Peringati Hari Kesiapsiagaan Bencana, Jemaat GMIT di Sabu Tanam Bakau

Wakil Ketua dan Sekretaris MS GMIT bersama para pendeta dan warga menanam bakau di Wuihebo

SABU, www.sinodegmit.or.id, Memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana 2023 pada 26 April, sekaligus mewujudkan komitmen merawat dan memelihara segenap ciptaan,  warga Jemaat GMIT di pulau Sabu menanam anakan bakau atau mangrove jenis rhizophorasebanyak 1.200 pohon.

Penanaman dipusatkan di pantai Wuihebo desa Raemadia dan pantai Bodo Tulaika, Kelurahan Mebba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua. Dua lokasi tersebut merupakan area muara sekaligus wilayah rawan banjir rob akibat abrasi pantai sejak beberapa tahun terakhir.

Tiga orang pimpinan Majelis Sinode (MS) GMIT, Ketua Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Tanggap Bencana Alam dan Kemanusiaan (TBAK) MS GMIT, Ketua DPRD Sabu Raijua, Ketua Forum PRB NTT, Kepala BPBD Sabu Raijua, Ketua Majelis Klasis dan para pendeta di pulau Sabu-Raijua menghadiri kegiatan penanaman yang berlangsung pada Rabu petang, (26/4).

Rowi Kaka Mone memantau pertumbuhan anakan bakau di Pantai Tulaika

Ketua MS GMIT, Pdt. Mery Kolimon, mengapresiasi inisiatif warga menanam dan merawat bakau. Ia berharap upaya ini menginspirasi jemaat-jemaat di wilayah pelayanan GMIT lainnya.

“Kami berharap bahwa ketika Sidang Sinode [September] nanti jemaat-jemaat yang datang bersidang bisa melihat dan belajar bagaimana upaya-upaya penanaman mangrove. Kami juga berharap bahwa ada kerja serius dari komunitas di sini, didukung oleh pemerintah daerah karena ada ancaman hewan yang merusak dan menghabiskan,” kata Pdt. Mery di lokasi Wuihebo.

Koordinator Kelompok Perawat Mangrove, Rowi Kaka Mone, mengatakan penanaman mangrove pada awalnya diinisiasi oleh Kaum Bapak Sinode GMIT pasca bencana Siklon Seroja tahun 2021 melalui program Gerakan Mari Merawat Laut (Gemaralu).

“Tahun 2021 di Tulaika, kami tanam 1.000 bibit tapi yang hidup sampai sekarang 326 pohon. Banyak bibit mati karena panas. Sedangkan di Wuihebo, kurang lebih sudah 5.000 anakan yang ditanam tapi pada tahap awal banyak yang mati karena panas dan dimakan ternak sehingga untuk penanaman selanjutnya kami pagari dengan waring. Sekitar 60 persen bertahan hidup,” kata Rowi.

Lokasi penanaman bakau berbentuk “I Love Sabu” dan “GMITdi Pantai Wuihebo

Khusus di pantai Wuihebo dengan luas kurang lebih 10 hektar, Rowi bersama Jemaat Imanuel Wuihebo menanam mangrove berbentuk kata “I Love Sabu”  dan “GMIT”. Jumlah anakan yang telah ditanam dan tumbuh hingga saat ini baru mencukupi kata “I Love” sedangkan “Sabu” dan “GMIT” belum tersedia. Guna keberlanjutan dan penambahan anakan, warga jemaat Pniel Menia ini berharap ada bantuan anakan mangrove dari jemaat atau klasis lain di GMIT.

“Kami punya semangat menanam tetapi tidak punya bibit mangrove. Jadi kami berharap jemaat-jemaat lain yang memiliki bibit, baik itu buah maupun anakan bisa bantu kirim untuk kami di Sabu,” harap Rowi.

Jublina Wila, Wakil Ketua MJ Imanuel Wuihebo, salah satu anggota perawat bakau

Untuk memastikan tumbuh kembang anakan yang telah ditanam, Majelis Jemaat Imanuel Wuihebo membentuk unit pelayanan perawat mangrove yang secara rutin membersihkan anakan dari sampah, mengganti anakan yang mati, dan mengawasi anakan dari gangguan ternak.  

Pada hari yang sama, MS GMIT melalui UPP TBAK, mengadakan diskusi dan simulasi mitigasi bencana gempa bumi sekaligus pengukukan relawan/fasilitator Gereja Tangguh Bencana yang dilaksanakan di Jemaat Nazaret Daigama, dihadiri Bupati Sabu Raijua, Drs. Nikodemu Rihi Heke.

Panorama sunrise di Pantai Wuihebo

Selain simulasi mitigasi bencana dan penanaman bakau, MS GMIT melalui Unit pelayanan terkait juga melakukan penelitian mitigasi bencana yang hasilnya akan dipresentasikan pada Persidangan Sinode GMIT ke-35 di Sabu-Raijua pada September mendatang.

Untuk diketahui, Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2023 ini mengusung tema, “”Tingkatkan Ketangguhan Desa, Kurangi Risiko Bencana”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *