Bersidang di Negeri Kutai – Pdt. Mery Kolimon

Kunjungan peserta sidang ke Titik Nol IKN Nusantara

www.sinodegmit.or.id, Selama kurang lebih empat hari, gereja-gereja di Indonesia yang bergabung dalam Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), kembali menggelar sidang tahunan, sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL). Persidangan berlangsung di Kota Balikpapan, di bagian timur Pulau Kalimantan, yang dulunya merupakan bagian dari Kerajaan Kutai. Di tengah pusat kota industri itu, pimpinan gereja dari berbagai latar belakang tradisi gereja berkumpul untuk beribadah, melakukan evaluasi pelayanan, merencanakan program-program yang baru, dan merumuskan kebijakan pelayanan bersama. Peserta dari GMIT adalah Ketua Majelis Sinode, Pdt. Mery Kolimon, dan Ketua Majelis Klasis Kupang Barat, Pdt. Doddy Octavianus. Dari PGIW NTT, Pdt. Kirenius Bolle, Sekretaris PGIW NTT dan Pdt. Anderias Gasper Hawu, Ketua Sinode Gereja Masehi Musafir Indonesia (GMMI).

Persidangan kali ini memiliki kesan khusus sebab diselenggarakan di Kota Balikpapan yang jaraknya sekitar 2,5 jam perjalanan dari ibu kota negara yang baru. Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang telah menetapkan proses pembangunan ibu kota negara (IKN) yang baru, yang berlokasi di Sepaku, Kalimantan Timur. Sebagaimana pernah disampaikan Presiden Jokowi, perpindahan ini tidak sekedar perpindahan lokasi fisik, namun menandai transformasi pelayanan publik dan tata negara. Berpindah dari Kota Jakarta yang sudah padat, perpindahan lokasi ibu kota negara ini juga dimaksudkan untuk pembaruan tata kelola pemerintahan yang lebih modern, sekaligus ramah alam. Pak Teras Narang, salah satu narasumber di sesi study meeting persidangan mengingatkan bahwa rencana pemindahan IKN sebenarnya sudah tercetus sejak presiden pertama RI, Soekarno.

Suara Rakyat, Suara Alam

Salah satu sesi persidangan ini adalah kunjungan peserta sidang ke lokasi IKN. Segenap rombongan berkesempatan menikmati perjalanan dari Kota Balikpapan dengan bus-bus yang disiapkan panitia. Sepanjang jalan terbentang alam yang indah. Hutan tropis dan perkebunan kelapa sawit silih berganti terlihat sepanjang perjalanan. Tak kurang geliat pembangunan fisik menyambut perpindahan IKN.

Selanjutnya saat tiba di lokasi IKN, kami dapat melihat proses pembangunan yang sedang berlangsung. Jalan masuk ke jantung lokasi IKN belum di aspal. Bis-bis menari di jalan berlumpur. Doa dan nyanyian mengiringi perjalanan ke tempat yang akan menjadi sangat penting di republik ini. Di lokasi itu, para pimpinan gereja dan segenap rombongan berdoa bersama dan membangun komitmen untuk mendukung niat pemerintah untuk pembangunan IKN secara kritis, positif, konstruktif, dan realistis.

Di tempat itu maupun dalam sesi-sesi persidangan, gereja-gereja di Indonesia berbicara tentang pentingnya pembangunan yang ramah alam dan menghargai masyarakat adat beserta kearifan lokalnya. Sebelum republik berdiri, sebelum agama-agama yang diakui negara datang, masyarakat lokal telah memiliki kekayaan kearifan hidup selaras alam. Para penghuni pertama pulau ini harus dihargai. Mereka tak boleh tersisih dalam kemajuan pembangunan.

Pulau Kalimantan adalah salah satu pulau terbesar di dunia. Hutan tropisnya memberi sumbangan oksigen yang sangat penting sebagai paru-paru dunia. Selain itu pulau ini sangat kaya dengan kandungan mineral di perut bumi, sebut saja minyak bumi, batu bara, emas, tembaga, dan nikel. Pada saat yang sama pulau ini menjadi saksi keserakahan manusia: pembabatan hutan yang tak terkendali, tambang liar, dan pembakaran lahan yang merusak alam.

Dalam pertemuan yang singkat di IKN, seluruh peserta sidang berdoa bersama, memohon hikmat Tuhan untuk pembangunan IKN yang baru. Kami juga sempat berjumpa dengan salah satu tokoh masyarakat adat di daerah itu. Beliau menyambut kami dan menyampaikan harapannya agar pembangunan IKN tidak merusak alam dan menghargai pendudukan asli di tempat itu. Kami menyampaikan rasa hormat dan terima kasih untuk kesediaan masyarakat setempat menerima dan mendukung pembangunan IKN yang baru. Kami menyampaikan dukungan untuk pembangunan yang selaras alam dan yang mengukuhkan hak-hak masyarakat adat setempat.

GKE menjadi Puan Rumah

Yang menjadi tuan dan puan rumah persidangan MPL PGI yang berlangsung di Kalimantan, 27-31 Januari 2023 ini adalah Gereja Kalimantan Evangelis (GKE). Gereja yang berkantor sinode di Banjarmasin ini dipimpin oleh seorang ibu, Pdt. Dr. Simpon Lion. Untuk menjadi puan rumah kegiatan, Ibu Ketua Sinode dan tim harus menempuh perjalanan darat lebih dari 12 jam, dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hingga Balikpapan. Kami sangat menghargai kerja keras GKE menyukseskan persidangan ini.

Yang paling berkesan dari persidangan ini adalah ibadah-ibadah yang dikemas sangat apik. Penataan ibadah membawa peserta, paling tidak saya, memahami karya Tuhan di Bumi Kalimantan. Kekayaan alam dan kerusakannya, kearifan budaya, dan perubahan sosial, diceritakan dan direfleksikan dengan menarik. Ada deskripsi, analisa, dan refleksi yang dituturkan secara berkesan. Dalam renungan, elemen-elemen budaya dalam masyarakat adat setempat didialogkan dengan Kitab Suci untuk menemukan pesan Tuhan yang relevan dengan situasi hidup masa kini. Salah satu contoh adalah refleksi tentang Rumah Betang, yaitu rumah adat masyarakat Dayak. Rumah Betang berbentuk panjang sebagai tempat tinggal suatu keluarga besar. Rumah itu bahkan bisa menampung lebih dari 100 orang anggota keluarga yang tinggal di situ. Di rumah itu, semua disambut sebagai saudara dan dijamu dengan kasih. Rumah menjadi tempat orang diterima, dilindungi, dan dikasihi. Rumah Betang juga menjadi tempat penyelesaian masalah. Di Rumah Betang semua yang berbeda duduk bersama mencari jalan keluar jika terjadi konflik dan perbedaan. Pesan yang kuat dari kehidupan di Rumah Betang adalah agar gereja-gereja di Indonesia belajar menjadi saudara satu bagi yang lain, sekaligus menjadi persekutuan yang inklusif menunjukkan keramahan dan rasa hormat pada anak bangsa yang lain dalam rumah bersama, Indonesia.

Ada satu pesan lain yang kuat dari GKE dalam percakapan sepanjang persidangan agar menyikapi pembangunan IKN, gereja-gereja di Indonesia dapat hadir bersama dengan GKE menyatakan kehadiran Kekristenan dan pemberitaan Injil Kerajaan Allah di IKN. Persidangan juga tiba pada kesadaran bahwa gereja-gereja bisa saja membeli tanah untuk pembangunan di IKN. Namun kehadiran gereja-gereja di IKN tidak boleh dalam spirit saling bersaing dan menegasikan. Sebaliknya gereja-gereja perlu saling mendukung, mencari cara untuk bekerja sama lebih baik dalam bersekutu, bersaksi, dan melayani. Dalam rangka menemukan bentuk kehadiran Kekristenan yang tepat di IKN, ada dorongan untuk melakukan konferensi gereja dan masyarakat mengenai topik ini dalam waktu dekat. Selain itu bisa juga membentuk Kalimantan-desk di kantor PGI di Jakarta yang terus melakukan kajian bagi perumusan kebijakan gereja dalam pembangunan IKN.

Peserta sidang komisi yang membahas hal-hal umum.

Memasuki Masa Transisi Kepemimpinan Bangsa

Persidangan MPL kali ini juga diselenggarakan dalam kesadaran bahwa gereja-gereja di Indonesia merupakan bagian integral bangsa yang sedang memasuki masa transisi kepemimpinan bangsa. Sub tema persidangan kali ini menekankan dua pokok pikiran, yaitu merawat masyarakat majemuk dan memelihara kasih persaudaraan. Gereja-gereja di Indonesia merupakan bagian dari masyarakat majemuk di Indonesia dan berkomitmen mengupayakan kasih persaudaraan di antara semua anak bangsa.

Sesi study meeting dalam persidangan menghadirkan sejumlah pembicara untuk membahas kedua pokok pikiran btersebut. Salah satu pembicara yang berbagi dalam pleno sesi studi itu adalah Ibu Hurriyah, kandidat doktor sekaligus dosen Fakultas Ilmu Politik Universitas Indonesia. Dengan menyinggung indeks kerawanan Pemilu yang dirilis Bawaslu RI, Ibu Hurriyah mengingatkan lembaga-lembaga agama di Indonesia, termasuk gereja-gereja anggota PGI, untuk berhati-hati agar tidak dimanfaatkan oleh para pengusaha politik demi keuntungan mereka. Dia memakai istilah political entrepreneuruntuk pihak yang mencari keuntungan politik dengan segala cara, termasuk memanfaatkan agama untuk kepentingan politik.  

Dia juga mendorong agama-agama untuk tidak hanya bermain di zona nyaman seruan moral, melainkan mampu memiliki jawaban terhadap persoalan-persoalan kehidupan, termasuk menanggapi isu politik yang berpotensi memecah belah masyarakat Indonesia. Peran krusial agama-agama dalam politik bangsa menurutnya adalah penguatan masyarakat sipil (demos) melalui pendidikan politik dan demokrasi. Dalam pandangannya peran ideal agama tidak bisa berhenti hanya di seruan moral untuk menjadi warga negara yang baik, tetapi agama harus turun langsung ke masyarakat, merancang pendidikan poltik dan gerakan-gerakan politik agar rakyat lebih kuat sebagai ‘demos‘ yang mampu mengawasi kekuasaan. Gereja mesti membangun kapasitas untuk secara lebih percaya diri terlibat dalam penguatan demokrasi bangsa.

Ekonomi Allah

Selain sidang-sidang pleno, yang juga penting adalah sidang-sidang komisi atau kelompok. Dalam rangkaian persidangan, ada kesempatan bagi peserta sidang untuk duduk berkelompok berbagi pemahaman dan mencari solusi tantangan pelayanan yang dihadapi gereja-gereja di Indonesia. Selain pertemuan kelompok yang dibagi berdasarkan wilayah, ada juga pertemuan yang diorganisir berdasarkan topik-topik bahasan. Biasanya percakapan di kelompok terfokus lebih mendalam sebab jumlah orang terbatas dan pembicaraan dikonsentrasikan pada pokok-pokok tertentu.

Satu isu menonjol dari baik pertemuan wilayah maupun pertemuan berdasarkan topik bahasan yang saya ikuti adalah tanggung jawab gereja-gereja di Indonesia untuk ikut menjaga ketahanan sosial ekonomi bangsa. Sejumlah pihak telah menyebutkan tahun 2023 akan menjadi tahun yang sulit secara global. Beberapa negara telah mengalami inflasi yang sangat tajam. Dalam persidangan di kelompok, peserta sidang membicarakan dengan serius upaya yang harus dilakukan gereja untuk pemberdayaan ekonomi jemaat/masyarakat menghadapi ancaman krisis ekonomi dunia, yang dapat berdampak pada bangsa Indonesia. Setelah kurang lebih tiga tahun terdampak pandemi, kini kita menghadapi ancaman resesi mondial.

Beberapa hal disebutkan adalah kerja sama antar gereja-gereja anggota PGI dan PGIW dalam rangka pemberdayaan ekonomi jemaat/masyarakat. Untuk itu gereja dapat memanfaatkan dana penguatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang disiapkan kementerian terkait. Di tingkat nasional, PGI dapat menghidupkan kembali motivator pertanian yang telah sangat membantu gereja-gereja di Indonesia di masa lalu. Selain itu pembentukan motivator dapat meliputi juga motivator di bidang teknologi informasi (pelayanan digital), dll.

Persidangan kelompok juga menyebutkan prinsip Theo-enterpreneurship dalam pengembangan ekonomi, yaitu ekonomi yang profesional, berkeadilan, dan ramah alam. Pengembangan ekonomi yang dikembangkan gereja tidak dimaksudkan semata-mata mencari keuntungan dan menumpuk modal, melainkan dikembangkan dalam semangat ekonomi Allah yang membawa sejahtera dan keadilan bagi semua, termasuk bagi alam. Upaya pengembangan ekonomi oleh gereja mesti berangkat dan tertuju pada keprihatinan Allah, terutama untuk pemberdayaan kelompok-kelompok rentan dalam gereja dan masyarakat, dan demi keutuhan ciptaan.

Pimpinan Sinode GKE dan panitia

Ekumenisme sebagai Perwujudan Pengakuan Iman

Dalam persidangan ini salah satu gereja yang berkantor sinode di Nusa Tenggara Timur, Gereja Masehi Musafir Indonesia (GMMI) diterima sebagai anggota PGI. Setelah melalui proses yang panjang untuk permohonan kepada PGI, didukung secara tertulis oleh beberapa gereja anggota, verifikasi melalui kunjungan MPH, dan sejumlah tahapan lain, akhirnya GMMI secara resmi menjadi anggota PGI yang ke-96. GMIT dan PGIW NTT termasuk pihak yang secara administratif mendukung proses GMMI menjadi anggota PGI.  

Saya selalu menghayati pertemuan ekumenes, seperti persidangan MPL, sebagai perwujudan pengakuan iman: “Aku percaya satu gereja yang kudus, am, dan rasuli”. Pertemuan ekumenes seperti itu adalah wujud iman bahwa kita adalah gereja yang satu, yang dipanggil Tuhan dan dikuduskan, dan diutus membawa kabar baik ke dalam dunia. Gereja Protestan dari berbagai latar belakang tradisi yang berbeda: Lutheran, Calvinis, Metodis, Injili, dan Karismatik duduk bersama, saling memeluk sebagai saudara dan saudari di dalam Tuhan, belajar bersama dan merumuskan pemahaman tentang tugas bersama sebagai Tubuh Kristus di bumi Indonesia. Tak ada satu yang lebih tinggi dari yang lain, semua setara, semua saudara di dalam Tuhan. Program-program periodik lima tahunan (prokelita) dan program setiap tahun dirumuskan bersama sebagai bentuk pewartaan kabar baik, Injil Yesus Kristus, dalam masyarakat majemuk Indonesia.

Pendapat yang berbeda dalam persidangan tak menjadi alasan untuk saling menolak. Di pertemuan ekumenes mesti ada kesediaan untuk saling mendengarkan sungguh-sungguh. Suara yang berbeda menjadi kekayaan untuk meluaskan cakrawala berpikir. Pandangan yang berbeda menjadi dorongan untuk berefleksi. Semua berusaha untuk tidak saling menyakiti, melainkan menghargai yang berbeda. Di lingkaran ekumenes PGI, ciri khas tiap aliran dan denominasi tetap dihargai. Ekumenisme bukan penyeragaman. Ekumenisme adalah penerimaan dan perayaan keragaman sebagai kekayaan karya Roh Kudus dan tanggapan iman manusia.

Dalam pertemuan ekumenes, kita juga tak boleh berhenti pada pandangan dan sikap yang sekedar menjaga keharmonisan hubungan lalu mengorbankan hal-hal prinsip dari iman. Percakapan ekumenes para pemimpin gereja dalam pertemuan, seperti di persidangan MPL, harus mampu “bertolak lebih dalam”: menemukan hal-hal yang lebih prinsip dari ajaran Kristus dalam Alkitab sebagai dasar melangkah bersama. Pendapat yang disampaikan sebaiknya lahir dari pertimbangan yang matang dan disampaikan dengan cara yang tidak melukai, sebaliknya memulihkan luka-luka persekutuan. Pdt. Gomar Gultom, Ketua Umum PGI mengingatkan dibutuhkan juga kedewasaan dan kelenturan untuk menerima dan menghormati perbedaan. Kiranya gereja-gereja di Indonesia makin dewasa dan matang dalam berekumene.

Sampai jumpa di persidangan berikut. Selamat melanjutkan ziarah ekumene bagi gereja-gereja di Indonesia demi menjadi tanda rahmat Tuhan bagi bangsa ini. Kiranya kebijaksanaan dan sukacita orang bersaudara gereja-gereja di Indonesia yang kita alami dalam persidangan-persidangan kita terpancar dalam hidup bersama anak-anak bangsa lintas agama di negeri ini. Agar Tuhan dimuliakan dan kebaikanNya diagungkan.

Perjalanan Balikpapan-Surabaya-Kupang, 31 Januari 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *