Rumah Harapan GMIT Rayakan Natal Bersama Para Penyintas Korban Kekerasan Berbasis Gender

Foto bersama pengurus Rumah Harapan GMIT dan Jejaring

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Merasakan penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan pelayanan sejak berdiri 2018, Rumah Harapan (RH) GMIT, berkomitmen untuk terus mengupayakan pelayanan terbaik bagi para korban perdagangan orang dan korban kekerasan berbasis gender.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pengurus RH GMIT, Ferderika Tadu Hungu, pada ibadah syukur Natal Rumah Harapan GMIT yang berlangsung di Jemaat Maranatha Oebufu-Kupang, Rabu, (28/12).

Mengutip tema Natal tahun ini yakni: “… maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain” (Matius 2:12), Ferderika berefleksi bahwa memilih ‘jalan lain’ seperti yang dikehendaki Tuhan kerap tidak mudah namun ada jaminan penyertaaan dalam perjalanan itu. Dan, pengalaman itu telah mereka rasakan melalui dukungan dari para mitra di dalam dan luar negeri, sahabat, relawan, jaringan, jemaat dan Majelis Sinode (MS) GMIT.

“Memilih jalan lain seperti para majus adalah jalan yang tidak lazim, tetapi kami bersyukur kepada Tuhan yang selalu menguatkan kami melalui banyak sahabat dan para mitra,” ungkapnya.

Ibadah syukur natal ini juga diikuti sejumlah penyintas korban kekerasan berbasis gender, serta jejaring kerja RH GMIT antara lain, Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT), LBH APIK, dan susteran Penyelenggara Ilahi.

Sr. Laurensia Suharsih, dari susteran Penyelenggara Ilahi dalam kesempatan ini berharap RH GMIT menjadi ‘palungan’ yang nyaman bagi mereka yang membutuhkan.

Menyampaikan suara gembala pada moment ini, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon, menyatakan rasa syukur sekaligus menegaskan peran gereja dalam membela kelompok rentan.  

“Gereja tidak boleh diam ketika terjadi kejahatan dan kekerasan. Kita harus mencari cara –tidak melawan kekerasan dengan kekerasan– tapi mencari cara untuk melucuti kuasa kekerasan terutama kekerasan yang mengekploitasi kelompok rentan. Tuhan kiranya menyertai kita dengan visi yang kuat dan selalu baru,” ujarnya.

Kepada para penyintas, Pdt. Mery menyampikan pesan penguatan bahwa “jalan lain” adalah tanda penyertaan Tuhan dan harapan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk menolong mereka yang tertindas dan menderita.

Belakangan ini lanjut Pdt. Mery, RH GMIT mendapat kepercayaan dari berbagai pihak seperti Dinas Sosial baik kota, kabupaten maupun provinsi, serta Kepolisian untuk turut membantu mereka dalam penanganan korban kekerasan, sehingga RH GMIT membutuhkan dukungan jemaat-jemaat GMIT yang berada dalam wilayah Kota Kupang.

Melalui dukungan-dukungan tersebut Ketua MS GMIT berharap RH GMIT terus mengembangkan pelayanan yang semakin baik.  

Ibadah syukur natal dipimpin Pdt. Yulian Widodo, Ketua UPP Kerumahtanggaan MS GMIT. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *