Apakah Engkau Mengasihi Aku? (Yohanes 21:15-19) – Pdt. Melkisedek Sni’ut

www.sinodegmit.or.id, Dalam suatu gladi untuk pelayanan Baptisan di Jemaat Syalom Ende, Klasis Flores, Pdt. Soneta Nenotek, S.Th yang memimpinnya bilang begini: “Orang tua dan saksi baptisan jangan hanya pentingkan jawaban saja. Sebelum menjawab, perhatikan dulu pertanyaannya. Lalu pahami, camkan dan renungkan pertanyaannya, baru kemudian menjawab”.

Penegasan ini tepat. Sebab sering kali orang tua calon baptisan hanya sibuk dengan bagaimana menjawab pertanyaan. Apalagi di jemaat-jemaat yang belum memiliki layar LCD atau liturgi tertulis. Dalam kondisi ini orang tua dan saksi baptisan diharuskan menghafal jawaban. Ini akan menjadi tugas yang sulit bagi sebagian orang tua dan saksi baptisan.

Ada yang merasa sulit karena tidak terbiasa menjawab pertanyaan di depan orang banyak (demam panggung). Yang lain merasa sulit karena sudah lama tidak masuk gereja dan baru masuk kembali untuk membaptis anak. Yang lain lagi merasa sulit karena sehari-hari berbahasa daerah namun saat menjawab pertanyaan diharuskan menjawab dalam bahasa Indonesia. Hal-hal ini akan membuat orang tua dan saksi baptisan hanya fokus pada jawaban tanpa memahami pertanyaannya.

Keadaan yang mirip terjadi pula dalam pelayanan-pelayanan khusus lainnya. Misalnya, pelayanan sidi, nikah, persiapan perjamuan kudus, penahbisan pendeta, penatua, diaken, pengajar dan sebagainya. Karena itu penegasan Pdt. Soneta Nenotek, S.Th untuk memahami dan merenungkan pertanyaan sebelum dijawab penting untuk diperhatikan.

Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tanggung jawab iman tidak hanya ada dalam ibadah-ibadah Kristen pada masa kini saja. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah ada sejak zaman Alkitab. Yesus pun pernah menanyakannya kepada murid-murid-Nya. Ada pertanyaan yang Yesus ajukan sebelum kematian-Nya di atas kayu salib. Namun ada pula pertanyaan yang Dia ajukan setelah bangkit dari antara orang mati. Nas ini berisi pertanyaan Yesus kepada Simon Petrus setelah kebangkitan-Nya.

Pertanyaan-pertanyaan yang Yesus ajukan kepada Petrus dalam nas ini tidak sekadar formalitas. Sebab tohPetrus bersama sebelas murid-Nya yang lain telah mengikuti-Nya selama tiga tahun. Bahkan sekalipun mereka tercerai-berai pada saat Yesus disalibkan, namun setelah kebangkitan mereka dikumpulkan kembali. Dengan berbagai cara, Yesus meyakinkan mereka bahwa Dia benar-benar bangkit. Jadi sebenarnya pertanyaan Yesus ini tidak perlu diajukan. Tetapi mengapa Yesus mengajukannya?

Sebab melalui pertanyaan ini, Petrus diharapkan menjawabnya dengan komitmen iman. Jadi Petrus tidak boleh asal menjawab. Petrus mesti menjawab dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab dan konsekuensi dan bahkan resiko dari jawabannya. Itu sebabnya Yesus tidak hanya satu atau dua kali bertanya kepada Petrus. Yesus bertanya sampai tiga kali. Tujuannya agar Petrus sampai pada kesadaran penuh sehingga jawabannya melibatkan pikiran dan perasaannya secara utuh.

Maksud Yesus ini pun tercapai. Itu sebabnya di akhir dari pertanyaan Yesus dan jawaban Petrus, Yesus mengingatkan tanggung jawab dan konsekuensi yang mesti Petrus terima di akhir hidupnya. Namun serentak dengan itu Yesus pun mengajak Petrus untuk mengikuti-Nya. Seluruh nas ini menunjukkan bahwa Petrus dipulihkan. Jadi apabila sebelum mati dan bangkit, pertanyaan Yesus tentang siapa diri-Nya mendatangkan pengakuan Petrus (Mat. 16:13-20) maka pertanyaan Yesus dalam nas ini mendatangkan pemulihan Petrus.

Dari penjelasan ini, pelajaran apa yang dapat kita ambil? Ada dua hal.

Pertama,tiga pertanyaan yang Yesus ajukan tidak sama. Pertanyaan pertama berbunyi: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”Pertanyaan kedua: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”Lalu pertanyaan ketiga: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”

Dalam teks bahasa Indonesia, pertanyaan kedua dan ketiga sama bunyinya. Hanya pertanyaan pertama yang ada tambahan kalimat “lebih dari pada mereka ini”. Namun sebenarnya dalam teks aslinya (bahasa Yunani) tidak sama. Ada penekanan yang berbeda pada setiap pertanyaan. Untuk itu kita perlu memeriksa teks aslinya.

Dalam bahasa Yunani, pertanyaan pertama berbunyi: “simon iona agapas me pleion touton”.Di sini ada dua hal yang mesti diperhatikan. Satu, agapas me(apakah engkau mengasihi Aku). Kata yang dipakai untuk “mengasihi” di sini adalah agapas. Agapasmerupakan bentuk kata kerja untuk orang kedua tunggal yang berasal dari kata “agapao”. Agapaoadalah bentuk kata kerja dari kata benda agapeyang berarti mengasihi sepenuhnya; mengasihi tanpa syarat.

Dua, pleion touton(lebih dari pada semua ini). Yang dimaksud dengan “lebih dari semua ini”dalam teks bahasa Yunani tidak jelas. Karena itu bisa diartikan dengan empat cara yaitu:

  1. Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada engkau mengasihi perahu dan jala ini? Pertanyaan Yesus dapat diartikan seperti ini karena pada perikop sebelumnya (Yoh. 21:1-14) dikisahkan bahwa Petrus baru saja kembali ke profesi lamanya sebagai nelayan.
  2. Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada engkau mengasihi perkara-perkara duniawi?
  3. Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada engkau mengasihi murid-murid ini?
  4. Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada murid-murid ini mengasihi-Ku?

Pengertian mana yang tepat bukanlah yang paling penting. Sebab bisa saja semuanya tepat. Untuk itu yang paling penting adalah Yesus menuntut komitmen Petrus. Yesus berharap komitmen Petrus kepada-Nya mesti lebih besar dari komitmennya kepada siapapun atau apapun juga. Bahkan sebagai murid yang baru saja dipulihkan, komitmennya mesti lebih besar dari murid-murid Yesus Kristus yang lain. Sebab dengan demikian domba-domba Allah yang dipercayakan kepada Petrus akan mampu dia gembalakan. Inilah harapan Yesus kepada Petrus melalui pertanyaan-Nya yang pertama.

Selanjutnya pertanyaan kedua dalam bahasa Yunani berbunyi: “simon iona agapas me”.Pada pertanyaan yang kedua ini, Yesus tidak lagi menambahkan kata-kata “plein touton”. Namun Yesus tetap menggunakan kata “agapas me”. Ini berarti Yesus mengurangi tuntutan-Nya kepada Petrus. Petrus tidak harus menomorduakan siapa pun atau apa pun juga. Mengapa? Karena dalam jawaban Petrus terhadap pertanyaan Yesus yang pertama, terlihat bahwa komitmen yang Yesus tuntut dari Petrus terasa terlalu besar baginya. Itu sebabnya Yesus mengurangi tuntutan-Nya.

Kemudian pertanyaan ketiga berbunyi: “Simon iona phileis me”. Pada pertanyaan yang ketiga, Yesus mengubah kata-kata “agapas me”menjadi “phileis me”. Kata “phileis”berasal dari kata “phileo”yang merupakan bentuk kata kerja dari kata benda “philia”. Kata “philia”artinya mengasihi sebagai sahabat. Philiadapat pula diartikan sebagai mengasihi sebagai rekan sepelayanan.

Pada pertanyaan yang ketiga ini Yesus menurunkan lagi tuntutan-Nya kepada Petrus. Dia tidak menuntut Petrus untuk mengasihi-Nya tanpa syarat melebihi semua yang lain. Dia juga tidak meminta Petrus mengasihi Yesus tanpa syarat. Yesus hanya meminta Petrus menjadi rekan-Nya. Dengan kata lain, Petrus diminta Yesus menjadi sahabat sepelayanan-Nya. Tetapi justru terhadap pertanyaan ketiga Yesus inilah Petrus menjadi sedih. Mengapa? Sebab pertanyaan ini mengingatkan Petrus bahwa dia pernah gagal.

Jika kita flashback,sebelum ditangkap Yesus sudah mengingatkan murid-murid bahwa mereka akan lari meninggalkan-Nya. Pada saat itu Petrus dengan penuh percaya diri bilang bahwa apa pun yang terjadi, dia akan tetap bersama Yesus (Mat. 26:30-35). Tetapi ketika Yesus di hadapan Hanas, Petrus menyangkalnya sampai tiga kali. Padahal saat itu dia hanya dituduh sebagai murid Yesus (Yoh. 18:12-18, 25-27).

Murid memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang lebih rendah dari sahabat. Ikatan murid dengan guru juga lebih rendah dari ikatan sahabat. Sebaliknya, rekan atau sahabat punya kedudukan yang setara. Tanggung jawabnya pun sama. Ketika Petrus dituduh sebagai murid Yesus, yang kedudukan dan tanggung jawabnya lebih rendah dari Yesus saja, dia menyangkal-Nya. Apalagi kalau harus menjadi sahabat Yesus sehingga tanggung jawabnya sama? Tentu akan lebih sulit lagi. Pengalaman Petrus membuatnya dapat menghayati pertanyaan Yesus dengan penuh kesungguhan.

Pertanyaan-pertanyaan Yesus kepada Petrus ini menunjukkan bahwa Yesus sangat memahami berbagai kelemahan manusia. Memang, melalui kebangkitan-Nya kita dipulihkan dari dosa dan kelemahan. Namun hal itu tidak menghapus semua kelemahan kita. Karena itu ketika tuntutan Yesus yang besar tidak mampu kita wujudkan, Dia bersedia menurunkan tuntutan-Nya. Dia bersedia menerima kita apa adanya. Asalkan kita memiliki niat yang tulus maka Dia mau menjadikan kita rekan dan sahabat sepelayanan-Nya.

Kedua,jawaban yang sama dari Petrus bukan pengulangan melainkan pendalaman. Apabila dalam ketiga pertanyaan Yesus, kata dan kalimat yang digunakan selalu berubah dengan maksud menurunkan tuntutan Yesus kepada Petrus, tidak demikian halnya dengan jawaban Petrus. Dia konsisten dengan jawaban yang sama. Untuk ketiga pertanyaan Yesus, Petrus menjawab dengan kata “philia” yang berarti mengasihi sebagai sahabat atau rekan sepelayanan. Dia tidak satu kali pun menggunakan kata “agape” dalam jawabannya.

Sekalipun demikian kesungguhan Petrus dengan tiap jawabannya tidak sama. Setiap kali menjawab, kesungguhannya semakin nyata dan dalam. Terhadap pertanyaan pertama Petrus menjawab: “nai kyrie su hoidas hoti philo se”(Harfiah: Ya Tuhan, Engkau tahu bahwa aku rekan-Mu/sahabat-Mu). Dalam jawaban ini Petrus tidak menjawab secara lugas. Apakah dia mengasihi Yesus atau tidak? Tidak jelas. Yesus hanya dia sebut sebagai sahabatnya. Jawaban ini sifatnya ambigu. Mendua. Bisa ya, bisa tidak. Pokoknya Yesus itu rekannya. Sahabatnya.

Mungkin jawaban ini berangkat dari kesadarannya bahwa dia tidak benar-benar mengasihi Yesus tanpa syarat. Buktinya, dia menyangkal Yesus sampai tiga kali. Dengan mengatakan bahwa Yesus sahabatnya, Petrus menunjukkan bahwa pada saat itu relasinya dengan Yesus barulah sampai tahap saling berbagi. Mereka berbagi dalam niat, sifat, sikap dan visi.

Dengan jawaban ini, Petrus juga bersikap jujur. Dia sadar bahwa dia tidak sanggup mengasihi Yesus dengan kasih agape. Sebab dia pernah berjanji untuk memberikan nyawanya bagi Yesus. Tetapi beberapa jam kemudian dia justru menyangkal Yesus. Bagi Petrus, ini dosa yang besar sekali. Itu sebabnya ketika ayam berkokok, dia sadar, menyesal dan menangis tersedu-sedu (Mrk. 14:72).

Jawaban ini Petrus ulangi untuk menjawab pertanyaan kedua. Pada pertanyaan yang kedua Yesus telah mengurangi tuntutan-Nya. Namun Petrus belum berani menaikkan komitmennya. Sekali lagi, ini karena dia sudah merasakan bagaimana memberikan komitmen karena dorongan emosi tetapi tidak disertai dengan upaya untuk menjaga komitmen secara konsisten. Dengan demikian, komitmen dan dan emosi hilang lenyap ketika berhadapan dengan krisis. Ketakutan membuatnya kehilangan komitmen.

Melihat jawaban Petrus, Yesus mengajukan pertanyaan ketiga. Pada pertanyaan ini Yesus menggunakan kata “philia”. Ini membuat hati Petrus hancur. Dia sedih. Kenapa? Karena Yesus menyapanya sebagai rekan atau sahabat sepelayanan namun dengan makna penebusan. Karena itu Petrus memasrahkan dirinya kepada Yesus. Dia bilang: “Engkau tahu segala sesuatu…”.

Dengan kalimat ini Petrus menaikkan komitmennya. Karena itu sekalipun jawaban yang mengikuti kalimat ini masih sama, namun kesunguhan hatinya nampak jelas. Petrus tidak lagi hanya mengulang-ulang jawaban yang sama. Petrus menyelami dan mendalami jawabannya. Petrus menghayatinya. Dia merenungkannya dengan sungguh-sungguh.

Kesungguhan Petrus ini direspon oleh Yesus dengan memberitahukan bagaimana Petrus akan melaksanakan pelayanannya. Bahkan Yesus juga memberitahukan bagaimana Petrus akan menjalani konsekuensi pelayanannya seperti yang Yesus alami. Di akhir percakapan itu Yesus pun meminta Petrus untuk mengikutinya. Kali ini Petrus diajak sebagai rekan dan sahabat sepelayanan-Nya.

Apa yang Petrus tunjukkan ini mesti menjadi teladan bagi setiap orang percaya pada masa kini. Setiap hal yang sama yang dilakukan dalam perjumpaan dengan Tuhan bukanlah sekadar pengulangan. Itu adalah pendalaman. Tujuannya agar komitmen kepda Tuhan Yesus semakin diperkuat. Semakin diulangi, kita menjadi semakin sungguh-sngguh. Karena itu liturgi atau tata ibadah yang yang sama yang kita ikuti pada setiap kebaktian mesti membuat penghayatan kita akan penebusan Kristus semakin mendalam. Dengan demikian komitmen iman kita akan semakin teguh.

Begitu pula jawaban-jawaban yang diberikan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam pelayanan khusus. Itu bukan hanya pengulangan. Bukan pula hafalan semata. Itu merupakan pendalaman iman dan penguatan komitmen terhadap tanggung jawab sebagai sahabat Kristus. Inilah yang mesti senantiasa kita sadari.

Ada satu lagu Sekolah Minggu yang punya kaitan erat dengan tema ini. Judulnya “Kujatuh Cinta Pada-Nya”.Mengakhiri renungan ini, mari kita bersama-sama menyanyikannya.

‘Ku jatuh cinta pada-Nya, tambah dan dalam dan, tambah dan dalam lagi 2x

Yesus indah dan indahlah, semakin indah, oh, cinta-Nya antara Allah dan aku

‘Ku jatuh cinta pada-Nya, tambah mendalam dan, tambah mendalam lagi

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *