Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), Gereja Masehi Musafir Indonesia (GMMI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) dan sejumlah pendeta GMIT.

Pejabat terkait yang menyampaikan materi dalam panel diskusi pada workshop ini adalah:

Wakil Bupati Rote Ndao, Stefanus Saek, (Arah dan Kebijakan Pemerintah Daerah merawat Toleransi dan Keharmonisan Umat Beragama).

Ketua MS GMIT, Pdt. Mery Kolimon (Tugas Iman Gereja-Gereja Merawat Ekumene).

Kepala Kementerian Agama Rote Ndao, Neang Manimakani, S.Pd, MM., (Merawat Toleransi Interdenominasi Protestan di Kabupaten/Kota di NTT).

Asisten 3 Kabupaten Rote Ndao, Jermy Haning, (Kebijakan Strategis dan Capaian Pembangunan di Kabupaten).***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *