Dilahirkan Kembali Menjadi Manusia Baru (Yohanes 3:1-21) – Pdt. Melkisedek Sni’ut

sumber ilustrasi: https://m.blog.naver.com/

www.sinodegmit.orid, Nas ini berisi percakapan Yesus dengan Nikodemus. Siapa Nikodemus? Nama ini hanya ada dalam Injil Yohanes. Dia adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi (Yoh. 3:1). Dalam Injil Yohanes, Nikodemus disebutkan dalam tiga peristiwa. Yang pertama dalam perikop ini. Yang kedua dalam Yohanes 7:45-52. Di situ dia membela Yesus di hadapan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Yang ketiga dalam Yohanes 19:39-42. Di situ dia bersama Yusuf dari Arimatea menguburkan mayat Yesus. Saat itu dia membawa minyak mur dan minyak gaharu seberat lima puluh kati (tiga puluh kilogram) untuk merempah-rempahi mayat Yesus.

Nikodemus berasal dari dua kata: nikosdan demos. “Nikos” artinya pemenang. Sedangkan “demos” artinya rakyat atau bangsa. Jadi ‘Nikodemus” berarti rakyat atau bangsa pemenang. Injil Yohanes menggambarkan Nikodemus sebagai orang yang berhati lurus dan setia.  Namun dia juga penakut dan tidak memahami Yesus ketika anavar cycle for men mereka saling berhadapan. Biarpun begitu dia adalah salah satu martir pada abad pertama. Itu sebabnya dia diangkat sebagai santo oleh gereja Katholik Roma dan Orthodoks Timur dan diperingati pada setiap tanggal 3 Agustus.

Hal lain dari Nikodemus adalah bahwa dia menyaksikan sendiri mujizat yang Yesus lakukan. Dia juga mendengar langsung ajaran-ajaran Yesus. Dari apa yang dilihat dan didengar, dia berkesimpulan bahwa Yesus adalah seorang Guru yang diutus Allah. Itulah sebabnya dia bertemu dan melakukan percakapan pribadi dengan Yesus. Pertemuan itu dilakukan pada waktu malam. Mengapa harus malam?

Ada dua alasan. Pertama,pada zaman Yesus, malam hari adalah waktu bagi para pengajar Yahudi untuk belajar. Jadi siang mereka bekerja, malam mereka belajar. Dengan demikian Nikodemus datang kepada Yesus untuk belajar. Dalam hal ini dia menjadikan Yesus sebagai Gurunya. Dia menyapa Yesus dengan sebutan “Rabi”. Rabiadalah istilah dalam bahasa Ibrani yang berarti guru.

Kedua,dia takut kepada rekan-rekannya sesama orang Farisi. Sebab pada saat itu sebagian besar orang Farisi, ahli Taurat dan imam-imam kepala beranggapan bahwa Yesus adalah penghujat Allah. Jadi Nikodemus memilih waktu malam untuk datang kepada Tuhan Yesus karena tidak ingin dilihat orang.  Dia tidak ingin dikenal sebagai murid Yesus.

Dalam pertemuannya dengan Yesus, percakapan mereka adalah mengenai kelahiran kembali dan kehidupan kekal. Ada dua pertanyaan pokok yang Nikodemus ajukan kepada Yesus: Bagaimana seseorang dilahirkan kembali? Bagaimana hal itu terjadi? Jawaban Yesus atas dua pertanyaan ini yang terlihat dalam seluruh perikop.

Dari percakapan ini, ada lima hal penting yang mesti direnungkan. Pertama,perjumpaan dan percakapan dengan Yesus dapat terjadi kapanpun (ayat 1-2). Berbeda dengan agama-agama lain, dalam kekristenan tidak ada kewajiban untuk berdoa pada jam-jam khusus.

Tentu saja hari Minggu dan hari raya merupakan waktu khusus untuk beribadah bagi umat Kristen. Tetapi untuk hari-hari lainnya, tidak ada jam khusus yang ditentukan untuk berdoa atau beribadah bagi seluruh umat Kristen. Setiap orang mesti menentukan jam berdoanya masing-masing.

Begitu pula dalam konteks keluarga. Setiap keluarga dapat menentukan sendiri jam untuk ada dalam mezbah keluarga. Karena itu mezbah keluarga dapat terjadi pada pagi hari, malam hari atau keduanya. Mengapa tidak ada jam doa yang seragam dalam kekristenan? Karena Yesus memberikan kebebasan bagi setiap orang atau keluarga untuk datang kepadanya dengan sukarela. Dia mau agar umat-Nya datang kepada-Nya dengan rasa nyaman dan sukacita, bukan karena terpaksa atau diwajibkan. Itulah yang Nikodemus lakukan. Dia datang kepada Yesus setelah menyelesaikan kesibukannya hari itu. Dia juga datang kepada Yesus secara pribadi, bukan karena ingin dilihat oleh orang lain.

Hal inilah yang dapat kita teladani. Kita mesti datang kepada Yesus sesuai waktu yang ada pada kita. Dengan demikian kita tidak akan merasa terburu-buru atau dikejar waktu. Selain itu fleksibilitas waktu untuk bertemu dengan Yesus membuat relasi dengan-Nya menjadi semakin intim. Tidak perlu diketahui oleh orang lain. Sudah cukup apabila pertemuan itu membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Kedua,Kerajaan Allah hanya dapat dilihat melalui kelahiran kembali dalam roh (ayat 3-7). Kerajaan Allah yang dimaksud di sini bukanlah soal wilayah melainkan suasana. Maksudnya suasana di mana nilai-nilai Injil dirasakan oleh semua orang. Dengan demikian Kerajaan Allah tidak sama dengan wilayah Kristen. Bisa saja ada tempat yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Namun belum tentu Kerajaan Allah hadir di tempat itu. Sebaliknya, ada pula tempat di mana hanya sebagian kecil penduduknya beragama Kristen. Namun di tempat itu Kerajaan Allah hadir.

Cara pandang ini berlaku pula dalam lingkup keluarga. Dalam sebuah keluarga, bisa saja semua anggotanya Kristen. Namun belum tentu Kerajaan Allah hadir dalam keluarga itu. Sebaliknya, ada pula keluarga yang tidak semuanya anggotanya Kristen. Misalnya, dalam keluarga yang ART-nya beragama non Kristen. Atau bisa juga keluarga nikah campur. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa Kerajaan Allah hadir dalam keluarga itu. Jadi sekali lagi, Kerajaan Allah bukan soal tempat melainkan suasana. Suasana yang bagaimana? Tentu saja suasana yang Injili. Maksudnya suasana di mana nilai-nilai Injil menjadi bagian dari sikap hidup sehari-hari. Nilai-nilai Injil itu nampak dalam buah-buah roh. Apa itu?

Galatia 5:22-23 menyebutkan sembilan buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Apabila hal-hal ini dapat dirasakan maka sebenarnya Kerajaan Allah telah hadir. Sebaliknya, jika belum maka seseorang atau suatu keluarga memerlukan kelahiran kembali dalam roh.

Ketiga,kelahiran kembali mesti membawa hidup baru yang berdampak baik bagi sesama (ayat 8-13). Poin ini masih punya kaitan erat dengan poin kedua di atas. Namun poin ini menekankan dampak yang baik kepada sesama. Seseorang tidak dapat disebut mengalami kelahiran kembali apabila tidak membawa kebaikan bagi sesamanya. Apalagi kalau ada yang mengklaim dirinya telah lahir baru namun justru menjadi momok yang menakutkan bagi sesamanya. Misalnya, dengan sikapnya yang suka menghakimi. Seolah-olah hanya dirinya yang suci dan semua orang yang tidak sama dengannya berdosa. Atau hanya kelompoknya saja yang masuk sorga, sedangkan semua yang berbeda dengannya masuk neraka. Sikap seperti ini tidak dapat dikategorikan sebagai kelahiran kembali. Ini juga bukan hidup baru di dalam Roh. Orang yang telah mengalami kelahiran kembali akan menjalani hidup dalam tuntunan Roh Kudus. Karena itu hidupnya senantiasa ada dalam kebenaran Allah. Kebenaran Allah nampak dalam wujud kesadaran bahwa Allah adalah pencipta dan semua yang lain termasuk dirinya hanya ciptaan. Kesadaran ini kemudian membawa pembaharuan sikap. Sikap yang bagaimana?

Yehezkiel 36:25-28 menyebutkan beberapa sikap. Misalnya, pengakuan bahwa hidup baru itu merupakan inisiatif Allah. Manusia hanya memberikan respon. Dengan kata lain, dosa-dosa yang diampuni bukan karena amal dan kebaikan manusia melainkan atas kemurahan Allah saja. Hati dan roh manusia yang keras digantikan dengan hati yang lembut dan roh yang taat. Bahkan Roh Kudus akan berdiam di dalam bathin dan membuat dirinya hidup menurut kehendak Allah. Singkatnya, orang yang hidup baru akan memberikan diri dan hidupnya untuk dikuasai oleh kehendak Tuhan. Kehendak dari semua yang lain, termasuk kehendak pribadinya, tunduk pada kehendak Tuhan. Hal inilah yang pada akhirnya memberikan dampak yang baik dalam kehidupan dengan sesama.

Keempat,Yesus adalah Anak Tunggal Allah yang diutus untuk menyelamatkan dunia (ayat 14-17). Sejak pemberontakan Adam dan Hawa di Taman Eden, seluruh ciptaan ada dalam ancaman kebinasaan. Namun Allah tidak tinggal diam. Dia sangat mengasihi ciptaan, teristimewa manusia yang adalah gambar dan rupa-Nya. Karena itu Dia mengutus Anak-Nya yang Tunggal untuk menjadi Juruselamat dunia. Dengan demikian setiap orang yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup baru yang kekal.

Dalam kurun waktu yang sangat lama, percaya kepada Anak Tunggal Allah diartikan dengan menjadi Kristen. Sedangkan orang yang tidak percaya kepada Anak Tunggal Allah adalah orang-orang non Kristen. Konsekuensi dari pandangan ini cukup serius. Menjadi Kristen pasti selamat dan memperoleh hidup kekal. Sebaliknya, tidak menjadi Kristen pasti binasa.

Pandangan inilah yang mendorong semangat penginjilan selama berabad-abad. Para misionaris dan zendeling dikirim ke negeri yang jauh dengan harapan membuat semua orang menjadi Kristen. Dalam hal ini penginjilan sama dengan kristenisasi. Pada masa lalu hal ini bukan masalah. Tetapi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjunjung tinggi kebebasan beragama pada masa kini, kristenisasi merupakan masalah serius. Sebab hal ini dapat mengancam keutuhan NKRI. Lalu bagaimana kita memahami nas Alkitab pada bagian ini?

Pertama-tama mesti disadari bahwa pandangan yang mengatakan percaya kepada Anak Tunggal Allah sama dengan menjadi Kristen itu hanya tafsiran. Itu bukan kata-kata Yesus. Bahkan ketika Yesus hidup di dunia, istilah Kristen belum ada. Istilah Kristen baru ada setelah Yesus naik ke sorga. Karena itu kita perlu memahami kembali maksud Yesus.

Untuk memahami maksud Yesus pada bagian ini, kita mesti memulainya dari ayat 14. Dalam ayat ini Yesus mengarahkan Nikodemus untuk mengingat kembali kisah Musa dan ular tembaga di padang gurun (Bil. 21:4-9). Sebagai seorang Farisi, Nikodemus pasti sangat paham kisah tersebut. Apa itu? Bilangan 21:4-9 menceritakan bahwa dalam perjalanan mengelilingi Edom, orang Israel kembali bersungut-sungut. Mereka bosan makan manna. Roti dan air juga tidak ada. Penjalanan ke Kanaan mulai dirasakan sebagai hal yang melelahkan. Miryam sudah mati. Harun juga. Bahkan banyak dari antara umat Israel yang sudah mati pula. Tetapi perjalanan mereka belum berakhir. Mereka pun baru saja berperang melawan raja negeri Arad. Semuanya ini menjadi semacam beban yang menumpuk sehingga membuat umat Israel memberontak kepada Tuhan dan Musa. Karena pemberontakan itu, Tuhan mengirim ular tedung ke antara umat Israel. Ular-ular itu memagut banyak orang dari antara mereka sehingga mati mengenaskan. Karena itu mereka pun meminta ampun kepada Tuhan melalui Musa. Mereka bertobat. Musa lalu membawa doa tobat umat Israel kepada Tuhan.

Akhirnya Tuhan menyuruh Musa membuat ular dari tembaga dan menempatkannya pada sebuah tiang. Apabila ada orang yang dipagut ular tedung dan datang memandang ular tembaga tersebut, dia tidak akan mati. Hanya orang yang dipagut ular tedung dan tidak memandang ular tembaga saja yang mati. Kepada Nikodemus, Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan ular tembaga. Sedangkan orang yang percaya kepada Yesus diidentikkan dengan umat Israel yang dipagut ular tedung dan memandang ular tembaga. Mereka selamat. Mereka dilahirkan kembali dari ancaman kebinasaan. Sebaliknya, orang yang tidak memandang Dia pasti binasa.

Dari perbandingan ini terlihat bahwa yang Yesus maksudkan dengan orang yang percaya kepada Anak Tunggal Allah bukan semata-mata orang Kristen. Bukan pula orang-orang saleh saja. Yang Yesus maksudkan adalah orang-orang yang ada dalam ancaman kematian akibat dosa-dosanya. Jika orang yang demikian percaya dan datang kepada Tuhan Yesus, dia tidak akan binasa. Justru dia akan disembuhkan dan memperoleh hidup baru. Sebaliknya, orang yang terancam oleh kematian namun tetap tidak mau datang kepada Tuhan Yesus, dia pasti binasa.

Inilah yang Yesus maksudkan dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus. Jadi percaya kepada Anak Tunggal Allah, itu pertama-tama bukan soal Kristen atau non Kristen. Itu adalah soal kesadaran akan dosa dan ancaman kebinasaan. Dengan demikian siapa pun yang berkomitmen untuk bertobat, menjauhi dosa serta hidup dalam nilai-nilai Injil yang Yesus teladankan, akan mengalami keselamatan dan hidup kekal. Hal ini berlaku untuk semua orang tanpa memandang latar belakang suku, budaya, kelas sosial dan bahkan agama sekalipun.

Kelima,hukuman bagi orang yang tidak menerima Yesus adalah membenci terang dan menyukai kegelapan (ayat 18-21). Biasanya hukuman diasosiasikan dengan ancaman langsung, baik secara fisik maupun mental. Contoh hukuman fisik yaitu dipukul, ditendang, dicambuk, dilempari dengan batu, digantung, dibakar, dipenggal dan lain-lain. Sedangkan contoh hukuman mental yaitu, dimaki, dihina, diludahi, ditelanjangi, dipermalukan dan lain-lain.

Namun pada bagian ini Yesus mengatakan bahwa bentuk hukuman bagi orang yang tidak percaya kepada-Nya adalah membenci terang dan menyukai kegelapan. Apa maksudnya? Maksudnya adalah bagi Yesus, hukuman yang paling berat bukanlah dalam bentuk fisik atau mental melainkan keterasingan. Keterasingan adalah bentuk hukuman yang melampaui hukuman fisik maupun mental. Sebab keterasingan sama dengan kegelapan. Orang yang ada dalam kegelapan diperhadapkan dengan kebutaan total. Relasi dengan sekitarnya pun hilang.

Seperti itulah keadaan dari setiap orang yang mengalami hukuman dari Tuhan. Relasi dengan Tuhan terputus. Relasi dengan sesama pun demikian. Akibatnya dia hidup dalam kesendirian. Sekalipun ada relasi yang hendak dibangun dalam kegelapan, itu hanya semu. Sementara. Relasi yang terjalin dalam kegelapan rentan terhadap berbagai ancaman seperti ketakutan, kecurigaan, kesalahpahaman dan lain-lain. Ini tentu sangat berat untuk ditanggung.Oleh karena itu berdoalah agar kita tidak mengalami hukuman itu. Sekalipun dosa senantisa mengintai, datanglah kepada Yesus. Sebab pada Dia ada kelahiran kembali oleh Roh. Pada Dia ada hidup baru. Pada Dia ada kehidupan kekal. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *