Berjalan Bersama Sang Raja Damai (Matius 21:1-11) – Pdt. Melkisedek Sni’ut

www.sinodegmit.or.id, Menurut tradisi, hari Minggu sebelum Paskah adalah Minggu Palma (Palm Sunday). Sebenarnya yang merayakan Minggu Palma bukan hanya gereja Katolik saja. Gereja Ortodoks, Anglikan dan Protestan pun merayakannya. Hanya saja pemahaman dan cara merayakannya yang bervariasi.

Di gereja Katolik, Minggu Palma disebut Minggu Palma Sengsara Tuhan (Bahasa Latin: Dominica in Palmis de Passionis Dominica). Minggu Palma adalah pintu masuk ke pekan suci. Pekan suci itu dimulai dari Minggu Palma sampai hari Kamis sebelum Misa Kamis Putih. Hari Senin sampai Kamis dalam pekan suci ini lebih diutamakan dari hari-hari raya lainnya. Dalam hari-hari ini dua sakramen dalam gereja Katholik yaitu baptisan dan krisma (penguatan/inisiasi) tidak diperbolehkan.

Minggu Palma mulai menjadi bagian dari tradisi gereja pada abad ke-4 Masehi. Ini dirayakan untuk mengenang peristiwa Yesus dielu-elukan ketika memasuki kota Yerusalem seperti yang diceritakan oleh keempat Injil (Mat. 21:1-11; Mrk. 11:1-11; Luk. 19:28-44 dan Yoh. 12:12-19). Secara umum, gereja Katolik merayakan Minggu Palma dengan cara sebagai berikut.

Pada jam yang ditentukan, umat berkumpul di tempat perayaan. Tempat itu bisa berupa kapel atau luar gedung gereja yang menjadi tujuan perarakan. Tiap orang memegang daun palma atau ranting dedaunan yang telah diberkati oleh imam. Umat lalu berarak ke tempat misa dengan membawa daun palmanya masing-masing. Gedung yang dipakai untuk misa juga dipenuhi dengan hiasan dari daun palma. Daun-daunan ini nantinya akan dibawa pulang, disimpan dan pada tahun berikutnya dibakar lalu abunya dipakai untuk perayaan Rabu Abu.

Daun palma dipakai untuk memeragakan kembali lambaian daun palma oleh orang banyak ketika Yesus dielu-elukan saat memasuki kota Yerusalem. Namun ada makna yang lebih dalam. Lambaian daun palma merupakan simbol dari sambutan manusia untuk ditebus oleh Tuhan Yesus, Sang Juruselamat dunia. Yang dimaksud dengan sambutan manusia di sini yaitu mempersiapkan hati dan mengakui dosa dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian umat siap untuk mengikuti Yesus menuju rumah Bapa yang penuh dengan kedamaian.

Jadi daun palma adalah simbol kemenangan. Maksudnya kemenangan para martir atas kematian. Para martir mendapat hak istimewa untuk berada di jalur cepat menuju rumah Bapa. Itu sebabnya para martir sering digambarkan dengan dua daun palma. Inilah pemahaman dan cara merayakan Minggu Palma dalam gereja Katholik.

Bagaimana dengan GMIT (Gereja Masehi Injil di Timor)? Menurut Peraturan Ibadah dan Atribut GMIT, Minggu Palma merupakan bagian dari tahun liturgi. Minggu Palma ada dalam kategori siklus peristiwa yang dimulai dari Adven, Natal dan seterusnya sampai Kristus Raja. Ini ada dalam Penjelasan Pasal (3) ayat (1) huruf (e) Peraturan Ibadah dan Atribut GMIT yang menjelaskan Minggu Sengsara. Jadi Minggu Palma adalah bagian dari Minggu Sengsara.

Dalam penjelasan pasal dan ayat peraturan ini, Minggu Sengsara adalah serangkaian perayaan yang terdiri dari empat bagian. Bagian pertama yaitu Minggu Sengsara I sampai VI. Bagian kedua Minggu Sengsara VII atau Minggu Palma. Bagian ketiga Jumat Agung. Lalu bagian keempat Sabtu Suci atau Malam Paskah.

Dengan demikian, kedudukan Minggu Palma sama pentingnya dengan kedudukan Jumat Agung. Bahkan Jumat Agung tidak dapat dirayakan sebelum Minggu Palma dirayakan. Karena itu Minggu Palma mesti dirayakan secara khusus. Lalu bagaimana cara merayakannya?

Seperti telah disebutkan di atas, cerita tentang peristiwa Yesus dielu-elukan di Yerusalem tercatat dalam empat Injil. Itu berarti penulis Injil yang mencatat peristiwa ini lebih banyak dari penulis Injil yang mencatat peristiwa Yesus dan diterima sebagai hari raya di GMIT. Misalnya, kelahiran Yesus yang diperingati sebagai Hari Natal hanya tercatat dua kali saja yaitu dalam Injil Matius (Mat. 1:18-25) dan Injil Lukas (Luk. 2:1-20). Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga yang diperingati sebagai Hari Kenaikan Tuhan Yesus hanya tercatat tiga kali saja yaitu dalam Injil Markus (Mrk. 16:9-20), Injil Lukas (Luk. 24:50-53) dan Kisah Para Rasul (Kis. 1:6-11). Pencurahan Roh Kudus yang diperingati sebagai Hari Pentakosta hanya tercatat satu kali saja yaitu dalam Kisah Para Rasul (Kis. 2:11-13).

Jadi berdasarkan jumlah penulis Injil yang mencatat, Minggu Palma sama dengan Jumat Agung dan Paskah. Kenapa? Karena dicatat oleh semua penulis Injil. Sedangkan Natal, Kenaikan Tuhan Yesus dan Pentakosta, tidak semua penulis Injil mencatatnya.

Sebagai gereja Protestan yang memiliki semboyan sola scriptura(hanya oleh Alkitab), GMIT harus menjadikan Alkitab sebagai pedoman dalam menerima atau menolak tradisi yang diwarisi gereja sejak berabad-abad. Tradisi Natal dan Minggu Palma sama-sama berawal dari abad ke-4 Masehi. Namun bagi banyak orang Kristen, Natal sangat penting. Sedangkan Minggu Palma dianggap kurang penting, tidak penting atau bahkan dianggap tidak ada!

Padahal seperti yang terlihat, Minggu Palma ‘lebih’ Alkitabiah dari Natal. Karena itu apabila dalam Kebaktian Natal ada hiasan kandang domba, palungan dan ternak (bahkan pohon Natal yang megah padahal tidak ada dalam Alkitab!) maka seharusnya dalam Kebaktian Minggu Palma ada juga daun-daun palma atau daun-daunan pada ranting sebagai hiasan dalam ruangan kebaktian.

Liturgi Kebaktian Minggu Palma tahun 2023 yang dikirimkan oleh Majelis Sinode GMIT ke jemaat-jemaat telah memasukkan unsur daun-daunan pada ranting dan pakaian. Nas Alkitabnya pun tentang kisah Yesus dielu-elukan di Yerusalem.

Ini merupakan upaya sengaja agar anggota GMIT menghayati peristiwa kesengsaraan Tuhan Yesus dalam konteks Minggu Palma. Namun belum semua pelaku pelayanan GMIT pada lingkup jemaat menyadari hal ini. Itu sebabnya ketika menyesuaikan liturgi dengan konteks jemaat, unsur daun-daunan pada ranting dan pakaian dihilangkan. Bahkan nas Alkitab pun diganti. Akibatnya makna Minggu Palma tidak direnungkan sama sekali. Padahal melalui Minggu Palma, anggota jemaat dikuatkan agar mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian dengan hati yang damai. Minggu Palma juga adalah kesempatan yang baik untuk memberikan penguatan kepada keluarga-keluarga yang ditinggal mati oleh orang yang dikasihinya.

Setelah memahami pentingnya Minggu Palma, mari kita merenungkan nas ini. Nas ini adalah salah satu kisah Yesus dielu-elukan di Yerusalem yang tercatat dalam kitab-kitab Injil. Dari kisah ini, ada empat hal yang menjadi pedoman bagi setiap orang Kristen pada masa kini.

Pertama,orang yang berjalan bersama Yesus mesti selalu siap bekerja dalam senyap untuk kemuliaan Tuhan (ayat 1, 6-7). Di Betfage Yesus menugaskan dua murid mendahului rombongan-Nya untuk mengambil keledai bagi-Nya. Yang menarik adalah dua murid itu tidak disebutkan namanya. Bukan hanya Matius yang tidak menyebutkan nama. Tiga Injil yang lain pun demikian.

Hal ini menunjukkan bahwa ada kalanya Tuhan Yesus memberikan tugas khusus kepada murid-murid-Nya. Tugas itu penting. Namun tidak kepada semua orang Yesus mempercayakan tugas itu. Dia memilih orang tertentu. Hanya tim kecil. Kepada tim kecil itu diberikan petunjuk-petunjuk. Mereka kemudian diminta bekerja. Pada saat bekerja nama mereka tidak dikenal. Selesai bekerja pun mereka tetap tidak dikenal. Mereka bekerja sebagai tim kecil, secara senyap dan berhasil untuk kemuliaan Tuhan. Mereka sadar bahwa dirinya hanya sekedar alat di tangan Tuhan.

Ini merupakan teguran bagi setiap orang yang bekerja dalam tim sukses yang besar, berusaha selalu tampil di depan agar menjadi populer tetapi untuk kepentingan dan kemuliaan diri sendiri. Orang-orang seperti ini tidak berjalan bersama Tuhan Yesus. Mereka justru memperalat Tuhan Yesus untuk tujuan pribadi dan kelompoknya. Orang-orang seperti ini mesti bertobat. Sebab jika tidak, kedamaian tidak akan tinggal dalam hati dan hidupnya.

Kedua,Yesus adalah Sang Raja Damai (ayat 2-5). Kepada dua orang murid yang diutus, Yesus meminta mereka membawakan-Nya keledai. Bukan keledai biasa. Yang dibawa adalah keledai betina dengan anaknya. Keledai itu akan menjadi tunggangan-Nya ketika memasuki kota Yerusalem. Keledai berbeda dengan kuda. Kuda adalah simbol kekuatan militer dan perang. Sebaliknya keledai adalah simbol kedamaian. Jadi ketika Yesus menunggangi keledai dalam perjalanan ke Yerusalem artinya Dia hendak menunjukkan tanggung jawab-Nya sebagai Sang Raja Damai.

Hal ini mengingatkan setiap orang percaya yang berjalan bersama Yesus agar senantiasa ada dalam damai. Tidak ada tempat bagi provokator, perusuh atau pemecah-belah persekutuan dalam rombongan orang-orang yang berjalan bersama Yesus. Karena itu bagi orang-orang yang demikian dan masih berjalan bersama Yesus, pilihannya hanya dua. Satu, keluar dari rombongan Yesus. Itu berarti berhenti menjadi murid Tuhan Yesus. Berhenti menjadi orang Kristen, Atau kedua, bertobat dan berubah menjadi pembawa damai seperti Yesus. Karena hanya dengan demikian maka dia akan terus berjalan bersama Yesus, Sang Raja Damai.

Ketiga,Yesus, Sang Raja Damai, mesti menjadi pusat pujian dan penyembahan dalam perjalanan orang percaya (ayat 8-9). Ketika memasuki kota Yerusalem, orang banyak menghamparkan pakaian dan ranting-ranting pohon di jalan. Ini merupakan kebiasaan yang lumrah pada masa itu untuk menghormati raja atau pembesar. Itu berarti Yesus dihormati oleh orang banyak sebagai Raja. Mereka bahkan menyanyikan “Hosana” bagi Yesus.

Hosana berasal dari kata Ibrani hosyi’ah na. Kata Ibrani ini terdiri dari dua kata yaitu “yasha”yang berarti menyelamatkan dan “na”yang berarti doa permohonan. Jadi hosyi’ah naatau hosiana atau hosana artinya Tuhan, selamatkan aku saat ini.

Seruan ini disampaikan oleh orang banyak kepada Yesus. Padahal saat itu Yesus tidak menunggangi kuda melainkan keledai. Ini berarti orang banyak percaya kepada Yesus. Saat itu mereka yakin bahwa Yesus akan sanggup menyelamatkan mereka. Sayangnya, sebagian besar dari mereka menyangka bahwa Yesus akan menyelamatkan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Karena itu ketika beberapa hari kemudian mereka melihat Yesus diadili sebagai terdakwa di depan pengadilan, teriakan mereka berubah menjadi, “Salibkan Dia, Salibkan Dia”!

Teriakan “Hosana” dari orang banyak ini mesti menginspirasi setiap murid Yesus pada masa kini agar senantiasa berseru kepada Tuhan dengan penuh keyakinan. Yakin bahwa Dialah Sang Raja Damai. Yakin bahwa Dia sanggup menganugerahkan kedamaian di akhir setiap penderitaan. Yakin pula untuk selalu berjalan bersama Dia di jalan yang Dia tunjukkan.

Namun keyakinan itu mesti disertai juga dengan penyerahan diri secara total kepada kehendak-Nya. Dengan demikian apapun yang Dia putuskan akan diterima dengan syukur. Sebab jika tidak maka orang yang paling keras ketika berteriak “Hosana”, juga akan menjadi orang yang paling keras ketika berteriak, “Salibkan Dia, Salibkan Dia”! Waspadalah akan hal ini!

Keempat,semua orang yang berjalan bersama Sang Raja Damai mesti siap menjadi saksi-saksi-Nya (ayat 10-11). Ketika arak-arakan Yesus memasuki kota Yerusalem, banyak orang yang bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Lalu orang banyak yang mengikuti perarakan Yesus menjawab bahwa itulah nabi Yesus dari Nazaret. Dengan demikian mereka menjadi saksi-saksi-Nya.

Apakah orang banyak yang memberikan jawaban ini sudah mengenal Yesus dengan baik? Tidak! Masih banyak yang belum kenal Yesus. Buktinya, Yesus tidak disebut sebagai Tuhan melainkan nabi dari Nazaret.

Hal ini menunjukkan bahwa untuk menjadi saksi-saksi Yesus tidak mesti menunggu sampai pengetahuan dan pengenalan akan Yesus sudah mendalam dulu. Justru pengenalan itu akan semakin mendalam ketika bersedia untuk selalu ada dalam perarakan Yesus dan menjadi saksi-saksi-Nya. Oleh karena itu kesediaan untuk selalu berjalan bersama Yesuslah yang paling penting.

Ini merupakan pedoman bagi proses pemilihan presbiter dalam jemaat-jemaat GMIT pada tahun 2023. Ketika Tuhan melalui anggota sidi jemaat memilih seseorang untuk menjadi penatua, diaken atau pengajar, yang bersangkutan tidak boleh menolak dengan alasan belum bisa, belum siap dan sebagainya. Terimalah ajakan dan panggilan Tuhan itu. Sebab sekalipun pada awalnya ada banyak kesalahan dalam pelayanan karena ketidaktahuan, namun seiring berjalannya waktu pengenalan itu akan semakin lengkap dan mendalam.

Karena itu berjalanlah senantiasa bersama Sang Raja Damai dan jadilah saksi-saksi-Nya. Dengan demikian kedamaian akan mengikuti kita ketika hidup di dunia ini, pada saat kita mati dan bahkan sampai selama-lamanya. Tuhan memberkati kita. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *